Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
SHOLAT JAMA'AH


__ADS_3

Zain tersenyum-senyum sendiri . Bayangan saat dia bertatap mata dengan Nadine membuatnya bahagia, apa lagi saat tadi dia menyentuh tangan Nadine. Pikirannya menerawang jauh, bagaimana jika dia menyentuh bagian yang lain. Ah, bodoh. Kenapa mendadak pikirannya menjadi liar, jadi tidak sabar untuk mempersunting Nadine. Walau bagaimana pun Zain adalah laki-laki dewasa, dia sudah matang. Sudah siap merasakan asupan gizi.


Zain masuk ke dalam ruangan tepat di samping kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit.


Pikirannya masih melayang kepada Nadine, perasaan takut kehilangannya tiba-tiba menyusup, mengingat bukan hanya dirinya yang menginginkan Nadine.


Zain akan melakukan apapun untuk memiliki Nadine, dia memang berniat untuk memenangkan hati Nadine dengan cara baik-baik tapi jika hatinya bukan tercipta untuk Zain. Maka Zain akan memaksa untuk memiliki Nadine dengan cara apapun. Hah, kotor sekali pikirannya demi untuk mendapatkan seorang gadis.


***


Nadine membagi sebagian martabak manis pada Bi Ijah, karena di rasa terlalu banyak jika untuk ia habiskan sendirian. Setelah menghabiskan martabak manis tersebut Nadine merebahkan tubuhnya di samping Miranda.


Tangan Miranda meraba-raba, mencari kehangatan. Kemudian memeluk Nadine dengan posesif.


"Sebenarnya siapa gadis kecil ini?..." Nadine membelai kepala Miranda. Matanya masih tak bisa terpejam. Bayangan mata tajam terus bergentayangan.


***


Waktu satu jam Zain habiskan untuk berpikir. Kini pikirannya menerawang pada takdir, bagaimana jika takdir tak berpihak padanya. Bagaimana jika takdir memisahkan mereka dan menjodohkan Nadine dengan orang lain. Rasa kesal dan khawatir menjadi satu, tak mau berlama-lama menerka nerka Zain mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan wa kepada Nadine.


"Nadine..." Pesan singkat yang terkirim pada Nadine. Hatinya ketar ketir takut Nadine mengacuhkannya. Gengsi, iya. Takut di tolak iya. Zain tak pernah mendekati wanita, sejak dulu para wanita lah yang mengemis dan mengharapkan Cintanya.


Zain fokus menatap layar Hpnya. Hatinya gelisah karena Nadine tak kunjung membalas pesannya. 10 Menit kemudian ada notif pesan masuk ke Hp Zain, dengan terburu-buru dia membuka pesan itu.


"Apa?...." Isi pesan dari Nadine. Hati Zain gembira ria dan bersorak Sorai, senyum terus melekat di wajahnya. Hanya di balas 'Apa?' Hatinya sudah bahagia, apalagi di balas 'I love u too'....


"Belum tidur?..." Ah, pertanyaan macam apa ini. Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau bisa balas pesanmu, itu artinya aku belum tidur kak..."


Zain jadi salah tingkah mendapatkan balasan dari Nadine. Cinta membuatnya benar-benar bodoh.


"Kalau belum tidur kenapa lama sekali balas pesanku?..."


"Maaf lagi di toilet..." Balas Nadine. Nah kan pikiran Zain jadi menerawang kemana mana.


"Ngapain di toilet?..." Ah, sial... Pertanyaan macam apa ini, mau di hapus tapi sudah terlanjur di baca oleh Nadine. 'Jatuh cinta membuatku terlihat bodoh...'


Wajah Nadine bersemu merah, pertanyaan macam apa itu. Kenapa menanyakan Nadine sedang apa di toilet.


"Kakak tuh ada perlu apa sebenarnya?...😭😭😭" Nadine membalas pesan wa Zain dengan emot menangis, ia kesal.

__ADS_1


"Oh, apakah Miranda masih tidur." Zain mencari alasan yang masuk akal agar bisa berkomunikasi dengan Nadine.


"Iya... Ini lagi meluk aku...." balas Nadine.


"Kapan aku bisa memelukmu Nadine." Zain berharap dalam hati.


"Kak, kalo nggak ada perlu lagi aku mau tidur. Ngantuk + capek....🙏🙏🙏"


Hah, Zain kecewa... Padahal dia masih ingin berkomunikasi dengan Nadine. "Ternyata mencintai sendiri itu sakit."


"Iya tidurlah, jika ada perlu sesuatu... Aku ada di kamar sebelah..."


"Iya..." Pesan terakhir dari Nadine.


Zain tak bisa tidur, dia scroll hp-nya dari atas ke bawah, membaca berulang ulang pesan dari Nadine yang isinya biasa saja tapi terkesan luar biasa di hati Zain. Tak hanya itu, Zain membuka galeri foto dan video. Tak bosan-bosannya dia memandangi wajah Nadine, membuat berdesir darahnya, mengalir hangat di tubuh. Hati gelisah bercampur bahagia sebab sang pujaan tiada di genggamannya.


