
"Kamu cantik Nadine." Zain berdiri di belakang Nadine, memandangi pantulan Nadine dan dirinya yang berada di dalam cermin. Nadine menyentuh liontin berbentuk love tersebut, hatinya berdegup tak karuan. Ada perasaan asing yang menyusup ke celah hatinya, ada perasaan yang baru pertama kali ia rasakan. Tapi entah apa dia juga tidak mengerti.
"Itu bukan jawaban kak."
"Karena aku memang tidak berniat menjawabnya."
"A-apa kak Zain lagi me-melamarku?..."
"Kalau iya bagaimana?..." Zain bertanya dengan tatapan sendu, jantungnya berdebar. Dadanya sudah kembang-kempis. Takut akan menerima penolakan untuk yang kedua kalinya. Mengingat bahwa Nadine tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Nadine hanya diam membisu, hatinya terlalu terkejut. Dia belum siap untuk ini semua ini.
"Udah waktunya kita pulang deh kak, nona Rani pasti sudah menunggu barang pesanannya...." Setelah cukup lama termenung Nadine mengalihkan pembicaraan, dia masih bingung dan ragu.
Nadine bingung, dia tidak siap untuk ini. Ini terlalu mengejutkan untuknya. Apa lagi perasaan yang ia rasakan baru saja tumbuh. Dia masih ragu dengan perasaannya sendiri. Menerima lamaran dari Zain butuh pertimbangan, karena ia takut jika perasaannya ini hanya sementara. Tapi Nadine juga tidak ingin menolak Zain, lidahnya terasa berat untuk mengucapkan kata 'Tidak'.
Ekspresi wajah Zain berubah pias, ada gurat kecewa di wajahnya. Zain menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar. Zain berusaha mengerti keadaan Nadine, ia tahu ini terlalu mendadak bagi Nadine. Apalagi di usia Nadine yang masih 19 tahun dan masih kuliah."Kembali ke rencana awal, melamar Nadine tepat di hari ulang tahunnya. Biarkan Nadine berpikir sejenak untuk mengambil keputusan, sebelum hari itu tiba aku sudah harus bisa meluluhkan hatinya."
"Baiklah. Kamu tunggu dulu di sana sebentar," Zain menunjuk sofa. "Aku mau ke kasir untuk membayar." Zain segera beranjak, baru tiga langkah kakinya berpijak, Nadine sudah memanggilnya. Zain berbalik.
"Kak ini kalungnya." Nadine hendak membuka kalungnya tapi segera Zain cegah.
"Itu untuk mu."
"Tapi kak, ini terlalu mahal."
"Kamu lebih berharga bagiku."
"Tapi kak."
"Tidak ada tapi tapian."
Zain memberikan black card pada penjaga toko. Setelah pembayaran selesai Zain kembali mengandeng tangan Nadine dan membawanya keluar dari Mall menuju parkiran mobil. Zain membukakan pintu mobil untuk Nadine. Setelah Zain masuk ke dalam mobil, ia segera melajukan mobilnya.
Di sepanjang jalan keduanya sama-sama diam, pikirannya berkecamuk, kecanggungan di antara mereka terlihat begitu kental. Sesekali Zain melirik ekspresi wajah Nadine. Tatapan mata Nadine kosong pikirannya melayang-layang entah kemana.
"Nadine,,,"
"Iya kak."
"Apa kamu ingin membeli sesuatu?..."
"Nggak kak?... Terimakasih." Jawab Nadine kemudian pandangannya berpindah ke depan, sementara Zain hanya mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah Iqbal, Nadine segera turun dari mobil dengan langkah sedikit berlari, ia memasuki rumah. Sedangkan Zain memperhatikan gerakan Nadine yang kian menjauh.
***
Nadine duduk di depan cermin, memandangi kalau liontin yang melingkar di lehernya.
"Apakah aku sedang jatuh cinta?... Tapi mana mungkin!!!.... Padahal yang ngotot mengejar cintaku adalah Kak Dion, harusnya aku mencintai kak Dion bukannya kak Zain. Kak Dion selalu baik padaku, dia tidak pernah kasar padaku. Tapi kenapa hatiku biasa saja setiap dekat dengan kak Dion, berbeda sekali jika dekat dengan kak Zain. Hatiku selalu berdebar tak karuan." Nadine memegangi dadanya yang berdisko ria.
