Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BELANJA BERSAMA ZAIN


__ADS_3

"Nadine, apa kamu menyukai ku?..." Dion bertanya dengan nada tegas.


"Siapa sih kak yang nggak suka sama kakak, baik, pinter, perhatian lagi."


Zain segera pergi memasuki kamar, tak tahan mendengar canda tawa mereka berdua. Apalagi ungkapan cinta mereka.


"Kamu serius Nadine."


"Iya."


"Kamu mau nggak jadi pacarku?..."


"Maaf kak, aku cuma anggap kakak teman aja. Udah dulu ya kak, aku mau tidur dulu. Udah ngantuk banget." Nadine yang merasa tidak enak hati karena selalu menolak Dion, ingin mengakhiri komunikasi mereka.


"Baiklah. Jangan lupa baca doa."


"Ok, siap."


***


Keesokan paginya, Rani memberikan nota belanja pada Nadine dan menyuruhnya untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok selama 1 bulan ke depan.


"Ini uangnya. Kamu bisa minta antar pak Lim." Nadine hanya mengangguk Setelah menerima sejumlah uang dari Rani.


"Biar aku yang mengantarkan mu." Ucap Zain yang tiba-tiba muncul di belakang Nadine.


"Ng-nggak usah kak, aku bisa bareng pak Lim." Nadine terlihat salah tingkah karena kejadian semalam.


"Aku tidak menerima penolakan." Zain menggenggam tangan Nadine, membuat jemari tangan mereka saling bertautan, Zain menyeretnya pergi.


"Deg..." Jantung Nadine berdegup kencang, tepatnya sejak semalam. Perasaannya mulai tak karuan.


Pandangan Nadine tertuju pada tangannya, sentuhan Zain membuat hatinya berdebar. Kenapa?...


Nadine terus menyeret kakinya mengikuti langkah Zain.


"Kak..." Nadine berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman Zain semakin kuat.


"Kenapa?..." Dengan kaki yang terus berayun, Zain menatap Nadine dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan. Membuat wajah Nadine bersemu merah.


"K-Kak lepas..."


"Jika aku tidak mau???..."


"Ya tidak apa-apa... Eh ya tidak boleh..." Nadine meralat Ucapannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu." Zain tersenyum penuh arti. Terlalu sakit melihat kebersamaan Dion dan Nadine, sementara Zain hanya menjadi penguntit. Jika mode slow tak bisa maka Zain akan menggunakan mode maksa. Tak peduli Nadine akan risih ataupun menolak, Zain harus memiliki Nadine.


Zain membukakan pintu mobil untuk Nadine, Zain berlari kecil memutari mobil kemudian duduk di samping Nadine.


Nadine jadi linglung, sedari tadi hanya memperhatikan Zain yang memasang sabuk pengaman.


"Jangan menatapku seperti itu, ntar jatuh cinta baru tau rasa loh..." Ucapan Zain membuat Nadine tersipu malu. Nadine kembali salah tingkah. Dia melengos melihat ke segala arah.


"Pasang sabuk pengamanmu."


"I-iya..." Nadine tergagap."Iiih aku kenapa sih, jadi grogi kayak gini?... Aku benci suaraku yang gagap..." Nadine terlihat kesulitan memasang sabuk pengaman, tangannya saja gemetaran.


Zain membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya kemudian membantu Nadine untuk memasang sabuk pengaman.


"Kenapa tanganmu selalu gemetaran?..." Zain bertanya sembari menyalakan mesin mobil kemudian mulai melaju.


"Nggak apa-apa kak..."


"Grogi berdua di mobil denganku?..."


"Iya, eh enggak kak..."


"Uang yang kamu tinggalkan di mobil ku sudah ku transfer ke rekening mu." Ya, kemarin diam-diam Nadine menyelipkan uang di laci mobil Zain ketika Zain sedang fokus mengemudi.

__ADS_1


"Tapi kak, aku punya hutang.... Aku kerja keras juga karena pengen bayar hutang. Aku nggak mau terlalu berhutang Budi sama kakak."


"Bukankah kamu juga bekerja padaku. Menyiapkan makanan untukku dan membuatkanku minuman setiap hari. Jadi sekarang aku anggap hutangmu lunas, jangan terlalu membebani diri dengan hal yang nggak perlu."


Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Zain, Nadine tak lagi canggung karena kejadian semalam.


Mobil pun berhenti, rupanya mereka sudah sampai di Mall. Zain keluar dan kembali membukakan pintu untuk Nadine.


Zain menjulurkan tangannya, untuk beberapa detik Nadine hanya menatap telapak tangan Zain yang terbuka kemudian pandangan matanya beralih menatap Zain.


Karena Nadine tak kunjung menjabat tangannya, Zain langsung meraih tangan Nadine.


"Biar nggak hilang." Ucap Zain.


Nadine membiarkan tangannya di genggam oleh Zain, kakinya melangkah mengikuti langkah kaki Zain berpijak.


Zain membawa Nadine ke supermarket terbesar di Mall tersebut. Zain mendorong troli belanja sementara Nadine sibuk membaca nota kemudian tangannya sibuk memilih bahan pokok kemudian memasukkannya ke dalam troli.


Troli belanja hampir penuh dengan belanjaan yang di pilih Nadine.


"Nadine kamu nggak capek?..."


