Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BERSAING SECARA SEHAT


__ADS_3

"Kalau menurut kakak definisi cinta itu seperti apa?..."


"Kalau menurutku, definisi cinta itu adalah kamu."


Jantung Nadine berdegup menatap lekat pria yang duduk di sampingnya dengan penuh keterkejutan. Ia terperangah, masih tidak percaya.


"Maksud Kakak apaan?..."


Zain menghela nafas dalam-dalam, mempertimbangkan apa yang akan ia sampaikan. Jika setelah menyatakan perasaannya pada Nadine dan dia akan mendapatkan penolakan tidak masalah asalkan setelah itu Nadine tidak akan menghindarinya?...


"Sudah sampai..." Zain menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang kampus Nadine.


"Kakak belum jawab pertanyaanku?..." Nadine masih mendesak, menuntut jawaban dari Zain karena pernyataannya menggantung. Zain hanya menunggu waktu yang tepat sebelum ia benar benar akan mengungkapkan isi hatinya. Berharap tidak akan mendapatkan penolakan lagi.


"Tidak ada yang perlu di jawab. Turun lah..."


"Kak..." Nadine menatap intens mata Zain, tatapan keduanya terpaku. Zain tidak bisa membaca ekspresi wajah Nadine.


"Apakah jika aku menyatakan cinta padamu, kau akan menolakku." Zain tak mampu mengutarakan isi hatinya. Penolakan Nadine waktu itu masih menyisakan rasa trauma di hatinya. Membuatnya tak berdaya.


"Tok, tok, tok..." Suara ketukan pintu memutuskan tatapan mata mereka. Zain melihat kaca jendela, ternyata Dion. Dion yang selalu setia menunggu Nadine di gerbang terdepan kampus setiap hari. Menjadi pengawal yang akan mengantarkan Nadine masuk ke dalam kampus hingga sampai ke kelas.


Ya, Zain mengetahui segalanya. Dia membayar seorang mahasiswa yang dapat di percaya untuk memantau gerak gerik Nadine di kampus. Membuatnya kian sesak acap kali menerima informasi foto dan video tentang kedekatan mereka berdua. Membuatnya semakin ragu untuk mengungkapkan cinta.


Untungnya Dion bukanlah lelaki hidung belang yang suka *****-*****, dia benar-benar menjaga Nadine. Tapi hal itu juga membuat Zain takut, takut jika Nadine menyukai sikap baik dan perhatian Dion padanya.


"Dia sudah menunggu mu." Nadine menoleh ke kiri melihat Dion yang berdiri tegak dengan tatapan tak suka.


"Eh, iya ...." Nadine sedikit kesulitan ketika hendak membuka sabuk pengaman. Zain pun membantu membukakan sabuk pengaman yang membelit tubuh Nadine.


"Kamu sakit?..." Zain bertanya ketika melihat tangan Nadine gemetaran.


"Eh, eng-nggak kak..." Jawab Nadine tergagap.


"Tok tok tok..." Dion semakin gemas mengetuk pintu.

__ADS_1


"Aku turun duluan kak.... Terimakasih..." Nadine segera turun dari mobil. Dion menatap sinis ke arah Zain sebelum akhirnya mengejar kepergian Nadine. Setiap hari, pemandangan yang sama seperti ini terjadi. Zain hanya bisa menatap punggung Nadine yang berjalan beriringan dengan Dion.


Pemandangan yang membuat mata dan hati Zain panas, sesak yang bergelung di dada namun dia tak berdaya. Hatinya begitu sakit, sulit untuk menahan amarah yang meletup-letup. Tak bisa meminta Nadine akan jatuh cinta pada siapa nantinya!...


Tak di sangka, untuk pertama kalinya selama Zain mengantarkannya ke kampus Nadine menoleh ke belakang untuk melihat Zain yang terpaku melihatnya. Sebelum akhirnya Dion menoleh ke belakang menatap sinis Zain lalu menarik tas Nadine hingga pandangan mata Zain dan Nadine terputus. Jika mereka berdua di kampus, Zain tidak bisa melakukan apapun.


Dia hanya bisa pasrah bukan berarti menyerah.


***


Langit biru di angkasa berjalan berarak-arakan, mulai menyingkir terasingkan oleh sepenggal kabut mega-mega merah. Di lantai 20, di ruangannya Zain menatap layar monitor dengan tatapan menerawang. Pikirannya melayang-layang pada Nadine. Pandangannya teralih menatap kaca jendela, tatapannya kosong. Tangannya memegang foto-foto kebersamaan Dion dan Nadine di kampus.


