
"Apa kamu mau menikah denganku?..." Zain kembali bertanya serius ketika Nadine hanya tertegun menatap matanya.
"Nggak mau." Jawab Nadine ketus dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa nggak mau!!!... Aku kaya, tampan, dan sukses. Apa kamu tidak bisa melihat kharisma ku?..." Ujar Zain penuh percaya diri, mengingat begitu banyak perempuan yang berusaha mendekati dan merayunya tapi tidak pernah ia hiraukan. Tapi rasa percaya diri Zain membuat Nadine sangat ilfil.
"Amit-amit jabang bayi, narsis banget sih. Oga ya aku nikah sama orang arrogant kayak kamu..." Nadine menunduk, mengusap perutnya sambil menggerutu pelan namun masih bisa di dengar oleh Zain. Pun terkejut dan malu bercampur marah.
"Sialan....Dia menolak ku mentah-mentah. Awas saja kau ya, Aku pastikan kau yang akan mengejar cintaku...." Zain menggerutu dalam hati. Hal ini semakin membuatnya penasaran dan bertekad untuk memiliki Nadine.
"Pletak.... Aawww.... Sakit kak..." Pekik Nadine saat Zain menyentil dahinya, Nadine terus menggosok dahinya yang merah.
"Jangan GR... Siapa juga yang mau menikah denganmu. Pendek, jelek, dekil." Zain berkilah untuk menutupi rasa malunya. Seumur hidup dia tidak pernah melamar gadis, sekalinya melamar malah di tolak. Kenapa rasanya begitu sakit dan malu?... Apakah setiap laki-laki akan sesakit ini jika lamarannya di tolak.
"Terus ngapain tadi ngajak aku nikah?..." Nadine bertanya nyolot, dengan wajah bersungut-sungut, tidak terima dengan hinaan Zain.
"Ck ck ck , kamu GR sekali, Aku cuma ngetes aja..." Jawab Zain santai dengan gelengan kepala, tangannya bersedekap di dada. Kini dia sudah melepaskan Nadine dari kungkungannya. Zain tidak ingin kehilangan harga dirinya atas penolakan Nadine.
"Ngetes?... Maksudnya?..." Nadine bertanya penuh keheranan.
"Aku tahu beberapa hari ini kamu menghindariku.... Jadi aku pikir kamu menyukaiku."
"Iiiiiihhhhh GR banget sih." Nadine mencibir.
"Kalau begitu, berhenti menghindariku. Buktikan kalau kamu tidak tertarik padaku. Tunggu aku di mobilku, kita berangkat bersama seperti biasa." Nadine menatap Zain sinis dan berlenggang pergi.
Zain merogoh HP di saku celananya kemudian menghubungi seseorang untuk mencari tahu keberadaan keluarga Nadine.
"Jika sudah mendapatkan informasinya, manjakan keluarganya dan buat orang tuanya terlilit hutang dengan bunga yang besar. Dan cari tahu di mana Nadine beberapa hari ini, kenapa selalu pulang malam?..." Zain memerintah seseorang yang berada di seberang telepon.
Zain membukakan pintu mobil untuk Iqbal kemudian masuk ke mobil. Dia tersenyum senang dalam hati ketika melihat Nadine sudah duduk di bangku penumpang sedang memainkan Hpnya.
"Cantik cantik bego'...." Gumam Zain dalam hati saat melihat Nadine dari kaca depan mobil. Zain tertangkap basah oleh Nadine yang juga melihat kaca depan mobil. Kedua mata mereka saling bertemu. Terlihat jelas saat ini bibir Nadine sedang komat Kamit menatap sinis ke arah Zain. Zain tersenyum dan mulai menyalakan mobilnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mobil melaju, kini mobil sudah sampai di depan kampus Nadine.
"Terimakasih." Ucap Nadine dan segera turun. Zain meremas kemudi mobilnya hingga buku buku jarinya memutih ketika melihat Dion yang sudah menunggu Nadine di gerbang tersenyum ke arah Nadine. Mereka berdua pun berjalan beriringan.
Dion menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang, dia tersenyum ke arah Zain dan mengacungkan jempolnya ke atas lalu menukik ke bawah. Dion mengerlingkan matanya kemudian melambaikan tangan dan berlari mengejar kepergian Nadine.
Dion mentoel bahu kanan Nadine, saat Nadine menoleh ke kanan, Dion malah berdiri di samping kiri Nadine.
Setelah menemukan si pelaku, Nadine menepuk lengan Dion dan keduanya tertawa. Kedekatan keduanya membuat hati Zain terbakar api cemburu.
