
Semakin lama menunggu kehadiran Zahra di kampus, membuat perasaan Zain semakin tak nyaman. Terlebih anak buah Zain yang berkunjung ke rumah Zahra mengatakan bahwa ibu Fatima bilang sejak tadi Zahra sudah berangkat ke kampus.
"Zahra kayaknya nggak masuk kampus deh kak. Dari tadi di tungguin di kelas nggak datang." diam-diam Nadine mengirimkan pesan wa kepada Zain di jam pelajaran.
"Iya, Zahra izin libur. Ya sudah, Kamu belajar aja. Aku pulang dulu."
"Ok, zheyenk..."
Menunggu adalah sebuah kesalahan.
***
"BIADAB... Suatu saat nanti kalian akan mendapatkan balasan yang jauh lebih dahsyat atas kekejian kalian." Zahra berteriak, memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, ia menangis tergugu, hatinya begitu sakit mengenang masa lalunya yang menyakitkan.
"Jangan banyak berceramah. Cepat pakai atau mau aku yang pakaikan." Baron berteriak keras sembari mentoyor kening Zahra.
"Tak usah sok suci, sebentar lagi kesucian mu juga akan di lucuti. Hahahaha..." ucap Darius di susul tawa oleh dirinya dan Baron.
"Ayo, kita pakaikan saja bajunya." titah Baron.
"Jangaaaaaaan...."Zahra berteriak."Hikzzzzz...Aku bisa pakai sendiri." lanjut Zahra dengan suara lirih dan rasa perih di hati.
"Bagus, gadis pintar."Baron menepuk-nepuk kepala Zahra yang langsung di tepis oleh gadis itu.
Zahra segera mengunci pintu kamar, dia berlari ke arah jendela, mencari celah untuk melarikan diri. Namun sayang, jendela tertutup jeruji besi.
...****************...
Dion yang mendengar teriakan Zahra pun terbangun, kepalanya masih terasa pening. Dion melihat sekeliling, pandangannya beralih pada tangan yang terikat pada kursi kayu. Dion memberontak, tapi ikatan tali itu terlalu kuat.
Dion membungkuk, berjalan melompat sebab kaki juga di ikat menjadi satu, dengan tali. Namun sial, Dion malah terjungkal dan jatuh. Dia berjalan ngesot menuju meja yang di atasnya terdapat gelas dan alkohol. Dengan kakinya, Dion menendang meja itu hingga botol dan gelas tersebut jatuh, pecah, berserakan di atas lantai kayu Parked solid. Dengan susah payah Dion meraih pecahan beling botol lalu berusaha melepaskan ikatan tali di pergelangan tangannya.
...****************...
Dari balik jendela, Zahra melihat Baron sedang menyambut seorang pria yang baru turun dari mobil mewah, pria itu berpostur tubuh gemuk, berkulit putih, mata sipit dan bibir tebal, pria itu mengenakan blazer berwarna silver. Ia merupakan pemilik Villa yang kini Zahra tempati, lokasi ini di pilih sebab tak ingin aksi busuknya di ketahui sang istri terutama media.
Tubuh Zahra bergetar hebat, rasa takut mendera, hatinya sangat kacau dan gelisah membayangkan hal menakutkan yang akan terjadi pada dirinya. Ia tidak ingin kehilangan kehormatan yang selama ini ia jaga untuk di persembahkan pada suaminya, ia tak rela dirinya di jamah orang.
"Ya, Allah. Selama ini hamba selalu menjaga kehormatan karena hamba sangat mencintai engkau. Hamba mohon perlindungan kepada engkau, tuhan yang mahakuasa. Tuhan yang memiliki kekuatan tak terbatas." Zahra kebingungan, tak henti-hentinya ia berdoa, pandangan matanya menangkap ke arah cermin, ia melangkah, melihat pantulan wajahnya yang cantik, membelai pipinya hingga ke rahang. Zahra mengambil vas bunga dari atas meja, lalu melemparkannya ke kaca lemari hingga pecahan kaca itu berserakan di mana-mana. Ia memungut satu pecahan kaca itu kemudian!...
"Bismillahirrahmanirrahim.... Maafkan hamba ya Allah, tapi hamba tak rela jika tubuh hamba di jamah oleh orang yang bukan mahram hamba."
...****************...
__ADS_1
"Wah, jangan khawatir. Barang di jamin ori. Cantik banget. Tuan nggak akan nyesel keluar duit banyak." Baron dan Darius terus berpromosi sembari melangkah menuju ke arah kamar Zahra.
"Kalau aku cocok dengan wanita itu, maka aku akan membelinya dengan harga yang lebih mahal untuk ku jadikan wanita simpanan ku." Pak Hartono hanya mengangguk-ngangguk. Sesampainya di depan pintu, si pria gemuk itu mengeluarkan amplop berwarna coklat muda yang begitu tebal kepada Darius. Baron merebutnya lalu membuka isinya. Mata kedua manusia kejam itu berbinar-binar melihat begitu banyak uang berwarna merah di tangannya.
"Ceklek, ceklek... pintu di kunci." ucap Pak Hartono.
"Hah, gadis itu memang merepotkan." ucap Baron.
"Sudah-sudah, aku ambil kucing duplikatnya dulu." ucap pak Hartono ketika Darius hendak mendobrak pintu.
Beberapa saat kemudian pak Hartono datang dengan membawa kunci duplikat lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat gadis berbaju syar'i menghadap jendela, membelakangi dirinya.
