Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
DION PATAH HATI


__ADS_3

Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan menuju Bandara internasional SOEKARNO-HATTA suasana begitu hening. Hanya terdengar suara deru mesin mobil, kaca jendela yang sedikit terbuka itu membuat angin yang menyusup masuk meniup-niup rambut Nadine hingga terumbai-rumbai.


Nadine yang sedang gundah tiba-tiba merebahkan kepalanya di atas pangkuan Bi Ijah. Nadine sedang membutuhkan support dari orang terdekatnya. Nadine memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri dan tidak ingin membaginya dengan orang lain.


Jika orang tuanya tahu bahwa Nadine ingin menikah karena masalah hutang piutang, pasti orang tuanya akan memilih menjual tanah warisan turun temurun dari generasi ke generasi untuk menutupi hutangnya. Tapi Nadine tidak ingin melihat orang tuanya bersedih dan susah. Nadine juga ikut andil dalam masalah ini, jika saja Zain tidak ingin menikahinya maka Zain tidak akan melilit orang tuanya dengan hutang.


"Jangan khawatir, Bapakmu pasti akan merestui pernikahan kalian. Kamu yang tenang ya, nanti bibi akan bantu bicara." Nadine pun mengangguk, Bi Ijah membelai kepala Nadine dengan lembut. Beliau berpikir jika Nadine terlihat gelisah karena takut pernikahannya tak di restui.


Sementara Zain duduk di kursi depan, memperhatikan Nadine dari kaca mobil depan Sedari tadi hingga Nadine berbaring dan mendengar pencerahan dari Bi Ijah. Bi Ijah ikut ke Kota Bangil Jawa timur, supaya Nadine tidak hanya berduaan di sepanjang perjalanan dengan laki-laki menuju desa Bangil.


Setelah sampai di bandara internasional SOEKARNO-HATTA supir mengeluarkan barang bawaan Nadine, Bi Ijah dan Zain.


"Biar saya bantu bawa tuan." Bi Ijah menawarkan bantuan pada Zain, sebab Zain membawa dua koper besar di kanan kiri tangannya dan ransel Nadine yang ia gendong di punggungnya.


"Tidak perlu Bi, saya bisa sendiri. Dan mulai sekarang jangan panggil saya Tuan. Panggil saja Zain." Zain tetap melangkahkan kakinya beriringan dengan bi Ijah sementara Nadine mengekor di belakangnya.


"Tapi Tuan!!!!...."


"Sebentar lagi kan saya akan jadi mantunya bibi."


"Iya Tuan, eh Nak Zain saja ya..." Ucap Bi Ijah.


"Iya, Bi."


Nadine sedari tadi berjalan sembari mengusap layar Hpnya, menunggu notifikasi pesan atau panggilan dari Dion. Sepanjang perjalanan dia hanya memikirkan Dion, bagaimana perasaannya?... Kenapa tak kunjung merespon pesannya?... Apakah dia marah?... Apakah dia sakit hati?....Apakah dia terluka?... Apakah dia bersedih?... Pikiran Nadine selalu bertanya-tanya!!!...Dia pasti sangat kecewa padanya!...


Di dalam pesawat, Nadine duduk di samping Bi Ijah, tepat di samping jendela. Sedangkan Zain duduk di kursi samping kanan Bi Ijah.


Terdengar suara audio di pesawat agar penumpang mematikan ponselnya dan memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera lepas landas.


Dengan berat hati Nadine menonaktifkan Hpnya, sebab dia masih ingin tahu bagaimana keadaan Dion.


***


"Ma, ayolah Ma cepat pulang...."


"Ada apa sih Yon, Mama ini lagi belanja. Nggak biasanya kamu buru-buru begini."


"Hp Dion ketinggalan Ma, nanti kalau pacar Dion telpon atau nyariin Dion gimana?..." Dion yang sedari tadi mengantarkan Mamanya berbelanja ngotot minta pulang karena Hpnya tertinggal. Sejak tadi pikirannya hanya melayang-layang pada Nadine. Dia sudah tidak sabar untuk saling menukar kabar setelah kemarin mereka resmi berpacaran.


"Udah mulai berani kamu ya pacaran!..." Mama pura-pura mendelik, menunjuk-nunjuk wajah Dion.


"Hehehe...Abisnya di ajak nikah dianya nggak mau Ma, masih belum siap?..." Dion mengusap tengkuknya karena malu.


"Kamu sendiri udah siap, belum menikah?..."


"Kalau Dion kapan pun siap, asal sama Nadine dan dapat restu dari Papa dan Mama."

__ADS_1


"Cantik nggak nih?..." Mama mencibir


"Wiiiihhhh.... Cantik banget lah Ma...Dion nggak bakal salah pilih istri. Dia baik, sopan, pintar, kuliah aja karena dapat beasiswa. Tapiiiii...." Dion menggantung Ucapannya.


"Tapi apa?..." Mama mengernyit penasaran.


"Dia orang nggak punya."


