Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
UJIAN CINTA


__ADS_3

Keesokan paginya di kediaman Iqbal.


Nadine menghampiri Zain yang tengah duduk di sofa ruang tamu, berkutat dengan laptop di pangkuannya.


"Kak, tasku ketinggalan di apartemennya kakak." Kata Nadine membuat pandangan mata Zain teralih padanya.


"Oh, mau di ambil kapan?... Kalau sekarang nggak bisa karena aku dan Tuan Iqbal ada janji temu dengan clien."


"Nggak harus sekarang kok kak, besok aja nggak apa-apa."


"Kalau besok aku tidak ada di apartemen, kamu bisa ambil sendiri ya. Anggap saja rumah sendiri. Kodenya nanti aku kirim ke wa mu."


"Nggak takut ada barangnya yang aku curi???..."


"Kenapa harus takut, kamu saja sudah mencuri hatiku!!!..." Rayuan Zain membuat Nadine tersipu malu.


"Kak..." Ucap Nadine malu-malu.


"Iya..." Sahut Zain menatap lekat wajah Nadine dengan tatapan penuh cinta.


"Ini buat makan siang kakak nanti di kantor." Nadine memberikan kotak bekal makanan yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Senyum langsung mengembang di kedua sudut bibir Zain.


"Bekal untuk anak TK lagi?..." Zain tersenyum mengejek sembari mengangkat satu alisnya.


"Nggak kok kak, ini beda. Kalau gitu aku ke mobil duluan ya." Nadine pergi setelah melihat Zain mengangguk. Tak henti-hentinya Zain memandangi punggung Nadine hingga hilang di balik pintu.


***


Setelah jam pulang kantor, Zain mengantarkan Iqbal ke kediamannya. Setelah membersihkan diri, Dia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk, karena seharian bekerja membuat matanya begitu kantuk.


Pukul 19.00 WIB Bi Nurul menghubungi Zain karena Zain tidak kunjung pulang ke apartemen. Bi Nurul mengatakan jika Miranda ikut bersamanya di apartemen dan sejak tadi sudah menunggu kepulangannya. Kulit Miranda panas tapi tubuhnya menggigil dia juga mual.


Zain segera beranjak dari tempat tidurnya, ia pergi meninggalkan rumah Iqbal dengan tergesa-gesa, tak memperdulikan tubuhnya yang begitu letih.


Dengan langkah tergopoh-gopoh Zain melangkahkan kakinya di lantai apartemen menuju lift.


Ketika membuka pintu apartemennya kemudian membuka kamar Miranda, Zain terkejut melihat sosok Riska yang sedang mengobati Miranda. Riska kini sedang mengatur jalannya tetesan air infus yang menggantung di tiang. Ketika melihat kehadiran Zain, Bi Nurul segera bangkit dari ranjang tempatnya duduk.


"Zain sudah pulang." Sapa Riska dengan ramah. Namun Zain tetap bersikap acuh.


"Maaf Tuan, tadi saya berniat membawa Miranda ke rumah sakit. Tapi kebetulan bertemu dengan dokter Riska di depan dan menawarkan bantuan untuk memeriksa Miranda. Karena saya pikir...."


"Tidak apa." Jawab Zain memotong pembicaraan bi Nurul. Bi Nurul paham, itu artinya Zain tidak ingin mendengarkan alasan ataupun pembenaran darinya.


"Beruntung aku memiliki persediaan obat-obatan di apartemen ku." Ucap Riska.


"Dia mengalami gejala tipes, beruntung segera di tangani. Aku sudah memberikannya obat penurun panas, pereda nyeri dan anti mual." Ucap Riska panjang lebar, ia ingin sekali berinteraksi dengan Zain yang sikapnya selalu dingin.

__ADS_1


Zain duduk di samping Miranda, tangannya menyentuh dahi Miranda yang sedang terlelap.


"Masih demam..." Gumam Zain dalam hati.


"Sebentar lagi efek obatnya akan bekerja. Demamnya Miranda sebentar lagi juga akan segera turun." Jawab Riska yang seolah-olah tahu apa yang sedang Zain pikirkan.


"Apa kau sudah selesai memeriksanya." Zain bertanya tanpa mau melihat Riska.


"Sudah." Jawab Riska.


Zain mengeluarkan dompet saku celananya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu kemudian menyodorkannya pada Riska.


"Zain tidak perlu. Aku ikhlas mengobatinya."


"Aku tidak menerima penolakan."


"Tapi Zain..." Keluh Riska.


"Aku tidak ingin berhutang Budi padamu. Zain semakin menyodorkan uangnya. Riska pun menerimanya dengan enggan.


"Zain aku tidak bisa meninggalkan Miranda seperti ini. Aku harus memeriksa cairan infus Miranda secara berkala."


"Dokter, jika anda sudah selesai memeriksa adik saya sebaiknya anda segera pergi. Jika saya membutuhkan bantuan dari anda, maka saya akan segera menghubungi anda." Mata Riska sudah berkaca-kaca mendapat penolakan dari Zain. Dengan langkah lunglai Riska melangkah keluar dari kamar Miranda.


