
Nadine berjalan menghampiri Zain, wajahnya tersipu malu ketika Zain menatapnya tanpa berkedip, apalagi dirinya sudah berjanji akan memberikan hak suaminya malam ini. Nadine menghampiri suaminya lalu duduk di boncengan sepeda, Zain kembali mengayuh sepedanya.
"Itu mahar dariku ya???..." Zain bertanya sembari mengayuh sepedanya.
"Kok tahu???..."
"Aku lihat tadi ada nomor teleponnya. Aku ingat betul pas minta uang dari Ken, dia memberikan ku uang yang ada nomor teleponnya. Kenapa kamu masukkan ke kotak amal?..."
"Semoga amal jariyah mengalir di dalam rumah tangga kita, kak."
"Aamiin." Zain mengulum senyum mendengar jawaban dari Nadine. Hatinya begitu bahagia, Nadine mengharapkan kebaikan dalam rumah tangganya. Zain terus mengayuh sepeda ontelnya, roda itu berputar memijati jalanan beraspal.
"Sayang..." Nadine tersenyum, tersipu malu dengan panggilan yang di berikan oleh suaminya sejak kemarin.
"Sayang." Dia kembali memanggil istrinya karena tak kunjung menjawab. "Mau beli gorengan nggak, buat cemilan nanti di sana." Dengan dagunya, Zain menunjuk rombong penjual gorengan.
"Boleh." jawab Nadine begitu antusias, sebab yang Zain tunjuk adalah jajanan langganannya.
Zain membeli beraneka macam gorengan, menunjuk satu persatu gorengan yang ia pilih. Sedangkan Nadine duduk manis di atas sepedanya memandangi suaminya, Zain terlihat tampan dengan celana slim fit berwarna hitam, kemeja hitam di balik jaket kulit berwarna hitam, perpaduan yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Penampilannya tidak cocok bagi fashion orang yang akan pergi ke sawah, lebih cocok untuk jalan-jalan ke luar negeri.
Zain mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikan 1 lembar uang kertas berwarna merah bergambar presiden pertama Indonesia.
"Ambil saja kembaliannya."
"Terima kasih Nak, Semoga lancar rejekinya dan di berikan anak yang Sholeh dan Sholehah."
"Aamiin."
Zain meletakkan gorengannya di dalam keranjang sepeda yang terletak di setir. Dan kembali mengayuh sepedanya. Roda sepeda terus berputar melintasi jalanan penuh bebatuan, melewati sawah-sawah yang berderet sepanjang jalan.
"Kak, berhenti di sini." Zain menarik rem sepeda hingga ban berhenti berputar di dekat sebuah gubuk.
"Di mana ibu?..." Zain mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan ibu mertuanya.
"Itu... Ladang ibu di sebelah sana." Nadine menunjuk arah Utara dengan mengacungkan jari telunjuknya. Ladang itu Nadine terletak agak jauh dari jalan, untuk bisa sampai ke sana harus melewati jalan kecil yang hanya bisa di lewati oleh pejalan kaki, sebab kanan kirinya adalah sawah.
"Masih jauh dari sini." Keluh Zain.
"Ya harus jalan kaki lah kak, kalau nggak mau ke cebur sawah, sepedanya taruh sini aja." tutur Nadine, Zain tak bergeming.
"Bi, titip sepeda ya..." ucap Nadine pada wanita tua yang duduk di gardu (gubuk.)
"Iya Nduk, taruh aja di situ." seorang wanita tua berusia sekitar 40an menunjuk sisi gubuknya. Tangannya sibuk menarik tali ketika melihat burung beterbangan memakan padi-padinya. Nadine menitipkan sepedanya pada pemilik gubuk yang lahannya berada di tepi jalan.
"Itu siapa Nduk?..." dengan jari jempolnya,
Ibu itu menunjuk Zain yang berdiri di belakang Nadine.
"Dia suami saya, Bu."
"Owalah, lama tak jumpa tiba-tiba udah punya suami. Terus kuliah kamu gimana?..."
"Saya masih lanjut kuliah Bu. Ini ada sedikit camilan untuk ibu." Nadine memberikan 5 buah pisang goreng dan 2 tahu isi pada ibu tua tersebut. Gorengan yang sempat Zain beli di pinggir jalan.