"Plaaakkk....Owalah, itu...." Sang Mama menepuk pundak Dion cukup keras."Nggak apa-apa. Yang penting akhlaknya mulia. Orang mana?..."


"Bangil, Jawa timur. Dekat pondok Sidogiri."


"Loh, iya ta?... Berarti deket sama tempat kamu dan bapakmu mondok dulu ya."


"Iya Ma."


"Kapan-kapan bawa ke rumah ya... Mama pengen tahu, seperti apa sih calon mantu Mama!!!..." Mama begitu antusias.


"Pokoknya top deh, Mama pasti suka."


***


Dion memacu mobilnya dengan kencang, dia sudah tidak sabar untuk berkomunikasi dengan Nadine. Libur panjang telah tiba, maka waktunya bersama dengan Nadine akan lebih banyak. Dia sangat bahagia, hubungannya dengan Nadine sudah naik satu level.


"Dion, jangan ngebut dong...Mama takut..."


"Duh yang lagi kasmaran." Mama mencibir, Dion hanya tersenyum.


Dion sudah sampai di depan rumahnya, mobil ia parkir sembarangan. Dia segera keluar dari mobil meninggalkan sang Mama.


"Dion, bantu Mama turunin belanjaan." Mama setengah berteriak memanggil Dion yang berjalan sedikit berlari.


"Dion panggilkan mang Ujang buat bantu Mama ya..." Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Dion yang tak biasanya.


Dion mempercepat langkahnya ketika melihat kamarnya. Dion segera menyambar Hpnya yang tergeletak di atas ranjang. Bibirnya tersenyum lebar ketika melihat notifikasi pesan masuk dari Nadine.


"JEDAAAARRRR...." Dion terkejut, hatinya bagai tersambar petir di siang bolong. Sakit, sangat sakit. Bahkan lebih sakit dari penolakan Nadine sebelumnya. Tanpa permisi air mata sudah meluncur dari matanya ketika membaca pesan dari Nadine yang meminta putus.


"Tidak... Ini tidak mungkin.... Nadine pasti bercanda. Nadine tidak mungkin sejahat ini padaku. Nadine tidak mungkin Setega ini padaku...Ya Allah....Aku harus meminta penjelasan pada Nadine, tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa dia mendadak minta putus. Apa salahku?... Baru kemarin kami jadian." Dion segera menghubungi Nadine , sudah bolak-balik Dion menghubungi Nadine tapi nomor yang ia tuju selalu di luar jangkauan.


Lutut Dion lemas, dia terduduk di atas lantai. Menyandarkan punggungnya di tepi ranjang.


Dion memukuli dadanya yang terasa begitu sakit. Dadanya terasa begitu sesak, seperti ada beban yang menghimpit. "Hatiku sakit sekali... Kenapa aku harus menangis... Nadine hanya bercanda... Kenapa aku menganggapnya serius." Dion berusaha menghibur dirinya sendiri sembari mengusap air matanya.


Dion bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu keluar melewati Mamanya yang duduk di sofa ruang tamu.


"Dion mau kemana?..." Mama bertanya.

__ADS_1


"Dion pamit mau keluar sebentar Ma...." Dion berbalik dan mencium punggung tangan dan telapak tangan Mamanya.


"Iya hati-hati." Mama menepuk punggung Dion, dia sedikit cemas melihat ekspresi wajah kecewa Dion yang tak secerah tadi.


"Iya Ma?..."


***


Dion melajukan motornya dengan kecepatan penuh menuju rumah Iqbal. Setelah sampai di depan gerbang rumah Iqbal, Dion pergi ke security yang berjaga.


"Assalamualaikum..."


"Wa alaikumsalam.... Cari siapa ya dek?..."


"Nadinenya ada pak?..."


"Oh, Nadine tidak ada. Sudah sejak pagi dia pergi ke kampung halamannya."


"Oh, begitu ya pak. Terimakasih."


"Oh, iya sama-sama."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya..." Dion melangkah gontai menuju motornya. Dion duduk sejenak di atas motor kemudian turun dan kembali ke security.


"Pak, maaf... Kalau boleh tahu, di mana ya alamat rumah Nadine di kampung?..."


"Buat apa dik?..."


"Saya mau nyusul ke sana." Security itu menatap teman yang berada di sampingnya meminta pendapat.


"Kenapa nggak minta orangnya langsung dek?..."


"Teleponnya nggak bisa di hubungi pak?..."


"Mungkin pesawat lagi lepas landas makanya Hpnya nggak aktif."


"Iya pak.... Apa boleh saya minta alamatnya di kampung Bangil?..." Dion masih meminta dengan sopan.


Security itu menatap teman yang berada di sampingnya meminta pendapat.


"Udah kasih aja, nggak apa-apa. Pemuda ini sering nganter Nadine pulang ke sini kok." Security memberikan secarik kertas yang berisi alamat lengkap rumah Nadine pada Dion.


***


Author...

__ADS_1


Maaf ya author rada plin plan soal judul dan gambar sampul. Soalnya dari awal emang nggak sreeekk....


__ADS_2