
Pihak kampus sangat menyayangkan tindakan bullying yang terjadi di universitasnya. Hal ini akan merusak image kampus jika sampai terendus keluar dan korban akan mengalami trauma pasca kejadian.
Setelah melaporkan ke pihak kampus, pihak kampus malah meminta jalan damai sebab Renata merupakan anak dari orang yang berpengaruh di kampusnya.
Namun Nadine menolak tawaran untuk mediasi. Nadine ingin pihak kampus memberikan sangsi tegas pada pelaku perundangan/bully, Nadine berdalih jika setelah merasa keadaan sudah aman, kemungkinan besar pelaku bully akan mengulanginya lagi.
"Saya ingin anda memberikan hukuman yang tegas pada mereka agar ada efek jeranya supaya mereka tidak melakukan perundungan lagi...."
"Saya ingin mereka bertiga mendapatkan sangsi tegas dan meminta maaf pada saya.... Pastikan orang tua mereka tahu tingkah laku Putrinya di kampus seperti apa.... Saya sampai masuk rumah sakit loh pak...."
"Jika permintaan saya tidak bisa anda kabulkan maka saya akan melaporkan tindakan mereka bertiga ke pihak kepolisian.... Dan jangan salahkan saya jika kasus ini terendus media." Nadine mengancam pihak kampus sebab di anggap terlalu berbelit-belit dalam menyelesaikan masalah ini.
Akhirnya pihak kampus yang tidak ingin reputasi Universitasnya buruk menyetujui permintaan Nadine, pihak kampus memutuskan untuk memanggil orang tua pelaku perundungan/bully dan menskors mereka bertiga selama tiga hari, serta menyuruh mereka untuk meminta maaf pada Nadine dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Nadine juga meminta adanya surat perjanjian hitam di atas putih supaya mereka tidak melakukan perundungan lagi. Jika mereka melanggar maka mereka bertiga harus siap di jebloskan ke penjara.
***
Jam istirahat Nadine dan teman barunya pergi ke kantin, dia menceritakan masalah apa yang di alaminya pada Ganis dan Zahra. Mereka berdua menyesali dengan apa yang sudah menimpa Nadine, mereka berdua memeluknya memberikan semangat untuk Nadine.
"Gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan untuk ngilangin penat." Ujar Ganis.
"Maaf ya nggak bisa..." Ujar Zahra.
"Lah kenapa?..." Keluh Ganis.
"Aku harus kerja."
"Kerja di mana?..." Nadine bertanya dengan begitu antusias.
"Di Cafe."
"Kerjanya jam berapa?..."
"Jam 4 sore sampai jam 9 malam."
"Ada lowongan kerja nggak?..."
"Buat siapa?..."Tanya Zahra.
"Buatku... Aku butuh pekerjaan."Jawab Nadine.
"Bercanda lu....Kamu kan anak orang kaya."Ujar Ganis.
"Aku bukan orang kaya."
"Pakaian branded, transportasi mobil mewah. Masih bilang bukan orang kaya." Ujar Ganis seraya memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh Nadine.
"Itu mobil majikanku, kalau baju ini pemberian majikan ku juga."
"Serius Lu,,, Wah, baik bener majikan mu." Sahut Ganis.
"Nanti aku tanyain deh, masih ada lowongan kerja atau nggak.. "Ujar Zahra.
__ADS_1
"Makasih ya."
"Iya sama-sama."
"Aku pesen makanan dulu ya." Ujar Zahra yang mulai beranjak.
Tiba tiba seseorang meletakkan bakso dan sebotol minuman bersoda di hadapan Nadine."Spesial for you." Ujar Dion.
"Cie cie...." Ujar Ganis sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih." Keluh Nadine yang malu di perhatikan oleh banyak orang.
"Geser dong." Ujar Dion pada Ganis. Setelah Ganis bergeser, Dion menduduki tempat duduk Ganis tepat di depan Nadine.
Sementara Zahra menggelengkan kepala walaupun dia tidak suka melihat Dion selalu mendekati temannya ia mencoba untuk tidak ikut campur urusan orang lain."Nad, kamu tidak jadi pesen ya..."
"Nggak jadi." Jawab Dion. Zahra segera pergi untuk memesan makanan.
"Kak Dion ngapain sih di sini, nggak malu kah kumpul sama cewek." Ucap Nadine sambil melihat sekeliling.
"Ngapain malu!...Aku cuma pengen Deket sama kamu." Ucap Dion yang kemudian melahap baksonya.
"Nad, aku duduk sana ya..." Ujar Ganis.
"Eh, mau kemana?... Duduk sini aja."
"Aku takut ganggu kalian. Aku nggak mau jadi obat nyamuk."
