Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
TERUNGKAP


__ADS_3

"Wah, ide bagus kak. Aku punya album foto waktu masih kecil di rumah." Zahra refleks mengacungkan jari telunjuknya ke atas dengan penuh semangat seperti baru saja mendapatkan wangsit. Dion sekilas melirik Zahra, dia ikut tersenyum senang melihat gadis cantik itu bahagia.


Setibanya di rumah, Zahra berlari kecil menapaki setiap anak tangga dengan penuh semangat. Dion yang berdiri di bingkai pintu menggelengkan kepala melihat kelakuan Zahra.


"Maaf ya nak, rumahnya sempit." ucap ibu Fatima, ibu angkat Zahra membawa segelas teh panas untuk Dion setelah Dion di persilahkan masuk olehnya.


"Iya, tidak apa-apa bu." Dion mengangguk sopan.


"Maaf ya cuma ini adanya." Ibu Fatima meletakkan segelas teh di atas kursi plastik tepat di hadapan Dion.


"Terima kasih, ini aja udah cukup kok Bu." ucap Dion sopan. Pun memperhatikan rumah Zahra yang teramat sempit. Dia tidak pernah menyangka, gadis secantik dan berpendidikan tinggi seperti Zahra memiliki kehidupan yang begitu pilu.


Zahra menuruni tangga dengan menebar senyum lebar, tangannya mendekap album foto.


"Ini kak..." Zahra mengayun ngayunkan album foto di tangannya.


"Sini, aku mau lihat." tangan Dion menengadah di hadapan Zahra.


"Kita lihat sama-sama, kak."


Zahra dan dion duduk berhadapan memilih salah satu foto yang terlihat paling jelas di antara foto yang mulai usang.


"Sini, sekarang kamu ku foto."


"Buat apa kak?... Aku kan udah punya banyak foto di galeri Hpku."


"Harus foto terbaru dong." Dion menyeringai kemudian memotret Zahra.


Setelah mendapatkan foto yang akan mereka posting, mereka sedikit kebingungan untuk mengisi statusnya.


"Kalau di cari orang hilang, gimana kak?..."


"Nggak cocok Ra."


"Terus apa dong?..."


"Sedang mencari jodoh... Hahahaha..."


"Iiih, kakak nih.... Serius dong kak." Zahra menepuk paha Dion dengan album foto yang ada di tangannya karena kesal. Pemuda sableng itu malah tertawa.


"Ok, ok.... Serius nih?..." Dion menghentikan tawanya dan memakai tampang serius."Gadis yang hilang ingatan sejak kecil hingga dewasa, mencari keluarganya yang hilang. Jika ada yang mengenalinya segera hubungi Nomor wa 021xxxx. Selesai. Gimana?..." Dion menunjukkan hasil editannya di sosmed yang bersanding dengan foto diri Zahra saat kecil dan dewasa. Dia juga menyertakan nomor telepon Zahra dan dirinya.


"Udah bagus kak."


"Ok, kalau begitu langsung search. Semoga kamu cepat bertemu dengan keluarga mu yang sebenarnya." Dion memposting di setiap akun sosmed dirinya dan di akun sosmed milik Zahra. Tak lupa, Dion meminta bantuan dari para sahabatnya.


"Aamiin..." Zahra meraup wajah dengan sepuluh jarinya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Ini sudah malam. Kamu istirahat ya."

__ADS_1


"Iya, terima kasih ya kak."


"Sama-sama." Dion berpamitan pada ibu Fatima lalu bergegas pergi.


***


Musik terdengar begitu kencang, pria hidung belang keluar masuk rumah bordil dengan tawa bahagia tanpa dosa bersama wanita yang berpakaian terbuka. Banyak wanita yang bergelayut manja pada pria nakal yang bukan mahramnya.


"Ternyata gadis kecil itu masih hidup, dia cantik. Jika di jual pasti akan menghasilkan banyak uang." gumam Baron menyeringai jahat, pria berambut gondrong yang di ikat kuda melihat berita yang sedang trend di dunia maya.


"Siapa maksud elo?..." tanya madam Angel, mucikari pemilik rumah bordil.


"Miranda. Gadis yang dulu madam beli." Baron menunjukkan gawainya pada sang mucikari.


"Wah wah, ternyata dia sangat cantik, tidak salah jika dulu gue membelinya dari elo. Tapi biarkan saja, kalau sekarang sudah percuma, tak ada gunanya. Saudaranya ternyata seorang mafia. Anak buahnya mencarinya di setiap rumah bordil di Indonesia. Gue nggak mau berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Orang-orang mereka mengintai di setiap rumah bordil terbesar di kota." madam Angel menjelaskan kecemasannya jika Miranda berada di rumah bordil miliknya.


"Tapi madam, elo sudah banyak keluar uang untuk membeli dan mencari gadis itu, dulu." Baron menautkan alisnya, ia kesal karena tak sependapat dengan madam Angel.


"Ini tuh di pakai." Madam Angel menunjuk-nunjuk pelipis Baron dengan gemas."Saudaranya bisa menghancurkan Bisnis gue, bego. Gadis itu di haramkan masuk ke rumah bordil, tiap Minggu para mafia selalu mengancam mucikari, dan akan menghancurkan rumah bordil yang menjadikan gadis itu salah satu dari koleksinya. Elo tau bandar sabu-sabu yang kerap kali bertransaksi di sekitar sini siapa?...."


