Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
KAK ZAIN AKU INGIN BERTEMU


__ADS_3

Pagi hari semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, termasuk Nadine yang sibuk mencuci piring di wastafel. Tangannya kotor berlumuran dengan busa sabun.


"Nadine, di panggil Nyonya Rani. Kamu di tunggu di kamarnya."


"Ada apa ya bi, kok tumben?..." Nadine menoleh ke belakang melihat Bi Ijah.


"Nggak tahu. Sudah pergi sana temui Nyonya Rani, siapa tahu penting."


"Iya Bi, tunggu sebentar. Ini hampir selesai."


"Udah pergi sana, biar bibi yang lanjutin cuci piringnya."


"Iya Bi..." Nadine membasuh tangannya dengan air bersih yang mengalir dari pancuran dan segera pergi menuju kamar Rani.


Nadine mengetuk pintu kamar Rani.


"Masuk, tidak di kunci." Terdengar suara Rani dari dalam kamar. Nadine pun segera masuk.


"Kemari" Rani melambaikan tangannya agar Nadine menghampirinya.


"Ini..." Rani menyerahkan amplop berwarna coklat pada Nadine.


"Apa ini kak?..." Nadine membolak-balikkan amplop tersebut.


"Itu gaji kamu selama bekerja di sini."


"Loh kak, nggak usah. Aku di sini bukan untuk bekerja, aku cuma bantu bantu pekerjaan ringan aja kak. Di kasih tempat tinggal dan makan gratis saja sudah syukur Alhamdulillah."


"Udah kamu ambil aja nggak apa-apa. Aku perhatikan kamu kerjanya rajin tiap hari. Itu buat biaya tambahan kamu kuliah. Kamu kan juga kerja paruh waktu di luar, tanggungan kamu pasti banyak." Nadine menatap lekat wajah Rani, dia begitu terharu, dia sangat beruntung memiliki majikan sebaik Rani.


"Nggak usah kak terimakasih. Aku tambah nggak enak kalau udah numpang malah di kasih duit lagi." Nadine mengembalikan amplop tersebut.


"Udah nggak usah nggak enak, nggak enakan. Ini ambil." Rani mengembalikan amplop tersebut ke tangan Nadine.


"Tapi kak..."


"Apa mau Suamiku sendiri yang ngasih ke kamu..."


"Eh jangan kak...."


"Kenapa?.... Takut ya karena suami ku galak."


"Hehehe,,, Iya..."

__ADS_1


"Walaupun galak, tapi sebenarnya dia baik kok... Yasudah sana pergi. Entar kuliahnya terlambat lagi."


***


Nadine masuk ke dalam kamarnya, membuka amplop pemberian dari Rani. Matanya terbelalak melihat jumlah lah.


"Ya ampun, banyak banget."


Nadine menghitung uang dari Rani kemudian menggabungkannya dengan gaji yang semalam ia terima setelah 1 bulan bekerja.


"Alhamdulillah udah kumpul 4 juta sama kiriman dari kampung jadi 5 juta 500 ribu. Walaupun aku punya masalah tapi aku punya Allah yang maha besar yang selalu memberikan ku jalan keluar." Nadine menata ulang uangnya, sebagian ia simpan untuk keperluan sehari-hari.


Nadine beranjak dari duduknya, dia berlari-lari kecil dengan membawa amplop mencari keberadaan Zain. Bibirnya terus tersenyum tak sabar ingin bertemu dengan Zain. Setiap tempat sudah Nadine jelajahi, tapi dia masih belum bisa menemukan keberadaan Zain.


"Cari siapa?..." Tari Salah satu ART bertanya pada Nadine, sebab melihat tingkahnya yang terlihat kebingungan berjalan ke sana kemari. Dari penampilannya dia cukup cantik, di lihat dari wajahnya dia terlihat sebaya dengan Nadine.


"Eh, aku cari kak Zain."


"Semalam dia tidak pulang."


"Yah,,," Nadine memasang ekspresi kecewa di wajahnya.


"Ada perlu apa kamu mencarinya?..."


"Aku ingatkan ya sama kamu. Jaga jarak sama dia, dia itu punya hobi mematahkan hati gadis. Aku pernah lihat sendiri di rumah sakit waktu aku kirim baju ganti untuk tuan Iqbal dan nyonya Rani. Tuan Zain membuat seorang wanita menangis karena di Campakan begitu saja. Pasti habis di pakai langsung di buang."


"Oh ya,,,, Jangan suka membuat kesimpulan kalau nggak tahu masalah yang sebenarnya. Jatuhnya jadi fitnah nanti. Kalau aku sih lebih percaya sama ucapan kak Rani yang baik hati."


