Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
IQBAL BERCERAMAH


__ADS_3

Iqbal menghela nafas dan bercerita tentang apa yang ia rasakan. "Setelah aku menikah, aku sudah tidak ingin bekerja lembur lagi seperti biasanya, karena aku merasa ada seseorang yang sedang menungguku di rumah.... Hidupku tak lagi sepi, rumah yang biasanya terlihat sunyi menjadi lebih hidup saat ada orang yang aku cintai ada di sana.... Apa lagi setelah memiliki Putri, kebahagiaanku jadi berlipat-lipat, rasa bahagia itu tidak bisa jika hanya di jelaskan dengan kata-kata."


"Zain, aku ingin melihat mu menikah, agar kamu bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan." Ucap Iqbal, Zain hanya mengangguk. "Aku serius, Zain." lanjut Iqbal.


"Kapan saya pernah tidak serius Tuan, saya datang kemari memang untuk meminta tanda tangan anda." Ucap Zain menjulurkan tumpukan berkas beserta pulpen pada Iqbal.


Setelah berkas dan pulpen itu berpindah tangan, Iqbal segera menandatanganinya.


"Percuma bicara dengan mu Zain." Iqbal mengeluh karena Zain selalu mengalihkan pembicaraan.


"Tidak anda baca dulu, Tuan."


"Tidak perlu, aku percaya padamu. Lagian, aku tidak takut miskin asal ada Rani dan putriku di sisiku."


"Mereka harta paling berharga bagi anda sekarang."


"Bukan hanya sekarang Zain, tapi selamanya sampai maut memisahkan." Ujar Iqbal terjeda sejenak, dia nampak berpikir. "Jika membicarakan masalah takdir, aku jadi takut Zain."


"Kenapa?..."


"Semua yang bernyawa pasti akan mati. Aku berjodoh dengan Rani dan memiliki Putri, itu karena takdir. Jika suatu saat nanti kami berpisah karena maut, itu juga karena takdir."


"Semoga kalian masih bisa berjumpa di surga Tuan."


"Iya jika berjumpa, jika tidak bagaimana?... Kamu tahu dosaku sangat banyak, Zain."


"Tobat lah, Tuan." Iqbal nampak berpikir setelah mendengar ucapan Zain.


"Zain, kau apakan Heru?..."


"Dia sudah jadi gelandangan, Tuan."


"Sebenarnya Aku tidak mau menyimpan dendam tapi perbuatannya sangat keterlaluan terhadap Rani dan Putriku, ah sudahlah ." Iqbal menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani pada Zain dan beranjak pergi.


"Tuan, apa anda tidak membutuhkan sesuatu?..."


"Tidak." Jawab Iqbal tanpa menoleh kebelakang, tiba tiba langkah Iqbal terhenti.


"Zain, menikah lah. Nilai Ibadahnya orang yang sudah menikah pahalanya lebih besar dari pada ibadahnya orang yang lajang. Apa perlu aku yang mencarikan jodoh untukmu?..."


"Sejak kapan tuan Iqbal beralih profesi jadi seorang ustadz." Zain bergumam dalam hati.


"Gini gini aku pernah belajar mengaji Zain." Lanjut Iqbal. Zain tersenyum, dengan pernyataan terakhir Iqbal, seolah dia bisa membaca isi pikirannya.


Karena tidak mendapat jawaban dari Zain, Iqbal pun mulai melangkah pergi menuju ruangan rawat Rani.

__ADS_1


Iqbal menghampiri Rani dan mencium keningnya kemudian membelai rambutnya. "Dari mana Pa?... Lama banget." Ujar Rani.


"Tadi aku bertemu dengan Zain."


"Di mana dia sekarang?..."


"Sudah pergi."


***


Setelah mengempeskan ban mobil milik Zain, Riska berdiri dari jongkoknya, ia menepuk nepuk telapak tangannya yang kotor karena debu dari Ban mobil.


Dia menghampiri mobilnya yang sengaja ia parkir di dekat mobil milik Zain. Kemudian dia masuk mobil menunggu kedatangan Zain dan berpura pura menjadi malaikat penolong.


Tak lama kemudian Zain datang, dia terus melangkah menuju mobilnya. Dahinya mengernyit saat melihat ban mobilnya kempes.


"Aah sial." Dia yang kesal menendang ban mobilnya kemudian Riska keluar dari mobil dan berpura-pura menjadi malaikat penolong.


"Zain mobilmu kenapa?..." Riska bertanya pura-pura tidak tahu.


Zain tidak menjawab pertanyaan dari Riska dia malah pergi menjauhi Riska sedangkan tangannya sibuk untuk memesan taksi online. Kemudian Zain menghubungi seseorang untuk mengurus mobilnya tersebut.


"Zain aku bisa mengantarmu pulang." Riska menawarkan bantuan pada zain namun tetap tidak bergeming.


"Zain Kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku?..."


"Zain apa kau bisu?..." Ucap Riska yang sudah kesal karena tak di hiraukan. Mendengar cacian dari Riska, dalam sekejap Zain sudah membalik badan menatap Priska dengan tatapan yang begitu tajam.


