
Malam semakin larut, udara semakin dingin, dedaunan, bebatuan dan tanah mulai mengembun. Bahkan pelukan sang suami tak mampu menghangatkan tubuhnya.
"Sudah terlalu malam ayo pulang."
"Iya kak, udara udah dingin banget."
"Aku masih punya satu kejutan untuk kamu."
"Apa lagi?..."
"Ayo pulang, nanti ku tunjukkan." Zain menggenggam erat tangan Nadine dan membawanya hingga memasuki mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, Nadine bersandar di bahu Zain. Lirih-lirih Nadine bersenandung kecil mengikuti lirik lagu yang kini sedang di putar di audio mobil. Lagu istimewa yang di nyanyikan oleh Zain di acara resepsi pernikahannya dahulu. Zain yang sejak tadi hanya menyimak ikut terhipnotis untuk bersenandung, sesekali melempar senyum ke arah Nadine.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kini mobil melewati perumahan elit yang begitu besar dengan tingkat yang menjulang tinggi, hingga akhirnya mobil memasuki gerbang dan berhenti di depan sebuah rumah yang begitu besar.
Nadine menegakkan kepalanya, menerka-nerka Ini rumah siapa? Kenapa Zain membawanya kemari?
"Kak, kita di mana?..." Zain tersenyum kemudian membuka sabuk pengaman yang membelit tubuh Nadine. Zain segera turun dari berjalan melewati bagian depan mobil untuk membukakan pintu mobil.
"Apa karena kita pengantin baru, kakak bisa sebaik ini sama aku?..." tanya Nadine sambil turun dari mobil.
"Aku perhatian sama kamu karena kamu istimewa. Bukan karena kita pengantin baru. Selamanya aku akan menyayangimu." jawab Zain membawa langkah kakinya hingga sampai di depan pintu utama rumah.
Nadine memperhatikan rumah besar bertingkat 3 dengan 7 pilar tinggi dan tempat parkir mobil tepat di depan gerbang dan halaman yang luas. Nadine memperhatikan setiap detail desain rumah dari ujung ke ujung, dengan tatapan penuh penilaian dan kekaguman. Bangunan rumah besar dengan desain klasik modern berwarna putih.
"Ini rumah siapa kak?..."
"Ini rumah baru kita."
"Apa?..." Nadine terkejut dengan mulut ternganga."Katanya rumah kecil dan sederhana. Ini sih bukan rumah kecil, ini gede banget." lanjut Nadine. Zain hanya terkekeh lalu memberikan lengannya pada Nadine, yang langsung di gandeng oleh sang istri. Zain membuka pintu, pencahayaan di dalam rumah remang-remang karena lampu di padam dan sedikit terang karena pijaran lilin di lantai, lilin berbaris rapi membentuk sebuah jalan yang di tengahnya bertabur hamparan kelopak bunga mawar merah.
__ADS_1
Hati Nadine sangat bahagia, sudah berapa kali Zain membawanya melambung tinggi. Nadine merasa bahagia karena begitu di sayang oleh perlakuan lembut dan romantis Zain.
Nadine mengikuti setiap langkah kaki suaminya, berpijak di hamparan kelopak bunga mawar merah. Mereka saling pandang, saling melempar senyum. Kakinya terus terayun mengikuti hamparan kelopak bunga mawar merah. Hingga akhirnya langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kamar.
Zain membuka pintu kamar, kamar yang di hias sedemikian rupa seperti kamar pengantin baru. Ranjang bertabur bunga mawar merah dan hiasan bunga di dinding, serta lilin aromaterapi yang membuat suasana kamar terlihat lebih romantis dengan pencahayaan remang-remang.
"Kakak iiihhh, setiap ngasih kejutan endingnya pasti di atas ranjang." Zain tersenyum melihat bibir Nadine mengerucut.
"Ini cara membahagiakan seorang pria dewasa. Permintaan laki-laki nggak muluk-muluk seperti wanita kok, cuma cukup di layani sampai puas saja." jawab Zain terkekeh sembari mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.
***
Keesokan harinya, Zain mengantarkan Nadine ke kampus. Dia tak lagi menjadi supir pribadi Iqbal, Tuannya itu memberikan kebebasan untuk dirinya dan Nadine.
"Kak, aku masuk dulu ya." ucap Nadine setelah mencium tangan suaminya dan berlalu pergi. Zain memperhatikan punggung Nadine yang langkahnya semakin menjauh. Tiba-tiba langkah Nadine terhenti, Zain mengamati sekitar, mencari tahu alasan yang membuat langkah Nadine tercekat. Ternyata ada sosok Dion yang menatap Nadine begitu tajam, tatapan kesedihan, putus asa, marah dan kecewa.
Alex datang menghampiri Dion, kemudian melihat ke arah Nadine, lalu melihat ke arah mobil Zain. Menyadari suasana tak nyaman, Alex merengkuh bahu Dion kemudian membawanya pergi. Setelah kepergian Dion, barulah Nadine melangkah kembali.
