
"Udah, Iih kak..." Nadine mendorong wajah suaminya yang tengah menciuminya.
"Kamu nikmat sih, bikin nagih."
"Udah kak, aku capek." Nadine masih berusaha menyingkirkan wajah sang suami yang terus-menerus memaksanya.
"Lusa kita harus pergi ke Jakarta." Ucap Zain lirih di telinga Nadine.
"Hah, Jakarta?... Tapi kak, libur kuliah ku masih 7 hari lagi." Wajah Nadine berubah pias, terlihat jelas guratan kecewa di sana.
"Iya kamu libur, tapi aku harus bekerja. Kerjaan ku pasti udah numpuk."
"Tapi kan tiap hari kakak juga kerja, ku perhatikan tiap hari kakak berkutat dengan laptop."
"Tidak semua pekerjaan bisa di handle lewat laptop sayang. Tuan Iqbal sudah menanyakan aku terus, kapan pulang."
Wajah Nadine terlihat sendu, dia masih merindukan orang tuanya. Jarang-jarang dia bisa pulang ke kampung halamannya untuk melepas rindu.
"Kenapa?..." Zain bertanya.
"Nggak apa-apa."
"Kamu masih merindukan orang tua mu." Nadine pun mengangguk.
"Kamu bisa tinggal di sini sampai kuliah mu masuk."
"Serius kak." Nadine terlihat begitu antusias, tak lagi murung.
"Iya, tapi main sekali lagi ya..." Pinta Zain dengan tatapan mata jenaka.
"Nyebelin banget Iiiiiihhhhh.... Nggak capek apa???...." Bibir Nadine sudah mengerucut sebal tapi Zain malah mengecupnya.
"Aku masih kangen sama kamu. Lusa udah nggak bisa ketemu kamu sampai resepsi pernikahan kita, jadi harus sering ngecas."
"Pahaku aja masih pegel, kak." keluh Nadine dengan wajah merengut.
"Berarti harus sering-sering latihan." Ucap Zain sembari terkekeh. Akhirnya mereka berdua kembali bergelut memadu kasih.
***
"Mama khawatir Pa, sama keadaan Dion." Ucap Mama Kartika ketika sarapan di meja makan bersama sang Papa Wibowo.
"Apa yang perlu di khawatirkan, anaknya tambah rajin ibadah gitu."
"Bukan hanya sholat Pa, dia juga puasa tanpa henti, baca Qur'an siang dan malam. Dia terlihat murung dan sedih, Mama juga sering mergoki dia nangis Pa, setelah di putuskan kekasihnya demi untuk menikahi pria lain."
"Itu bagus kan, di tinggal nikah dia tambah rajin ibadah. Salah sendiri, mencintai seseorang secara berlebihan. Biarkan dia beribadah untuk menggelontorkan dosa-dosanya."
"Tapi Pa, ibadahnya ini berlebihan. Kalau Dion jadi stress gimana?..."
"Huusss.... Kamu itu ngomong apa sih Ma... Jangan ngomong yang nggak-nggak..."
"Sekarang dia puasa tanpa sahur, makannya juga sedikit. Mama khawatir sama kondisi kesehatan Dion, Pa."
__ADS_1
Mama Kartika dan Papa Wibowo membuka pintu kamar Dion, di lihatnya Dion yang membaca Qur'an sejak usai sholat subuh sampai jam 7 pagi, Dion masih tak berhenti membaca Qur'an.
"Mama takut, Dion baca Qur'an bukan karena Allah Pa, tapi karena gadis itu." Mama dan Papanya saling pandang lalu menghampiri Dion yang tengah mengaji di atas sajadah.
"Assalamualaikum...." Ucap Papa dan Mama berbarengan tapi tak mendapat sahutan.
***
Iqbal duduk memangku Putri di ruang tengah bersama dengan Rani, memegangi pergelangan tangan Putri dan membuatnya bertepuk tangan.
"Pada hari Minggu ku turut Papa ke kota, ku duduk di pangku papa yang ganteng...." Rani bernyanyi.
"Tu,ti, tu, ti, tu, ti, tu...." Sahut Putri sekenanya, membuat kedua orang tuanya tertawa bahagia melihat perkembangan Putri.
