Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
JADI IMAMMU


__ADS_3

Setelah melewati proses belajar mengajar, menyimak dan mencatat setiap penjelasan dari dosen dan mengerjakan soal materi yang di berikan oleh ibu dosen, Nadine beserta para mahasiswa dan mahasiswi yang lain mengemasi dan memasukkan barang barang yang ada di atas meja ke dalam tas masing-masing, mereka keluar dari kelas menuju tujuan masing-masing.


"Aku ke musholla aja dulu Nad, mau sholat." Ujar Zahra.


"Bareng aja sekalian." Jawab Nadine.


"Aku ikut juga deh..." Sahut Ganis.


Mereka terus melangkah menuju mushola, berbincang-bincang ringan dan bercanda sepanjang melewati koridor kampus.


"Enaknya gini nih kalau berteman sama anak baik dan alim, kelakuan jadi tambah Alim." Ujar Ganis.


"Siapa nih yang di maksud alim?..." Zahra bertanya.


"Ya, kamu lah, siapa lagi." Ujar Nadine.


"Aku tidak sebaik yang kalian pikirkan. Bisa jadi kalian berdua masih lebih baik dari ku."


"Tapi bener kok, semenjak kumpul sama kamu, aku makin rajin sholat." Ujar Ganis.


"Alhamdulillah, kalau ada kebaikan yang kalian ambil dari nasehat atau pun perbuatanku." Jawab Zahra merasa bahagia.


"Teman itu mempengaruhi banget ya. Sekarang aku sudah nggak pernah main ke Club malam, malas juga Gonta ganti pasangan, nggak guna."


"Kematian itu sangat dekat, menjemput bukan karena usia tua atau muda, balita atau remaja. Dia bisa datang kapan saja. Semua yang bernyawa akan mengalami mati. Sesungguhnya meninggalkan kerusakan itu lebih utama dari pada mencari kenikmatan."


"Jadi ngeri ah, kalau ngomongin kematian." Ujar Ganis.


"Oya, Nad. Lowongan kerja di tempat ku masih ada. Kalau mau nanti sore ikut aku ke Cafe untuk interview." Ujar Zahra pada Nadine, mengalihkan perhatian.


"Ok, siap. Makasih ya..." Jawab Nadine penuh semangat. Dia ingin segera bekerja agar beban yang mengganjal di hati bisa segera sirna, dia ingin segera melunasi semua hutangnya pada Zain.


"Sama sama." Jawab Zahra dengan senyuman tulus.


"Aku ikut." Ujar Ganis dengan ekspresi yang di buat memelas.


***


Dion dan 4 anggota gang nya berkumpul di anak tangga paling bawah di persimpangan koridor. Sedari tadi Dion memperhatikan salah satu sahabatnya yang terlihat muram.


"Lik, elo ada masalah?..." Dion bertanya pada Malik sahabatnya.


"Maksud Lo?..." Malik menoleh ke sebelah kanan.


"Ya, gue cuma nebak aja. Muka Lo tuh murung dari tadi, Lo bilang semalam mau ngelamar cewek Lo!!!..." Dion kembali bertanya dengan penuh kehati-hatian, takut menyinggung perasaan.


"Iya, galau nih gue." Malik mendengus kesal.


"Kenapa?..." Tanya salah seorang di antara mereka, dia bermata sipit namanya Agung.


"Lamaran gue di tolak."


"Kenapa?..."


"Nggak tau, mungkin karena gue orang nggak punya." Jawab Malik.


"Bapaknya nggak setuju?..." Habibi menimpali Ucapan Malik.


"Bapaknya welcome Bro..." Jawab Malik dengan kepala bergeleng.


"Pasti Ibunya yang nggak setuju!!..." Alex yang sejak tadi diam kini urun bicara. Alex berwajah tampan, tubuh tinggi tapi kurus, beragama Nasrani.


"Ibunya juga welcome." Jawab Malik lagi.


"Bapaknya setuju, Ibunya setuju. Lah terus siapa yang nggak setuju?... Apa Sandra, cewek Lo yang nggak mau?..." Dion kembali bertanya dengan tatapan serius.


"Pas gue datang ke rumah cewek gue, semua sih oke oke aja, Bapak dan ibunya Sandra ramah banget ke gue cuma 1 orang yang tatapannya tajam kayak mau makan gue hidup hidup."


"Siapa?..." Serempak semua teman Malik bertanya karena penasaran.


