Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
SELALU MENGHINDAR.


__ADS_3

"Maaf." Ujar Zain menatap Nadine.


"Minggir." Sahut Nadine ketus dan kembali melangkah, lagi lagi Zain menghalangi.


"Aaaahhh minggir minggir minggir...." Nadine mendorong tubuh Zain dan melangkah pergi, namun Zain malah menarik tangan Nadine dan melihat luka di tangannya.


"Udah berapa kali aku bilang! Nggak usah pegang-pegang..." Nadine berontak menarik-narik tangannya namun tangan Zain makin kuat mencengkramn.


"Sakit???..." Zain bertanya dengan tatapan khawatir yang masih mengarah pada luka di tangan Nadine.


"Ya tambah sakit lah kalau tanganku kalau di peres kayak gini." Ucap Nadine menatap sinis ke arah Zain.


"Maaf." Kemudian Zain melepaskan tangan Nadine yang terluka.


Nadine tidak memperdulikan Zain, dia berlenggang pergi memasuki rumah.


"Tok tok tok..." Beberapa saat kemudian ketika Nadine sedang tiduran di ranjang terdengar suara ketukan pintu.


"Tunggu sebentar..." Setelah pintu terbuka sedikit, Nadine menatap sinis sosok yang sedang berdiri di depan pintu dan segera menutupnya lagi, namun di cegah oleh Zain hingga tangannya terhimpit pintu.


Zain hanya meringis menahan sakit tanpa bersuara. Nadine kembali membuka pintu saat melihat tangan Zain terhimpit.


"Maaf, nggak sengaja." Ujar Nadine masih dengan nada ketus.


"Tidak apa-apa, ini salep. Oleskan pada lukamu." Zain menyodorkan salep pada Nadine.


"Nggak perlu, makasih. Ntar juga sembuh sendiri."


"Jangan menolak, jika tidak ingin aku mengoleskan sendiri ke tangan mu." Ancam Zain. Mau tak mau Nadine menerimanya.


"Terimakasih." Nadine kembali menutup pintu namun di cegah lagi oleh Zain. Nadine kembali menatapnya sinis. "Ada apa lagi, kenapa masih berdiri di situ."


"Kenapa masih marah padaku?... Aku kan sudah minta maaf." Zain bertanya dengan tatapan serius.


"Kakak tuh kemaren udah fitnah aku tau nggak sampe aku di hukum sama bibi." Ujar Nadine dengan bibir mengerucut.


"Kapan aku memfitnah mu!!!!... Yang ku katakan semalam adalah fakta. Kamu di hukum bibimu karena kamu memang salah, keluyuran sampe tengah malam dengan laki-laki." Ujar Zain bersilat lidah dengan tatapan sok polos.


"Kenapa semalam kakak bilang kalau aku berduaan di mobil dengan laki-laki?....Itu kan fitnah."


"Kemarin kita memang berduaan kan di mobil pas berangkat kuliah." Zain berkilah.

__ADS_1


"Iya juga ya..."Batin Nadine.


"Tapiiiii...Ah sudah lah..." Ujar Nadine kemudian berjalan ke arah ranjangnya.


"Kenapa masih berdiri di situ?..." Ujar Nadine saat melihat Zain masih berdiri di depan pintu.


"Kenapa?... Kamu ingin aku duduk di samping mu?...."


"Iiiidiiiiihhhh.... Kepedean banget. Sudah pergi sana."


"Setelah memastikan kamu sudah mengoleskan salep di tanganmu, baru aku akan pergi." Ujar Zain.


Nadine segera membuka tutup salep dan mengoleskan ke tangannya, sebab tak ingin Zain terus berdiri memperhatikan dirinya.


"Udah selesai, cepat sana pergi." Nadine Mengibaskan tangannya mengusir Zain. Zain pun melangkah pergi. Nadine berjalan ke arah pintu.


"Kak Zain..." Panggilan Nadine menghentikan langkahnya.


"Iya." Zain berbalik menatap Nadine yang berdiri di depan pintu.


"Mulai sekarang jangan selalu bergantung sama aku, di sini aku bekerja untuk tuan Iqbal dan Nona Rani bukan bekerja untuk mu. Kalau mau ke kantor, berangkat lah nggak usah nunggu aku."


"Deg...." Jantung Zain berdenyut nyeri mendengar ucapan Nadine. Belum sempat dia menjawab, Nadine sudah menutup pintunya. Zain tertegun di depan pintu sejenak, kemudian pergi.


