
Pagi hari setelah menyelesaikan ibadah salat Subuh dan mengaji, seperti biasa Nadine membantu para art yang lain untuk membersihkan rumah. Saat ini Nadine sedang membersihkan setiap debu yang berada di meja, diatasnya tertata guci dan barang antik milik Iqbal.
Nadine berbalik saat mendengar derap kaki, dia terkejut saat mendapati Zain sedang berjalan ke arahnya nya. Nadine hendak kabur tapi Zain keburu memanggilnya hingga ia urung untuk melangkah.
"Kenapa selalu kabur tiap melihat ku?... Seolah sedang melihat penjahat saja."
"Aku nggak kabur kak, aku mau ke dapur."
"Hemm,,, Kalau begitu, sekalian buatkan aku susu."
"Tumben Kak biasanya juga teh!!!..."
"Ternyata diam-diam kamu suka memperhatikan aku ya..."
"Kakak tuh kepedean banget sih!... Itu kan udah kebiasaan kakak tiap hari dan yang nyiapin kebutuhan Kaka dari minuman sampai makanan aku juga. Ya jadi tahulah kebiasaan kakak."
"Bicaramu sudah seperti seorang istri yang sedang melayani suami saja."
Mulut Nadine sudah menganga hendak menyanggah ucapan Zain tapi Zain keburu menutupnya.
"Aaaaahhhh, sialan kau." Pekik Zain saat Nadine menggigit tangannya.
"Syukurin.... Udah ku bilang kan, nggak usah pegang pegang..." Ujar Nadine tak kalah ketus.
Zain hanya bisa mendengus kesal.
"Sudah pergi sana, buatkan aku susu dan kare ayam. Cepat nggak pakai lama..."
"Huh, dasar..." Gerutu Nadine kemudian pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian Nadine datang dengan nampan berisi susu dan kari ayam sesuai dengan permintaan Zain.
Dia menghampiri Zain yang sibuk mengecek pergerakan saham lewat Hpnya dan membalas beberapa pesan dari koleganya.
"Ini Susunya..." Nadine meletakkan segelas susu di hadapan Zain, Zain hanya mengangguk kecil sambil terus menatap layar Hpnya dengan tangan yang bergerak lincah memijati layar hp.
"Ini kare ayamnya." Dahi Zain mengernyitkan saat melihat Nadine meletakkan mie sedaap cup rasa kari ayam di hadapan Zain. Seketika Zain menatap Nadine penuh dengan kejengkelan. Bayangkan!
"Aku kan minta kari ayam..." Ujar Zain dengan tatapan protes.
"Lah ini kari ayam." Ujar Nadine.
"Bukan kari ayam seperti ini maksudku."
"Lah ini kari ayam, udah bener, salahnya di mana!.. Udah sesuai request kan?... Toh sama sama kari ayam." Ujar Nadine pura pura bodoh.
"Huuuuufffhhh kau memang tidak bisa di andalkan... Duduk sini..." Perintah Zain pada Nadine sambil menunjuk kursi di sampingnya, Nadine pun menurut dan mulai duduk di samping Zain.
Zain menarik nafas dalam-dalam saat mencium aroma parfum yang semalam menempel di bajunya menguar dari tubuh Nadine. Aroma yang memabukkan, aroma yang membuat Zain kepikiran. Dia segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran aneh di otaknya.
__ADS_1
"Kenapa kakak, geleng-geleng kepala?... Pusing?..." Nadine bertanya.
"Iya..."
"Kenapa?..."
"Bau parfum mu bikin pusing." Keluh Zain, dia menyukai bau parfum harum dan lembut yang menguar dari tubuh Nadine. Refleks Nadine mengangkat kedua tangannya bergantian dan mencium dari satu sisi ke sisi lain.
"Diiihhh apa apaan gadis ini, benar-benar menyebalkan, aku ini lelaki normal." Zain membatin. Dia kesal setengah mati dengan tingkahnya. Zain sudah mandi dan terlihat rapi, dia tidak ingin mandi lagi jika sinyalnya memancar.
"Bikin pusing gimana?... Enak gini, baunya seger." Nadine bertanya penuh keheranan.
"Ah sudahlah, oleskan aku selai pada Roti."
"Kakak nggak makan kari ayamnya..."
"Nggak..."
"Buat aku ya kak!!!..."
"Ya..."
