Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
DIA MIRIP MIRANDA


__ADS_3

Sore hari Zain mengajak Nadine jalan-jalan ke alun-alun kota Bangil. Mereka berdua berkeliling dengan tangan yang saling bertautan. Senyum bahagia terpancar nyata di wajah keduanya, hatinya bahagia menikmati momen kebersamaan indah mereka.


"Kak, fotoin aku di situ." Nadine memberikan Zain Hpnya.


"Pakai Hp ku saja, kameranya lebih bagus." Nadine berdiri di depan pintu masuk dengan pose seperti seseorang yang sedang melangkah sambil menatap langit. Zain tersenyum melihat gaya istrinya. Beberapa kali dia mengambil gambar Nadine dengan berbagai pose.


"Mana kak, lihat hasilnya...." Zain menyerahkan Hpnya, mata Nadine berbinar-binar ketika melihat hasil jepretannya."Waaahhh... Cantik banget..." Zain terkekeh, dia baru tau kalau istrinya sangat narsis. Zain merangkul bahu Nadine kemudian memotretnya. Nadine menoleh ke kanan dan kiri, sepi. Nadine segera mengecup pipi Zain kemudian memotretnya.


"Aku baru tahu kalau kamu itu sangat narsis." ujar Zain.


"Hahahaha...." Nadine malah tertawa, sedetik kemudian Nadine terbelalak ketika melihat banyak sekali foto dirinya di galeri hp suaminya. Ada foto ketika dia tidur di bahu Zain dengan coretan pulpen di wajahnya. Ada foto saat Nadine di hukum menghadap tembok karena hampir membuat putri Iqbal terjatuh dari ranjang. Foto ketika Nadine belajar dan menjemur pakaian dan masih banyak lagi foto Nadine di galeri hp suaminya.


"Wah kak, ternyata kamu bakat jadi penguntit dan pencuri ya. Jadi dari dulu kakak suka ngintilin aku."


"Kalau iya kenapa?..."


"Dulu aja bilang aku jelek, bukan seleramu. Eehh sekarang malah jadi bucin. Kemakan omongan sendiri tuh. Menjilat ludah sendiri kan jadinya. Nggak malu tuh." Nadine mencibir.


"Aku memang suka menjilat ludahmu." Zain terkekeh tak tahu malu.


"Iiih, jorok."


"Besok aku pasti sangat merindukan mu." Ucap Zain dengan tatapan sendu, tangannya membelai lembut pipi mulus Nadine. Nadine segera memeluk lengan suaminya sebab ia juga merasakan hal yang sama.


"Cari makan yuk, lapar."


"Ayo." Zain bangkit kemudian menjulurkan tangannya lalu menarik tangan Nadine setelah menerima uluran tangannya, pun menariknya hingga Nadine terbangun dari duduknya.


Nadine dan Zain berjalan mencari tempat makan, banyak pedagang kaki lima yang menyediakan beraneka menu makanan berderet di sepanjang jalan. Hingga pilihan mereka berdua jatuh pada sate ayam di ruko lesehan.


Mereka berdua makan di barengi canda dan tawa di sela-sela makannya.


"Ini tempat makan favorit ku dulu, kak."


"Oya, kamu sering makan di sini?..."


"He'em." Jawab Nadine dengan mulut yang terisi penuh dengan nasi.


"Sama siapa?..."


"Sama teman-teman."


"Cewek atau cowok???..."


"Dua-duanya." terlepas itu hanya lah masa lalu Nadine tapi hatinya tetap sakit seperti di pecut.


Zain mengambil tissue kemudian membersihkan sudut bibir istrinya yang belepotan karena sambal kacang.


"Kamu makan seperti anak kecil."


"Kecil-kecil gini udah bisa bikin anak ya... Eh kak, aku lupa. Kita perlu bahas masalah KB."

__ADS_1


"Kenapa?..."


"Aku pengen ikut KB. Aku nggak mau hamil dulu. Aku masih pingin fokus kuliah."


"Tidak bisa. Aku sudah cukup umur. Aku pengen punya anak."


"Tapi kak, aku masih terlalu muda."


"Itu sudah resiko kamu menikah dengan pria matang dan mapan."


"Tapi kan aku belum siap nikah. Kakak yang ngebet nikah dan maksa-maksa aku buat nikah."


"Jadi kamu nyesel udah nikah sama aku." Zain ikut tersulut emosi.


"Iya." Nadine menatap Zain dengan sinis. Nadine tetaplah remaja yang masih labil, belum bisa bersikap dewasa. Zain tidak mau menjawab, yang ada jawaban Nadine akan lebih menyakitkan hati dari sebelumnya. Sunyi, Keduanya makan dalam diam sampai makanan di piring mereka kandas dan Zain membayar tagihan makanan mereka.


Zain meraih tangan Nadine lalu menggenggamnya. "Maaf." Ucap Zain kemudian mengecup punggung tangan Nadine. pun tetap bergeming.


"Besok aku ke Jakarta, aku tidak mau meninggalkan istriku dalam keadaan marah."


"Jadi gimana?..."


"Apanya?..."


"KB nya."


"Tetap tidak boleh." Nadine menatap Zain dengan malas kemudian tersenyum lalu memeluk lengan Zain.


