Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BONCAP 5


__ADS_3

"Breeeemmm.... breeeemmm, breeeemmm, breeeemmm...." Zain menirukan suara mobil, dengan tangannya, mendorong mobil mainan melaju di atas ranjang, mobil berjalan meliuk-liuk seperti ular hingga kemudian menumbruk perut Aaron, balita kecil itu tertawa cekikikan.


Kebahagiaan itu sederhana, hanya mendengar tawa riang balitanya, mampu membuat kebahagiaan menyeruak di dalam hati. Rasa penat setelah memeras otak karena seharian bekerja, sirna kala melihat balitanya yang sehat tertawa bahagia.


Tapi jika mendapati putra tersayangnya sakit, maka dunianya berbalik 180°. Bingung, takut, sakit, khawatir, tak tega, bercampur jadi satu, membuat dadanya sesak bagai terhimpit gunung, itulah yang ia rasakan. Apalagi jika balita yang selalu membuat rumahnya ramai karena Aaron tingkahnya yang menggemaskan berubah jadi jeritan tangis pesakitan.


"Cup cup cup, anak papa sudah besar, sebentar sekolah, terus nikah." Zain mengangkat Aaron dan memindahkannya ke pangkuan.


"Owah, ica." Aaroon, bayi yang baru berusia 1 tahun itu berusaha menirukan ucapan papanya, setelah mengecup pipi Aaron bertubi-tubi, Zain memeluknya erat karena gemas.


"Aaaah..." Aaron memberontak karena sesak.


"Uuuuhhhh, pinternya anak papa, udah bisa bicara. Papa kangen, seharian nggak ketemu. Papa tanya ya, Aaron anaknya siapa?" seperti itulah orang tua, jika sudah bersama anak kecil maka akan menjadi seperti anak kecil, sudah tahu Aaron putranya, tapi masih saja bertanya.


"Aaaah." Aaron berteriak sembari menepuk paha Zain dengan kedua telapak tangannya. Zain tertawa lepas melihat tingkah putranya yang selalu menggemaskan.

__ADS_1


Nadine yang sedari tadi sibuk merias diri di depan cermin, tersenyum bahagia melihat keakraban putra dan suaminya dari pantulan cermin.


"Uuuuhhhh." Aaron mendongak menatap wajah sang papa dengan mata bulatnya, pipi tembemnya menirus dan bibirnya mengerucut, sementara tangan kirinya menjambak rambut sang papa dan jari telunjuk kanannya mengacung pada aquarium yang berisi ikan koki. Mata Zain mengikuti arah telunjuk putranya.


Aquarium yang Zain letakkan di dalam kamar, karena Aaron sangat menyukainya.


Zain membawa Aaron, di depan aquarium Aaron mengamati ikan yang mengambang, tak bergerak seperti mati. 'Tok' Aaron mengetuk kaca aquarium, ia tertawa ketika ikan yang pura-pura mati kembali bergerak, berenang-renang.


"Hehehe." Aaron mendongak melihat sang papa. Zain menunduk tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Aaron.


"Cantik." ucap Zain tanpa melihat istrinya.


"Iiih, kak..." Nadine menghentakkan kaki di lantai, dia sebal merasa di cuekin."Sebel deh, sejak punya anak, aku kurang di perhatikan. Apa karena abis melahirkan jadi nggak seret dan longgar jadi kakak berubah."


"Bicara apa sih? Kenapa iri pada anak sendiri." Zain berdiri menghampiri istrinya yang sedang merajuk, bibirnya yang merah mengerucut sebal.

__ADS_1


"Ini bibir kenapa jadi merah kayak cabai keriting?..." Zain mengambil tissue dari atas meja. Mengusap dengan lembut bibir warna merah Istrinya.


"Iih kak, kok di hapus sih?..." Nadine mundur satu langkah, tangannya menahan dada Zain.


"Aku tidak suka, dandanamu terlalu menor."


"Menor apaan sih, kak. Kita kan mau ke pesta. Orang makeup natural gini kok di bilang menor." protes Nadine.


"Memangnya kamu mau menggoda siapa?"


"Mau goda suamiku lah." Nadine mencolek pinggang Zain. Tersenyum secantik mungkin, matanya berkedip-kedip.


"Kenapa kedip-kedip gitu? Kelilipan!" Ucapan Zain membuat Nadine jengkel, bibir mengerucut sebal."Hapus makeupmu, atau kita tidak usah pergi sekalian. Kalau perlu pakai cadar seperti Zahra." ucap Zain dengan tegas tak terbantahkan lalu membawa Aaron keluar dari kamar. Jika sudah seperti ini, maka tak ada yang bisa di harapkan.


"Nyebelin banget sih, punya suami. Nggak peka, aku kan pengen tampil cantik dan modis di pesta seperti tamu yang lain, masak ke pesta yang pakai makeup, apa kata dunia? Istri itu kan pengen di manja, di perhatikan, di ngertiin, di puji cantik sama suami. Udah lebih satu jam makeup, eh malah di suruh hapus. Jadi sia-siakan usaha dari tadi." Nadine menggerutu tapi tangannya tetap menghapus riasannya dengan pembersih wajah, dari mulai eyeshadow, maskara, eyeliner, blush on, lipstik dan foundation.

__ADS_1


__ADS_2