"Suaminya Sandra coy yang nggak setuju." Jawab Malik lesu. Satu bungkus kacang yang sudah di buka bungkusnya terlempar oleh Dion mendarat di dada Malik hingga berserakan di lantai.


"Jangkrik."


"Kampret lo."


"Anjay lo.


"Gila Lo." Semua serempak mencerca Malik.

__ADS_1


"Bini orang mau Lo embat juga. Elo emang nggak punya. Nggak punya otak." Seloroh Dion.


"Cinta tak bisa memilih coy, cinta datang dan tumbuh sendiri di sini." Malik menepuk nepuk dadanya sendiri yang terasa sakit seperti di cukiti.


"Tapi Lo punya iman kan!... Iman itu kedudukannya lebih tinggi dari hati. Iman Lo tuh di pake biar bisa mengontrol hati Lo. Jangan sampai demi kenyamanan hati dan ego, Lo berpaling dari kebenaran.... Sebejat bejatnya gue, kalau cinta sudah di pinang orang. Gue angkat tangan, mengibarkan bendera putih tanda gue nyerah."


"Gue sumpahin Elo jatuh cinta sejatuh jatuhnya sama bini orang. Biar tahu apa yang gue rasain." Malik yang emosi mengutuk Dion.


"Huu anjir, kutukan lo nggak akan terkabul. Sumpah Lo jahat banget." Dion tak terima.


"Jahat mana Lo sama gue. Gue lagi patah hati malah Lo sudutin."


"Sorry bro, sorry... Sebagai sahabat gue cuma mau ngingetin Lo, kalo apa yang Lo lakukan itu salah." Dion merangkul bahu Malik yang sedang berduka karena patah hati.


"Sebaik-baiknya teman, dialah yang menunjukkan jalan kebaikan dan kebenaran." Lanjut Dion.


"Yang sabar Lik, yang di katakan Dion itu benar. Jangan mau hancur hanya karena perempuan. Di sini Kamu sedang patah hati dan terluka. Disana Dia sedang bersenang-senang dengan suaminya. Di mana harga dirimu sebagai seorang lelaki. Jika kamu mau melihat lebih jauh lagi, masih banyak kebahagiaan lain yang bisa kamu temukan. Jangan hanya berdiri pada titik ini. Rugi tahu nggak lu." Darma yang sejak tadi diam saja kini ikut menimpali.


"Udah udah nggak usah ribut. Noh Yon bidadari Lo mau lewat." Seloroh Alex menunjuk Nadine yang berjalan disisi kanan Zahra sedangkan Ganis berjalan di sisi kiri Zahra.


"Nadine Emang cantik." Dion menatap Nadine tanpa berkedip dengan tatapan kosong.


"Kalau gue lebih penasaran Ama yang tengah, di balik bajunya yang tertutup dan gelombor pasti tersimpan body yang aduhai." Ujar Alex tanpa berkedip memandang Zahra, dari ujung atas hingga bawah, mencoba menerawang isi di dalamnya.


"Heh, pikiran Lo ngeres." Ujar Habibi seraya meraup wajah Alex.


"Kampret lo." Ujar Alex kesal.


"Kalian beda agama, Zahra nggak bakal mau." Ujar Habibi.


"Emang kenapa kalau beda agama, yang gue tau Islam itu menghormati toleransi agama."


Ujar Alex.


"Agama Islam melarang laki laki dan perempuan yang bukan mahram berdekatan walaupun seagama, apa lagi yang beda agama. Bagi agama Islam, Haram hukumnya pernikahan beda agama, apapun alasannya... Kalau dari cerita Nadine sih, Zahra itu cewek alim, dia ustadzah sesekali mengajar di pesantren.... Menurut penerawangan gue sebagai makhluk yang pengetahuannya terbatas, kita sama Zahra itu beda level. Ibarat kata dia itu madu, nah kita itu lebahnya." Dion menjelaskan lebih rinci pada Alex. Penjelasan Dion semakin membuat Alex penasaran.


"Hohohoho, pak ustadz ceramah." Seloroh Darma.


"Eh kampret, gini gini gue pernah jadi santri." Ujar Dion.


"Udah nggak usah ribut. Dik Zahra cocoknya ama gue, Ion suruh si Nadine buat nyomblangin gue Ama Dik Zahra." Ujar Habibi.


"Plis Ion, kali ini aja bantu gue. Gue pengen cari ibu yang baik untuk anak anak gue."


"Tes dulu. Apa rukun Islam yang ke dua?..." Dion bertanya.


