
Tepat pukul 11 siang Nadine, Zain dan Bi Ijah sampai di Bandara internasional Juanda Surabaya. Hati Nadine sedikit lega, sebentar lagi dia akan sampai di kampung halamannya. Bertemu dengan wajah-wajah dari orang-orang yang sangat di rindukannya.
Mereka bertiga melangkah menuju pintu keluar dari bandara, Zain melirik Nadine yang wajahnya selalu murung.
"Nadine kita cari makan dulu ya, aku lapar."Nadine hanya mengangguk kecil tanpa mau melihat ke arah Zain.
"Kamu tahu, tempat makan yang enak di daerah sini???...." Zain bertanya, Nadine hanya menggeleng. Zain mencoba berinteraksi dengan Nadine, mencoba untuk mencairkan suasana. Tidak lucu kan jika mereka menikah tapi si pengantin wanitanya marah, maka akan sulit menggapai indahnya malam pertama. Nadine kan tidak menyinggung masalah malam pertama, jadi Zain masih bisa berharap kan untuk melakukan itu. Tapi Zain berusaha menahan diri untuk tidak menyinggung hal itu. Fokus utamanya adalah menikahi Nadine. Sisanya urus nanti. Tidak bisa mode lembut ya mode paksa selalu berhasil. Ingin sekali Zain menggenggam tangan Nadine tapi tak bisa ia lakukan di hadapan bi Ijah.
Nadine menyalakan Hpnya, setelah HP on langsung muncul notifikasi pesan dan panggilan masuk dari Dion. Ketika Nadine hendak membukanya, Zain langsung menyambar Hp itu.
"Kak, balikin Hpku." Nadine protes dengan memasang ekspresi wajah garang.
"Sebelum kita nikah, Hp mu ku sita."
"Nggak boleh. Hp itu privasi aku, nggak boleh orang lain otak atik isinya. Kakak nggak berhak ngurusi masalah pribadiku." Nadine berusaha mengambil Hpnya, namun Zain segera memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Aku calon suamimu. Jadi aku berhak atas dirimu. Lagian ini Hp dariku yang belum kamu bayar." Kalimat terakhir dari mulut Zain yang pedas berhasil meruntuhkan harga diri Nadine. Ekspresi wajah Nadine semakin murung. Sementara Bi Ijah bisa melihat kejanggalan itu.
Mereka masuk ke dalam mobil sewa bandara. Zain selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Nadine, di atas pesawat Nadine selalu melihat ke jendela dengan tatapan hampa, di mobil pun juga sama. Entah apa yang tengah di pikirkan gadis itu.
Mobil melaju menuju restoran yang Zain temukan lewat Mbah Ugel. Supir mengikuti langkah aplikasi Map.
Mereka bertiga memasuki restoran yang cukup besar dan mewah dengan dekorasi bernuansa modern. Setelah mereka duduk di kursi yang tersedia, pelayan segera melayani mereka bertiga. Memberikan menu dan mencatat semua pesanan yang mereka pesan.
"Kamu mau pesan apa?..." Zain bertanya dengan nada selembut mungkin pada Nadine.
"Terserah." Jawab Nadine dengan nada jutek.
"Tunggu pembalasan ku nanti setelah kita menikah." Gumam Zain dalam hati.
"Nadine, nggak boleh kayak gitu nak, sama calon suami. Apalagi kalau sudah jadi suami. Seorang istri harus hormat sama suaminya."
"Lihat dulu seperti apa suaminya. Jangan memintaku untuk jadi istri Solehah, Kalau calon suamiku saja seperti Fir'aun." Gumam Nadine dalam hati.
"Bi Ijah mau pesan apa?..." Zain beralih bertanya kepada Bi Ijah.
"Bibi, terserah Nak Zain saja."
Zain pun memesankan makanan yang sama seperti pesanannya untuk Bi Ijah dan Nadine.
__ADS_1
"Kak, toiletnya di mana?..." Nadine bertanya pada waiters yang tengah melayaninya.
"Oh, lurus saja di sana, mentok belok kanan." Waiters menunjuk ke arah belakang Nadine.
"Terimakasih kak."
"Sama-sama." Waiters itu pun pergi.
"Bi, Nadine ke toilet dulu ya." Ucap Nadine sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Iya." Jawab Bi Ijah.
Nadine menghentikan langkah kakinya dan berbalik ke belakang, menatap sinis pada Zain yang membuntutinya.
"Aku juga mau ke toilet." Ucap Zain berusaha mengelak, padahal dia hanya mengkhawatirkan Nadine takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan Karena ini tempat asing baginya.
Nadine kembali melangkah tak memperdulikan keberadaan Zain.
