
Saya sangat yakin, apapun yang menimpa Zahra sama sekali tak menyurutkan niat saya. Tekad saya untuk melamar Zahra malah semakin kuat melihat keteguhan iman seorang muslim seperti Zahra." jawab Gus Fauzan.
Dada Dion semakin sesak mendengar jawaban Gus Fauzan. Ia merasa tidak layak untuk Zahra jika di bandingkan dengan seorang alim ulama. Zahra gadis Solehah yang berhati lembut, lebih pantas bersanding dengan lelaki Sholeh. Dion minder bersaing dengan seorang putra kiyai.
"Aku yang terlalu besar kepala, ku pikir pengorbanan besar kak Dion untuk ku karena dia juga memiliki rasa yang sama. Nyatanya dia terlihat tak peduli dengan lamaran Gus Fauzan padaku." Zahra membatin, hatinya di liputi kekecewaan.
"Bagaimana nak, apa kamu mau menerima lamaran dari Gus Fauzan?..." ibu Fatima bertanya sembari membelai kepala Zahra.
Bibir Zahra terasa kelu, tak sanggup ia menjawab pertanyaan sang ibu. Sebab jawaban yang akan Zahra berikan bertolak belakang dengan isi hatinya. Bagaimana bisa seorang murid sanggup menolak permintaan gurunya, yang berjasa membagikan ilmunya dari huruf Alif dan sebagainya.
"Yon, Kesempatan Elo tipis. Bertindak sebelum menyesal."
"Gue bukan pilihan Lex. Gue minder." Dion nampak frustasi, belum mengutarakan isi hatinya tapi ia sudah merasa kalah.
"Gemes gue sama elo."
"Zahra berhak mendapatkan yang lebih baik dari gue."
"Udah deh, nggak usah sok bijak. Entar patah hati, nangis lagi, mewek lagi, gila lagi."
Dion tak menjawab, dia hanya menunduk pasrah.
"Nak Zahra???...." ibu Fatima kembali bertanya.
"Saya, saya ma..." Zain menyela ucapan Zahra.
"Sebelumnya saya minta maaf, saya berterima kasih atas niat baik anda pada adik saya. Tapi, lamaran ini terlalu cepat bagi adik saya. Saya harap anda tidak keberatan untuk memberikan kami waktu kurang dari 24 jam untuk mempertimbangkan jawaban dari adik saya." ucap Zain.
"Tentu, tidak masalah. Kami akan menunggu jawaban dari nak Zahra. Kami akan siap menerima apapun keputusan dari nak Zahra." ucap kiyai Abdullah.
"Terima kasih atas pengertiannya." balas Zain.
Setelah beberapa lama berbincang-bincang, keluarga kiyai Abdullah berpamitan pulang. Dion dan Alex pun ikut berpamitan.
"Kak, kami permisi dulu." ucap Dion dan Alex bersamaan.
"Aku memberikan peluang bagi siapa saja yang mau melamar adikku." ucapan Zain yang tiba-tiba membuat Dion terperangah tak percaya. Apakah ini kode untuknya?
"A, apa aku boleh mengajukan lamaran untuk Zahra?..."
"Tentu dan keputusan ada di tangan adikku."
"Kakak, sudah tidak marah padaku?..." Dion bertanya dengan nada ragu, dia hanya penasaran kenapa dia begitu ketus padanya dan tiba-tiba mengatakan memberikan peluang untuk siapa pun melamar adiknya.
"Maaf, sudah bersikap kasar padamu. Aku hanya ingin melihat seseorang yang tulus menerima adikku apa adanya. Terima kasih sudah menolong adikku. Berkat mu, aku bisa menemukan jejak adikku."
"Kakak, sudah tidak membenciku?..."
"Aku tidak bisa menutup mata melihat pengorbanan mu. Bahkan kau rela mengorbankan nyawa demi adikku, aku tak bisa mengabaikan semua itu."
__ADS_1
Dion tersenyum senang sembari mengusap-ngusap kepalanya. Hatinya bersorak Sorai, andai tak ada orang, pasti ia sudah berjingkrak-jingkrak meluapkan segala kebahagiaannya.
"Jangan senang dulu, Zahra belum memberikan jawaban." senyum Dion seketika menyurut setelah mendengar perkataan Zain.
"Sekarang, tolong berikan aku dan adikku ruang untuk bicara."
"Baik kak, Terimakasih. Ra, aku pamit dulu." Dion berpamitan dengan Zahra, setelah Zahra mengangguk. Alex mendorong kursi rodanya keluar.
***
"Kalian dari mana aja sih?.... Dari tadi mama cariin. Dokter kan udah bilang, jangan terlalu banyak gerak, kamu baru di operasi." tanya Mama ketika melihat Dion yang duduk di kursi roda di dorong masuk oleh Alex.
"Ma, Dion minta restu. Dion pengen nikah?..."
"Sama siapa?..." tanya Papa.
"Sama Zahra."
"Alhamdulillah." Mama Kartika begitu antusias, beliau sangat mendukung keputusan putranya.
"Tapi lamaran Dion belum di terima."
"Semangat dong, kok wajahnya malah di tekuk kek gini?..."