"Kau menyukai gadis itu?..." Iqbal yang sedari tadi memperhatikan Ekspresi wajah Zain akhirnya bertanya.
"Cemburu itu sakit ya Zain?... Hahahaha..." Iqbal menertawakan Zain, karena setelah sekian lama akhirnya hati asisten pribadinya bisa tergerak juga. Zain hanya menatap Iqbal dengan wajah datarnya dan mulai menyalakan mobilnya.
"Kau sudah gila ya Zain, Putriku masih bayi." Iqbal marah sebab Zain yang emosi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Maaf Tuan." Kemudian Zain memperlambat laju mobilnya.
***
"Kau bisa bekerja tidak Zain?..." Iqbal emosi, untuk pertama kalinya Zain melakukan kesalahan selama bekerja dengan Iqbal.
"Pekerjaanmu hari ini tidak ada yang benar. Ini salah, ini salah, ini juga salah." Iqbal melemparkan berkas-berkas di hadapan Zain.
"Maaf Tuan, saya akan memperbaikinya." Zain hanya bisa meminta maaf dengan wajah datarnya.
"Oh, itu harus. Kau itu kalau punya masalah pribadi jangan di bawa-bawa ke pekerjaan. Pergi sana, perbaiki semuanya." ucap Iqbal penuh emosi.
"Baik Tuan." Zain memunguti berkas-berkas yang berhamburan karena di lempar oleh Iqbal, setelah semua terkumpul dia bergegas pergi.
***
Zain membanting berkas yang ada di tangan dengan kasar ke atas meja kerjanya. Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
__ADS_1
"Sialan, aku tidak bisa konsentrasi.... Pikiranku kacau....Sejak tadi aku hanya memikirkan gadis itu." Zain mengeluh, dia masih sakit hati atas penolakan Nadine. Dia sadar, dia yang bodoh. Sudah tahu Nadine marah tapi malah melamarnya.
Terlebih ketika melihat kedekatannya bersama Dion, semakin menyayat hatinya, luka hati yang masih basah malah di taburi bon cabe.
"Kenapa hatiku sakit sekali...." Zain memegangi dadanya. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa hancurnya hati Zain jika Nadine menjadi milik orang lain. Membayangkan setiap hari Nadine dan Dion bertemu seakrab itu membuat hatinya nyilu tak karuan, pikirannya mengkhayal kemana mana.
***
Setelah mendapatkan informasi jika Nadine bekerja di sebuah cafe Asmara, di jam pulang kantor Zain segera mengantarkan Iqbal pulang ke rumahnya dan ia pun berganti pakaian.
Dia pergi ke cafe Asmara dengan memakai jaket Jumper berwarna putih, celana jins standar berwarna biru muda dan topi berwarna putih yang menutupi kepala dan wajahnya. Sengaja berpenampilan seperti itu sebagai penyamaran.
Dia duduk di pojok, bersembunyi di balik pilar, memperhatikan Nadine yang berjalan ke sana kemari melayani pengunjung yang datang.
Nadine menghampiri Zain, otomatis Zain menunduk agar Nadine tak mengenalinya.
"Mas mau pesan apa?..." Nadine yang sudah berdiri di hadapan Zain, menjulurkan daftar menu makanan pada Zain.
Zain membolak-balikkan daftar menu makanan dengan kepala menunduk dan menunjukkan menu makanan tanpa suara.
"Yang Ini mas?..." Nadine bertanya, Zain hanya mengangguk.
"Minumnya mas?..."Nadine kembali bertanya. Zain kembali menunjuk tanpa suara, dengan kepala masih menunduk.
"Kasian, pasti bisu ...." Nadine bergumam dalam hati, matanya terus memperhatikan jemari Zain yang panjang dan lentik seperti tangan perempuan. "Jemari tangan yang indah."
"Ada lagi mas yang mau di pesan?..." Nadine bertanya sopan. Zain hanya menggeleng. Nadine memperhatikan penampilan Zain dan gayanya yang terlihat aneh menurut Nadine.
Dia juga mengendus aroma yang menguar dari tubuh Zain.
Nadine mulai beranjak."Kayak bau parfumnya kak Zain." Gumam Nadine pelan tapi masih bisa di dengar oleh Zain. Seulas senyum terbit dari bibir Zain.
***
__ADS_1
Kalau mau double up jangan lupa like, favorit and Vote. Setuju....Kalau banyak yang vote n favorit kak author kan jadi semangat ngehalunya.