Pukul 3 sore Nadine keluar dari rumah Iqbal hendak memesan ojek online. Tiba-tiba datang motor sport sudah berada di depannya.
"Aku akan mengantarmu bekerja."
"Nggak usah kak, aku nggak mau ngerepotin kakak terus. Aku bisa pesan ojek online."
"Aku suka kalau kamu yang merepotkan hidupku....Oya....Lain kali kalau mau kemana-mana pakai helm ini." Ucap Zain yang tanpa permisi memasang helm ke kepala Nadine kemudian memasang pengaitnya. Wajah Nadine bersemu merah mendapatkan perlakuan lembut dari Zain.
"Nggak usah kak, aku udah punya sendiri kok."
"Helm pemberian dari Dion sudah ku buang."
"Iiih kakak kok nggak izin dulu sama aku sih?..."
"Biarin, aku tidak suka kamu memakai barang apapun darinya."
Telapak tangan Zain bertumpu pada punggung tangan Nadine, sedangkan jemarinya saling bertautan.
"Deg..." Untuk sesaat jantung Nadine berdendang. Kebahagiaan membuncah di dadanya.
"Kak..." Pekik Nadine menarik tangannya namun Zain malah mencengkramnya lebih erat.
"Pegangan biar nggak jatuh."
"Kakak nih modus terus, selalu ambil kesempatan dalam kesempitan."
"Tapi kamu suka kan..."
"Iiiiiihhhhh....Apaan sih.... Nggak lah...." Hati dan pikiran menolak tapi tubuhnya merespon lain, Nadine mulai terbuai oleh sentuhan Zain. Sentuhan Zain membuatnya nyaman dan menuntut lebih. Nadine berusaha menahan sekuat tenaga tangan kanannya yang sudah gatal ingin memeluk Zain dari belakang. Dia lupa bahwa apa yang ia dan Zain lakukan adalah sebuah kesalahan. Nadine dan Zain kalah, kalah dengan kenyamanan hingga lupa dengan yang salah dan yang benar.
"Masih sisa 30 menit lagi sebelum masuk jam kerja. Kita muter-muter dulu ya." Zain berputar putar di sekitar Cafe, Nadine diam tak menjawab, dia berusaha menetralkan hatinya yang sedang berbunga bunga.
"Nadine."
"Nadine...."
__ADS_1
"Apa?..."
"Itu kampus ku dulu. Dulu aku kuliah di sana." Zain menunjuk sebuah kampus besar. Nadine pun melihat ke arah tangan Zain menunjuk.
"Kalau itu tempatku dan gengku nongkrong." Zain menunjuk sebuah Cafe.
"Kakak punya geng..."
"Iya dulu..."
"Kalau sekarang?..."
"Aku terlalu sibuk untuk main dengan mereka. Mereka juga sibuk dengan keluarganya.....Dan itu warung tempat ku biasanya makan, semasa kuliah dulu. Makanannya nikmat, harga terjangkau, insyaallah higienis lagi." Nadine memperhatikan dan mendengarkan setiap instruksi dan gerakan tangan dari Zain.
"Putri pemilik warung menyukai ku, makanya tiap aku beli di sana selalu mendapat porsi lebih banyak ketimbang yang lain."
"Iiih, apaan sih.... Cerita nggak mutu gitu di ceritain." Nadine merengut, cerita Zain sudah mengusik ketenangan hatinya yang sejak tadi melayang-layang ke atas awan.
"Aku hanya ingin berbagi pengalamanku dulu denganmu. Itu artinya kamu istimewa dalam hidupku. Karena aku hanya mau berbagi dengan orang yang aku kasihi."
"Udah hampir jam kerja. Ayo ke Cafe sebelum aku terlambat bekerja."
"Ok..." Zain mempercepat laju motornya."Nadine, apa kamu bisa berhenti kerja???..."
"Nggak bisa kak... Aku sudah terlalu nyaman dengan pekerjaan ku."
"Oh..."
Setelah lama berkeliling akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Motor Zain berhenti tepat di depan Cafe. Nadine segera turun....
"Nadine..." Panggilan Zain menghentikan langkahnya.
"Apa?..."
"Nanti pulangnya aku jemput."
"Ok..." Nadine kembali melangkah.
"Nadine..."
"Apa lagi sih?..." Nadine kembali berbalik.
"I LOVE YOU...."
__ADS_1