"Tok, tok, tok...." seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk." ucap Rani.
"Maaf Tuan, ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan tuan Zain." Ucap ART pada Iqbal yang tengah bermain dengan Putri di ruang tengah.
"Siapa?..." Iqbal bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Putri.
"Namanya Riska."
"Usir dia dan Katakan pada penjaga gerbang, jangan pernah membiarkan wanita itu masuk ke rumah ku walaupun hanya sejengkal." Perintah Iqbal tegas.
"Pa, kok di usir sih. Siapa tahu dia ada perlu penting."
"Dia itu parasit, keberadaannya hanya merugikan dan selalu membawa masalah. Lebih baik di hindari."
***
"Tolong pak, saya ada perlu penting dengan Zain. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu." Pinta Riska yang berdiri di samping Rangga.
"Maaf Nona, temui saja Tuan Zain di tempat lain. Jangan di sini."
"Saya mohon pak, beri saya waktu. Hanya sebentar saja."
"Lebih baik anda pergi, sebelum saya melaporkan anda pada pihak berwajib karena sudah mengganggu kenyamanan tuan saya."
"Pak, saya mohon." Riska masih mengiba.
"Ris, sebaiknya kita pulang." Rangga menarik tangan Riska kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.
***
"Sampai kapan kamu mau merendahkan diri demi mendapatkan cinta Zain?... Cinta Zain sudah mati sejak kamu mengkhianatinya." Rangga duduk di belakang kemudi sedangkan Riska duduk di sampingnya.
"Dulu itu Zain cinta mati sama aku. Aku yakin bisa menumbuhkan cinta itu lagi."
"Jangan pernah bermimpi. Aku sangat mengenal Zain, dia membenci penghianatan. Dia laki-laki dengan harga diri yang menjulang tinggi, tidak mungkin dia mau kembali setelah harga dirinya di injak-injak oleh sahabat dan kekasihnya." ucap Rangga yang sesekali melihat Riska kemudian kembali fokus melihat jalanan.
"Semua ini gara-gara kamu. Gara-gara kamu dia ninggalin aku."
__ADS_1
"Riska.... Kenapa kamu tidak pernah melihatku. Aku tulus mencintaimu... Demi cintaku padamu, bahkan aku rela mengkhianati sahabat baikku sendiri. Aku menyesal, saat ini aku tidak hanya kehilanganmu tapi aku juga kehilangan sahabat baikku. Yang menemaniku saat suka maupun duka."
"Ciiih,,,, Cinta macam apa???.... Kalau kamu mencintaiku kamu tidak akan melakukan kekerasan fisik padaku."
"Maaf aku tahu aku salah. Karena aku cemburu aku memukulmu, aku sakit hati karena kamu selalu membanding-bandingkan aku dengan Zain, selalu menghinaku dan memuji Zain di hadapanku. Aku pikir melakukan kekerasan padamu akan membuatmu tunduk dan patuh padaku. Tapi nyatanya aku malah kehilanganmu."
"Jadi sekarang kamu mau nyalahin aku karena rusaknya hubungan kita bertiga. Lalu bagaimana dengan wanita yang kamu ajak bersenang-senang." Riska marah, matanya melotot ke arah Rangga.
"Tidak, tidak, aku yang salah... Maafkan aku. Aku, aku, aku tidak benar-benar meniduri mereka, aku membawanya untuk membuat mu cemburu."
"Oya..." Riska melotot semakin tak percaya.
"Maaf, maaf, aku terlalu kekanak-kanakan. Aku yang salah. Aku memang salah." Rangga mengalah, tak ingin menyulut emosi Riska lagi. Pikirannya terlempar ke masalalu, ketika dirinya bersahabat dengan Zain.
FLASH BACK ON
Rangga mencintai Riska jauh sebelum Zain mencintainya. Riska tak pernah melihat Rangga padahal Rangga selalu ada untuknya, yang Riska lihat hanyalah Zain. Riska begitu gencar menarik perhatian Zain, hingga Zain benar-benar jatuh hati padanya.