"Masalahnya, Gus Fauzan putra kiyai Abdullah pemilik pesantren Al-Fitrah juga melamar Zahra. Dion minta doanya ya, Ma, Pa. Doa orang tua itu kan mustajab." ucap Dion tampak tak percaya diri.
"Tanpa kamu memintanya, kami akan selalu merestui dan mendoakan kamu nak." Mama Kartika memaksakan senyumannya sembari mengusap lembut kepala Dion. Sebenarnya, dia pun juga khawatir jika Zahra lebih memilih Gus Fauzan ketimbang putranya.
"Iya, Pa."
***
"Jadi siapa yang kamu pilih?..." Zain bertanya. Nadine menatap lekat wajah adik iparnya, penasaran dengan jawaban apa yang akan di berikan.
"Aku bingung, kak."
"Apa yang membuat mu bingung?..." Zain bertanya.
"Bagaimana bisa aku menolak permintaan guruku, kak?..."
"Lalu bagaimana dengan kak Dion yang sudah berjasa banyak untuk kamu dan kakak mu. Bahkan, Kak Dion rela mempertaruhkan nyawanya demi kamu. Kita nggak bisa menutup mata atas pengorbanannya." tutur Nadine.
"Tolak ukur di sini bukan masalah balas Budi pada jasa dan berbakti pada guru. Tapi tentang siapa yang kamu cintai?..." imbuh Zain.
"Betul, hatimu itu milih siapa?..." Zahra kebingungan menjawab pertanyaan Nadine yang begitu sepele tapi terasa begitu berat.
"Jangan pakai istilah nggak enak hati. Itu bisa merugikan diri sendiri." Rani menimpali.
"Apakah kamu mencintai Gus Fauzan?..." Zahra menggeleng, sebagai jawaban dari pertanyaan Zain.
__ADS_1
"Kalau sama Dion?..." Zain kembali bertanya, Zahra menunduk, menggigit bibir bawahnya, tak berani menjawab, wajahnya merah padam karena tersipu malu. Seumur hidup, dia tak pernah menyatakan cinta. Ini adalah pengalaman pertama, jantungnya meletup-letup tubuhnya meremang karena nervous.
"Malu ni yeeeeee...." Nadine mencolek dagu adik iparnya.
"Betul, betul, betul...." Rani ikut menggoda, ia terkekeh bersamaan dengan Nadine.
"Jinak-jinak merpati, dia." imbuh Nadine.
Zahra tersenyum dengan kepala semakin menunduk, tangannya kebingungan mengusap pipi hingga ke tengkuk, kemudian mencubiti bantal yang ia pangku untuk mengurangi rasa grogi.
"Cie, cie, yang lagi kasmaran. Malu-malu kucing." Nadine mencolek pinggang Zahra.
"Kaaaak.... Aku malu...." Zahra mulai protes dengan wajah merah bersungut-sungut, Zain tersenyum kecil melihat tingkah konyol sang adik. Apalagi dengan istrinya tercintanya yang terus menggoda sang adik. Zain sangat bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya. Suasana keluarga yang sudah lama ia rindukan.
"Kalau begitu aku akan menemui orang tua Dion untuk membicarakan masalah lamaran." ucap Zain sembari mengusap lembut kepala Zahra.
"Lalu bagaimana dengan Gus Fauzan?..." Zahra bertanya dengan raut wajah sungkan.
"Jangan khawatir, nanti kakak yang akan bicara padanya. Kamu tidak perlu sungkan, bagi kakak, sekarang hanya lah kebahagiaan mu. Tidak perlu belajar mencintai jika sudah ada yang kamu cintai."
"Terima kasih, kak." Zahra memeluk Zain.
***
Pak Wibowo segera membuka pintu kamar rawat Dion ketika mendengar suara ketukan pintu. Saat pintu di buka, terlihat sosok Zain berdiri di depan pintu.
"Silahkan masuk."
"Tidak, terima kasih. Di sini saja, karena saya sedang terburu-buru."
Kehadiran Zain di sambut baik oleh pak Wibowo. Sementara Alex dan Dion hanya diam membisu melihat Zain dan pak Wibowo berdiskusi di luar pintu, di lihat dari sorot wajahnya, mereka terlihat begitu serius. Entah apa yang mereka bicarakan, hal itu membuatnya begitu penasaran.
Setelah beberapa menit berselang, Zain pergi berlalu. Dan sang Papa kembali masuk ke dalam kamar rawatnya.
"Dia bilang apa, Pa...."
"Dia meminta maaf, dan akan segera pergi ke kediaman kiyai Abdullah."
"Lamaran Dion di tolak ya, Pa?..." tanya Dion dengan ekspresi wajah murung, hatinya begitu sakit.
"Lamaran mu di terima, Nak."
"Serius, Pa?..." tanya Dion kegirangan.
"Iya.... Dia ke rumah Kiyai Abdullah untuk menolak lamarannya. Kalau kamu sudah pulih, bisa tunangan dulu. Dia ingin menikah kan kalian dua bulan lagi."
"Kok cepat banget, Pa."
"Kenapa, nggak mau?... Atau mau mundur?..."
__ADS_1
"Eh, mau Pa, mau." ralat Dion dengan cepat, membuat Alex dan mamanya tertawa lepas.