
"Kamu sudah sholat isya' belum?..."
"Belum kak..."
"Kita sholat berjamaah ya, aku juga belum sholat. Kamu bersihkan diri dulu di kamar mandi, aku akan mengambilkan pakaian untuk mu." Zain mengantarkan Nadine ke kamar mandi luar.
Setelah Nadine masuk ke dalam kamar mandi, Zain pergi menuju ke kamar yang biasa di tempati oleh Miranda dan Bi Nurul jika mereka sedang menginap di apartemennya.
Zain mengambil daster batik milik Bi Nurul dari dalam lemari. Kemudian Zain pergi ke kamar mandi.
Wajah Nadine bersemu merah, dia begitu malu. Berduaan di apartemen bersama dengan seorang pria membuatnya sedikit risih, gugup dan tak nyaman, ini adalah kali pertama baginya. Apa lagi setelah terdengar suara ketukan pintu yang di lakukan oleh Zain.
"Tok, tok, tok, Nadine ini pakaian dan handuknya." Ragu-ragu Nadine menjulurkan tangannya yang basah keluar lewat celah pintu kamar mandi. Angan-angan anak perawan memang jelek, Nadine takut Zain khilaf dan..... Ah, Nadine tak mau berpikir lebih jauh lagi.
"Gleg...." Zain menelan salivanya, hanya melihat tangan Nadine saja pikirannya sudah traveling ke mana-mana."Ah, sial lagi-lagi burung ku menggelepar." Zain segera memberikan handuk dan pakaiannya pada Nadine dan bergegas pergi menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
***
Zain sudah siap dengan baju Koko berwarna putih yang membalut tubuhnya dan sarung HBS berwarna hijau tua yang menutupi kaki panjangnya. Dia juga sudah menyiapkan dua sajadah di ruang terbuka, satu untuknya dan yang satu lagi untuk Nadine. Tak lupa dengan mukenah yang biasa di gunakan oleh BI Nurul.
Nadine berjalan perlahan menuju ke arah Zain, dengan wajah malu-malu kucing. Zain berusaha menahan tawa ketika melihat penampilan Nadine yang memakai daster ala Mak-mak yang berat badannya berkisar 80kg sedangkan berat badan Nadine 45kg.
"Dasternya kegedean, Kak." Ucap Nadine malu-malu meremas kain daster yang ia kenakan.
"Nggak apa-apa, tetap cantik kok. Maaf ya cuma itu yang ada di sini. Ya, sudah kita sholat dulu yuk..."
Nadine segera memasang mukenanya, mereka berdua pun menjalankan ibadah sholat isya' berjamaah. Setelah mengucapkan salam. Zain kemudian berdzikir dan berdoa dengan begitu khusu'. Sedangkan Nadine mengAamiini setiap doa yang Zain lantunkan.
Nadine membuka mukenah yang ia kenakan kemudian melipatnya. Sedangkan Zain menyandarkan punggungnya di Buffett.
"Nadine..."
"Iya..."
"Maaf ya, karena aku sudah lancang pegang-pegang tangan kamu." Ucap Zain namun Nadine hanya diam tak menjawab."Lain kali aku akan berusaha menahan diri agar tidak menyentuh mu."
Nadine hanya mengangguk.
"Nadine, Kenapa kamu mengamini setiap doa yang aku panjatkan tanpa tahu apa yang ku pinta?..."
"Memangnya kenapa kak?..."
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, aku minta apa sama Allah?..."
"Memangnya kakak minta apa sama Allah?..."
"Aku berharap kita berjodoh."
"Deg..." Jantung Nadine berdegup kencang mendengar ungkapan Zain. Lagi-lagi Nadine salah tingkah, dia malu.
"Sudah lah, jangan bengong. Tunggu aku di ruang tamu. Aku akan memasak sebentar."
"Aku bantu ya kak?...."
"Boleh..."
"Cuma ada mie instan sama telur, daging kaleng sapi dan sayuran." Ucap Zain setelah membuka dan melihat isi kulkas.
"Aku buatin kornet ya kak..."
"Emang bisa???...."
"Bisa dong, gampang kok caranya."
Setelah 30 menit, Cornet telur dan daging sapi sudah jadi.
