
70 hari kemudian, acara lamaran sekaligus akad nikah Dion dan Zahra, di gelar begitu sederhana, hanya kerabat dekat Dion dan sahabatnya saja sebagai pengiring. Semua itu atas permintaan Zahra, sebab ia tak ingin acara akad nikahnya di gelar secara berlebih-lebihan. Kaluarga Dion pun menghargai keputusan Zahra. Walaupun acara di gelar dengan sederhana, seserahan yang di bawa oleh keluarga Dion begitu banyak dan bermutu.
Tapi Mama Kartika tetep bersikeras untuk mengadakan resepsi pernikahan mewah untuk putra semata wayangnya di gedung. Sebab ini merupakan momen bahagia bagi putranya sekali seumur hidup. Zahra tak bisa menolak permintaan calon mertuanya yang merupakan permata penerangan rumah.
Sepanjang waktu menunggu acara puncak, Dion merapalkan kalimat ijab kabul takut lupa.
"Tarik nafas, keluarkan, tarik nafas lagi, keluarkan. Tarik lagi, keluarkan." Alex memberikan instruksi dengan gayanya, dan bodohnya Dion malah mengikuti instruksi dari Alex. Berulang kali Dion menarik nafas panjang dan membuangnya, untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Kayak mau lahiran." cetus Habibi, celetuknya membuat semua orang yang mendengarnya tertawa. Dion menepuk pundak Alex cukup keras.
"Aaaww, sakit... Untung jadi pengantin, kalau enggak, gue timpuk Lo." Alex menggerutu sembari mengusap pundaknya. Gelak tawa yang tadi menggema mendadak sirna ketika melihat kehadiran Zain yang mulai mendekati meja akad nikah kemudian duduk di samping pak penghulu.
Dion menegakkan punggungnya, jujur saja, setiap melihat calon kakak iparnya, Dion selalu mengingat perseteruan antara mereka.
"Tiap gue liat dia, gue selalu ingat peristiwa pengeroyokan dulu coy." ucap Habibi dengan suara yang begitu pelan.
"Sama." jawab semua sahabat Alex, serempak.
"Yon, sungkem Lo Yon, minta maaf sama calon kakak ipar." Alex meledek, mendorong-dorong punggung Dion.
"Apa sih..." Dion mulai jengkel.
"Abis tonjok-tonjokan, eh malah sungkem-sungkeman." ledek Habibi. Membuat para sahabatnya cekikikan membayangkan adegan seperti itu.
"Diem Lo, kalo kedengaran bisa berabe." ucap Dion dengan ketus. Pak Wibowo menggelengkan kepala melihat kelakuan nyleneh teman-teman Dion.
"Nak, ayo." pak Wibowo memberikan kode pada Dion bahwa akad akan segera di mulai.
Dengan kaki gemetaran Dion melangkah, kini ia sudah berhadapan dengan calon kakak iparnya.
"Bisa di mulai." ucap pak penghulu.
Setelah menarik nafas panjang, secara bersamaan dengan mantap Zain dan Dion menjawab."BISA."
Para sahabat Dion kembali cekikikan, Dion makin salah tingkah dan gugup.
__ADS_1
"Tarik sis..." ucap Habibi, lirih.
"Semongko." di jawab lirih oleh teman-teman Alex, dan mereka kembali cekikikan. Tawa mereka sirna lalu bersikap formal ketika pak Wibowo memelototi mereka berlima.
Zain menjulurkan tangannya, yang langsung di jabat oleh Dion. Telapak tangan calon adik iparnya terasa dingin dan gemetaran.
"Sudah siap?..."
"Siap, kak." setelah mendengar jawaban Dion, Zain makin mengeratkan genggamannya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Dion Alfarizi bin Ari Wibowo dengan adik saya yang bernama Zahra Ainur Rofiq dengan maskawinnya berupa cincin emas seberat 2 gram di bayar, Tunai.” Dengan sekali hentakan tangan Zain, Dion menjawab mantap...
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kartika Sari binti...." Dion menghentikan kalimatnya ketika Zain menghentakkan tangannya lagi. Dion yang gugup mulai menyadari bahwa ia salah menyebut nama Mamanya.
