
Sembari berjalan tergopoh-gopoh, dengan tangan gemetar Rani menghubungi Brayen tapi tak kunjung di angkat, menghubungi Alena, juga sama saja. Akhirnya Rani menghubungi Alyn.
"Lyn, tolong aku."
"Ada apa?..." kata Alyn ketika mendengar suara Rani yang gemetar.
"Penthouse di serang, sama anak buah Steven. Banyak preman nyerang. Tolong hubungi kak Brayen sebelum nama kami tinggal kenangan."
Dion menggendong Nadine ala bridal style, berlari mengikuti Rani. Karena tidak ingin terjatuh, Nadine terpaksa berpegangan di bahu Dion. Sementara Aaron yang menangis berada di gendongan Zahra. Pun menekan bibir Aaron agar darah berhenti mengalir.
"Kak turunin aku. Aku bisa jalan sendiri." Nadine menolak di gendong oleh Dion sebab tak enak hati dengan Zahra.
"Maaf. Ini darurat, kita tak punya banyak waktu." ucap Dion.
Ketika melewati Tv yang menyala, Nadine melihat kecelakaan dan pohon tumbang di berita terkini.
Sembari berlari di belakang Dion, Zahra melihat tetesan darah Nadine yang berjatuhan di atas lantai.
"Ayo masuk semua." ucap Rani setelah sampai di kamarnya.
"Dion, tunggu." Rani menahan Dion ketika melihat tetesan darah Nadine di lantai.
"Bi Ijah tolong kunci pintunya. Dion, biarkan Nadine duduk di ranjang." perintah Rani.
Rani mengambil sapu tangan dan kotak P3K dari lemari, lalu membelitkan sapu tangan ke betis Nadine yang terluka agar tak meninggalkan jejak. Nadine meringis kesakitan.
Rani menggendong Putri, sementara putra kembarnya di gendong oleh baby sitternya.
"Ayo, ikuti aku." Rani membawa semua orang masuk ke dalam kamar mandi, lalu membuka pintu yang terbuat dari cermin. Menyuruh semua orang masuk ke dalam ruang rahasia kedap suara. Setelah semua orang masuk, pintu segera ia kunci.
Rani menyuruh Zahra untuk mengobati luka Aaron.
Dion berpaling ketika Rani membuka gaun pesta Nadine yang berlumuran darah hingga di atas lutut untuk di obati.
***
Zain dan Iqbal memang hebat dalam bertarung dan beberapa anak buahnya yang terlatih sudah banyak yang menjatuhkan lawan. Tapi musuh tak kunjung habis, terlalu banyak. Sedangkan anak buah Iqbal sudah banyak yang tumbang.
Beberapa musuh berhasil masuk ke dalam penthouse, mengikuti jejak darah hingga sampai di kamar. Dengan sekali tendangan pintu terbuka.
__ADS_1
"Darah berhenti di sini." musuh menunjuk ceceran darah di depan ranjang.
"Mereka pasti ada di sini. Jika ketemu, langsung bunuh saja. Cepat cari." musuh membongkar lemari, mengangkat ranjang, menghancurkan semua barang, mencari tempat rahasia. Mereka berkeliling kamar, keluar masuk kamar mandi, mencari keluarga Iqbal, memukuli tembok hingga pintu rahasia yang terbuat dari cermin.
"Pasti mereka di dalam cermin ini. Untuk jenis cermin, ini terlalu kokoh tak bisa pecah."
"Berarti ini kaca anti peluru." musuh terus membacok cermin dengan kapak, jangankan pecah, tergores pun tidak.
"Kak, ini gimana. Mereka udah sampai sini." ucap Zahra yang mulai ketakutan, semua yang ada di ruang rahasia gemetaran melihat aksi brutal musuh.
"Jangan khawatir, ruangan ini kedap suara. Terbuat dari baja. Bom sekali pun tidak akan bisa menembusnya. Asal jangan nuklir saja, bisa jadi arang kita." ucap Rani.
"Gila, gue ngerasa masuk ke dalam film drama aktion." Dion menggelengkan kepala.
"Iya, kamu jadi figuran. Pemeran utamanya suamiku dan Zain." celetuk Rani.
"Mau kemana lagi kak?" tanya Nadine ketika melihat Rani membuka karpet, menekan tombol di balik kaki laci, lalu lantai terbuka ke bawah sedikit dan bergeser ke samping. Terdapat tangga di sana.
"Kita harus cepat keluar dari sini. Sebelum tempat ini di bakar dan kita jadi daging panggang." ucap Rani kemudian menuruni tangga bawah tanah bersama Putri.
"Uti mo ana Ma?" ucap Putri.
"Gila. Ternyata baja bukan marmer." Dion setelah mengetuk lantai.
"Ayo kak." ucap Zahra, setelah semua orang turun tangga.
"Iya." Dion kembali menggendong Nadine.
"Hikzzzzz..." Nadine terisak, air matanya tiba-tiba menetes. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Mana mungkin 30 orang bisa melawan banyak orang musuh.