Pak Hartono mulai mendekati Zahra, makin dekat pak Hartono, semakin gugup hati Zahra. Ketika suara derap kaki terasa sangat dekat, Zahra berbalik.
"Aaaaahhhh..." Pak Hartono berteriak dan berlari ke luar. Zahra yang melihat pintu terbuka ikut keluar.
"Ada apa pak?..." Baron bertanya keheranan melihat wajah panik bercampur emosi.
"Plak, plak...." Pak Hartono menampar wajah Baron dan Darius.
"Pak, kenapa kami di tampar?..." Darius menyentak pak Hartono.
"Be reng sek... Kalian menipuku, memberikan gadis buruk rupa kepadaku. Tinggalkan Villa ku." Pak Hartono merampas uang yang sedang Baron pegang dan beranjak pergi.
"Astaghfirullahhal adzim." Baron nyebut ketika melihat wajah Zahra terdapat sayatan dan darah.
"Gadis bodoh, aku sudah berbaik hati menjual mu pada orang kaya. Kau bisa jadi nyonya jika jadi wanita simpanannya. Go blok. tak tahu di untung." Darius berteriak lantang.
"Lebih baik aku mati daripada harus melayaninya." Zahra menggeleng, kakinya melangkah mundur.
"Oh, begitu. Baik, kau sudah tidak berguna dengan wajah buruk mu itu. Maka akan ku kabulkan permintaan terakhir mu."
Baron mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya lalu mengarahkannya pada Zahra. Ia mulai menarik pelatuknya.
"Allahuakbar...." Zahra berteriak ketika perut Dion tertembak saat menghalau peluru yang hendak menembus kulit Zahra.
"Aaaaakkkhhh....Kak Dion.... Aaaaahhhh...." Zahra hanya bisa menangis melihat Dion tak berdaya.
"Tolong bawa kak Dion ke rumah sakit. Aku mohon..." Zahra menangis pilu.
"Tolong bebaskan Zahra, sebagai gantinya kalian bisa menguras habis isi ATM ku." ucap Dion terbata-bata karena nafasnya mulai sesak, Zahra semakin menangis tersedu-sedu mendengar permintaan Dion.
"Ok, berapa sandinya?..."
__ADS_1
"777777." jawab Dion untuk terakhir kalinya karena Dion sudah tak bergerak.
"Kaaaak, jangan tinggalkan aku kak. Aku mencintaimu kak." Zahra berteriak, menangis sejadi-jadinya. Cinta yang Zahra pendam sejak pertama kali bertemu dengan Dion kini terasa lebih berkobar. Sesuatu itu akan terasa sangat berharga jika sudah kehilangan, selama ini Zahra mencoba mengabaikan perasaannya.
Setelah dua penjahat itu mengalihkan uang dari rekening Dion ke rekeningnya melalui Mbanking, Baron mengacungkan pistol ke arah Zahra."Lebih baik kamu nyusul pacarmu."
"Doooooorrrr...."
"Aaaaahhhh..." Baron berteriak.
Zahra pun ambruk tak dapat menahan gejolak rasa. Sedangkan peluru dari pistol Baron nyasar ke dinding karena Iqbal lebih dulu menembak tangannya hingga pistol yang ia pegang jatuh ke lantai.
Darius hendak kabur tapi Zain lebih dulu menembak kakinya dan kaki Baron. Para anak buah Iqbal segera meringkus Baron dan Darius.
Zain berhambur meraih tubuh Zahra, lalu memeluknya erat, seakan-akan ia takut kehilangan Zahra untuk yang kedua kalinya. Tanpa terasa air mata menetes dari mata tajam Zain ketika melihat wajah Zahra yang terluka."Miranda, bangun sayang."
"Jangan khawatir, luka di wajahnya tidak terlalu dalam. Masih bisa sembuh seperti semula. Yang perlu kita khawatir pemuda ini. Dia kehilangan banyak darah." ucap Iqbal setelah memeriksa keadaan Dion.
Zain tak peduli dengan keadaan Dion, yang ia pedulikan hanya lah Zahra. Ia segera membawa Zahra ke helikopter.
"Hey kalian, angkat anak muda ini dan bawa ke helikopter." Datang satu anak buah Iqbal lalu membawanya menuju helikopter. Pun mulai beroperasi.
"Lepaskan aku be reng sek. Kalian mau mati ya mencari gara-gara dengan ku." Baron berteriak geram ketika dirinya dan Darius di ringkus oleh 6 orang bertubuh kekar dan tinggi.
"Tooookkk.." salah satu anggota Iqbal memukul Baron dan Darius dengan pistol. "Sudah berada di ujung tanduk, masih belagu. Sebentar lagi kau akan merasakan yang namanya hidup segan, matipun tak mau karena tempatmu di neraka."
"Sialan kau, kau mengataiku. Kau belum tahu siapa aku." ucap Darius.
"Cuih..."
"Hooeeeekk, hooeeeekk, hooeeeekk..." Darius muntah muntah ketika anak buah Iqbal meludahi mulutnya.
"Kurang ajar kalian, kalau aku bebas, akan ku cincang kalian. Aaaaahhhh...." Baron berteriak ketika Iqbal menyulut pipinya dengan bara rokok yang dia hisap.
"Kau terlalu banyak bicara." ucap Iqbal
"Kau...Hap...." Baron tak bisa berkata-kata lagi saat Iqbal memasukkan batang rokok ke dalam mulutnya.
"Selidiki siapa pemilik Villa ini???"
***
Author.
__ADS_1
Maaf baru bisa update karena sibuk. Tapi akan selalu di usahakan kok.