
"Assalamu'alaikum...." Nadine, Zain dan Bi Ijah serempak mengucapkan salam.
"Wa alaikumsalam...." Nadine berhambur memeluk Azizah, ibu yang sangat di rindukannya. Tanpa terasa air mata kerinduan menetes.
Zain menghampiri calon mertua laki-lakinya kemudian mencium punggung tangannya. Pak Taufik ayahanda dari Nadine menepuk pundak Zain dengan lembut.
"Loh kok nangis..." Ibu Azizah bertanya.
"Nadine kangen Bu." Jawab Nadine.
"Ambe' bapak ora kangen???...(Dengan bapak tidak kangen????...)." Pak Taufik bertanya.
"Nadine yo kangen bapak." Setelah melepaskan pelukan ibunya, Nadine berhambur ke pelukan bapaknya.
"Salam batin, Bu..." Zain mengatupkan kedua tangannya di depan dada ketika berhadapan dengan ibu Azizah.
"Ya sudah ayo masuk dulu, nggak enak sama tamunya." Bu Azizah menggunakan bahasa Indonesia sebab tahu bahwa Zain tak bisa berbahasa Jawa, Bi Ijah sudah menceritakan seperti apa Zain pada kakak iparnya yaitu Azizah.
"Tidak apa-apa Bu, Nadine pasti sangat merindukan Bapak dan ibu. Ini ada sedikit oleh-oleh untuk bapak dan ibu." Ucap Zain sopan, sembari tersenyum hangat.
"Sok akrab banget sih, pakai manggil bapak ibu." Nadine meliriknya Zain, memberikan tatapan tak suka padanya.
"Awas saja kalau sudah jadi istriku, tunggu pembalasanku di atas ranjang." Zain membalas tatapan sinis Nadine dengan senyuman hangat.
Kemudian pak Taufik menggiring Nadine dan Zain ke dalam rumahnya. Sementara Bi Ijah masih saling peluk dengan Bu Azizah."Kangen mbak yuuuu.... suwe (lama) nggak ketemu."
"Iyo, podo...Ayo masok...Aku masak akeh dino iki.(Iya, sama....Ayo masuk.... Aku masak besar hari ini)." Ucap Ibu Azizah sembari berbincang-bincang.
"Hehehe onok(ada) calon mantu."
"Calon mantuku ganteng ya dik, mugo-mugo akhlak'ke Yo apik. (Semoga akhlaknya juga baik)."
"Aamiin.... Insyaallah."
Bi Ijah dan Ibu Azizah berjalan sembari berbincang-bincang. Sementara Zain sudah duduk di atas sofa berhadapan dengan pak Taufik, sedangkan Nadine sudah lebih dulu memasuki kamar.
"Sopo jenengmu Le???...(Siapa namamu Nak)."
__ADS_1
"Hah..." Zain melongo.
"Jenengmu sopo?..."
"Nggak ngerti boso jowo kui pak, iso'e bahasa Indonesia. (Tidak bisa bahasa Jawa itu pak, bisanya bahasa Indonesia.)" Tiba-tiba Ibu Azizah nimbrung ikut bicara sembari meletakkan teh di hadapan Zain sementara kopi di hadapan suaminya.
"Oh, pantes!!!... Nama kamu siapa?..." Pak Taufik kembali bertanya.
"Zain Alfaro. Biasa di panggil Zain."
"Asal mana?..."
"Jakarta."
"Bekerja di mana???..."
"Perusahaan Nano Tecno."
"Di bagian apa?..."
"Assisten pribadi pemilik perusahaan...."
(Selebihnya bahasa Jawa di ganti bahasa Indonesia semua....)😂😂😂🙏🙏🙏
Bi Ijah di bantu ibu Azizah dan Nadine mengeluarkan makanan dan cemilan untuk di hidangkan di hadapan Zain dan pak Taufik. Zain tak bosan-bosan curi pandang pada Nadine. Sedangkan bibir Nadine komat-kamit mengutuk Zain, tatapannya sinis seperti ingin menguliti Zain hidup-hidup. Zain yang melihat tatapan Nadine malah tersenyum geli.
"Nadine kamu istirahat aja nggak perlu bantu-bantu, kamu pasti capek setelah perjalanan jauh." Ucap Ibu Azizah.
"Nadine nggak bisa lihat ibu kerja sendirian." Oh, kalimat Nadine membuat Zain semakin jatuh cinta.
Setelah semua makanan terhidang, mereka semua makan bersama kecuali Nadine. Dia memilih untuk menyendiri di kamar Setelah menyiapkan kamar untuk Zain tidur nanti. Nadine masih memikirkan Dion. Bagaimana keadaan pemuda malang itu???.... Seandainya saja Zain tidak menyita Hpnya???.... Meminjam Hp padanya itu hal yang tidak mungkin.