Ketika Zain dan Riska menjalin hubungan, Rangga sudah mundur dan menyerah. Dia tidak ingin merusak persahabatannya hanya karena wanita. Zain adalah pemuda yang baik, Zain punya cara tersendiri memperlakukan orang yang di cintainya. Zain selalu menghormati wanitanya, menjaganya dan tak pernah berniat sedikit pun untuk menyentuhnya sebelum halal.
Akan tetapi masalah muncul berawal dari putri pemilik warung langganan mereka bertiga yang bernama Adel, ternyata juga mencintai Zain. Adel menghasut Riska, mengatakan bahwa Zain tak mencintainya maka dari itu, Zain sama sekali tidak tertarik untuk menyentuhnya.
Pada akhirnya, Riska merongrong Zain meminta bukti cinta walau hanya sekedar berciuman tapi Zain tetap tak mau melakukannya.
"Percayalah, aku sangat mencintaimu. Aku akan membuktikan cintaku padamu tapi tidak dengan cara itu." Inilah pesan yang Zain ucapkan setiap Riska meminta bukti cinta, berulang kali Zain ucapkan janji namun tak kunjung ia buktikan.
Dari situ Riska mulai ragu dan sangsi atas perasaan dan cinta Zain padanya. Riska selalu merasa tersiksa memikirkan perasaan Zain. Di saat itulah Rangga hadir untuk menghibur Riska, memberikan apapun yang Riska inginkan. Hingga suatu malam, ketika Rangga berduaan di kamar kost Riska, dia dan Riska terbawa suasana dan hanyut karena godaan setan.
"Riska, apa kamu dan Zain pernah berciuman?..."
"Tidak pernah. Kalau kamu?..." Riska bertanya, tapi Rangga tak mau menjawab.
"Apa kamu tidak penasaran dengan rasanya ciuman?..." Rangga kembali bertanya, Riska langsung menatap Rangga dengan intens ketika mendapatkan pertanyaan semalam itu.
"Cup...." tanpa aba-aba Rangga langsung mencium bibir Riska, karena tak ada penolakan Rangga semakin memperdalam ciumannya. Riska yang tak pernah terjamah, begitu hanyut dalam permainan Rangga. Hingga dia hilang akal, karena rasa yang pertama kali ia rasakan. Hingga tanpa ia sadari Rangga sudah melucuti pakaiannya. pRiska dan Rangga melakukan hubungan badan.
Padahal Zain yang dulu hanya pemuda sederhana, ia butuh waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk melamar Riska.
Hingga setelah uang terkumpul, Zain datang dengan membawa perhiasan untuk melamarnya dan beberapa hadiah untuk Riska. Namun Naas, yang ia dapati kekasih yang ia cintai sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri. Zain melemparkan kotak perhiasan ke wajah Riska, hingga perhiasan berhamburan kemana-mana. Saat itu penyesalan Riska tertimbun amat dalam, Zain benar-benar membuktikan cintanya dengan melamar Riska.
Zain menghajar Rangga habis-habisan tanpa ada niat sedikitpun untuk Rangga membalasnya.
Hingga keributan terdengar oleh warga sekitar. Rangga dan Riska di arak masa dan di paksa nikah. Zain dengan hati yang hancur menyaksikan pernikahan sahabat dan kekasihnya. Bukan tanpa alasan Zain melakukan itu. Tujuannya, Zain tidak ingin melupakan dan memaafkan penghkianatannya ini.
Pernikahan yang Riska dan Rangga jalani hanya di isi dengan pertengkaran dan saling menyalahkan. Menyalahkan karena menikah dengan cara yang memalukan. Bertengkar karena penghinaan dan rusaknya hubungan baik mereka bertiga. Riska yang selalu membandingkannya dengan Zain, membuatnya begitu cemburu, hingga tak segan-segan Rangga akan memukul Riska. Rangga membalas rasa cemburunya dengan membawa wanita.
Hingga suatu hari Riska menggugat cerai dirinya. Dari situ lah Rangga menyesal dan ingin memperbaiki rumah tangganya. Namun terlambat.
FLASH BACK OF.
***
Author
__ADS_1
Terima kasih ya kakak sudah bersedia memberikan VOTE untuk karyaku yang amatir ini.