Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
FITNAH


__ADS_3

Cukup lama Zahra dan Dion menunggu Zain dan Nadine di ruang tamu, mereka akan pergi bersama untuk menghadiri acara pernikahan Agung, sahabat Dion.


"Kak Nadine mana, kak?" tanya Zahra ketika melihat kedatangan Zain menggendong Aaron.


"Sedang bersiap-siap di kamar. Kalian berdua sudah siap?" Zain menghempaskan bokongnya di sofa tepat di samping Dion. Baru satu detik berlalu, Aaron sudah memberontak minta di turunkan. Setelah di lepas, Aaron berkeliaran begitu liar mengobrak-abrik apapun yang di lihatnya.


"Nah, kena." Dion menangkap Aaron yang sedang berlarian lalu menggendongnya. "Mau ikut Om nggak? Om mau jalan-jalan loh."


"Aaa" Aaron mengangguk.


"Kalau mau ikut, duduk sama Om. Nggak boleh lari-larian."


Dengan seksama, Zahra memperhatikan Dion yang tertawa riang gembira bersama keponakannya. Dion terlihat sangat bahagia, bermain dengan Aaron. Dari awal pertemuan di lalu lintas, di panti asuhan, dan pada Aaron dapat di simpulkan bahwa Dion sangat menyukai anak kecil. Lagi-lagi Zahra merasa sedih, sebagai seorang istri tentunya ia ingin memiliki seorang anak, sebagai pelengkap dalam rumah tangganya. Obat lelah ketika sang suami kelelahan pulang bekerja. Tapi faktanya, buah hati belum juga hadir di antara Dion dan dirinya. Padahal mereka sudah menikah hampir dua tahun.


Tepukan lembut tangan Zain di kepala sang adik membuyarkan lamunan Zahra.


"Kenapa?" tanya Zain.


"Hah?" Zahra melongo.


"Apa kamu punya masalah?"


"Oh, nggak ada kak." Zahra tergagap.


"Kenapa melamun?" walaupun tertutup cadar, tapi tatapan sendu Zahra tidak dapat membohongi Zain.


"Emm, cuma capek aja.''


"Kalau ada masalah, cerita sama kakak aja nggak apa-apa."

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, Kak. Semua baik-baik aja."


"Aku harap itu benar."


Tak lama kemudian, Nadine muncul dengan wajah merengut, tetap cantik walaupun hanya memasang pelembab dan linting tipis.


"Nah, kalau begini kan cantik." Zain tersenyum sembari mengusap pipi Nadine lembut, Nadine tersipu malu mendengar rayuan Zain. Padahal sebelumnya ia sangat dongkol.


"Punya istri cantik itu tidak boleh di pamerkan."


***


Pesta pernikahan bersuasana santai di tepi kolam renang. Nuansa air berpadu dengan cahaya lampu memberi kesan romantis dan intim. Cahaya memantul dalam air kolam.


Baru saja rombongannya menemui sepasang pengantin dan memberikan selamat. Wajah Zain sudah panik setelah menerima panggilan telepon.


"Loh, kenapa kak?" tanya Nadine, tapi Zain tak menjawab, kakinya terus mulutnya terkatup rapat. Di luar parkiran mobil sudah ada banyak pengawal yang membawa menunggu kemunculan Zain dan keluarganya.


"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Zain pada salah satu anggotanya, kakinya terus melangkah.


"Jam tangan tuan Iqbal berlumuran darah ada di lokasi terjadinya pembunuhan."


"Apa tidak ada lagi bukti yang memberangkatkan tuan Iqbal."


"Penyidik masih menemukan satu bukti."


"Kenapa kalian tidak menyogok aparat untuk membebaskan tuan Iqbal dari penjara." Nadine melotot mendengar perbincangan Zain dan anak buahnya.


"Tidak bisa tuan, karena yang terbunuh adalah Steven pemimpin serigala hitam." langkah Zain terhenti.

__ADS_1


"Dia yang dulu menculik nona Rani?"


"Iya."


"Telusuri lagi lokasi pembunuhan, selidiki, cari bukti yang lain."


Langkah kakinya sudah sampai di samping mobil.


"Kalian bertiga, pulang lah ke rumah tuan Iqbal. Penjagaan di sana lebih ketat. Anak buahku anak mengawal kalian." perintah Zain pada keluarga kecilnya.


"Kamu jaga Aaron." Zain merangkum kedua pipi Nadine.


"Terus kakak gimana?" suara Nadine terdengar parau, matanya berkaca-kaca, hatinya gelisah.


"Aku baik-baik saja." Zain tersenyum menenangkan Nadine.


"Jaga Zahra dengan baik, jangan keluar dari rumah tuan Iqbal sebelum masalah selesai."


Zain menepuk pundak Dion.


"Apa tuan Iqbal membunuh orang?" pertanyaan yang sejak tadi membuat Dion penasaran tercetus juga.


"Jika tuan Iqbal membunuh, dia tidak akan meninggalkan mayat dan jejaknya." ucap Zain.


Dion meneguk salivanya.


"Ap-apa tuan Iqbal mafia?"


"Dulu, iya. Jika kau meninggalkan Zahra karena ini, berarti kau tak layak untuknya. Masuklah, waktuku tidak banyak." Zain mendorong Dion masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2