"Axel?..." tanya Baron.


"Dia salah salah satu teman Iqbal dan Zain yang di tugas untuk mengintai sekaligus berdagang. Setiap gigolo dan mucikari di sini sudah tahu wajah Miranda kecil. Apa lagi sudah beredar foto gadis itu di sosmed, dalam waktu dekat Zain pasti bisa menemukan adiknya. Kalau Miranda ada di sini, bisa mampus kita. Elo harus banyak-banyak bersyukur karena gadis itu hilang ingatan. Jika gadis itu memberi tahu kakaknya kalau Elo dan Darius lah yang sudah menyiksanya waktu kecil, entah seperti apa nasib elo dan Darius nanti."


"Gue sama sekali tidak takut padanya, Gue malah lebih tertantang untuk mencoba tubuh gadis itu, gadis itu sering merepotkan ku." Baron membusungkan dada, menantang seseorang yang tak ada di depannya.


"Terserah elo dah, yang penting elo nggak usah bawa-bawa nama gue. Untung gadis itu belum sempat gue apa-apain. Jadi gue nggak ada urusan sama mereka." Madam Angel menghela nafas lega.


"Gue nih kasian sama Elo... Lebih baik Elo balik ke Surabaya, kerja di sana."


"Gang D*ly tutup." ujar Baron ketus.


"Kalau gitu di Samarinda, dulu di sana banyak anak-anak di jual sama orang tuanya, cari yang seger-seger terus kasih ke gue." Baron merasa muak mendengar ceramah madam, ia yang mabuk berjalan sempoyongan meraih dua wanita malam yang tengah duduk di atas sofa meminum alkohol. Baron membawa dua wanita yang berpakaian amat seksi ke dalam kamar. Madam menggelengkan kepalanya melihat Baron yang tak kenal takut.


***


Pukul dua dini hari gawai Dion berdering, ia melihat ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal. Segera Dion mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum." ucap Dion.


"Oy, balikin Miranda ke gue..." Ucap seseorang dari seberang telepon.


"Buset, gila nih orang. Mabuk kali ya, suara cempreng banget." Dion membatin setelah menjauhkan hp dari telinganya.


"Maaf, Miranda siapa maksud elo?..."


"Itu, tu yang di sosmed. Yang hilang ingatan." terdengar jelas jika si penelpon sedang mabuk. Suaranya serak-serak banjir, sama seperti saat Alex sedang mabuk.


"Maaf, anda siapanya Miranda?..."

__ADS_1


"Gue Abangnya."


"Ok. Besok kita ketemuan di Cafe A. Jam 5 sore."


"Nggak bisa bego'. Gue kangen adik gue, kita ketemuan sekarang." si penelepon semakin meracau tak jelas.


"Sialan, gue di bego'begoin." Dion melihat jam di atas nakas menunjukkan jam 2 dini hari. Ia yakin jika yang meneleponnya adalah orang sinting.


"Eh sinting. Mau nggak mau terserah, pokoknya besok ketemu di cafe A, jam 5 sore, titik." Dion menutup teleponnya. Dia merasa khawatir pada Zahra, takut ada penipu yang memanfaatkan keadaannya. Dion segera menghubungi Zahra tapi teleponnya tak kunjung di angkat. Akhirnya Dion mengirimkan pesan wa pada Zahra.


"Kalau ada yang mengaku saudara atau kerabat mu, jangan langsung percaya. Bisa jadi mereka penipu, kamu harus waspada. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku.🙏🙏🙏"


Pagi hari Zahra tersenyum membaca pesan wa dari Dion yang mencemaskan dirinya. Zahra berangkat ke kampus dengan penuh semangat.


Zain mengemudikan mobilnya membelah jalanan beraspal, kendaraan begitu padat menciptakan kemacetan, hal ini selalu terulang setiap hari di jam kerja.


Ketika berhenti di lalu lintas, Zain mengusap lembut perut Nadine yang sedang sibuk bermain gawai.


"Sehat-sehat ya Nak."


"Iya, Papa?..." Nadine meniru kan suara anak kecil.


"Mamanya juga harus sehat."


"Siap Sayang."


"Lagi chatingan sama siapa?..."


"Sama Ganis kak."


"Ku pikir dengan Zahra."


"Kangen ya, sama Miranda?..." Zain hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Nadine.


Zain kembali melajukan mobilnya karena lampu merah sudah berubah hijau.


"Nad, lihat deh postingan Zahra sama kak Dion."' wa dari Ganis.


"Emang kenapa?..."


"Buka aja, ntar juga tahu."


Nadine membuka akun sosmednya. Bersamaan dengan Zain yang menerima panggilan telepon dari anak buahnya.


"APA?... Di mana dia?..." Zain menepikan mobilnya, lalu membuka pesan dari anak buahnya.


Mata Nadine dan Zain terbelalak, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Kak..." Nadine menunjukkan foto Zahra dan Miranda kecil. Zain pun menunjukkan hal yang sama pada Nadine.

__ADS_1


***


Selamat menikmati


__ADS_2