
Mobil yang di kemudikan oleh Zain berhenti di depan gerbang kampus.
"Jangan lupa vitaminnya di minum, jangan makan sembarangan. Makan bekalnya saja, lebih terjamin higienis dan gizinya. Ada ini yang harus kamu jaga." tutur Zain sembari mengusap perut Nadine yang mulai timbul.
"Ya, kak. Kakak hati-hati ya di jalan, jangan ngebut. Aku nggak mau jagain dedek bayi sendirian."
"Iya. Memangnya aku mau kemana?..."
"Ehemm ehemmm," Dion berdehem. Sepertinya kakak iparnya lupa jika di kursi penumpang ada Zahra dan Dion yang memperhatikan kemesraan mereka. Zain segera membuka kunci pintu mobil. Dion dan Zahra segera turun dari mobil.
"Kak aku masuk dulu." Zahra mencium tangan Zain, sedangkan Dion membuang muka melihat ke segala arah. Dia masih canggung.
"Ayo, Ra." Dion meraih tangan Zahra, lalu menggenggamnya dan mereka berjalan membelah halaman kampus tanpa peduli dengan tatapan para mahasiswa.
Setelah mencium punggung tangan Zain, Nadine menarik tangan suaminya supaya lebih dekat, dengan leluasa Nadine mendaratkan ciuman di pipi Zain, hingga senyum indah terbit di bibir sang suami.
"Sudah sana turun, sebelum aku membawamu ke hotel."
"Bawa aja nggak apa-apa, biar bos Iqbal ngamuk. Kakak banyak bolosnya loh akhir-akhir ini." Nadine membuka pintu dan melompat turun.
DIIIN DIIIN DIIIN.... Zain menoleh sekilas melihat mobil di belakang yang mengelakson, lalu tancap gas.
***
"Woy, mantan perjaka datang." teriak Alex dengan suara keras di dalam kelasnya, sudah banyak para mahasiswa yang duduk menempati bangkunya. Semua teman-teman tertawa, bahkan ada yang menggebrak-gebrak meja.
__ADS_1
"Wkwkwkwkwk..."
"Anjir." Dion mengumpat, sudah ia duga bahwa hal ini akan terjadi. Dion mengacuhkan mereka. Lebih baik duduk, sok smart, membaca buku.
"Yon, udah goal kan." semua teman Dion mengerubunginya.
"Renata pasti patah hati kalau tau Zahra udah nggak perawan. Eh, maksudnya elo udah nggak perjaka."
"Gimana rasanya?..."
"Sumpah, wajah Lo fresh banget. Berseri-seri, kayak abis pakai bedak Mercuri."
Sumpah, rasanya Dion ingin mencelupkan semua teman-temannya ke dalam telaga. Lalu menyikat mulutnya supaya bersih dan tidak mengumbar masalah keperjakaan. Ini hal tabu.
Alex meletakkan jari telunjuknya supaya semua teman-temannya berhenti tertawa.
"Yon."
"Yon." Alex mencolek lengannya karena ia acuh.
"Apa sih?..." tanya Dion dengan tatapan sinis.
"Buku yang elo baca terbalik."
"Wkwkwkwkwk...." Semua orang menertawakannya. Dion berusaha bersikap tenang dan keren untuk menutupi rasa malunya. Harga dirinya sedang di pertaruhkan di hadapan banyak orang.
__ADS_1
"Kalian semua belum tahu ya.... Menurut penelitian, otak manusia itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetap bisa membaca walaupun tulisannya acak-acakan dan termasuk baca buku terbalik. Aku hanya mencobanya, untuk melatih otak."
"Gue baru tau, kalau orang abis nikah terus enak-enak bisa bego." Habibi menyilangkan telunjuknya di dahi.
"Sialan Lo...." Semua orang melepaskan tawa, mengguncang bahu Dion.
"Abis berapa ronde lu.... Kok Zahra jalannya kayak pinguin 🐧?..." Malik menirukan gaya berjalan pinguin.
"Zahra itu, abis di puter, di jilat, di celupin." Alex memperagakan ucapannya dengan gerakan tangan. Memutar tangan, menjulurkan lidah, lalu menusuk jarinya ke udara. Tawa mereka semakin menjadi-jadi. Dion seperti tak menemukan ruang ketenangan jika berhadapan dengan teman-temannya. Mereka semua sama jahilnya, terutama Alex.
"Berisik Lo semua. Nih, bantuin bagiin undangan, sebelum dosen killer datang." ucap Dion untuk mengalihkan pembicaraan.
"Siap bos." Dion melempar undangan di atas meja, semua sahabatnya ambil bagian lalu membagikannya kepada teman satu kelasnya.
Renata yang baru datang berdiri di bingkai pintu, ia terpaku ketika bertemu dengan pupil mata Dion. Pria itu segera memutus kontak matanya, tak mau berlama-lama sebab ia dan semua orang tau bagaimana perasaan gadis itu padanya, banyak sekali mahasiswi yang ia bully ketika mendekatinya. Nadine pun pernah jadi korbannya, di sekap di kamar mandi. Tapi jangan coba-coba membully istrinya.
"Hy, cantik... Minggu depan hadir ya di pernikahan Dion." gadis bernama Ratna itu tersipu malu.
"Lex, Lo suka sama dia." tanya Dion.
"Ya nggak lah, dia bukan tipe gue. Cupu, pakai kaca mata kuda, belum lagi tuh dengan rambut yang selalu di kepang dua. Dulu sih sukanya sama Zahra tiap malam gue selalu mimpiin mereka, tapi pas liat mukanya kayak gitu, gue ikhlaskan aja deh buat elo."
Dion manggut-manggut, tak mau memberikan keterangan bahwa istrinya kini kembali cantik sebab tak ingin Alex membayangkan kecantikan istrinya lagi.
Renata yang baru datang berdiri di bingkai pintu, ia terpaku ketika bertemu dengan pupil mata Dion. Pria itu segera memutus kontak matanya, tak mau berlama-lama sebab ia dan semua orang tau bagaimana perasaan gadis itu padanya, banyak sekali mahasiswi yang ia bully ketika mendekatinya. Nadine pun pernah jadi korbannya, di sekap di kamar mandi. Tapi jangan coba-coba membully istrinya.
__ADS_1