Zain mengambil Hpnya dan menyuruh seseorang untuk memantau kegiatan Nadine dan Dion di kampus. Setelah itu Zain kembali melajukan mobilnya.
***
Ia berjalan keluar melewati pintu kelas dan berjalan melewati koridor yang terdapat pintu di setiap ruangan. Nadine memasuki toilet untuk membuang hajat, tak lama kemudian dia keluar dari toilet.
"Aah..." Nadine terperanjat kaget ketika tiba-tiba Dion menghalangi langkahnya.
"Ka-Kak Dion ngapain, mau apa?.…" Dion tak menjawab, dia terus menatap Nadine begitu intens. Ada yang tak puas dalam dirinya.
"Ka-Kak Dion apa kabar?..." Nadine mencoba bersikap tenang menghadapi Dion. Tiba-tiba Dion memberikan sebuah bingkisan, kotak kecil yang di bungkus kertas kado.
"Apa ini kak?..."
__ADS_1
"Maaf, tak bisa hadir di acara pernikahan mu. Karena aku sedang sakit."
"Ng-Nggak apa-apa kak. Te-Terima kasih." ucap Nadine terbata, ia masih merasa canggung. Bukan hanya Nadine, Dion pun juga. Tapi setidaknya Nadine bisa bernafas lega, Dion masih mau menyapanya dan tidak menghindarinya.
"Kakak apa kabar?... Udah sehat kan?..." Nadine mencoba mengakrabkan diri.
"Terlihat sehat, walau jiwaku di bantai habis-habisan." wajah Nadine mendadak pucat mendengar jawaban dari Dion.
"Maafkan aku kak, aku sama sekali tidak ada niat buat nyakitin hati kakak." Nadine menunduk, meremas kotak hadiah dari Dion karena merasa bersalah. Air bening menetes setitik di atas permukaan kado.
"Tidak apa-apa, bukan salah mu. Semua adalah kesalahanku yang terlalu serakah, memaksakan perasaan mu, walaupun aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku. Harusnya aku sadar dengan resiko mencintai secara sepihak." Dion tertawa, menertawakan kebodohannya. "Aku yang terlalu lemah, melihatmu tersenyum saja, membuat pikiran ku sudah ke pelaminan. Aku yang terlalu serius padamu, padahal kamu hanya mengajakku bercanda." Di sela-sela tawanya, Dion berbalik dan menghapus air bening di sudut matanya. Ya, air mata... Hatinya masih sakit, terlalu sakit... Apalagi jika berhadapan dengan Nadine.
"Kak, tolong jangan seperti ini." Nadine ikut meneteskan air mata. Dion kembali menghadap lawan bicaranya.
"Memangnya kamu mau aku seperti apa?... Hemmm.... Belajar melupakan cintaku padamu?... Ya, Sudah, aku sudah berusaha melakukannya. Aku sudah berusaha melupakanmu.... Tapi seberapa kuat pun aku berusaha melupakanmu, rasa itu tetap ada. Kamu masih tetap ada di hatiku... Aku ingin merebut cintaku sekali lagi, memperjuangkan cintaku sekali lagi, apa kamu setuju???..."
"Jangan kak, aku sangat mencintai suamiku." jawaban Nadine membuat hati Dion kian nyilu, sakit benar-benar sakit.
"Hahahaha, aku hanya bercanda. Jangan di anggap serius. Aku bahagia kamu bahagia walaupun aku menderita. Maaf, aku terlalu jujur. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan menjauhi mu, tak bertegur sama dengan mu, walau bukan jaminan aku bisa melupakanmu. Maaf aku terlalu jujur atas perasaanku. Ini terakhir kalinya aku mengganggu mu. Maaf aku membuat mu menangis, karena aku ingin menangis bersamamu merasakan juga duka ku. Selamat tinggal."
"Hikzzzzz.... Tidak bisa kah kita berteman kak, kita pernah akrab. Tak rela rasanya jika kita bermusuhan." Nadine mulai terisak, hatinya bisa merasakan kepedihan yang Dion alami.
"Husssstttt....." Dion meletakkan jarinya di depan bibirnya. "Hey jangan menangis, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menjadi musuh mu. Jika aku melihatmu terjatuh, maka akulah orang pertama yang akan membangunkan mu."
"Lalu kenapa kakak mau menjauhi ku?..."
"Hahahaha... Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi pertemanan antara pria bujang dengan wanita beristri. Sudah lah, aku harus pergi." jawab Dion sembari tertawa.
"Aah..." Dion langsung berbalik dan tak sengaja menabrak Zahra hingga terjatuh.
"Maaf, maaf...Aku nggak sengaja." Dion menjulurkan tangannya pada Zahra, ia begitu panik ketika melihat Zahra menangis di atas lantai.
__ADS_1
***
Selamat menikmati.... Mohon maaf, kalau updatenya lambat.