"Pendengaran ku masih berfungsi dengan sangat baik." Ucap Zain dengan tatapan mengintimidasi


"Maafkan aku Zain. Aku hanya butuh sedikit perhatian dan waktu darimu."


"Waktuku terlalu berharga jika harus di buang untukmu, jadi enyahlah dari hadapanku." Ucap Zain dengan gayanya yang congkak.


Mata Riska sudah merah berkaca-kaca selalu mendapat penolakan dari Zain. Dia berharap Zain akan menghapus setiap air mata yang keluar dan menggantinya dengan sebuah senyuman seperti dahulu.


"Jangan menangis dihadapanku, karena aku tidak akan pernah iba sedikitpun padamu, jadi jangan buang buang waktuku."


Akhirnya Zain melangkah pergi meninggalkan Riska. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu taksi online yang ia pesan. Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu tiba Zain segera masuk ke dalam mobil tersebut.


Sepanjang jalan hatinya, kacau Iya selalu memikirkan Riska. Setiap bertemu dengannya, kenangan masa lalu yang begitu manis selalu berkelebat di depan matanya dan berakhir dengan kenangan pahit yaitu penghianatan yang tak pernah bisa dia lupakan.... Adalah saat Riska kekasih yang sangat ia cintai dan Rangga sahabat yang sangat dia percayai malah melakukan hubungan intim di depan mata Zain. Kenangan itu tidak pernah bisa terlupakan oleh Zain.


Tiba-tiba ucapan Iqbal menyusup di telinga, hati dan pikirannya "CARILAH OBATNYA" Kemudian mata Zain terpejam, dalam sekejap Zain sudah membuka mata saat bayangan Nadine tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Aah gadis sialan, apa aku sudah gila. Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya." Gumam Zain dalam hati. Zain mencium bau asing di tubuhnya, bau parfum Nadine tiba-tiba sekelebat bayangan saat dirinya dan Nadine berpelukan muncul.

__ADS_1


Zain melihat kaca depan mobil, matanya menyipit saat melihat mobil Riska membuntutinya. Untuk beberapa saat Zain membiarkannya karena berpikir mungkin jalan mereka searah.


"Pak lewat sana." Pak sopir mengikuti instruksi dari Zain, ternyata Riska masih mengikuti mobil yang ditumpangi Zain.


Saat mobil sudah berada di atas jembatan, Zain meminta Pak sopir untuk menghentikan mobilnya. Jembatan yang tinggi dengan gelombang air yang terjal.


Mobil Riska pun ikut terhenti. Dia kebingungan saat melihat Zain turun dari mobil dan menghampirinya.


"Tok tok tok tok tok." Zain mengetuk jendela mobil Riska dengan tidak sabaran, membuat dirinya kelimpungan di dalam mobil.


Mau tak mau Riska pun keluar dari mobil, menatap dengan tatapan sendu berharap Zain akan mengasihaninya dan berharap akan meluluhkan hati Zain yang beku.


"Apa kau sudah gila?... Kenapa kau selalu membuntutiku?... Kau membuatku risih."


"Zain, Aku hanya ingin tahu dimana rumahmu."


"Itu tidak perlu, itu bukan urusanmu."


"Zain aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, setiap hari aku selalu memikirkanmu. memikirkan hubungan kita yang sudah kandas Itu membuatku sakit, Zain."


"Aku tidak peduli dengan perasaanmu, mulai sekarang berhenti mengikuti ku, jauhi aku, aku sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi kami akan menikah dan kau carilah laki-laki lain yang jelas Bukan Aku."


"Zain, tolong beri aku kesempatan. Aku tak bisa hidup tanpamu."


"Kesempatanmu sudah habis." Zain berbalik dan melangkah pergi menjauh dari Riska.


"ZAIN... Kalau kamu tidak memberikan ku kesempatan, lebih baik aku mati Zain." Zain tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Riska. "ZAIN, AKU AKAN LOMPAT KE BAWAH ZAIN." Lanjut Riska. Zain pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.


Zain terkejut saat melihat Riska sudah berada di atas jembatan. Namun Zain mencoba untuk bersikap tenang dan tidak mau terprovokasi oleh Riska. Walaupun sebenarnya hatinya sedang tak karuan, dia takut Riska akan melompat ke bawah.


"Kamu lompat pun percuma, yang ada malah jadi mayat. Yang akan menangisimu bukan aku tapi orang yang menyayangi mu."


"Zain aku hanya ingin kamu."


"Jangan bodoh Riska."


"Lebih baik aku mati daripada aku harus kehilangan mu lagi."


"Mati saja sana, lompat lah aku tidak peduli." Ujar Zain menggertak, berharap Riska mengerti sia sia meminta Zain untuk kembali di hidungnya lagi. Supir mobil online segera turun dari mobil hendak membantu Riska tapi Zain menghadangnya.


"Dia bukan urusan kita Pak. Lompat lah." Zain berbalik pergi seraya merangkul bahu pak supir.


"Aaakkkkhhhhh...." Baru 3 langkah kakinya berpijak dia sudah mendengar teriakan Riska. Zain segera berbalik, dia terkejut saat melihat Riska sudah tidak ada.


***

__ADS_1


Author...


Coba tebak, apa yang akan terjadi selanjutnya?...


__ADS_2