Dua jam kemudian, Zain melihat tubuh Miranda sudah di penuhi keringat. Dengan telaten Zain menyeka peluh yang membasahi tubuh Miranda dengan tisu yang berada di atas nakas. Suhu tubuh Miranda sudah normal.


Zain keluar dari kamar Miranda, ia melangkah menuju dapur. Mata Zain mengernyit ketika melihat Riska yang tertidur di sofa ruang tamunya.


"Dia benar-benar tidak tahu malu." Zain tak lagi memperdulikannya, dia pergi ke dapur untuk meminum air.


Zain mengirimkan pesan wa kepada Nadine, agar mengambil tasnya sendiri di apartemen karena Miranda sedang sakit.


***


Zain bangun ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang dari aplikasi handphonenya.


Tubuh Zain terasa berat, kantuk masih menyerangnya. Sebab semalaman ia terjaga hanya untuk melihat keadaan Miranda.


Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, Zain menanggalkan baju Kokonya dan kembali tertidur dengan keadaan telanjang dada.


Riska baru saja terjaga. Dia pergi ke kamar Miranda dan memeriksa keadaannya.


"Bi, bisa tolong belikan saya makanan. Saya sangat lapar. Beli juga untuk bibi dan Zain, kalau Miranda harus makan bubur dulu." Riska memberikan sejumlah uang pada Bi Nurul.


"Oya Bi, kalau saya tidak ada di sini berarti saya ada di apartemen depan."


Setelah kepergian bi Nurul. Riska membuka pintu kamar Zain, dia ingin puas memandangi wajah Zain yang tengah terlelap itu.

__ADS_1


"Kenapa sulit sekali meluluhkan hatimu Zain."


***


Nadine membayar ongkos ojek online, tapi sayang ketika menaruh kembali dompetnya ke dalam tas, dompet tersebut malah terjatuh tanpa ia sadari. Dengan langkah tergopoh-gopoh Nadine melangkah menuju apartement milik Zain.


Riska yang hendak keluar dari apartemen mengurungkan niatnya ketika mendengar suara seseorang sedang bercakap-cakap di depan pintu apartemen.


"Ini dompet kamu ya..." Seorang pria tua mengembalikan dompet milik Nadine yang terjatuh.


"Ah iya pak, terimakasih. Kok bisa ada sama bapak?..."


"Tadi kamu jatuhin pas bayar ongkos ojek online. Bapak tadi kejar kamu tapi kamu terlalu gesit."


"Oh maaf ya pak, sekali lagi terimakasih banyak ya pak. Terimakasih."


"Ini apartemen kamu?..." Pria tua itu menunjuk apartement milik Zain.


"Oh, bukan pak. Ini apartemen milik kak Zain." Jawaban Nadine membuat mata Riska terbelalak.


"Kamu siapanya nak Zain?..."


"Saya Nadine pak temannya kak Zain."


"Oh, kirain pacarnya. Kalau kamu mau niat ku jadikan mantu???..." Pak tua itu terkekeh.


"Nadine, pasti gadis sialan itu." Riska kembali masuk, ia lari terbirit-birit masuk kembali ke dalam apartemen.


***


"Loh kok pintunya kebuka?..." Gumam Nadine ketika melihat pintu apartemennya sedikit terbuka.


"Assalamualaikum... Miranda lagi sakit, ganggu nggak ya kalau aku berisik?..." Tidak ada sahutan. Nadine menghubungi Zain berkali-kali tapi sayang HP Zain sedang mode silent.


Waktu Nadine tidak banyak, dia melihat jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi jam masuk kuliah.


"Kak, maaf ya aku lancang masuk apartementnya. Soalnya ada buku mata kuliah hari ini di dalam tas ku. Sejak tadi kakak di hubungi nggak bisa." Nadine mengirim pesan wa pada Zain.


Nadine nekat masuk ke dalam apartemen milik Zain. Dia mengendap-endap seperti seorang pencuri.


Langkah Nadine tertuju pada sofa tempat tasnya bertengger, ketika ia mengambil tasnya, pandangan mata Nadine tertuju pada satu-satunya pintu kamar yang terbuka lebar tepat menghadap tempat Nadine berdiri. Nadine semakin mendekat untuk memastikan apa yang di lihatnya.


"Deg..." Jantungnya berdenyut nyeri ketika melihat Zain tidur satu ranjang dengan Riska. Zain tidur menghadap punggung Riska. Air mata mengalir begitu deras membasahi pipinya. Ia menutup mulutnya agar Isak tangisnya tak terdengar. Hatinya begitu sakit. Ini tidak adil, baru saja ia merasakan jatuh cinta tapi kenapa mendadak patah hati. Baru saja ia bisa merasakan kebahagiaan dalam cinta, tapi kenapa ia langsung menorehkan luka. Ini tidak adil.... Ini tidak adil....


***


READERS, yang sabar ya.... Aku tahu kalian gemas sama author, udah ku bawa terbang tinggi eh malah nyungsep ke dasar.... Maafkan aku ya....Aku harap readers bertahan untuk baca ya ....

__ADS_1


__ADS_2