"Sholat, eh Zakat. Sholat apa zakat ya???..." Jawab Habibi kebingungan.


"Tes gagal." Sahut Dion.


"Huh asem." Habibi menepuk pundak Dion, yang di sambut gelak tawa oleh semua temannya.


"Nah elo, nama aja Habibi tapi otak ba bi bo."


"Assalamualaikum Nadine..." Dion mengucapkan salam saat Nadine melewatinya.


"Wa alaikumsalam."


"Mau sholat?..."


"Iya kak."


"Sholat bareng yuk. Biarkan aku jadi imammu."


Ucap Dion yang di sambut dorongan di punggungnya oleh semua anggota gangnya.


"Iiiidiiiiihhhh geli gue...."


Dion pun mengikuti Nadine dan teman temannya.


"Nadine, malam Minggu jalan yuk." Ujar Dion dengan kaki yang terus melangkah di sisi Nadine, menuju mushola.


"Maaf kak nggak bisa."


"Kenapa?..."


"Insyaallah aku akan bekerja, kalau nanti interview ku di terima."


"Kerja di mana?..."

__ADS_1


"Cafe Asmara."


"Cafe Asmara, di jalan xxx?..." Dion bertanya.


"Iya kak, kok tahu."


"Yes, Cafe Asmara, itu Cafe tempat ku biasa nongkrong, kita bakal sering ketemu di sana."


"Udah sampai, kami ambil wudhu dulu kak di sana."


Mereka semua masuk ke dalam toilet dan mengambil wudhu, setelah itu Dion menjadi imam yang memimpin sholat.


***


Setelah seharian menyelesaikan pekerjaan kantor, tubuh Zain terasa letih dan penat dengan perut perih belum terisi. Dia lantas teringat dengan Nadine yang memberinya bekal makanan.


Zain mengambil bekal makanan tersebut dan meletakkannya di atas meja kerja tepat di hadapannya. Mata Zain terbelalak setelah membuka tutup bekalnya. Seutas senyum geli terbit di bibirnya. Nasi dihias menyerupai wajah, mie bentuk menyerupai rambut.


"Gadis ini benar-benar unik, selalu membuat ku tertawa." Zain mengambil Hp yang ada di atas meja tepat di sebelah kanannya, dia mengirimkan pesan wa pada Nadine.


"Din..."


"Apa?..."


"Lagi ngapain?..."


"Lagi makan. Di kantin"


"Kenapa kamu memberikan ku bekal seperti anak TK?...." Zain memotret bekalnya dan mengirim gambarnya pada Nadine.


"Lucu kan...😂😂😂😂😂😂...." Balas Nadine sambil cekikikan.


"Lucu sih, tapi aku tidak tega mau makan...😭😭😭😭..." Zain membalas chat dari Nadine sambil cengar-cengir.


"Ya di tega tegain lah kak, biar nggak lapar."


"Terlalu imut untuk di mutilasi."


"Ya, sudah kasih orang aja..."


"Jangan dong.... Besok besok kalau mau memberikan ku bekal. Yang biasa aja, biar makan nggak pakai mikir."


"Ngarep nih yeeeeee,,, Di buatin lagi."


"Kepedean banget sih kamu."


"Kak, aku kasih tau ya.... Apa apa jangan selalu minta bantuan ku, entar ketergantungan,,,, susah move on loh....wkwkwkwkwk.....😂😂😂😂😂🙏🙏🙏🙏 Maaf bercanda, serius juga nggak apa-apa..."


"Kepedean mu benar benar tingkat dewa, tak perlu di ragukan lagi.🔥🔥🔥🔥..."


"Sudah makan dulu, takut kakak nanti baper."


"Iya."


"Kak Zain???...."


"Apa?..."


"Nggak apa-apa."


"Dasar Albiru."


"Iiiiiihhhhh Kak Zain, tahu dari mana nama belakang ku. Diam diam perhatian nih... Awas jangan GR takut baper..."


"Dih nggak di balas...." Nadine menggerutu, kemudian memasukkan Hp-nya ke dalam saku roknya.


"Kenapa Nad?..."Ganis bertanya.


"Nggak apa-apa. Ayuk makan lagi." Ujar Nadine.


***


Zain memperhatikan bekal makanannya, entah kenapa rasanya sangat sulit untuk merusak tatanan lucu itu.


***


JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR.


Maaf, ganti judul ya kakak

__ADS_1


__ADS_2