"Owalah Nduk, jadi ngerepotin kamu."
"Nggak repot kok Bu."
"Terima kasih ya."
"Sama-sama"
"Semoga pernikahannya langgeng sampai jadi kakek nenek."
__ADS_1
"Aamiin. Kalau begitu saya permisi dulu Bu."
"Iya, hati-hati."
***
"Sadar nggak sih kak, sejak tadi tuh banyak yang mendoakan pernikahan kita loh kak." ucap Nadine sembari melangkah di jalan yang lebarnya hanya berkisar 2 kil tangan.
"Semoga jadi doa yang terkabul." ujar Zain.
"Aamiin."
Zain mengikuti kemana pun kaki istrinya melangkah. Ketika Nadine menginjak tanah berlumpur kakinya terpeleset dan hampir terjatuh, beruntung dengan sigap sang suami menangkapnya. "Hati-hati."
"Iya, terima kasih." jawab Nadine yang berada dalam pelukan hangat Zain.
"Assalamualaikum...." Ucap Nadine dan Zain berbarengan sesampainya di gubuk/gardu yang di tempati ibu Azizah.
"Wa alaikumsalam..." Jawab ibu Azizah.
Zain dan Nadine mencium punggung tangan ibunya secara bergantian.
"Nadine bawa nasi goreng sama gorengan, Bu."
"Bikin sendiri?..." Ibu Azizah bertanya, setelah membuka rantangnya.
"Nasi gorengnya bikin sendiri, kalau gorengannya tadi kak Zain yang beli." Nadine mengambil alih tali yang di pegang oleh ibu Azizah, supaya ibunya bisa memakan oleh-oleh darinya. Ibu Azizah mencuci tangan kemudian memakan nasi goreng buatan Nadine.
Setelah duduk di sisi gubuk, mata Zain mengamati sekeliling, hamparan padi yang warnanya mulai menguning, menunduk karena semakin berisi. Langit biru yang cerah, dengan suara angin semilir yang berhembus menerpa dedaunan di pohon hingga berguguran daunnya, menerpa tanaman padi hingga bergoyang melambai-lambai. Mata Zain beralih mengamati tali yang di tarik oleh istrinya ketika melihat burung hinggap di padi. Tali yang di tarik itu membuat lonceng yang ada di sekitar lahan padi bergoyang, menciptakan bunyi "Krincing, Krincing, krincing...." . Orang-orangan sawah pun ikut bergerak, berpartisipasi mengusir si pencuri padi(Burung), hingga semua burung yang hinggap di padi untuk memakan bijinya berterbangan ke langit.
Zain menatap hangat wajah cantik istrinya, dia sangat bersyukur bisa menikahi Nadine. Dia gadis polos, baik hati dan berbakti pada kedua orangtuanya. Terbukti, dia bisa memaafkan kesalahannya dengan mudah.
"Kenapa kak, ngeliatin aku kayak gitu." tanya Nadine ketika Zain tertangkap basah memperhatikannya.
"Ibu, pulang aja duluan. Biar Nadine yang jagain padi-padinya." pinta Nadine.
"Nggak usah nak. Kasian suami kamu, kalau tinggal di sini."
"Tidak apa-apa Bu, saya akan menemani Nadine di sini." ucap Zain menimpali.
"Tapi Nak." Ibu Azizah nampak sungkan.
"Udah bu, ibu pulang aja. Ibu pasti capek dari tadi jagain sawah."
***
Setelah terjadi perdebatan kecil, akhirnya ibu Azizah mau pergi dan kembali ke rumah. Meninggalkan sepasang pengantin baru yang kini sedang bermesraan.
Zain memegangi tali dan sesekali menariknya ketika burung kembali datang. Sedangkan Nadine merebahkan kepalanya di bahu Zain, sementara tangannya melingkar di lengan suaminya.
"Kak Zain."
"Apa???..."
"Kak, Zain itu udah lama ya!!!...."
"Lama apanya???..."
"Lama gantengnya... Hahahaha...." Jawab Nadine lalu tertawa. Zain yang mendengar rayuan gombal istrinya pun ikut tergelak kemudian menarik hidung mancung istrinya saking gemasnya.
"Sayang..."
"Apa???..." Nadine bertanya.
__ADS_1
"Kamu sudah lama ya?..." Zain mengembalikan pertanyaan Nadine.
