
Dion masuk ke dalam kamar ketika selesai membicarakan bisnisnya bersama sang papa. Ia memperhatikan Zahra yang sedang melipat baju di atas ranjang.
Dion menghampiri Zahra, lalu duduk di sisinya. "Ayolah siap-siap, ikut aku."
"Kemana?" Zahra turun dari ranjang, lalu memasukkan semua pakaian yang selesai ia lipat ke dalam lemari.
"Ke tempat biasanya mama papa bersedekah dan ke pabrikku."
"Tapi."
"Emangnya kamu nggak penasaran suamimu yang ganteng ini produksi pakaian apa?"
"Iya deh, ayo."
Dion membawa Zahra ke konveksi, tempat usaha yang kini ia geluti. Alasan Dion membuka bisnis ini karena satu server dengan bisnis yang mamanya geluti. Maka, akan cepat berkembang karena Mamanya sudah memiliki banyak kolega. Ia membawa Zahra masuk ke dalam gudang tempat barang yang sudah siap untuk di supply ke luar kota dan beberapa negara. Di depan pintu terdapat tulisan 'SELAIN KARYAWAN DI LARANG MASUK' Ada 7 orang di bagian ini. Dua pemuda mendorong troli barang yang siap untuk di pasarkan menuju mobil pick up.
__ADS_1
Mereka beralih ke ruang paking dan finishing. Dua orang bertugas sebagai quality control, tugasnya mengecek pakaian yang layak untuk dijual atau tidak untuk di jual. Jika ada pakaian yang cacat maka akan di retur, walaupun ada setitik noda, maka pakaian itu tak layak di jual. Ada juga bagian permak, jika jahitan melenceng atau lepas setelah di cuci, maka akan di permak.
Sebelum sampai di ruangan kerja Dion, mereka melewati ruang produksi. Ada sekitar 50 karyawan yang menjahit, mereka sedang menjahit berbagai model pakaian pria dan wanita.
"Aku baru tahu kalau kakak produksi pakaian gini." ucap Zahra yang baru melangkah memasuki ruangan Dion.
Dion menarik Zahra hingga duduk di pangkuannya.
"Apapun usahanya yang penting menghasilkan cuan dan halal." tangan Dion membuka hijab Zahra, lalu membuka satu persatu kancing bajunya.
"Pintunya udah ku kunci, CCTV juga udah di matiin. Kita kangen-kangenan sambil cerita. Aku nggak terima kalau kamu di bilang jarang di belai." Dion masih sakit hati atas perkataan Marko.
"Lah, emang bener 'kan." seru Zahra.
"Udah ah, nggak usah bahas itu. Sampai mana tadi ceritaku."
__ADS_1
"Kenapa produksi pakaian?" tanya Zahra.
"Oh, iya. Udah banyak pengusaha yang menjual produk semacam baju dan kemeja. Yang terlintas di pikiranku sih, karena ini udah sesuai dengan bidang yang di geluti Mama. Dengan begitu, perkembangan konveksiku cepat berkembang." Dion bercerita sembari tangannya bermain di bagian atas Zahra.
"Kak, harga yang kamu jual itu menurutku terlalu mahal. Kalau murah sedikit saja, pasti banyak laku." Dion tertawa geli mendengar pengakuan istrinya.
"Beda bahan sayang, beda kualitas. Barang yang aku jual kualitasnya terjamin, bahan nyaman. Aku pakai merk pakaian di butik mama, merk Gabbana yang sudah terkenal bahkan sebelum aku di lahirkan. Jadi lebih mudah pemasarannya walaupun masih baru produksi. Kamu tahu kan, merk itu mahal."
"Hemmmm ... Aku baru tahu kalau ternyata suamiku itu pinter," puji Zahra dengan senyuman.
"Aku haus, Sayang."
"Bentar, aku ambilkan air." Zahra hendak berdiri, tapi Dion menarik Zahra hingga duduk kembali ke pangkuannya. Zahra menatap Dion dengan bingung.
"Aku pengen minum susu itu." Dion menunjuk bagian atas Zahra.
__ADS_1