"Taraaaaa....Jadi deh...."Ucap Nadine dengan senyuman manisnya.
"Makan kayak gini enaknya sambil nonton." Ucap Zain sembari melangkah menuju ruang TV dengan tangan yang membawa air minum, Nadine terus mengekor di belakang Zain.
"Kamu mau nonton film apa?..." Zain bertanya dengan langkah menuju ke arah Nadine.
"Kak, pulangnya jangan malam-malam ya!..."
"Nggak kok... Setelah makanan abis kita langsung pulang."
"Ok deh, gimana kalau nonton film horor." Usul Nadine.
"Nggak mau. Ntar yang ada kamu bakal nyerang aku kayak di bioskop waktu itu."
"Iih nggak usah bahas yang dulu-dulu deh kak, bikin malu aja."
__ADS_1
"Kalau drama aktion bagaimana?..." Kali ini Zain yang mengusulkan.
"Aku nggak suka drama aktion. Punya kaset film romantis nggak sih kak?...." Tolak Nadine.
"Ada, tapi tidak pernah ku tonton."
"Enak ya punya banyak duit, gampang buang-buang duit, Beli tapi nggak di pakai. Menurut penelitian nih ya kak, orang yang kekurangan duit lebih cepat pusing dari pada orang yang kekurangan darah...." Celetuk Nadine sembari melahap kornet telur dengan potongan yang cukup besar ke dalam mulutnya. Zain tersenyum geli melihat mulut Nadine.
"Aku sibuk, nggak sempat nonton." Jawab Zain sembari menyalakan TV dan memasang kaset genre romantis komedi.
Zain tersenyum geli melihat mulut Nadine. Dia berbeda dengan gadis pada umumnya yang sok jaim, makan sedikit-sedikit demi tampil tetap cantik.
"Iiih kak Zain, kok beli kaset beginian sih..." Protes Nadine.
"Maaf, maaf... Aku tidak tahu kalau isinya begini." Nadine menutup wajahnya, sedangkan Zain segera mematikan TVnya.
"Ayo pulang, udah malam..." Ujar Nadine dengan nada ketus.
"Iya, iya kita pulang."
Nadine yang kesal segera keluar dari apartemen Zain hingga tasnya tertinggal di ruang tamu, Zain segera menyusul kepergian Nadine. Kemudian Zain mengantarkan Nadine pulang dengan mobilnya hingga sampai ke rumah tuannya Iqbal dengan selamat.
Zain mengirim pesan wa pada Bi Nurul untuk membersihkan apartemennya karena eksperimen yang di lakukan oleh Nadine dan Zain membuat apartemennya sedikit berantakan.
Zain memangku sebuah laptop, tangannya sibuk berkutat mendesain kejutan untuk melamar Nadine. Kemudian Zain menghubungi seseorang untuk membantunya merealisasikan rencananya.
***
"Kamu gimana sih Tari. Aku kan sudah bayar mahal kamu supaya gadis sialan itu benci dengan Zain. Tapi kenapa mereka malah terlihat tambah lengket."
"Maaf Nona, saya sudah memfitnah Tuan Zain tapi si Nadine tidak percaya pada saya. Dia lebih percaya dengan apa yang di katakan oleh nyonya Rani."
"Ah, sial... Kembalikan uang ku segera." Protes Riska yang sudah geram dengan Tari pembantu yang bekerja di rumah Iqbal.
"Maaf Nyonya, tapi uangnya sudah habis untuk membeli ini dan itu." Elak Tari.
"Dasar pembantu tidak berguna." Riska langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Enak aja ngatain aku pembantu nggak berguna. Aku kan udah menjalankan perintah darinya. Nadine percaya atau nggak!!!.… Itu bukan urusanku. Lagian jadi perempuan gatal banget ngejar-ngejar cowok. Lagian Tuan Zain itu katarak apa ya, bisa-bisanya suka sama Nadine, padahal cantikan aku kemana-mana. Beruntung banget Nadine di sukai sama Tuan Zain, udah ganteng berduit lagi." Gerutu Tari.
Riska menghubungi detektif Conan untuk mencari tahu latar belakang Nadine dan keluarganya.
__ADS_1