Zain berhenti di pendingin minuman kemudian mengambil sebotol minuman untuknya.


"Nadine kamu mau pilih yang mana?..."


Nadine menunjuk minuman isotonik, kemudian Zain mengambilkan untuknya.


"Kak, kok langsung di minum sih?.... Belum di bayar loh..."


"Aku haus. Apa kamu nggak haus?..."


"Haus sih, hehehe...."


"Kalau kamu mau beli sesuatu, ambil saja. Aku yang akan membayarnya."


"Nggak usah kak makasih." Nadine kembali berjalan memilih bahan sesuai nota.


"Makan dulu yuk, aku lapar?..."


"Boleh, aku juga lapar." Jawab Nadine.


"Aku taruh belanjaan dulu ya di mobil. Kamu tunggu di sini sebentar."


"Nggak mau, aku ikut aja."


***


Setelah meletakkan semua belanjaan di dalam mobil, mereka berdua kembali masuk kedalam Mall. Mereka berjalan-jalan sembari berbincang-bincang.


"Apa cita-cita kamu sampai nekat merantau jauh?..."


"Cita-cita ku nggak muluk-muluk kok kak, berharap dengan ijazah kuliah jebolan dari universitas favorit, aku bisa melamar pekerjaan yang gajinya besar biar bisa memperbaiki perekonomian keluarga."


"Itu sih bukan cita-cita namanya. Emangnya kamu nggak ada keinginan pengen jadi apa gitu?..."


"Pengennya sih jadi dokter, tapi kayaknya IQ ku kurang deh... Apalagi aku takut tuh lihat darah, jadi nggak bakalan sukses jadi dokter. Makanya aku ambil jurusan yang banyak di butuhkan di perusahaan."


"Jadi setelah lulus kuliah kamu masih mau bekerja?...."


"Iya lah kak, biar ada gunanya aku menimba ilmu jauh-jauh. Biar ilmu ku nggak sia-sia."


"Kalau kamu sudah menikah, apa masih mau bekerja?..."


"Tergantung sih kak, kalau sama suami di izinkan, Ya aku kerja. Tapi kalau sama suami nggak di izinin, ya nggak kerja."


"Bagus lah kalau begitu." Jawab Zain.


"Kenapa?..."

__ADS_1


Zain menjulurkan telapak tangannya saat sudah sampai di depan eskalator.


"Kak kok nggak naik pakai lift sih?..."


"Liftnya antri."


"Sepi gitu..." Nadine menunjuk lift yang sepi. Tapi Zain tak peduli.


"Ayo...." Menyentuh tangan Zain mengingatkan kejadian yang sudah lama berlalu, ketika Zain begitu cuek dan ketus padanya. Dengan langkah hati-hati Nadine berpijak pada anak tangga eskalator. Ketika tubuhnya terhuyung ke belakang, refleks dia merangkul lengan kokoh Zain.


"Kalau naik tangga berjalan jadi ingat kakak yang dulu cuek dan ketus sama aku." Ucap Nadine yang sudah melepaskan tangan Zain.


"Sekarang kan aku sudah berubah? Sudah tidak cuek dan ketus lagi..."


"Iya sih."


***


Mereka memasuki rumah makan tempat pertama kali mereka kencan. Mereka memilih tempat duduk yang sama seperti dahulu. Mereka memesan makanan yang tertera di dalam daftar menu.


"Kak, kok pilih tempat ini lagi sih?..."


"Tidak apa-apa, mengenang masa lalu?..."


"Aku makan pakai sendok nggak pakai sumpit lagi." Ucap Nadine merengut.


"Hahahaha...." Zain tertawa lepas mengingat hal konyol yang di lakukan oleh Nadine dahulu.


"Lih malah ketawa...."


"Habisnya kamu lucu sih."


"Bukan lucu kak, tapi malu-maluin." Zain kembali tertawa melihat dan mengingat ekspresi wajah Nadine dulu.


Nadine terus menatap lekat wajah sumringah Zain.


"Kalau ketawa kak Zain jadi tambah ganteng."


Zain menghentikan tawanya.


"Masak sih?...."


"Iya, senyumannya aja bikin meleleh apa lagi tawanya." Rayuan gombal Nadine membuat Zain tersipu malu.


Tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang. Mereka berdua makan sembari berbincang-bincang hal ringan.


***


"Mau nonton bioskop nggak???..." Zain bertanya.


"Nggak kak, kapan-kapan aja."


"Kalau begitu ayo ikut aku." Zain kembali menggenggam tangan Nadine. Nadine mengikuti kemana pun Zain melangkah.


"Kak mau kemana?..." Nadine menarik tangannya ketika kaki Zain memasuki toko perhiasan.


"Bantu aku memilih perhiasan..."


"Buat siapa?..."


"Buat calon istriku."


"Deg...." Kok sakit ya dengar kak Zain bilang beli perhiasan untuk calon istrinya.


"Kak Zain udah punya calon istri?..." Zain tak langsung menjawab, matanya sibuk mencari bentuk perhiasan yang di rasa paling cantik.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?..." Ucap penjaga toko.


"Saya mau beli cincin pertunangan?..."

__ADS_1


"Oh, di bagian sini tuan." Penjaga toko menggiring Zain ke sebelah kanan. Nadine hanya bisa mengikuti.


__ADS_2