Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BUKA HATIMU


__ADS_3

Zain melihat kontak motor Dion yang bergelantungan di kantong tas di sisi kanan Zain. Zain tersenyum ketika melihat kontak tersebut memiliki alarm.


"Cuiiiiiiiiittttttt, cuiiiiiiiiittttttt..." Zain melihat ke arah suara alarm motor milik Dion yang berbunyi, rupanya letakkan tak terlalu jauh, Dion memarkir motornya di sebuah parkiran bangunan tua.


"Ngapain lo pegang-pegang." Dion mendelik ke arah Zain. Namun si Zain hanya mengendikkan bahunya kemudian pergi.


Zain memasuki tempat parkir, kemudian berjongkok untuk mengempeskan ban motor milik Dion. Zain menepuk-nepuk tangannya yang kotor kemudian pergi.


Beberapa saat kemudian Nadine menunggu Dion di luar parkiran motor.


"Loh kak, motornya kenapa di dorong?..." Nadine bertanya ketika melihat Dion mendorong motornya.


"Bannya kempes."


"Kok bisa sih?..." Ujar Nadine, Dion hanya mengendikkan bahunya.


"Kamu naik ojek online aja ya, biar aku yang bayar ongkosnya."


"Nggak, aku pulang sama kakak aja. Aku temenin cari tambal ban ya."


"Jangan, aku nggak rela kamu ikutan susah."


Ucap Dion.


"Tapi kak ...."


"Nggak usah tapi-tapian." Ujar Dion.


"Nadine pulang denganku ya..." Ucap Zain tiba-tiba. Mendadak wajah Nadine berubah cemberut.


"Si manusia aneh muncul lagi. Pasti elo kan yang ngempesin ban motor gue." Dion menerka Zain dengan memberikan tatapan tajam.


"Menuduh tanpa bukti itu jatuhnya fitnah." Zain berkilah.


"Ok, kita buktikan lewat CCTV."


"Siapa takut." Zain menantang.


"Udah Iiiiiihhhhh, kalian tuh kenapa tiap ketemu selalu ribut melulu?... Apa sih yang kalian ributkan." Nadine menutup telinga karena kesal.


"Kamu." Jawab Dion dan Zain bersamaan.


"Tumben kompak..."


"Ayo Nad, ku antar..." Zain bertutur dengan lembut.


"Nggak mau." Tolak Nadine.


"Tuh dengar, Nadine nggak mau pulang bareng elo." Dion meledek Zain."Woy, Alex...." Dion melambaikan tangannya ke atas ketika melihat Alex mengendarai motornya di jalan yang searah dengan Dion.


"Kenapa Bro?..." Alex bertanya setelah berhenti tepat di depan Dion.


"Ban motor gue kempes. Tolong antar Nadine ke kampus."


"Ok... Siap... Ayo cantik, naik...."

__ADS_1


"Plaaaakkk..." Dion menepuk pundak Alex."Jangan di godain, cewek gue tuh..." Lanjut Dion.


"Tenang Bro... Cewek elo aman di tangan gue." Ujar Alex sembari mengepalkan tangan.


"Thanks ya...." Ucap Dion meninju kepalan tangan Alex, salam masa kini.


"Nadine..."Ucap Zain lirih, Zain menatap Nadine yang sedang cemberut dengan tatapan mata penuh kekecewaan. Nadine sama sekali tidak memperdulikan Zain, ia langsung naik motor berboncengan dengan Alex.


"Kak Dion, maaf ya aku duluan." Ucap Nadine tanpa mau melihat ke arah Zain.


"Iya sayang, tidak apa-apa." Dion melambaikan tangan tak lupa kiss by pada Nadine. Zain yang melihat semua itu benar-benar muak. Sekuat tenaga dia berusaha menahan amarah yang menggelagar di hatinya. Sebab dia tidak ingin Nadine semakin membencinya.


"Satu bulan yang lalu gue lihat Nadine nangis dan semenjak itu dia nggak pernah ke kampus bareng elo. Jadi itu artinya, elo yang udah bikin Nadine sakit hati. Gue nggak rela kalau Nadine jatuh ke tangan elo. Permisi." Tutur Dion panjang lebar.


Zain tak bergeming, diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Dion dengan baik. Sebegitu terlukanya kah hati Nadine karena Zain telah memperlakukan orang tuanya dengan tidak baik.


"Drrrttttt,,,, drrrttttt.... drrrttttt..." Hp dalam saku celana Zain bergetar. Zain segera menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo, Tuan...."


"Ada apa?..."