"Jangan menangis." ucap Dion. Nadine menutup wajahnya, ia makin sesenggukan. Apa yang bisa di harapkan, Penthouse jauh dari pemukiman warga.
***
Iqbal dan Zain mulai kelelahan, tak mungkin mereka bisa mengalahkan musuhnya yang terlewat banyak.
Walau babak belur, Zain dan anak buahnya tetap berdiri mempertahankan diri dengan kekuatan yang tersisa. Hingga anggotanya mulai gugur, tersisa 11 orang yang masih bertahan sedangkan musuh masih tersisa sekitar 40 orang. Iqbal hanya menyiapkan pasukan khusus andalannya untuk berjaga. Ia tak menyangka akan mendapat serangan mendadak seperti ini. Jika tahu akhirnya seperti ini , ia pasti akan menyiapkan pasukan khusus lebih banyak.
Zain dan Iqbal semakin syok ketika musuh baru berdatangan. Mereka tertawa jahat, meyakini bahwa akan bisa mengalahkan anak buah Iqbal yang hanya tersisa segelintir.
__ADS_1
"BUAT LINGKARAN, SALING MELINDUNGI." Iqbal berteriak. Dia dan anggota yang lain bergabung menjadi satu. Deru nafasnya memburu, ngos-ngosan. Tenaganya mulai lemah, karena terkuras tapi musuh yang masih segar bugar baru menunjukkan batang hidungnya. Tangan tetap terkepal, siap menjadi tameng untuk memberikan perlawanan.
"Mustahil kita bisa mengalahkan mereka tuan." ucap Zain.
"Berdoa saja bantuan akan segera datang." kata Iqbal.
"Hahahaha, bagaimana? Strategi kami? Hebat kan." ucap Heru yang sejak tadi memilih bersembunyi. "Jalanan di hadang pohon tumbang dan kecelakaan lalu lintas. Di wilayah kantor polisi dan markasmu, jalanan macet. Orang-orang kalian akan sampai setelah melihat mayat kalian. Hahahaha..."
Iqbal dan Zain melihat penthouse yang sebagian sudah terbakar, di dalam hati ia berdoa semoga keluarganya selamat.
Dalam hitungan detik, musuh kembali menyerang dengan membabi buta. Kelompok Iqbal sudah kualahan, tubuhnya mulai lemah dan terhuyung. Nafasnya memburu dan ngos-ngosan. Banyak pukulan yang di terima oleh kelompok Iqbal, tapi tetap bertahan.
Iqbal menjilat bibirnya yang berdarah lalu meludah. Zain mengusap hidung dan pelipisnya yang berdarah dengan lengan. Sisa 5 orang anggota.
"Hah, kakiku tak kuat lagi berdiri." ucap salah satu anggota Iqbal.
"Bertahanlah, jangan putus asa." ucap Zain yang masih bertarung.
Serangan musuh membuat anggotanya kembali berpencar.
Melihat Iqbal sudah lemah, Heru datang berniat untuk menghajarnya. Ini kesempatan bagi Heru karena Iqbal sudah lemah. Ia menyadari, jika Iqbal sehat Heru bukanlah tandingannya.
Dengan sigap Iqbal menahan tangan Heru lalu menghajarnya dengan membabi-buta. "Kekuatanku masih cukup jika hanya untuk membunuh mu berengs*k."
Zain berlari ketika melihat musuh mengarahkan pistol ke arah Iqbal. "Tuan, awaaaaasss...."
DOOOR... Suara tembakan menggelegar.
"Kakaaaaak...." Nadine dan Zahra berteriak, menjerit histeris ketika melihat dari helikopter Zain tertebak karena melindungi Iqbal. Air mata mereka berjatuhan dengan derasnya.
"Kakaaaaaaak." Baru bertemu dengan sang kakak, haruskah berpisah secepat ini. Sudah lama merindukan Zain, haruskah berpisah lagi.
"Aaaaakkkhhh...." Nadine berteriak memukul kaca jendela ketika melihat Zain tak bergerak di pangkuan Iqbal yang menangis histeris. Haruskah takdir sejahat ini pada Aaron yang masih kecil, baru tadi dia bermain bahagia bersama sang papa, akankah ini menjadi hari terakhirnya bertemu sang papa. Zain bilang penthouse Iqbal akan aman, tapi musuh malah menyerang di sana. Nadine benci pada Zain, dia pembohong. Katanya mau menjaga Aaron dan Nadine, tapi kenapa sekarang malah tergerak.
"Pa...Pa..." Aaron menangis ketika melihat ibunya menangis, menepuk-nepuk kaca melihat sang papa.
"Iqbaaaal..." Rani menangis melihat Iqbal di seret dan di keroyok.
"Mama...." Putri menghapus air mata ibunya. Rani segera menghapus air matanya dan memeluk Putri agar tak melihat derita papanya yang di hajar habis-habisan oleh anak buah Steven. Pesawat mulai menjauh meninggalkan penthouse, meninggalkan prahara yang terjadi.
__ADS_1