Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BONCAP TAMAT


__ADS_3

Setelah Iqbal terbukti tak bersalah, di dalam penjara Heru menjadi bulan-bulanan para napi, terutama dari kelompok serigala hitam, karena Heru di anggap sebagai penghkianat.


Para napi tak membiarkan Heru hidup dengan tenang di dalam sel.


***


Dua bulan kemudian, pukul 10 malam Zain masih sibuk berkutat dengan laptopnya. Nadine yang sejak tadi menunggu di kamar memutuskan untuk menghampiri Zain di ruang kerjanya.


Zain di kejutkan dengan Nadine yang tiba-tiba duduk di pangkuannya. Kepalanya bersandar di bahu Zain, tangannya bergelayut manja di leher suaminya.


"Masih lama ya kak?"


"Iya. Tugas kantor harus segera di selesaikan sekarang. Kamu minggir dulu ya sebentar. Jangan ganggu." Zain menurunkan Nadine dari pangkuannya dan kembali fokus dengan laptopnya, ia harus segera menyelesaikan pekerjaan dan beristirahat, tubuhnya sangat letih seharian bekerja dan hanya istirahat saat makan.


"Jadi aku ganggu nih?"


"Iya. Kalau kamu duduk di pangkuanku, yang ada pekerjaanku nggak kelar-kelar." Zain mencoba menahan diri agar hasratnya tak bangkit, jika Zain menuruti keinginan tubuhnya yang ada konsentrasinya dalam bekerja akan terpecah.


"Benar ya, kata orang. Suami itu manis di awal doang. Lama-lama akan berubah jadi wujud aslinya."


"Berubah gimana?" tanya Zain, tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. Matanya fokus melihat angkat-angka dan huruf yang tertera di layar laptopnya.


"Sekarang terlalu sibuk bekerja."


"Bicara apa sih? Aku kan kerja juga buat keluarga kita, Sayang. Aku ingin menang tender besok." ucap Zain setelah mengecup pipi Nadine.


"Dulu kakak kerja tapi tetap perhatian sama aku. Selalu manjain aku, suka ngasih aku hadiah."


"Kamu kan udah aku kasih kartu ATM sayang, kamu bisa beli apapun yang kamu mau. Sekarang aku harus selesaikan ini, kalau tidak, bos akan marah."


"Iiih, kakak tuh nggak peka banget sih, perempuan itu butuh di manja, di perhatiin, di sayang-sayang. Dulu pas PDKT romantis banget, suka ngasih aku kado, lah sekarang? Boro-boro perhatian sama istri, perhatiannya cuma sama Aaron dan laptop." Nadine masih menggerutu sembari bergelayut manja di bahu suaminya.


"Huufff...." Zain menghela nafas panjang, beberapa kali salah ketik karena tidak konsentrasi karena Nadine, kalau seperti ini terus, maka pekerjaannya tak kunjung selesai, terlebih tubuhnya letih. Ingin segera mandi dan beristirahat.


"Kamu tahu nggak, nelayan kalau mau dapat ikan pakai apa?" Zain merangkum kedua pipi Nadine karena gemas.


"Pakai umpan." jawab Nadine polos.


"Kalau ikannya udah ketangkap, apa nelayan akan ngasih umpan lagi? Enggak kan." ucap Zain.


Nadine melepaskan kedua tangan Zain lalu berdiri, menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan Zain seorang diri."Suami nyebelin, masa' istri di samain sama ikan."


Zain menggelengkan kepala sembari tersenyum, tak menyangka candaannya di anggap serius oleh Nadine.


***


Di kamar mandi Nadine mengguyur tubuhnya di bawah air. Setelah mandi, ia mengambil lingerie yang paling ****, memakai parfum sebanyak-banyaknya untuk menarik perhatian Zain. Beruntung semua orang sudah tidur, penjaga laki-laki berjaga di luar, Nadine berjalan menuju ruang kerja yang bersebelahan dengan kamarnya. Pintu kamar Aaron berada di kamarnya.


"Akhirnya selesai juga. Lelah sekali." Zain meregangkan ototnya, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Zain tersenyum ketika melihat Nadine berjalan ke arah, meraih Hp yang ada di samping laptopnya. Sebelum tangannya menjauh, Zain lebih dulu menggenggam tangan Nadine. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Nadine membuat tubuhnya kembali bersemangat, kejantanannya sedang di uji.


"Kamu cantik dan harum." Zain mengecup bibir Nadine sekilas.


"Makasih." Nadine memberikan senyuman termanis untuk Zain. Pun segera melepas tangan Nadine dan membereskan berkas-berkas di atas meja lalu menutup laptopnya.


Zain berlari kecil mengikuti Nadine, di pandangnya kulit mulus Nadine yang terekspos, berulang kali menelan salivanya, ingin segera sampai kamar. Zain segera mengunci pintu kamar rapat-rapat lalu menghampiri Nadine. Kening Zain merengut ketika melihat Nadine memasuki kamar Aaron.

__ADS_1


Bluuum...


Zain tertegun di depan pintu, menatap pintu yang Nadine tutup dan menguncinya dari dalam kamar.


