
"Miranda?..." Ketika keluar dari gangnya, Zahra menangkap suara dari balik tubuhnya. Ia berbalik, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa pria bertubuh tinggi besar dengan rambut panjang bergelombang yang di ikat kuncir kuda ke belakang sedang berbicara dengannya.
"Om, manggil siapa?..." tanya Zahra dengan ramah.
"Kamu, Miranda. Anakku yang hilang. Aku ayahmu." ucap Darius dengan wajah sendu penuh penghayatan.
Zahra terkejut, matanya melebar sempurna. Rasa kaget, haru dan bahagia menjadi satu menguar dari hatinya. Ia ingin menarik diri untuk berhambur ke pelukannya tapi sekilas pesan Dion tersirat di ingatannya. "Hati-hati, waspada, takut penipuan." Zahra kembali memasang wajah datar.
"Maaf Om, kalau memang Om ayah saya, mana buktinya?..."
Darius mengeluarkan hp dari dalam jaket yang ia kenakan. Lalu menunjukkan foto Zahra waktu masih kecil. Kening Zahra berkerut ketika melihat fotonya yang lusuh, dekil dan muram. Teringat masa lalunya ketika ibu Fatima mengoleskan salep pada luka bekas cambukan di tubuhnya. Zahra ragu dan takut dengan pria di hadapannya. Zahra hendak berlari, akan tetapi tangannya lebih dulu di sergap.
"Toloooooong, lepas." Zahra memberontak dengan sekuat tenaga, membanting tubuhnya sembari memberikan pukulan agar Darius mau melepaskannya. Tapi pukulan Zahra tak berimbas apapun.
"Gadis sialan, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi."
"Aaaaahhhh, Toloooooong...." Zahra berteriak keras ketika Darius memaksa dirinya memasuki mobil, kemudian. "Bughh...." Pukulan keras, Darius berikan di kepala Zahra, membuat tubuh gadis itu terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Baron segera memasukkan Zahra ke dalam mobil.
"Hahahaha.... Duit, duit, duit.... TOS... Kita bakal banyak duit.... Cepat, cepat telpon tuan Hartono, ada barang baru. Masih fresh dan orisinil." Baron dan Darius melakukan TOS karena berhasil membawa Miranda, harta Karunnya kembali. Tawa mereka berdua menggelegar di dalam mobil. Menertawakan kemalangan Zahra.
***
Dion menarik gas lebih kencang, membuntuti mobil yang membawa Zahra. Dari kejauhan tadi, Dion melihat seseorang memukul kepala Zahra dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Mobil Dion meliuk-liuk melewati setiap mobil yang menghalangi jalannya. Setelah lama berpacu, mobil yang di tumpangi Baron berhenti di depan sebuah villa yang jauh dari pemukiman warga, Darius turun dari mobil dengan menggendong Zahra. Mobil Dion juga berhenti.
Dion berlari menaiki tangga villa yang menuju pintu utama lalu menarik bahu Baron dan meninju wajahnya hingga dia tergelincir jatuh dari tangga. Dion segera masuk ke dalam Villa, matanya langsung mendapati Darius meletakkan Zahra di atas sofa.
"Jangan sentuh dia." suara bariton Dion menggema ketika melihat Darius hendak menyentuh Zahra. Sesaat mereka berdua saling pandang, dengan tatapan tajam. Tanpa basa-basi dion langsung menyerang Darius, mereka berdua saling serang. Tak ada yang mau mengalah, kekuatan mereka imbang. Beberapa pukulan di perut dan wajah mereka berdua saling terima.
"Bugh...." Dion memegangi kepala di bagian belakangnya karena hantaman benda keras, membuat kepalanya berdarah. Dunia terasa berputar, pandangannya mulai gelap dan ia tak sadarkan diri. Tumbang di atas lantai kayu.
"Siapa dia?..." tanya Baron.
"Temannya Miranda."
Darius memeriksa denyut nadi dan nafas Dion.
"Mati?..."
"Belum."
__ADS_1
"Lalu bagaimana?..."
"Bunuh dia."
"Jangan dulu, siapa tahu bisa menghasilkan banyak uang. Jam mahal, hp mahal. Uuuuhhhh..." setelah menunjuk atribut yang Dion kenakan, Darius menarik dompet dari saku celana Dion."Wuuuiiiihhh, banyak duitnya,Ron." ucap Darius saat membuka isi dompet di tangannya.
