
Dion segera melepaskan pelukannya dari Zahra sebab Zahra mendorong dadanya.
"Berengsek, berani elo sama temen gue." tanpa aba-aba Dion langsung meninju wajah geng motor itu, di bantu oleh Alex perkelahian pun tidak bisa di hindari. Membuat cafe porak poranda. Mereka saling hajar, pengunjung wanita yang ketakutan menjauh, namun beberapa pengunjung pria dan security berusaha melerai.
Beberapa saat kemudian perkelahian pun selesai. Perkara di selesaikan secara damai. Mereka berempat harus mengganti kerusakan yang terjadi di Cafe itu, jika tidak mau mengganti kerugian cafe maka mereka berempat harus siap di penjarakan.
"Gue bakal buat perhitungan sama elo dan elo." Setelah mengganti kerugian dan mengancam Dion, Alex dan Zahra, anak geng motor tersebut segera pergi.
"Zahra, mulai saat ini kamu di berhentikan kerja."
Zahra mengangguk dengan satu tetes air mata yang mengalir, lalu segera ia sapu.
"Elo gila ya, Zahra nggak salah." protes Dion.
"Dia sudah memicu Keributan dan mengganggu kenyamanan pengunjung yang ada." ucap manager Cafe tersebut.
"Elo lupa, kalau gue sahabat pemilik cafe ini. Gue bisa laporin elo ke dia." ucap Dion dengan lantang.
"Sayangnya pemecatan Zahra adalah perintah dari dia."
"Gue kecewa sama kalian berdua, Zahra itu di lecehkan, apa kalian nggak ada rasa empati sama sekali!..." Dion menunjuk wajah sang manajer.
"Udah Yon, udah. Nggak ada gunanya kita di sini." Alex menarik lengan Dion, pun menghentakkan tangannya hingga pegangan Alex terlepas.
"Yuk Ra, kita cabut. Masih banyak tempat kerja yang bisa menghargai seorang wanita." Zahra pun keluar mengekori Dion dan Alex.
"Kak, makasih ya udah nolongin aku." ucap Zahra sesampainya di depan Cafe.
"Udah seharusnya aku nolongin kamu." jawab Dion.
"Ayo Ra, gue antar pulang." ajak Alex.
"Biar gue yang antar." tolak Dion.
"Nggak usah kak, aku bisa pulang sendiri." Zahra menolak kedua pemuda tampan tersebut.
"Udah jangan bawel." ucap Dion.
"Ayo, Ra. Pulang sama gue aja." Alex masih kekeh ingin mengantarnya pulang.
"Gue nggak percaya sama otak elo yang ngeres." Dion menarik tas yang terselempang di bahu Zahra, hingga terpaksa langkah kakinya tertarik mengikuti Dion.
"Sejak keluar dari rumah sakit, Dion rada gila." Alex menggelengkan kepala melihat kelakuan Dion yang berubah akhir-akhir ini.
***
Dion mengambil sepeda motornya kemudian menghampiri Zahra yang menunggunya di pinggir jalan.
"Ayo naik."
"Iya." Zahra menjinjing sedikit rok yang ia kenakan ke atas kemudian berpijak di pijakan motor.
"Are you ready?..." tanya Dion.
"Siap." jawab Zahra. Dion terkekeh karena pertanyaannya di jawab dengan bahasa Indonesia.
Jok motor Dion sangat licin, terlebih modifikasinya menukik ke depan. Membuat Zahra berulang kali merosot ke depan hingga lengannya bersentuhan dengan Dion. Zahra kembali mundur, tapi lagi-lagi panggulnya merosot, padahal tangan Zahra sudah berpegangan di bagian belakang sepeda untuk menahan berat tubuhnya tapi tetap saja ia merosot. Sentuhan pun tak bisa di hindari. Sikap Zahra membuat Dion kebingungan, hingga si Dion menegakkan punggungnya dan sedikit maju untuk menghindari sentuhan.
"Ini motor suka mencuri kesempatan dalam kesempitan." cetus Zahra dongkol.
"Mencuri kesempatan dalam kesempitan apaan?... Ini tuh lagi ngetrend, gaul tau nggak."
"Ini modus cowok biar bisa nempel sama cewek."
__ADS_1
"Sumpah, modifikasi ini nggak ada tujuan ke situ. Aku cuma ikut-ikutan gaya aja."
"Gaya tapi norak..."
"Ck, ck, ck.... Ternyata elo bisa jutek juga ya."
"Kotak P3K tadi masih ada nggak?..." Zahra bertanya.
"Ada sama Darma."
"Berhenti di apotik dulu kak."
"Ngapain?..."
"Beli obat buat kakak."
"Halah, nggak usah. Ini udah biasa."
"Aku juga sekalian mau beli air minum, haus."
"Ok lah kalau begitu."
Dion menghentikan laju motornya ke arah Alfamidi yang berjualan lengkap dengan obat-obatan.
Setelah meletakkan roti, air minum dan obat di kasir. Dion mengeluarkan dompetnya.
"Kak, biar aku aja yang bayar." Zahra juga sudah membuka dompetnya.
"Pantang bagi seorang Dion di bayarin cewek."
"Iiissss..." Zahra mencebikkan bibirnya.