"Lama apanya?..."
"Lama genitnya."
"Iiih kak Zain, masak istri sendiri di bilang genit."
"Buktinya, kamu ngusir ibu supaya bisa bermesraan dengan ku. Sejak dulu kamu suka sekali modusin aku."
"Iiih GR... Nggak kebalik tuh."
"Itu fakta."
"Aku tuh kasian sama ibu, beliau pasti capek."
"Itu cuma akal-akalan mu saja." Jawab Zain penuh percaya diri.
"Jadi setiap hari, padi harus di jaga seperti ini?..." Zain mengalihkan pembicaraan.
"Ia, dari pagi sampai sore nanti. Kalau nggak gitu, biji padi akan habis di makan burung." jawab Nadine.
"Kalau kamu, kapan mau makan burung ku?..."
"Hahahaha...." Zain terpingkal-pingkal karena tangan Nadine menggelitik pinggang suaminya dengan gemas.
"Nyebelin, nyebelin, nyebelin." wajah Nadine bersemu merah karena malu.
"Iya, iya, iya, ampun, ampun, aku tobat." ujar Zain di sela-sela sisa tawanya.
"Awas aja kalau ngomong jorok lagi."
"Iya, asalkan nanti jangan lupa janjimu."
"Iya." Jawab Nadine ketus.
Tiba-tiba langit mulai gelap berkabut, awan gelap mulai bergumpal menjadi satu. Di selingi suara guntur yang yang menggelegar begitu nyaring memekakkan gendang telinga.
"Kak, bentar lagi pasti hujan. Ayo pulang."
"Ayo."
Mereka bergegas pergi turun dari gardu, baru saja kakinya menyentuh tanah, hujan langsung turun dengan derasnya. Membuat sepasang suami istri itu kembali naik untuk berteduh di dalam gubuk(gardu), duduk di pojok gardu untuk menghindari percikan air hujan. Zain membuka jaket kulitnya yang berwarna hitam, menarik Nadine dalam pelukannya. Zain memeluk punggung Nadine dari belakang, lalu menyampirkan jaketnya yang besar ke tubuh mungil Nadine, membuat istrinya tenggelam di dalam jaket yang kebesaran itu.
Zain mampu memberikan kehangatan pada Nadine di tengah dinginnya udara saat ini. Beberapa saat kemudian Nadine merubah posisinya. Dia berbalik agar bisa memeluk suaminya dari depan dengan nyaman. Pelukan hangat Zain membuat Nadine merasa nyaman hingga akhirnya iapun terlelap.
Beberapa saat kemudian, Zain masih mengamati wajah cantik istri polosnya yang masih terlelap itu. Ia kecup berkali-kali kening istrinya. Berapa kali pun Zain mencium istrinya, tak ada rasa puas sedikit pun. Tatapan mata Zain beralih pada bibir ranum istrinya yang terlihat sangat menggoda, Zain melihat ke segala arah. Memastikan apakah ada orang atau tidak. Ternyata sepi, hanya terdengar suara rintik hujan.
Zain melabuhkan bibirnya pada bibir Nadine, mengecapnya bergantian dari atas ke bawah. Tangannya tidak tinggal diam. Bergerak lincah di bagian yang tertutup jaket. Ciuman itu semakin dalam dan menggebu. Membuat si empunya terbangun, terkejut lalu membuka mata. Kemudian mendorong dada suaminya hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Kak, malu. Kita lagi di tempat terbuka. Kalau di lihat orang gimana?..." Nadine melihat ke sekeliling.
"Ngga ada. Aman." Zain kembali mendekati wajah Nadine tapi ia malah berpaling.
"Kak, malu kalau di lihat orang." Nadine merengek, menolak.
"Nggak ada orang." Zain menarik jaketnya hingga menutupi kepala mereka berdua. Membuat mereka leluasa bermesraan di balik jaket. Berciuman di gubuk(gardu) di temani suara rintik hujan dan padi yang bergoyang mendayu-dayu.
***
Minal aidzin walfaidin. Mohon maaf lahir dan batin bagi yang muslim.🙏🙏🙏🙏
Maaf kalau ada salah kata dari author ya readers ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti karyaku. Love love love untuk kalian...🙏🙏🙏🙏
__ADS_1