"Sayang, kenapa pintunya di tutup. Cepat buka, aku pengen tidur." Zain mengetuk pintu.


"Mana ada ikan tidur sama nelayan."


"Ayolah sayang kangen nih, aku kan tadi cuma bercanda."


"Puasa dulu selama satu minggu. Aku baru aja datang bulan."


"Huuuuufffhhh..." Zain terkulai lemas.


Emang enak di cuekin


***


Di sebuah restoran Jepang yang memiliki ruang pribadi, siang hari di jam istirahat kantor. Arya, Brayen, Khasanuci, Iqbal, Zain dan Arya kumpul makan bersama.


"Kau kenapa, Ci?" tanya Arya pada Khasanuci yang terlihat muram.


"Aku bingung ngadepin istriku."


"Kenapa?"


"Terlalu banyak maunya, ngambekan. Kalau lagi ngomel panjaaang banget. Kalau aku diam aja. Dia malah tambah marah. Di peluk masih ngomel, nggak di peluk tambah marah. Apa semua wanita di dunia ini sama?"


"Tidak." jawab semua orang yang ada di ruangan.


"Istriku tidak rewel dan tidak manja." ucap Zain.


"Apalagi istriku." ucap Iqbal.


"Paling kalem istriku." ucap Brayen.


"Berarti hanya istriku ya, yang aneh " gumam Khasanuci.


"Berhentilah mengeluh, kasian istrimu di gosipin suaminya sendiri, setiap rumah tangga pasti ada kekurangannya." nasehat Arya.


***


Ketika perjalanan pulang, Zain berhenti di tepi jalan. Ia membeli martabak manis kesukaan Nadine. Dia menyadari, akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kurang memperhatikan Nadine.


Dia tak ingin Nadine terus-menerus ngambek, maka Zain menyogok perut Nadine dengan makanan favoritnya. Setelah mendapatkan pesanannya, Zain segera pulang.


"Assalamualaikum." Zain membuka pintu kamar.


"Wa alaikumsalam." ucap Nadine.


"Aaron mana?"


"Main sama Zahra."


"Oh, Zahra ke sini?"

__ADS_1


"Iya."


"Ini buat kamu." Zain mengeluarkan martabak manis dari balik punggungnya lalu memberikannya pada Nadine.


"Heeemmm.... Martabak manis ya?"


"Iya."


"Makasih ya, kak." Nadine tersenyum cerah lalu memeluk Zain. Ternyata, tak perlu mahal untuk membuat seorang wanita bahagia. Cukup dengan memberikan sedikit perhatian, maka dia akan bahagia.


***


Satu Minggu kemudian, Nadine membuatkan susu untuk suaminya. Ia letakkan susu itu di di samping laptop Zain. Pun menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh Nadine, Zain tersenyum melihat lingerie seksi yang tengah di kenakan istrinya.


"Masih lama kak?" Nadine bersandar manja di bahu suaminya.


"Kamu masih datang bulan?" bukannya menjawab, Zain malah balik bertanya.


"Udah suci."


"Aaron di mana?"


"Udah tidur."


Zain meraih susu lalu meminumnya hingga kandas kemudian membereskan berkasnya dan menutup laptopnya. Zain mencium bibir Nadine dengan lembut lalu melepaskannya.


"Lanjut di kamar." kata Zain. Dengan sekali hentakan, Zain sudah menggendong Nadine dan membawanya ke kamar. Ia membuka pintu dengan tangan lalu menutup pintu dengan kakinya. Setelah mengunci pintu kamar. Zain membawa Nadine ke atas ranjang dan melakukan ritual suami istri.


***


Acara empat bulanan kehamilan Zahra di adakan di rumah mama Kartika. Alyn, Alena, Sandra, Nadine, Zahra, Ganis dan Rani juga menghadiri acara tersebut. Sembari berkumpul, mereka membantu ibu-ibu yang lain mengisi kotak berkat. Sementara para anak-anak bersama dengan papanya masing-masing.


Ganis yang tak terlalu mengenal mereka merasa canggung.


"Ganis kapan nih mau nikah?" tanya Rani.


"Nggak mikirin ke sana kak, masih pengen berkarir." ucap Ganis canggung.


"Padahal Malik udah siap meminang." Nadine menyenggol lengan Ganis.


"Hus, jangan buka kartu." kata Ganis. Semua wanita tertawa.


"Kalau Raffa kayaknya cocok deh sama Putri." ucap Alena.


"Bapaknya nggak mau jodoh-jodohin anak." ucap Rani.


"Semoga anak yang kamu lahirkan menjadi anak yang berakhlak mulia." ucap Alyn sembari mengusap perut Zahra.


"Aamiin." jawab semua orang yang mendengar.


"Semoga anak-anak kita menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah." ucap Zahra.


"Aamiin."


"Oya, Kak Alyn udah hamil berapa bulan?..." tanya Zahra yang melihat perut buncit Alyn.

__ADS_1


"Udah 7 bulan." jawab Alyn.


TAMAT


__ADS_2