"Cepat ikut dia, sebelum dia sadar. Setelah itu obati kepalanya sebelum dia mati."
***
"Cepat pakai." di sebuah kamar, Baron melempar pakaian seksi tepat di wajah Zahra.
"Aku nggak mau, lepasin aku. Toloooooong, kamu siapa dan mau apa?..."
"Jangan banyak tanya, cepat pakai. Sebentar lagi pelanggan pertama mu datang." Zahra tersentak, perasaannya takut dan hancur melihat pakaian seksi dan apa maksudnya pelanggan?... Zahra mulai bisa mencerna posisinya saat ini, apakah itu artinya Zahra akan di jadikan pemuas nafsu. Tanpa terasa air mengalir dari mata indahnya.
"Aku tidak mauuuu.... Lepaskan aku, aku tidak mau jadi pelac*r...." Zahra menangis meraung-raung sembari memukuli Baron sekuat tenaga tapi Baron malah menamparnya dengan keras hingga kepalanya terantuk pinggiran ranjang dengan keras hingga berdarah. Membuat kepala Zahra pening, sakit teramat sakit. Kepingan-kepingan memory ketika dirinya di culik di pasar malam, di bawa ke dalam kereta, dari satu tempat ke tempat lain. Panas, kelaparan dan kedinginan tak ada yang peduli. Menjadi pengemis di jalanan.
Miranda kecil mengeluarkan uang hasil mengemis dari gelas Aqua, menghitung uang hasil jerih payahnya dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, di pinggir jalan. Setiap lembar demi lembar di tata dengan rapi, kemudian di hitung satu persatu.
"Wah, dapat banyak hari ini. Nanti pasti makan enak." senyum bahagia terlukis di wajah gadis lugu yang dekil dengan pakaian Kumal.
"Sreeeeekk...." seorang anak gadis kecil yang sedikit lebih tua dari Miranda menjarah uang yang tengah di hitungnya.
"Halah, pelit banget sih..." Gadis yang bernama Maria itu berlari meninggalkan Miranda yang tengah menangis.
***
Dengan segala ketakutan dan kegugupannya, Miranda memasuki bilik lusuh tempatnya bernaung. Ia sangat takut menghadapi Baron dan Darius karena sudah tahu apa yang akan di lakukannya jika Miranda tak membawa uang.
"Mana?... Mana uangnya..." Baron berteriak memelototi Zahra. Tangannya menengadah dengan jemarinya yang naik turun meminta jatah. Dengan kepala menunduk, Miranda mengeluarkan gelas Aqua kosong yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Mata Baron semakin lebar membulat, matanya merah karena gejolak amarah. Ia mengambil pecut dan mencambuki Miranda, tak peduli dengan jeritan tangis pilu Miranda.
"Ampuuuun..... Ampuuuun....Sakiiiitttt.... Ampuuuun...." mulut Miranda terbuka lebar, menjerit kesakitan. Sakit jauh dari keluarga, sakit merindukan keluarga, sakit ketika cambuk berulang kali menggilas tubuh ringkihnya, sakit karena orang biadab ini memisahkannya dari keluarganya. Mereka kejam, lebih kejam dari binatang.
Anak korban penculikan yang lain saling berhimpitan satu sama, mereka ketakutan menyaksikan perbuatan keji Baron dan Darius, karena mereka semua juga pernah mengalami apa yang Miranda alami jika hasil mengemis mereka tak mencapai target.
"Ini peringatan untuk kalian semua. Kalian harus bekerja keras untuk kami, jika tidak ingin mengalami apa yang Miranda alami. Mengerti."
"Mengerti." jawab semua anak jalanan lirih, gugup bercampur takut.
"Yang keras, gue nggak dengar." Darius berteriak kencang memekakkan telinga siapa saja yang mendengar.
__ADS_1
"MENGERTI." ucap anak-anak dengan kencang karena terintimidasi oleh rasa ketakutan.
"Nah, gitu....Ayo makan...Makan makan makan. Biar besok bisa kerja lagi. Elo, bagiin buat teman-teman elo." Darius menunjuk satu salah satu dari anak tersebut, lalu memberikan sekantong plastik nasi bungkus.
