
"Jangan bengong, entar kesurupan." Alex merangkul bahu Renata."Dari pada sama Dion, mending sama gue, di jamin ori. Dion udah second." Alex mencolek dagu Renata.
"Ciiihhh....Dasar Playboy, menjijikkan."Renata menepis tangan Alex, menyingkirkannya dari bahunya.
"Undangan pernikahan gue. Datang ya, tapi jangan sampai buat Keributan." Dion memberikan undangan pernikahan setelah Renata duduk di belakang bangkunya.
Bukannya menerima, Renata malah bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi menuju kamar mandi. Ia berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh, ini tidak adil baginya. Sejak dulu ia sudah menyukai Dion, tapi kenapa malah menikah dengan Zahra. Ketika mendengar Nadine menikah, hatinya sudah bahagia karena memiliki kesempatan. Tapi kenapa tiba-tiba ia mendengar kabar beredar bahwa Zahra dan Dion telah menikah. Membuat hatinya kembali hancur luluh lantak.
Tak sengaja ia menubruk wanita bercadar yang hendak keluar dari toilet hingga terjatuh di lantai.
"Zahra kamu nggak apa-apa?..." Nadine membatu Zahra untuk berdiri dari lantai.
"Kamu bisa nggak sih jalan hati-hati?..." ucap Nadine dengan ketus.
"Udah kak, jangan ribut. Mungkin dia nggak sengaja."
"Berisik." ucap Renata tanpa rasa bersalah.
"Iiih nyebelin banget sih, bukannya minta maaf juga." ucap Nadine dengan ketus, ia tak terima adiknya di perlakukan seenak jidatnya.
__ADS_1
"Udah kak, nggak usah ribut." Zahra menarik tangan Nadine, menghindari Keributan.
"Kok bisa sih Dion mau nikah sama perempuan udik, kampungan, pakaiannya aja primitif. Nggak malu apa?...."
"Lebih malu lagi jika aku berpakaian terbuka dan mempertontonkan lekuk tubuh ku pada khalayak. Dan satu lagi, semakin terbuka pakaian maka semakin primitif orangnya. Kamu pikir suku pedalaman pakai baju apa?... Semakin terbuka, maka semakin primitif orangnya." ucap Zahra yang tak terima dengan ucapannya Renata. Jika di biarkan, bisa jadi Renata akan semakin ngelunjak.
"Kamu ngatain aku primitif." Renata mendengus kesal.
"Makanya kalau mau ngomong itu di pikirkan dulu, cari tau faktanya. Emosi boleh, tapi jangan bego'." ucap Nadine lalu menyeret lengan Zahra, membawanya pergi." Yuk, dek."
Renata menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Padahal dia sudah menangis sepanjang waktu karena patah hati tapi air matanya tak kunjung habis.
"Udah, nggak usah di bahas. Yang sudah terjadi biarin aja lah."
"Kamu sabar banget sih, kalau aku nggak bisa tinggal diem."
"Kata kak Rani, kamu pawangnya kak Zain."
"Emangnya suamiku harimau?...."
__ADS_1
"Kata kak Rani, dulu kak Zain galak ya sama kamu."
"Waktu pertama kali ketemu sih iya, tiap liat aku tuh tatapannya tajam banget, liat aku kayak mau di telan hidup-hidup."
"Kalau sekarang?..."
"Dia manis banget, rasanya pengen nempel terus." Nadine tersenyum-senyum sendiri membayangkan suaminya yang selalu bersikap lembut, apalagi tiap mau minta jatah.
"Bagus lah kalau begitu. Oya, kamu pulang duluan aja ya. Kak Dion mau ngajak aku bagiin undangan pernikahan buat teman SMA nya."
"Ok."
***
Setelah seharian berputar-putar membagikan undangan pernikahan, tiba-tiba hujan turun tanpa permisi, Dion membawa Zahra menuju apartementnya sebab lebih dekat dari posisinya berada.
"Kok ke sini kak?.... Ini apartemen siapa?..."
"Apartemen ku, biasanya aku ke sini bawa temen-temen ku, selebihnya tempat ini selalu kosong, terakhir di gunakan, dua hari sebelum pernikahan kita, ." jawab Dion sembari membuka pintu apartemennya lalu melangkah masuk. Zahra mengedarkan pandangannya, matanya menelisik setiap sisi apartemen.
__ADS_1
Matanya membulat ketika melihat kamar yang berantakan, terlebih ada botol minuman keras.