"Nah gitu. Istriku memang pintar." Zain mengusap lembut kepala Nadine.


Keesokan paginya, sebelum berangkat ke Jakarta, berulang kali Zain memeluk dan menciumi istrinya. Seolah-olah mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama.


Setelah mencium tangan kedua mertuanya, Nadine mencium punggung tangan Zain. Nadine yang tak rela melepaskan kepergian suami pun menangis.


"Sudah, jangan menangis. Satu Minggu lagi kita akan bertemu di pelaminan." Zain melepaskan pelukannya dan pergi. Berulang kali dia menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil online. Zain membuka kaca jendela mobil dan terus menatap istrinya yang berdiri di tengah jalan sembari melambaikan tangan, hingga mobil menjauh dan Nadine tak terlihat lagi.


***


Satu Minggu kemudian, waktu resepsi pernikahan yang di tunggu-tunggu tiba. Nadine keluar dari mobil bersama dengan keluarganya. Dengan balutan gaun berwarna putih tulang, dengan siluet press body bagian atas dan mengembangkan di bagian pinggang ke bawah. Dengan riasan natural, Nadine terlihat begitu cantik seperti Barbie. Nadine memasuki hotel menuju pelataran pernikahan. Semua mata yang melihat pengantin wanita itu terpukau, begitu takjub dengan kecantikannya.


Zain tertegun melihat istrinya, jantungnya berdegup semakin kencang ketika langkah Nadine kian mendekat.


"Kamu sangat cantik sayang." bisik Zain di telinga Nadine, membuat si pengantin wanitanya tersipu malu. Satu Minggu mereka tak bertemu, rindu sudah menggebu-gebu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua melakukan sesi foto dengan berbagai pose. Mereka juga mengabadikan momen bahagia ini dengan para tamu yang datang. Begitu banyak teman bisnis Zain yang hadir, begitu pun teman-teman Nadine.


Banyak para tamu undangan yang mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


"Selamat ya Nadine. Semoga di limpahi barokah pernikahanmu." Zahra memeluk Nadine begitu erat.


Setelah Zahra melepaskan pelukannya dari Nadine, giliran Ganis yang memeluk Nadine kemudian mengucapkan selamat."Selamat ya sahabatku, semoga kamu bahagia."

__ADS_1


"Selamat ya kak." Zahra mengatupkan kedua tangannya di dada tepat di hadapan Zain. Zain tertegun melihat wajah Zahra dari dekat. Selama ini Zain tidak terlalu memperhatikan kedua sahabat istrinya.


"Astaghfirullahhal adzim." Zahra menepis tangan Zain ketika Zain menarik tangannya.


"Maaf, namamu siapa?..."


"Zahra." Zahra mulai menjauh.


"Zahra, foto dulu." pinta Nadine mencoba mencairkan suasana.


"Maaf Nad, nggak bisa." Zahra hanya menoleh, lalu turun dari panggung dengan keadaan marah karena Zain sudah lancang menyentuhnya.


"Aku kejar Zahra dulu, Nad." ucap Ganis kemudian buru-buru pergi.


"Kenapa kak?..." Nadine bertanya dengan raut wajah kecewa karena rasa cemburu bercampur kesal.


"Aku pikir mengenalnya."


"Siapa?..."


"Miranda. Dia mirip dengan Miranda."


Zain masih menatap punggung Zahra yang kian menjauh.


"Wajah mirip itu hal biasa kak. Namanya Zahra Ainur Rofiq, kak. Bukan Miranda. Sekarang dia marah sama kakak karena kakak lancang pegang dia sembarangan."


"Maaf, tadi aku hanya refleks. Karena ku pikir dia adikku." Nadine memeluk Zain, tak peduli dengan sorotan mata orang--orang yang ada di sekitarnya. Nadine dapat merasakan derita yang tengah di alami oleh suaminya.


***


Golongan sahabat Dion juga menghadiri acara pernikahan Nadine. Malik, Darma, Habibi, Alex, dan Agung.


"Elo apa sih Lex. Sebenarnya Gue nggak Sudi hadir di acara nikahan cewek sinting kayak dia. Gara-gara dia, Jiwa Dion terguncang dan sekarang jadi depresi."


"Ini juga salah elo Lik, elo udah nyumpahi Dion supaya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama bini orang. Sekarang kejadian kan." ujar Habibi yang mengingatkan.


"Kok elo jadi nyalahin gue sih." Protes Malik.


"Kita doain aja semoga Dion cepat sembuh dan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Nadine." saran Habibi.


"Udah ah, nggak usah ribut-ribut kayak anak kecil. Mending kita pamit ke Nadine terus kita cabut." saran Alex.


Mereka berlima naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat.


"Selamat ya Nadine, semoga Elo bahagia sama pilihan elo." ucap Alex.


"Kak Alex, bagaimana keadaan Kak Dion?..." Nadine yang cemas dengan keadaan Dion bertanya pada Alex, Zain langsung menarik tangan Nadine sebab cemburu.


"Dion sedang tak enak badan. Makanya nggak bisa hadir." jawab Alex dan berlalu pergi.


"Selamat ya, elo udah menari bahagia di atas penderitaan Dion." Ucap Malik sinis.

__ADS_1


***


Selamat menikmati.


__ADS_2