Zahra dan Dion duduk di bangku rombong kosong yang berada di depan Alfamidi.
"Kenapa?..."
"Ku bantu olesi obat." ucap Zahra yang sudah memegang kapas yang sudah di bubuhi obat.
Setelah menghela nafas panjang Dion pun menutup matanya, Zahra mulai mengolesi Dion dengan obat.
"Kak Dion kenapa ngebelain aku sampai segitunya?..."
"Karena wanita harus di jaga kehormatannya. Aku nggak suka liat perempuan di lecehkan
kayak gitu."
"Makasih ya kak, sudah nolongin aku."
"Sama-sama."
"Kak, Dion masih belum bisa move on ya dari Nadine."
"Udah, jangan bahas dia lagi. Aku udah nggak tertarik." ucap Dion walaupun hatinya masih belum mampu melupakan Nadine.
"Ok, ok."
Dion membuka satu matanya untuk melihat wajah Zahra.
"Iiiihhh kakak, tutup dong matanya." Zahra merengek kesal, wajahnya merah tersipu malu. Terlihat sangat menggemaskan. Dion baru tahu, jika di balik sikapnya yang lembut dan dewasa tersimpan jiwa manja pada seorang Zahra. Tanpa terasa senyum terukir di bibirnya.
"Kalau nggak mau kecantikan mu di lihat orang, kenapa nggak pakai cadar aja." Bukannya menjawab, Zahra malah membuang muka.
"Iya, iya.... Aku tutup mata nih." Dion kembali tutup mata.
__ADS_1
"Udah, nggak usah. Obati sendiri aja di rumah." Zahra menolak untuk mengobati Dion kembali.
"Aku baru tahu, kalau kamu orangnya ternyata ngambekan." Dion sama sekali tak marah, hanya merasa lucu saja. Seorang Zahra gitu loh, ternyata bisa manja dan suka ngambek.
"Ayo pulang kak, udah malem." Zahra sudah bangkit dan beranjak pergi.
"Rotinya nggak di makan dulu."
"Udah nggak lapar."
"Oh, bisa begitu yah. Aku baru tahu, kalau marah bisa menghilangkan lapar." ucap Dion setelah menaiki motornya.
Kini Zahra duduk menghadap punggung Dion, tak lagi duduk menyamping.
"Zahra, aku kok ngerasa jadi tersangka yang di todong pistol. Eh maksudnya di todong botol minuman." Dion tertawa geli dengan kelakuan Zahra. Bagaimana tidak, Zahra menodongkan botol air mineral ke punggung Dion supaya dirinya tak lagi merosot dan bersentuhan dengan Dion.
"Biar aman."
"Dengar-dengar rumah kamu dekat dari Cafe Ra, ini kok jauh ya." tanya Dion setelah lama memacu motornya.
"Aku udah pindah kontrakan kak. Stop di gapura itu kak." Zahra menunjuk gapura kecil berwarna hijau.
"Stop kak, turun di sini." Dion menghentikan laju motornya sesuai permintaan Zahra.
"Kenapa berhenti di sini. Rumah mu yang mana?..."
"Motor harus turun dan di tuntun. Gangnya kecil."
"Nggak apa-apa, biar ku tuntun. Aku cuma mau mastiin kamu pulang dalam keadaan selamat."
"Di sini aman kok kak, padat penduduk."
"Kak Zahra, kak Zahra, kak Zahra." panggilan bocah kecil yang berusia sekitar 7 tahun yang berlarian sembari memanggil nama Zahra. Membuat Dion dan Zahra menoleh secara bersamaan di asal suara.
"Ratih, Nunun. Kalian kenapa?..." tanya Zahra pada kedua bocah yang terlihat panik.
"Fatma sakit kak, tubuhnya menggigil."
"Innalilahi... Ayo cepat kita ke sana."
"Iya ayo kak cepat."
"Biar ku antar." ucap Dion. Nunung duduk di depan Dion, Ratih duduk di tengah di antara Dion dan Zahra. Kemudian Dion mulai melaju.
***
Dion melihat sekeliling, gubuk reyot yang menurutnya tak layak di huni sebab kumuh, gubuk yang terbuat dari seng-seng yang sudah keropos. Jika terik pasti kepanasan, jika hujan pasti kebasahan. Zahra memasuki salah satu bilik tersebut.
Ketika masuk, matanya langsung bertemu dengan gadis kecil yang terbaring sakit, Zahra segera menghampiri gadis itu.
"Ya Allah.... Fatma, kulit mu panas banget." ucap Zahra setelah menyentuh wajah Fatma secara acak. Dion pun ikut duduk lalu memeriksa dahinya.
"Sudah di periksa belum?..." Dion bertanya.
"Belum kak, nggak ada uang." jawab Ratih.
"Tunggu sebentar, biar ku panggilkan dokter."
Sembari menunggu si dokter, Dion memperhatikan Zahra yang begitu telaten merawat gadis kecil yang tengah terbaring tak berdaya. Berulang kali Zahra mengganti kompres di dahi gadis itu. Dion menyadari, masih banyak orang yang lebih menderita darinya, harusnya Dion bersyukur atas hidupnya.
***
Happy reading.
__ADS_1