"Alhamdulillah.... Rejeki nomplok." Zain meraih mie sedaap cup kari ayam tersebut dan menggesernya ke hadapan Nadine, sedangkan Nadine mulai mengambil roti dan selai yang ada di atas meja. Dia mulai mengolesi Roti dengan selai Coklat kacang mete.
"Jangan terlalu sering makan makanan instan." Tutur Zain menasehati Nadine.
"Jarang kok kak, paling cuma 3 kali dalam 1 Minggu."
"Ya jarang lah kak, sering itu tiap hari."
"Ah terserahlah." Ujar Zain.
"Ini." Nadine meletakkan Roti yang sudah di olesi selai coklat mete di atas piring yang sudah ada di hadapan Zain.
"Buatkan 2 lapis lagi."
"Huuuuu,,,, lapar kak?..." Nadine mencibir, entah kenapa Zain malah menatap bibir mungil tapi berisi dengan warna merah muda tersebut. Jakunnya bergerak naik turun untuk menelan salivanya.
"Kak..." lambaian tangan Nadine di depan wajah Zain mengejutkannya. Zain segera mengambil dan melahap roti di hadapannya untuk menghindari tatapan Nadine.
"Aneh..."
Tak lama kemudian Nadine kembali meletakkan Roti yang sudah di olesi coklat mete di piring Zain. Kemudian Nadine mulai menyeruput mie sedaap cup kari ayamnya. Hening, mereka berdua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian...
"Din..." Ujar Zain. Tapi Nadine tak menggubris.
"Din..." Ujar Zain lagi. Nadine kembali merengut.
__ADS_1
"Din...." Ujar Zain lagi.
"Din kamu tuli ya?..." Ujar Zain yang sudah kesal.
"Dan Din Dan Din.... Namaku Nadine, bukan Din Din...Kayak nglakson mobil ajah. Ada apa sih panggil panggil?..."
"Kamu pakai parfum apa?..."
"Ya ampun, dari tadi panggil aku Dan Din Dan Din cuma tanya parfum..."
"Iya, tinggal jawab saja apa susahnya?..."
"Minyak bibit."
"Merk apa?..."
"Oplosan..."
"Mana ada parfum merk oplosan."
"Merk-nya Harajuku love, Kenzo down, Avril, dan perfume selamat tinggal sayang.... Di oplos jadi satu."
"Pantas, baunya bikin pusing." Ujar Zain, Nadine merengut dan pergi meninggalkan Zain.
"Tau gitu nggak di kasih tau, di kasih tau malah ngeselin." Zain masih bisa mendengar suara Nadine menggerutu.
***
Setelah mempersiapkan segala keperluannya untuk kuliah, Nadine mematut diri di depan cermin dan memberikan lip tint di bibinya sebagai sentuhan terakhir.
"Dah selesai..." Dengan hati riang gembira, Nadine keluar dari kamarnya. Dia ruang tamu Zain sudah menunggunya.
"Sudah siap." Ucap Zain. Nadine mengangguk.
Mereka berjalan dengan memberi jarak selebar-lebarnya. Zain duduk di kursi depan, tapi Nadine malah duduk di kursi penumpang.
"Nadine, kau benar-benar mau menjadikan ku supirmu?... Pindah ke depan." Protes Zain.
Nadine pun menurut, ia turun dari mobil dan pindah duduk di depan. Mobil mulai melaju menuju kampus. 15 menit perjalanan, keduanya sama-sama diam.
Setelah lama menempuh perjalanan mobil Zain kini berhenti di depan gerbang.
"Kak Zain, Terima kasih untuk tumpangan dan Hpnya. Berkat Hp kakak, aku bisa memberikan orang yang jahat ke aku pelajaran."
"Sama sama." Jawab Zain. Nadine merogoh tasnya dan menyodorkan bekal makanan pada Zain.
"Untuk kakak makan siang di kantor. Semoga suka." Setelah Zain menerima bekal makanan darinya, Nadine pun pergi memasuki kampus.
Zain tidak langsung menyalakan mobilnya, Dia masih terus memandangi punggung Nadine, tiba-tiba datang gadis berjilbab, dia merangkul bahu Nadine. Mereka akhirnya masuk ke dalam kampus secara bersama-sama, setelah Nadine tak terlihat Zain mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
***
Jangan lupa dukung author pake Like n komentar