"Jika saja kamu mau menerima lamaranku, pasti aku akan menikahimu kala itu juga." Gumam Zain penuh harap sembari tersenyum mengusap wajah Nadine di layar Hpnya.


***


Pagi buta Miranda terbangun, dia memandangi wajah Nadine yang begitu cantik. Jari lentiknya menyusuri wajah Nadine, dari alisnya yang hitam seperti terukir, bulu mata yang lentik, jarinya naik ke hidung yang runcing, dan beralih ke bibir mungil tapi berisi.


"Cantik..." Di dalam hati dia berdoa, berharap semoga Zain dan Nadine bersatu dalam ikatan suci.


"Eh, Miranda sudah bangun!..."


"Iya kak, ayo cepat bangun. Bentar lagi adzan subuh berkumandang. Kita sholat subuh berjamaah ya, aku, kak Nadine sama kak Zain."


"Kakak sholat sendirian biasanya. Miranda sholat subuhnya sama kak Zain aja ya berdua." Nadine menolak Miranda secara halus. Entah kenapa rasanya malu jika harus berjamaah dengan Zain sebagai imam.


"Pokoknya kita sholat jama'ah bareng...." Miranda menarik-narik tangan Nadine hingga turun dari ranjang. Nadine pun akhirnya menggiring Miranda ke kamar mandi dan membantunya membersihkan diri. Sedangkan Nadine sendiri hanya mencuci muka.


"Tok tok tok..." Nadine segera membuka pintu. Zain berdiri di depan pintu dengan muka bantalnya. Begini lah orang tampan, bangun tidur walaupun tidak mencuci muka tetap lah tampan.


"Miranda sudah bangun?..." Zain bertanya.


"Sudah..." Jawab Nadine, menggeser tubuhnya dari pintu supaya Zain bisa melihat Miranda yang duduk di atas ranjang dengan tubuh yang di lilit handuk berwarna biru, gadis itu menggigil kedinginan.


Zain melangkah masuk melewati Nadine yang masih berdiri di depan pintu. "Pakaian Miranda, ada di dalam lemari ini." Ucap Zain sembari membuka pintu lemari.


"Kakak, kita sholat jama'ah bareng sama kak Nadine ya... Ting..." Miranda mengerlingkan matanya. Zain hanya tersenyum.

__ADS_1


Zain mengambil baju ganti untuk dirinya dari dalam lemari kemudian keluar.


"Bersiaplah. Kami tunggu di sini." Ucap Zain sembari melewati Nadine.


"Tapiiiii..." Nadine hendak menolak namun segera di sanggah oleh Zian.


"Ini perintah." Mode nyebelin Zain muncul kembali. Zain pun pergi.


Nadine merasa takjub melihat di dalam lemari milik Zain terdapat banyak baju Miranda. Berarti Miranda juga pernah menginap di sini Sebelumnya.


Nadine menarik baju milik Miranda tapi malah jatuh barang bersejarah milik Zain.


"Iiiiiihhhhh...." Nadine bergidik ngeri ketika memungut CD Zain yang terjatuh dengan jari telunjuk dan jempolnya. Langsung saja ia lemparkan ke dalam lemari.


"Hikikikikiki...." Miranda cekikikan sembari menutup mulutnya ketika melihat ekspresi wajah Nadine.


***


Beberapa saat kemudian setelah membersihkan diri, Nadine mengetuk pintu kamar Zain.


"Masuk kak, nggak di kunci." Terdengar suara Miranda cukup lantang.


Nadine membuka pintu, di lihatnya Zain dan Miranda duduk di atas sajadah. Miranda melambaikan tangan padanya. Sudah tersedia sajadah kosong di belakang Zain, tepat di samping Miranda.


Nadine membuka sandal suciannya kemudian berpijak di atas sajadah.


"Nadine, iqamat bisa...." Perintah Zain menatap Nadine sekilas, Nadine pun mengangguk.


Mereka bertiga melakukan ibadah bersama dengan sungguh-sungguh. Setelah mengucapkan salam mereka berdzikir dan berdoa.


"Ya Allah ya Tuhanku, hamba sangat mencintai Nadine. Hamba mohon ikatlah kami dengan ikatan suci pernikahan yang halal. Ikatan yang terdapat begitu banyak pahala di dalamnya... Jadikanlah dia perempuan yang selalu menebar kebaikan dunia akhirat untuk hamba dan Miranda." Zain berdoa begitu khusu' penuh harapan.


"Jika Nadine buruk untuk hamba dan Miranda, maka jauhkanlah dia dari kami. Tapi jika dia baik untuk hamba dan Miranda, maka dekatkanlah kami... Aamiin..." Menetes lah air mata Zain ketika membayangkan dirinya bukanlah jodoh Nadine.


Doa terakhir yang di panjatkan oleh Zain, di aamiin kan oleh Nadine dan Miranda. Walaupun mereka tidak tahu apa yang di baca oleh sang imam, mereka tetap mengaminkan doa yang mereka yakini baik.


Buat apa berjodoh dengan orang yang di cintai jika wanitanya seperti Riska. Betoooolll...


***


Jangan lupa like vote favorite ya kakak...

__ADS_1


Kalau banyak yang dukung, double up deh nanti malam.


__ADS_2