Semua anak menerima 1 bungkus nasi yang lauknya tahu dan tempe, khusus yang menghasilkan banyak uang mendapatkan nasi dengan lauk ayam goreng. Miranda hanya bisa menelan air liur menyaksikan semua temannya makan kecuali dirinya, ia menahan perih di perut karena lapar dan perih di sekujur tubuhnya. Dengan langkah lemah sembari memegang perutnya yang lapar, Miranda menghampiri Darius sedang makan.
"Abang. Aku lapar." ucap Miranda lirih.
"Makanya cari uang yang benar. Udah sana-sana." Darius bergeming, Baron malah Mengibaskan tangannya mengusir Miranda, ia pun pergi melangkah sembari menatap teman-temannya memakan nasi bungkus, sementara Miranda hanya bisa menelan air liurnya.
Tengah malam, ketika semua teman-temannya tertidur. Miranda masih terjaga karena rasa laparnya amat menyiksa.
"Mama, Papa, kak Zain, nenek. Miranda kangen, Miranda sedih. Miranda pengen kumpul kalian lagi... Hikkkzzz" Miranda meringkuk, menangis tersedu-sedu tanpa suara, menahan rindu pada keluarganya sangat lah menyakitkan.
"Ayo, bangun, bangun, bangun.... Calon bos baru kalian anak datang." Baron dan Darius membangunkan anak-anak dengan kakinya yang menendang-nendang kaki kecil malaikat tak berdosa itu.
Baron dan Darius menyuruh anak-anak untuk berbaris rapi. Madam Angel memasuki tempat kumuh dengan rasa jijik, lingkungan hidup yang kotor dan menjijikkan. Madam Angel memperhatikan satu persatu wajah anak-anak tersebut. Matanya terpaku pada gadis kecil yang berada di pojok, gadis kecil yang cantik, tetap terlihat cantik walaupun wajahnya dekil. Ia menghampiri Miranda. Dahinya mengernyit ketika melihat bekas cambukan di tubuhnya.
"Heh, Baron, Darius. Kau apakan anak ini. Kenapa tubuhnya penuh luka begini?..."
"Dia nggak becus bekerja." ucap Baron.
"Bo doh... Ini aset berharga. Aku beli yang ini."
"Yang ini mahal."
"Ck... Gampang kalau masalah uang."
Setelah melakukan transaksi, madam Angel membawa Miranda pergi bersamanya menaiki mobil. Mobil melesak melewati jalan beraspal, membelah kegelapan malam.
Ketika mobil hendak melewati persimpangan jalan, tiba-tiba mobil melesak ke luar dari jalan di sampingnya. Tabrakan pun tak bisa di hindari, membuat mobil bagian samping yang madam kendarai ringsek.
Madam Angel yang marah keluar dari mobil bersama satu bodyguardnya.
Keluar 4 wanita dengan berbagai ukuran dari mobil yang menabrak mobil madam Angel. Ada yang gemuk, kurus, sedang dan tinggi.
Madam Angel adu mulut dengan perempuan pemilik mobil yang menabraknya. Dari adu mulut berubah jadi dorong-dorongan. Dua bodyguard madam Angel turun dari mobil dan melerai aksi mereka.
Miranda yang melihat kesempatan emas keluar dari mobil, dia berlari sekencang-kencangnya tanpa alas kaki. Kakinya terus melaju kencang menapaki jalan beraspal, ia tak mau menoleh kebelakang. Dia hanya mau lari sejauh mungkin, Miranda memasuki gang sempit, kakinya menginjak jalan yang basah, hingga menimbulkan suara percikan air. Miranda terjatuh dan bangkit lagi, dia berlari di temani pelukan dinginnya malam, di selimuti gelapnya awan. Semakin lama ia berlari, hatinya semakin senang. Ia merasa sebentar lagi akan merdeka. Dari jalanan sempit, matanya melihat jalan lebar. Miranda semakin mempercepat laju kakinya ketika keluar dari jalan sempit.
"Braaaaakkkk...." tubuhnya melayang, membuang semua kenangan masa kecil bersama keluarganya, ia bergelundung berulang kali di jalan beraspal.
__ADS_1
***
Selamat menikmati.