Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
RINDU


__ADS_3

"Baik lah, kau urus istrimu."


"Baik, tuan."


Dunianya berubah, ia tidak pernah menyangka akan memiliki keluarga. Dulu hidupnya begitu hampa dan hanya di isi dengan pekerjaan, tapi semenjak kehadiran Nadine. Hatinya selalu berdebar, rindu saat tak bertemu. Rasanya selalu ingin bersama selamanya.


Zain tak bisa menutupi kebahagiaannya saat mendengar suara tangis bayi.


"Selamat, sekarang kamu sudah jadi ibu." ucap Zain kemudian mencium kening Nadine.


"Selamat, sekarang kakak sudah jadi ayah."


"Terima kasih sudah mau melahirkan anak untukku."


"Terima kasih sudah mau menjadi ayah dari anakku."


Rasa bahagia tak bisa terbendung. Zain memeluk Nadine yang masih terbaring, mengusap air mata di sudut matanya. Berulang kali dia mengecup kening Nadine.


"Tuan, tolong adzanin Putranya." ucap dokter. Zain menggambil alih putranya dari gendongan sang dokter. Dengan khusu' ia mengadzani Putranya. Berharap suatu saat nanti akan menjadi anak yang membanggakan.


Zain memperhatikan wajah putranya dengan seksama, kulitnya masih merah. Berulang kali dia mencium pipi putranya dengan gemas, membuat bayinya menggeliat, bibir merahnya yang mungil mengecap-ngecap.


"Putra kita sangat tampan, wajahnya imut seperti dirimu?..."


"Mana, aku mau lihat anakku." Nadine mengangkat tangan, ingin meraih bayinya.


Zain meletakkan putranya di dada Nadine supaya bisa merasakan kenyamanan di sana.


"Hidung sama alisnya mirip kakak."


"Perpaduan dari kita."

__ADS_1


"Iya, aku setuju."


Semua keluarga yang berkumpul di depan ruang bersalin bernafas lega ketika mendengar suara tangis bayi. Kedua orang tua Nadine juga ada di sini, ketika mendengar kabar bahwa Nadine akan melahirkan, mereka datang.


Ketika Zain keluar dari ruangan, semua keluarga mengucapkan selamat padanya.


Zain menghampiri Iqbal yang kebingungan sendiri menunggu di depan pintu ruang operasi.


"Operasi nona belum selesai?..."


Iqbal menggelengkan kepala, raut wajah Iqbal terlihat cemas.


"Aku tidak bermaksud menghamilinya." Iqbal tak menginginkan anak lagi, cukup satu Putri, tapi Rani tak mengindahkan peringatan Iqbal, kata Rani 'satu anak nggak cukup, kasian jika Putri nggak punya saudara.' inilah yang Iqbal takutkan, takut melihat Rani kesakitan. Masih teringat jelas, ketika pertama kali Rani melahirkan. Rani bertaruh nyawa demi anaknya. Walaupun begitu, Iqbal tetap bahagia ketika mendengar kabar kehamilan Rani, tapi khawatir saat membayangkan kelahiran anaknya lagi.


"Itu rezeki anda, tuan." walaupun tak mengatakannya, Zain tahu jika Iqbal begitu cemas.


"Kenapa kau kemari? Istrimu juga sedang melahirkan. Pergilah, dia lebih membutuhkanmu."


Suara tangisan bayi terdengar, bersamaan dengan datangnya keluarga Rani.


"Kalau begitu saya permisi, tuan." Iqbal mengangguk, Zain segera pergi dan menghilang di balik persimpangan koridor.


***


Satu tahun kemudian Zahra dan Nadine sama-sama merawat bayi yang di nama Aaron Akino, Zahra sering menginap di rumah kakaknya sebab Dion sibuk mengelola bisnis barunya. Dion mendapatkan pinjaman modal dari papanya untuk memulai bisnis konveksi, sesuai dengan pekerjaan yang sedang di geluti Mamanya. Ia sibuk riwa-riwi ke luar kota terkadang ke luar negeri untuk bekerja sama.


Kembali pada Aaron, balita yang baru satu tahun itu baru bisa berjalan. Ia berjalan dan sesekali terjatuh, jika Nadine lelah menjaganya maka Zahra akan menggantinya.


Mendengar langkah sepatu, balita yang sedang bertepuk tangan dengan Zahra berdiri, berjalan sempoyongan ke arah suara. Memeluk kaki panjang sang Papa.


"Aaaaa." Aaron berteriak pertanda bocah itu minta di gendong.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Nadine mencium tangan Zain.


"Aaaa" balita yang masih memeluk kaki sang papa kembali berteriak karena Zain tidak kunjung meraihnya.


"Papa capek, sayang. Main sama Tante dan mama yuk." Nadine membujuk Aaron yang sedang menempel seperti prangko di kaki papanya.


Setelah memberikan tasnya pada Nadine, Zain membuka jasnya. Tak peduli dengan bajunya yang bercampur keringat, Zain tetap menggendong dan mencium pipi balitanya.


"Kangen ya sama Papa."


"Paaaa...." balita itu memeluk Zain dengan posesif, tangannya melingkar di leher papanya. Setiap Zain berangkat bekerja, Zain harus sembunyi-sembunyi dari Aaron jika tidak ingin melihat sang putra menangis meraung-raung. Sedikit kesulitan tiap pagi, sebab Aaron lebih suka menempel pada Papanya.


Tiap malam, Zain yang selalu mengganti popok si bayi, tak Ingin mengganggu Nadine yang tertidur pulas. Nadine sudah cukup lelah menjaga Aaron yang sedang aktif-aktifnya, jadi Zain yang menghandle Aaron ketika rewel tengah malam tanpa membangunkan Nadine.


Berbeda dengan Zahra. Jika Zain Sibuk dengan balitanya maka Zahra sibuk memikirkan Dion. Semenjak Dion bekerja, dia jadi kurang memiliki waktu bersama Dion. Rindu dan jarak benar-benar menyiksa hatinya.


Ketika selesai dari pekerjaan, Dion terlalu lelah untuk menghubungi Zahra. Kini Dion masih berada di negara Amerika, jika di Indonesia siang maka di Amerika malam. Dion ingin menghubungi Zahra di pagi hari tapi takut mengganggu tidur istrinya, karena di tempat Zahra berada mungkin sekitar jam 12 malam.


Jika menghubungi Zahra malam hari di Amerika, Dion tak sanggup saking lelahnya. Jadi ia hanya bisa mengirim pesan.


"Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran."


Satu minggu sudah Zahra kesepian, ia merindukan Dion yang dulu. Zahra menitikkan air mata kerinduan. Matanya sulit terpejam, ia memilih mengambil wudhu dan beribadah malam. Hingga ia menguap dan memutuskan untuk tidur.


Ketika pagi, Zahra susah sekali bergerak. Seperti ada yang menghalangi tubuhnya. Perutnya terasa berat, seperti ada yang menindihnya.


Zahra membuka mata, mendongak melihat siapa yang memeluknya. Ternyata Dion, sejak kapan Dion pulang.


Gerakan Zahra mengusik tidur suaminya. Dion semakin mempererat pelukannya.


"Kapan kakak pulang."

__ADS_1


"Sstttt.... Tidur lagi. Aku kangen."


__ADS_2