***
Suasana kekeluargaan begitu kental, keluarga Nadine menyambut keberadaannya dengan hangat, membuat Zain merasa memiliki keluarga utuh. Seperti keluarganya dahulu, Papa, Mama, Nenek dan Miranda keluarga bahagia yang kini sudah tak ada lagi. Zain yang serakah, haus akan kasih sayang keluarga, ingin menguasai hati mereka semua. Ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Ada rasa penyesalan yang mendalam di hati Zain, karena telah mengelabui orang sebaik pak Taufik. Tapi Zain harus tega untuk mendapatkan Nadine.
Setelah selesai makan bersama, Nadine keluar dari kamar dan membantu membereskan piring dan makanan yang ada di atas meja. Setelah meja bersih, pak Taufik memanggil Nadine, Bi Ijah dan Ibu Azizah untuk berkumpul di ruang tamu.
__ADS_1
Mimik wajah pak Taufik berubah serius, menatap manik mata Zain dengan intens. Membuat Zain menundukkan pandangan.
"Bapak sudah mendengar niatan kamu datang kemari dari Bi Ijah. Tapi Bapak ingin mendengarnya secara langsung dari kamu."
Zain melirik Nadine sekilas, gadis yang ia cintai menunduk memainkan jarinya di atas pangkuan. Kemudian Zain menatap pak Taufik.
"Sebelumnya saya minta maaf karena saya datang kemari sendiri, karena saya sudah tidak memiliki keluarga. Saya hanya memiliki bos yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Tapi beliau sedang sibuk jadi tidak bisa menemani saya kemari."
"Tidak apa-apa. Bapak mengerti."
"Saya datang kemari karena saya memiliki niat baik untuk menikahi putri bapak..... Saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan dan kasih sayang untuk Nadine seperti kebahagiaan dan kasih sayang yang bapak dan ibu berikan untuk Nadine.... Saya juga tidak bisa menjanjikan perlindungan untuk Nadine, seperti bapak dan ibu yang selama ini melindungi Nadine.... Tapi saya akan berusaha menjadi imam yang baik untuk Nadine dan anak-anak kami nanti.... Saya akan berusaha memenuhi tanggung jawab saya terhadap Nadine dan anak-anak kami kelak.... Saya akan berusaha memenuhi hak dan kewajiban kami, saya akan berusaha menjadi suami terbaik untuk Nadine. Saya sangat berharap bapak dan ibu berkenan untuk menerima lamaran saya."
"Tes..." Satu tetes air mata meluncur dari mata indah Nadine. Entah lah, Nadine sendiri tidak mengerti, jenis air mata apa ini!!!... Air mata sedih atau bahagia???... Nadine juga tidak mengerti.
"Keputusan pertama, itu ada di tangan Nadine!!!...." Jawab pak Taufik. Pak Taufik melihat ke arah Nadine yang menunduk. "Gimana Nduk, di terima nggak nih lamarannya." Nadine mengangguk pelan.
"Huuuuufffhhh...." Zain bernafas lega. "Jadi apakah lamaran saya di terima."
"Belum...." Jawab pak Taufik. Zain kembali menunduk, menunggu kalimat selanjutnya dari pak Taufik.
"Setelah kamu menikah dengan Nadine, kamu boleh membawanya kemana saja. Ke gurun, ke hutan, ke gunung, silahkan. Kamu beri makan Nadine sehari 1 kali, tidak di beri makan sekalipun tidak apa-apa. Kamu marahi dia, kamu didik dia, tidak apa-apa....Tapi ingat, Azizah mengandungnya selama 9 bulan dan melahirkan Nadine dari usia 1 detik hingga usia 19 tahun. Saya dan Azizah mendidiknya, memberikan makanan yang halal untuknya, menjaga perilakunya dan menjaga sholatnya...."
"Hari ini bapak serahkan tanggung jawab bapak padamu, nak Zain. Bawa Anakku sampai kepada Allah. Jika kamu tidak membawanya selamat di hadapan Allah. Maka bapak akan menuntut kamu di Yaumil qiyamah nanti. Bagaimana, sanggup???..."
"Gleg...." Zain menelan salivanya, tidak menyangka bahwa akan sedalam dan sejauh ini lamarannya.
"Insyaallah pak. Saya sanggup."
"Bismillahirrahmanirrahim.... Saya terima lamaran kamu. Semoga di limpahi barokah fid dunya wal akhiroh pernikahan kalian nanti."
"Untuk kamu Nadine, masih ingat kan sama janji-janji mu. Bakal jadi muslim yang taat setelah menikah..."
"Iya pak."
"Harus di lakoni..."
"Iya pak..."
__ADS_1
***
Slow.... Jangan bosan ya bacanya... Bentar lagi ada kejutan....