***


Jam 2 siang Zain terjaga dari tidurnya. Dia mimijit pelipisnya, mengingat hari ini Rani dan Iqbal akan kembali ke rumah.


Zain menghela nafas berat saat mengingat Ucapan Nadine, padahal perkataannya biasa saja tapi kenapa terasa sakit di hati Zain.


Apakah benar, Nadine memiliki tempat di hati Zain. Bukankah orang yang bisa menyakiti terlalu dalam adalah orang yang memiliki tempat strategis di hati kita.


Zain pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu Dia pergi ke balkon dengan menggunakan kaos putih dan boxer. Menyandarkan dadanya di pagar pembatas.


Lagi lagi dia menangkap sosok yang tak asing di matanya.


Gadis berkacamata tebal dengan rambut yang di kuncir kuda itu berjalan ke sana kemari membaca buku tebal di tangannya. Sesekali membetulkan kacamatanya yang melorot.


"Apa seperti itu caranya belajar?.... Berjalan maju mundur seperti setrika." Zain bertanya pada dirinya sendiri.


Zain berjalan ke arah dinding dan bersandar dengan tangan yang menyilang di dadanya.

__ADS_1


Matanya tak berkedip memandang ke arah Nadine yang masih mondar mandir membaca buku. Diam diam memperhatikan, ini lah yang akan menjadi kebiasaan Zain nantinya.


"Sudah satu jam, apa dia tidak lelah berjalan ke sana kemari?..." Zain kembali bergumam.


Tak lama kemudian Zain mencondongkan tubuhnya keluar dari batas pagar untuk melihat Nadine saat Nadine menutup buku dan masuk ke dalam rumah.


Zain menghela nafas, tak rela, terasa ada yang kurang tapi entah apa.


Nadine bergegas pergi karena saat ini adalah hari pertamanya bekerja di cafe.


Dia sudah meminta Izin pada Bi Ijah untuk bekerja dan akan pulang kurang lebih pukul 10 malam.


Hari pertama bekerja Nadine sangat rajin dan kualahan, sebab hari ini adalah hari Minggu jadi banyak pengunjung yang datang.


Dengan cekatan dia melayani tamu yang datang. Mencatat setiap pesanan kemudian mengantarkan meja. Seperti itulah bagian kerja yang ia dapat.


***


Sudah berhari-hari Zain dan Nadine jarang bertemu, sulit sekali untuknya bertemu dengan Nadine sebab dia selalu menghindarinya.


Zain bisa melihat Itu dari CCTV di rumah Iqbal. Terlihat jelas dari CCTV bahwa Nadine sengaja menghindarinya. Tentu hal itu membuat Zain tak nyaman. Hatinya gelisah.


Mereka juga tak pernah berangkat kuliah bersama sebab Nadine selalu kabur lewat halaman samping rumah. Dia lebih memilih naik angkot dari pada harus 1 mobil dengan Zain.


***


Pagi ini, saat mata Nadine dan Zain bersitatap, seperti biasa, gadis itu segera pergi dan berkumpul dengan ART yang lain di dapur supaya Zain tak menyuruhnya ini itu.


Nadine bersiap siap untuk berangkat kuliah, dia berjalan ke samping rumah agar tak bertemu dengan Zain yang selalu duduk di ruang tamu.


Tiba tiba langkah Nadine terhenti saat Zain muncul dari balik pilar menghadang jalannya.


"Permisi kak, aku mau lewat..." Ujar Nadine hendak melangkah namun Zain malah menghalau langkahnya.


"Kenapa kamu selalu menghindariku?..." Zain bertanya dengan wajah datarnya.


"Aku nggak menghindari kakak, itu cuma perasaan kakak aja." Nadine hendak kabur tapi Zain malah menariknya. Dan segera Nadine tepis.


"Udah berapa kali aku bilang, nggak usah pegang pegang?..." Ujar Nadine ketus. Zain melangkah maju mendekatinya, Nadine mundur seiring dengan langkah Zain yang maju hingga punggungnya tertahan oleh tembok. Nadine hendak kabur, tapi Zain keburu menutup celah dengan tangannya. Kini Zain sudah mengungkung Nadine dengan kedua tangannya.


"Kenapa tidak boleh. Apa aku harus menikahimu dulu baru boleh menyentuhmu. Apa kamu mau menikah dengan ku?..." Zain bertanya serius. Nadine mengangkat wajahnya, menatap Zain.

__ADS_1


***


Jangan lupa like jempolnya n komentar.


__ADS_2