"Kami sudah menemukan penculik adik anda."


"Apa???... Kalian sudah menemukan penculik Miranda.!!!..." Zain terkejut, rasa bahagia menyeruak di dalam hati.


"Iya Tuan."


Tubuhnya Zain terasa lemas, lega. Air mata Zain hampir terjatuh, senyum bahagia mengembang dengan lebar di bibirnya ketika mendengar secuil harapan dari seberang setelah bertahun-tahun ia mencari keberadaan adiknya.


Tapi senyum di wajah Zain mendadak sirna ketika anak buahnya menyampaikan kabar buruk padanya.


***


"Nadine..." Sepanjang perjalanan Alex yang sedari tadi bungkam tiba-tiba bersuara.


"Iya kak?..."


"Seperti apa perasaan elo sama sahabat gue?..." Nadine sedikit mencondongkan kepalanya ke depan demi untuk bisa mendengar suara Alex.


"Maksud kakak, kak Dion?..."


"Iya." Jawab Alex.


"Aku suka sama kak Dion, dia baik."


"Apa elo enggak cinta sama Dion?..."


"Enggak kak." Jawab Nadine sembari menggeleng. Alex pun bisa melihat itu lewat kaca spion.


"Apa sedikit pun elo nggak punya perasaan istimewa gitu buat Dion?..."


"Nggak, emang kenapa kak?..." Lagi-lagi Nadine menggeleng.


"Dion itu ganteng, banyak cewek yang ngejar-ngejar dia. Tapi dia cuma tertarik sama elo, kasian kan Dion. Sekalinya jatuh cinta, tapi cewek yang di cintainya malah jatuh cinta sama cowok berwajah dingin."

__ADS_1


"Siapa maksud kakak?..."


"Tuh, cowok yang anter elo tiap ke kampus."


"Aku tuh nggak cinta sama Dia."


"Nggak usah ngeles.... Gue bisa bedain cewek jatuh cinta atau nggak. Itu bakat alami gue sebagai seorang playboy..."


Nadine diam, mati kutu. Sebab yang di ucapkan Alex benar adanya.


"Nadine..."


"Apa?..."


"Apa elo bisa buka hati elo buat Dion. Belajar mencintai dan menerima cinta Dion. Dion itu cowok yang baik, gue yakin dia bisa bahagiain elo. Dion itu tulus cinta sama elo, sulit loh dapat cowok sebaik Dion. Saking seriusnya Dion ke elo, dia siap nikahin elo kapan pun elo siap..."


Nadine merenungkan setiap ucapan Alex. Dion memang pemuda yang baik. Zaman sekarang jarang ada pemuda yang adab dan ilmunya baik seperti Dion. Dion berbeda dari ciri anak muda bebas pada umumnya. Nadine mengingat Kalimat yang sering di ucapkan oleh ibunya.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah: 216).


"Sebenarnya sih aku kasian sama kak Dion, dia baik banget sama aku. Aku takut ngecewain dia."


"Kalau begitu buka hatimu untuk Dion, belajar lah mencintai Dion."


"Insyaallah...."


***


Dengan langkah tergopoh-gopoh Zain memasuki rumah sakit. Di koridor Zain dapat melihat bayangan Riska yang menatapnya tapi ia tidak peduli.


"Braaaaakkkk...." Dokter yang menjaga pasien terkejut ketika melihat kedatangan Zain yang mendorong pintu dengan kasar.


"Bagaimana keadaannya?..." Zain bertanya to the point.


"Dia mengalami stroke total Tuan." Ucap seorang dokter pria yang menangani kasus si penculik.


"Bisa jelaskan dengan rinci?..." Zain bertanya dengan tatapan yang tajam yang terus mengarah pada penculik adiknya. Rahangnya sudah mengeras, tangannya pun mengepal menahan amarah yang bergolak di hatinya. Ingin sekali dia membunuhnya saat ini juga jika tidak mengingat Miranda belum di temukan.


"Tubuhnya tidak dapat bergerak total. Tidak bisa berbicara. Hanya bisa membuka dan menutup mata."


"Hanya itu???...." Zain bertanya dengan penuh kekecewaan.


"Matanya bisa melirik."


"Apa dia bisa sembuh."


"Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil."


"Berikan perawatan terbaik untuknya. Aku ingin melihatnya sembuh."


"Tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawat pasien. Untuk hasilnya kita pasrahkan pada yang maha kuasa."


***


Author kan

__ADS_1


Jempol jangan lupa jempolnya.... like like like


Kalau nggak mau siap-siap tissue....


__ADS_2