Setelah memasuki toilet, Nadine membasuh mukanya di wastafel. Rasanya sangat lelah, Nadine sudah tidak tahan dengan sikap Zain yang semena-mena terhadapnya. Ingin sekali dia mencakar-cakar wajah tampan itu jika saja dia tidak takut. Ya, dia sedikit takut pada Zain. Zain akan melakukan apapun untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan.
"Eh, tunggu, tunggu, tunggu dulu.... Saking stresnya aku kok bisa sampai lupa sih.... Orang yang sudah menikah kan pasti melakukan begituan. Lah, terus....Aku sama kak Zain???..... Iiiiiihhhhh...." Nadine bergidik ngeri memeluk dirinya sendiri, sembari membayangkan melakukan hal itu dengan Zain. Apalagi saat ini Nadine begitu membenci Zain."Oh nggak, bisa nggak bisa, nggak bisa...."
***
Mendengar suara decitan pintu terbuka, Zain segera memasukkan Hp-nya ke dalam saku celananya. Nadine menatap sinis ke arah Zain.
"Maaf, aku menunggumu takut kamu tersesat."
Ucap Zain.
"Aku nggak mau nikah sama kakak."
"Kenapa berubah pikiran?..." Zain mengernyitkan dahi, tetap bersikap tenang. Karena Zain memiliki banyak cara untuk mengikat Nadine.
"Aku belum siap melakukan itu."
"Itu???..." Zain nampak bingung.
"Iya itu!!!..."
__ADS_1
"Iya, itu apa???..." Zain masih berpikir keras.
"Itu, tu itu..."
"Itu apa?..." Zain sedikit kesal karena tak kunjung paham.
"Itu..." Nadine mengacungkan jari tengahnya.
"Ouw.... Itu... Kita hanya menikah, tidak harus melakukan itu. Hanya merubah status lajang menjadi menikahi. Aku siap menunggu mu bahkan hingga kamu lulus kuliah." Zain tersenyum berusaha meyakinkan Nadine.
"Serius???..." Nadine masih ragu.
"Iya, serius... Jadi bagaimana???... Kamu mau melihat bapak mu masuk penjara." Pertanyaan Zain membuat Nadine kembali merengut dan meninggalkan Zain. Dia menghampiri mejanya.
Tak lama kemudian pesanan datang, mereka bertiga segera menyantapnya karena perjalanan yang cukup jauh membuat perut mereka lapar keroncongan.
***
Mereka melakukan perjalanan lewat jalan Tol menuju kota Bangil, Jawa timur, pelosok. Mobil berhenti di sebuah toko yang biasa di kunjungi oleh wisatawan asing untuk membeli oleh-oleh.
Hari pertama berkunjung ke rumah calon mertua harus lah berkesan. Tidak boleh datang dengan tangan kosong. Zain memborong begitu banyak oleh-oleh.
"Nak Zain, jangan banyak-banyak. Ini terlalu berlebihan." Ucap Bi Ijah merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Bi. Kan bisa di bagikan ke tetangga." Zain melihat ke arah Nadine, si Nadine malah melengos. Cuek bebek. Nadine sama sekali tidak tertarik dengan Zain.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dari Surabaya akhirnya mereka sudah sampai di daerah pelosok kota Bangil. Untuk sampai ke rumah Nadine, mobil yang mereka tumpangi harus melewati pondok pesantren Sidogiri, tempat Ibunya Nadine menimba ilmu dan mengabdi di sana sewaktu masih remaja.
Tak lama kemudian mobil sudah sampai di depan rumah orang tua Nadine. Mereka bertiga turun dari mobil, Zain di bantu sang sopir mengeluarkan barang-barang bawaan dan oleh-oleh yang mereka beli tadi di jalan.
Zain melihat sekeliling, banyak pepohonan rimbun. Udara terasa sejuk dan asri masih belum tercemar oleh polusi udara, sangat jauh jika di bandingkan dengan kota Jakarta, asap kenalpot bertebaran di mana-mana.
Terdapat tanaman-tanaman indah di depan rumah Nadine. Zain melangkah mengikuti Nadine.
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikumsalam..." Dari balik pintu, muncul ibu yang wajahnya terlihat cantik dan ramah, terlihat jelas bahwa kecantikan Nadine turunan dari ibunya. Di susul oleh Bapak Nadine, dengan kumis tebal, terlihat sangat tegas dan galak. Tapi Zain tidak gentar sedikitpun, hanya takut di tolak saja jika ingin menikahi Nadine minggu dengan.
***
__ADS_1
Author ngantuk....
Ada yang punya ide nggak??? Dion ngamuk atau pasrah?... Yang enak yang mana?...