"Loh, emang bener kok yang aku bilang. Perempuan itu kebanyakan gagal move on biasanya karena abis di kelon langsung di tinggal. Memangnya Nyonya Rani bilang apa?..."


"Kak Rani bilang apa itu bukan urusanmu. Jangan membicarakan sesuatu yang belum tentu benar lah kak." Nadine masih tak terima Tari menjelekkan Zain, beruntung Nadine sudah mendengar cerita dari Rani kemarin.


"Jangan panggil dia kakak, dia tuh nyonya kamu." Ujar Tari ketus.


"Yeeee,,,, kak Rani sendiri tuh yang nyuruh aku panggil dia kakak... Kok kamu yang sewot."


"Kamu jangan sembarangan ya kalau bicara. Aku ini senior mu."


"Kamu yang jangan sembarangan bicara. Aku aduin ke kak Zain sama kak Rani baru tahu rasa kamu. Kamu tahu kan aku dekat sama mereka. Apa lagi bi Ijah adalah kesayangan tuan Iqbal."


Nadine mencerca Tari dengan ancaman.


"Dasar mulut ember." Tari mendengus kesal, ia tidak berkutik dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Mulut mu harimau mu..." Ucap Nadine cukup keras yang masih bisa didengar oleh Tari.


Nadine pergi ke kamarnya, mengambil hp kemudian menghubungi Zain. Sudah tiga kali panggilan ia lakukan tapi tak kunjung mendapat jawaban.


***


Zain keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dia berjalan menuju ranjang. Setelah duduk, dia meraih Hp di atas nakas. Bibir Zain tersungging ketika melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Nadine. Jantungnya berdebar, hatinya bahagia.


Zain membuka pesan wa dari Nadine yang berisi,,,,


"Kak, kamu ada di mana?..." Pesan Nadine.


"Kapan mau kesini?.... Aku pengen ketemu..." Pesan dari Nadine.


Zain memegangi dadanya yang sedang gembira ria."Hah, Nadin ingin bertemu dengan ku... Kenapa?... Apakah dia juga merindukan ku?... Apakah aku boleh berharap dia juga mencintaiku?...." Senyum terus mengembang di wajahnya.


"Aku ada di apartemen... Kenapa?..." Zain membalas pesan wa dari Nadine.


"Aku pengen ketemu sama kakak, cepat kesini ya, aku tunggu..." Balas Nadine... Senyum di bibir Zain kian mengembang..."Nadine sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ku.... Oh, ya Allah.... Indahnya jatuh cinta. Cintaku padamu karena Allah, Nadine. Aku siap mempersuntingmu kapan saja."


Zain segera bangkit dari ranjang dan bersiap siap untuk pergi ke rumah Iqbal karena Nadine mengatakan, 'Cepet kesini, aku tunggu.'


Zain mengambil parfum, dia sedikit bingung akan memakai parfum yang biasa dia gunakan atau parfum yang biasa Nadine gunakan.


"Eemmmm,,, Ini sajalah..." Zain menyemprotkan parfum yang biasa Nadine gunakan ke tubuhnya. Dia segera memakai bajunya, kemudian menyisir rambutnya dan keluar dari kamar.


Saat Zain membuka pintu bertepatan dengan Riska yang juga membuka pintu apartemennya. Riska memberikan senyuman terindahnya di pagi hari pertama pada Zain, kehadiran Riska tak mampu menyurutkan senyum yang sedari tadi melekat di bibir Zain.


Mereka berdua berjalan beriringan, memasuki lift bersama bahkan menuju parkiran mobil bersama. Sedari tadi Riska mengajaknya bicara tapi yang terdengar di telinga Zain hanya lah lagu cinta, entah muncul dari mana lagu itu.


Baru saja Zain masuk ke dalam mobilnya dia sudah keluar. Zain nampak kebingungan.


"Pakai mobil apa motor ya, jelas jelas Nadine menyuruh ku cepetan. Naik mobil macet, jika naik motor, angin bisa merusak penampilan dan tatanan rambut ku. Parfumku bisa jadi bau asap."


1 detik kemudian. "Naik mobil saja lah..." Gumam Zain dalam hati. Riska yang memperhatikan Zain sedikit bingung. Apalagi dengan senyum di wajah laki-laki itu. Dia tersenyum untuk siapa?... Sejak tadi hanya ada dia dan dirinya.


Zain melajukan mobilnya dengan kencang, tak sabar ingin bertemu dengan Nadine. Membayangkan Nadine akan bahagia dengan kedatangannya, dan berlari ke pelukannya membuat hatinya berdebar.


Sesampainya di rumah Iqbal dia melihat Nadine tersenyum ke arahnya, dan berlari ke pelukannya.


***


Jangan lupa like favorit

__ADS_1


kalau bisa vote nya juga kakak....


__ADS_2