"Temen mu pengertian banget sih Nad, thanks ya..." Ujar Dion pada Ganis, Ganis pun berpindah tempat duduk.
"Ting..." Dion mengerlingkan matanya.
"Oh, ya ampun..." Nadine mengeluh dengan helaan nafas panjang menghadapi sikap Dion setiap harinya. Sedangkan dari jauh ada sepasang mata penuh kebencian melihat kedekatan mereka yaitu Renata.
"Nad, kalau aku lulus kuliah, kita nikah yuk..."
"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk..." Nadine tersedak mendengar ucapan Dion. Dion meraih botol air mineral yang ada di atas meja, membuka tutupnya kemudian menyerahkannya pada Nadine. Nadine meminumnya hingga sisa setengah botol.
"Yang senang karena di lamar sampe tersedak." Ucap Dion.
"Bukan seneng kak, tapi kaget."
"Hahaha maaf, maaf... Abis kamu nggak mau di ajak pacaran sih, mending kita nikah aja langsung."
"Ya ampun kak, aku pengen fokus kuliah, umurku baru 18 tahun. Lulus kuliah aja belum udah ngomongin nikah."
"Kalau kamu nikah sama aku, aku bakal bayar semua biaya kuliah kamu. Aku sanggup kok nafkahin kamu dan anak anak kita nanti."
"Aduh, udah ya kak udah. Nikah aja belum udah ngomongin anak...."
"Hehehe, Ucapan adalah doa. Siapa tahu jadi doa yang di jabah, aku serius suka sama kamu dan berharap suatu saat nanti kita berjodoh. Jika merindukan mu adalah sebuah dosa, sudah pasti dosaku karena merindukan mu kedudukan semakin tinggi. Karena setiap harinya rasa rindu ini bukannya menyusut tapi makin bertumpuk. Aku berharap suatu saat nanti bisa menghalalkan mu untuk di rindukan dan untuk di sentuh."
"Aduh, udah ya kak... Malu tuh kak di ketawain anak anak."
__ADS_1
"Nadine aku serius. orang yang serius itu ngajak nikah bukan ngajak pacaran."
"Kak, kita jodoh atau nggak, biar lah waktu yang menjawab."
Dion diam sejenak, seolah sedang mendengarkan angin."Mana?... Waktu nggak ngomong apa-apa."
"Iiih kak..."
Beberapa saat kemudian setelah Nadin dan Dion berbincang-bincang Zahra dan Ganis menghampirinya karena jam belajar di mulai. Mereka bertiga pun kembali ke kelasnya di antar oleh Dion yang berjalan sejajar dengan Nadine.
***
Setelah jam pulang kuliah Nadine berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkot di temani oleh Dion yang duduk di atas motornya.
Bukannya angkot yang datang, tapi malah mobil Zain yang berhenti tepat di depan Nadine. Jendela mobil terbuka, muncullah Zain di kursi kemudi.
"Masuk." Ucap Zain. Nadine pun mengangguk.
Saat Nadine beranjak, Dion turun dari motornya dan menarik tangan Nadine.
"Nadine, dia siapa?..." Hati Dion gelisah, ya dia sedang cemburu.
"Nadine cepat masuk." Suara Zain mengintimidasi dengan tatapan mata yang masih mengarah ke tangan Nadine.
"Kak lepasin tanganku." Ujar Nadine menarik narik tangannya.
"Katakan dulu siapa dia?..." Ujar Dion dengan perasaan yang kalut, dia tak percaya diri melihat wajah tampan Zain. Dia takut jika Zain akan menjadi saingannya.
"Lepaskan tanganmu darinya. Kau membuang buang waktuku." Ucap Zain.
"Kak Dion, dia bukan siapa-siapa ku. Dia cuma supirku."
"Apa kau bilang?..." Zain yang marah keluar dari mobil dan membanting pintu. "Sejak kapan aku jadi supir mu?..."
"Tiap hari kan kak Zain nyupirin aku. Pantas dong di sebut supir."
"Aah..." Pekik Nadine saat Zain menarik tangannya.
"Lepaskan tanganmu be reng sek." Ucap Zain pada Dion.
"Dia gadis gue, elo lah yang lepasin tangan dia."
Balas Dion yang sama sekali tidak mau melepaskan tangan Nadine. Akhirnya terjadilah tarik menarik antara Dion dan Zain hingga tubuh Nadine terhuyung ke kanan dan ke kiri.
"Aaakkkkhhhhh...." Nadine yang kesal berteriak hingga aksi mereka terhenti."Tanganku sakit, kalian tarik kayak tarik tambang. Lepasin tanganku."
"Kau, Lepaskan tanganmu."
"Elo lah, yang lepas."
***
Author
__ADS_1
Jangan lupa like n komentar ya sebagai dukungan buat karyaku.