"Kau mau menikahi Zahra atau mama mu?... Nama adikku Zahra Ainur Rofiq, bukan Kartika Sari." pertanyaan Zain membuat para penonton tergelak. Dion mengusap wajahnya, ia semakin gugup. Padahal sudah latihan berkali-kali kenapa bisa salah? Ini gara-gara sahabatnya yang tak ada akhlak, membuat konsentrasinya pecah. Zahra tak ingin mengubah namanya menjadi Miranda ataupun Kartika.
"Maaf kak, grogi." ucap Dion dengan wajah merah menahan malu.
"Sekali lagi salah, pernikahan batal." padahal Zain hanya menggertak tapi hal itu membuat jantung Dion mencelos ingin keluar dari tempatnya. Dion menghempaskan nafas berat lalu menegakkan punggungnya. Walau makin gugup.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Dion Alfarizi bin Ari Wibowo dengan adik saya yang bernama Zahra Ainur Rofiq dengan maskawinnya berupa cincin seberat 2 gram di bayar, Tunai.” Zain menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zahra Ainur Rofiq binti Anfal Tamarrow dengan mas kawin tersebut di bayar, tunai."
"Bagaimana saksi???...."
"SAH...." Suara para saksi menggema di ruang tamu.
"Alhamdulillah barokallah....."
Kemudian di bacakan doa-doa, berharap pernikahan dua mempelai pengantin menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Pak penghulu memberikan buku nikah kepada Dion untuk di tandatangani.
Nadine membawa Zahra keluar dari kamar dan menggiringnya menuju ruang resepsi pernikahan.
__ADS_1
Gadis cantik itu juga memutuskan untuk hijrah memakai cadar untuk menutupi kekurangannya, selain itu Zahra juga ingat bahwa dulu Dion lah yang menyuruh Zahra mengenakan cadar. Keputusan itu dia ambil setelah keluar dari rumah sakit. Dion juga tak mempermasalahkan hal itu.
Zahra menuruni anak tangga, di dampingi oleh Nadine. Ia mengenakan kebaya pengantin sederhana yang berbahan brokat penuh dengan manik, mutiara dan slowesky berwarna putih tulang.
Dion terkesima melihat istrinya, Zahra menunduk ketika matanya bertemu dengan manik mata sang pujaan hati. Jantung berdebar-debar tak karuan. Hal yang sama juga di rasakan Dion.
"Zahra, jalan yang anggun, jangan nunduk ntar kesandung loh..." Nadine berbisik menggoda Zahra.
"Sabar, jangan di pelototi gitu." ucap pak Wibowo, membuat pandangan mata Dion yang sedari tadi terarah pada Zahra terputus, lalu tersenyum dan menunduk.
Zahra duduk di samping Dion, pak penghulu meminta Zahra untuk menandatangani buku nikahnya.
"Sekarang cium tangan suami." ucap ibu Kartika. Zahra pun menuruti perintah ibu mertuanya.
"Sekarang cium kening istrimu." ucap Mama Kartika lagi. Dion merangkum wajah Zahra lalu mencium keningnya, Dion kembali mencium pipi kanan dan kiri Zahra.
"Aaaww...." Mama Kartika mencubit pinggang Dion.
"Nanti di kamaaaaar, malu di lihat orang..." Mama Kartika berbisik sebal di telinga Dion.
"Iya, Ma, iya..."
Zahra mencium punggung tangan ibu Kartika dan pak Wibowo secara bergantian. Kemudian Zahra dan Dion mencium punggung tangan kedua orang tua angkatnya. Kini mereka berdua menghampiri Zain, Zahra mencium punggung tangan Zain, kini giliran Dion yang siap mencium tangan kakak iparnya. Harus ia lakukan karena Zain adalah satu-satunya orang tua Zahra setelah orang tua angkatnya.
Dion menatap sebal melihat para sahabatnya yang sudah siap mengabadikan momen langka ini lewat Hpnya.
"Akhirnya..." ucap Alex setelah Dion mencium punggung tangan Zain.
Para sahabat Dion menjadikan momen ini sebagai story' di sosmednya.
"Habis gelap, terbitlah terang." status Alex bersama dengan hasil jepretannya.
"Tom and Jerry." status Habibi dengan foto sungkeman Dion.
"Uwu-uwu.... Manisnya... Kalau akur, adem deh liatnya." Status sosmed Agung masih dengan foto yang sama.
__ADS_1