Nadine sudah mengalihkan dunianya, berjauhan dari Nadine membuatnya rindu. Tapi sayang, Zain bisa menahan rindu tapi tak bisa menahan rasa cemburu. Setiap saat, setiap menit, setiap detik, dan setiap jengkal langkahnya. Bayangan kebersamaan Dion dan Nadine selalu berkelebat di pikirannya.


"Aku tidak suka melihat mu begini Zain. Sampai kapan kau jadi pengecut seperti ini?..." Lamunan Zain buyar karena kedatangan Iqbal.


"Maksud anda apa Tuan?..."


"Jadikan dia milikmu Zain."


"Kau tahu apa maksud ku!..."


"Maaf tuan, tapi saya memiliki cara sendiri untuk mencintai seorang wanita. Saya tidak rela jika wanita yang saya cintai ternoda walaupun itu dengan sentuhan saya."


"Kau menyindirku Zain?..."


"Tidak Tuan, saya hanya menyayangkan apa yang anda lakukan pada nona Rani dulu. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah membenarkan hal itu tuan."


"Sudah lah Zain, jangan membahas masa lalu. Pulang lah, jam kantor sudah usai." Iqbal yang merasa malu pun pergi berlalu meninggalkan Zain.


Zain segera mengemasi barang-barang dan berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya.


Mobilnya menyusuri jalanan, melewati setiap ruko yang berderet dan juga melewati pangkalan pedagang kaki lima. Mobil kemudian melintasi jalanan menuju Cafe Nadine berkerja. Setiap hari Zain akan melewati Cafe tempat Nadine bekerja. Suatu keberuntungan jika Zain bisa melihat Nadine yang melayani pengunjung di teras Cafe, walaupun hanya sekelip mata. Rasa rindunya sedikit terobati.


Setelah Zain sampai di apartemen, Zain membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk pergi ke Cafe tempat Nadine bekerja.

__ADS_1


Sesampainya di Cafe Zain menengadah ke atas, melihat langit yang cahayanya pudar. Matanya beralih pada bangunan cafe yang berwarna gold di bangun begitu unik, tampak seperti rumah kaca dengan tumbuhan yang merambat di tata sedemikian rupa hingga apik berkesan asri. Tingginya sekitar 8 meter dan masih memiliki tingkat di atasnya.


"Kak Zain!!!..." Nadine terkejut ketika melihat kehadiran Zain.


"Kenapa?... Kaget?..." Ucap Zain dengan wajah datarnya. Nadine hanya menggeleng, mata Zain berkeliaran mencari tempat duduk paling strategis agar bisa memperhatikan Nadine lebih leluasa. Matanya malah menangkap sosok Dion yang selalu memberikan tatapan permusuhan padanya.


Zain melangkahkan kakinya, menghampiri Dion. Kini mereka duduk saling berhadapan, berusaha menunjukkan posisi siapa yang paling kuat di sini.


"Kenapa selalu menatap ku seperti itu?... Takut kalah bersaing?..." Ujar Zain dengan tatapan meremehkan.


"Sorry Bro... Gue bukan pengecut kayak elo." Balas Dion penuh percaya diri.


"Apa maksud mu?..." Ucap Zain yang sudah naik pitam.


"Apa maksud Lo nyuruh manager Cafe ini buat mecat Nadine bekerja di sini?... Elo takut kalah saing sama gue karena gue setiap hari kesini?... Kalau mau dapatin Nadine, bersaing secara sehat."


"Itu bukan urusanmu."


"Jelas itu urusan gue..."


"Kak mau pesan apa?..." Nadine yang tiba-tiba datang memutus kontak suara mereka.


Zain kemudian memesan beberapa menu makanan untuk di bungkus.


Setelah menerima dua kantong plastik berisi banyak makanan di kedua sisi tangannya, Zain memutuskan pergi ke rumah bi Nurul untuk menemui Miranda.


Dari kejauhan Zain melihat gadis kecil sedang di kerubungi oleh tiga anak laki-laki. Anak-anak tersebut mengatai Miranda anak haram sembari bertepuk tangan. Zain segera turun dari motornya lalu menghampiri Miranda yang menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di lutut.


"Hey, apa yang kalian lakukan?... Ayo sana pergi." Mendengar suara bariton Zain, anak-anak tersebut berlari pergi menjauh.


"Kak Zain...." Miranda menengadah, menatap Zain dengan wajah penuh dengan linangan air mata.


***


Selamat menikmati....

__ADS_1


Alurnya di buat slow ya... Semoga kakak-kakak nggak bosen bacanya 🙏🙏🙏😂😂😂😂


__ADS_2