
"Capek ya?..." Zain mengusap peluh yang membasahi kening istrinya.
"Iya, kak."
"Yuk beli minum dulu, abis itu istirahat. Kamu sedang hamil, nggak boleh kecapekan." Zain menarik tangan Nadine dan membawanya ke stand yang menjual beraneka makanan dan minuman di pameran Mall.
Setelah Zain memesan makanan dan minuman, Nadine menepuk-nepuk lengan suaminya ketika melihat seseorang yang mirip Dion dan Zahra yang sedang berpose dengan sangat romantis dan lucu.
"Ada apa?..."
"Itu mirip Zahra sama kak Dion." Nadine menunjuk ke arah stand seniman.
"Itu memang mereka." jawab Zain setelah melihat ke arah yang Nadine tunjuk.
"Pffffffffhhhhhh hahahaha....." Nadine tertawa terbahak-bahak melihat pose mereka berdua yang teramat lucu luar biasa.
"Kenapa tertawa?..."
"Ya ampun kak, perutku sampai sakit nih."
"Sakit gimana?...." Zain terlihat panik memegangi perut Nadine karena khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Tenang kak, tenang.... Aku nggak apa-apa kok, cuma senang aja lihat kedekatan mereka." Nadine mulai menghentikan tawanya.
"Oh, ku pikir kenapa."
"Ayo kak, kita ke sana."
"Kita ke tempat lain saja, aku sedang malas ribut."
"Iya." jawab Nadine tapi langkahnya malah tertuju pada Zahra dan Dion. Zain geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya sembari mengekori Nadine.
"Kak, nanti jangan cari ribut ya sama kak Dion."
"Harusnya kamu katakan itu padanya dan bukan padaku."
"Pokoknya kakak harus mengalah, apapun yang kak Dion lakukan, jangan di ladeni."
"Aku tidak bisa janji."
***
"Zahra, kak Dion." Zahra dan Dion menoleh berbarengan dan langsung berdiri ketika melihat Nadine tersenyum ramah pada mereka.
"Eh, Nadine kamu ada di sini juga." wajah Zahra bersemu merah karena malu tepergok berpose dengan Dion yang menurutnya alay. Sedangkan Dion dan Zain saling menatap dengan sorot mata permusuhan.
__ADS_1
"Iya nih, aku lagi jalan-jalan sama suamiku. Lagi ngidam pengen main di Mall."
"Kamu hamil Nad?..." tanya Zahra bahagia. Dion seketika memutus kontak matanya dari Zain dan beralih menatap Nadine dengan rasa tak percaya menantikan sebuah jawaban.
"Iya, Alhamdulillah." jawab Nadine ragu sembari mencuri pandang sekilas ke arah Dion, ingin tahu reaksi seperti apa yang akan Dion tunjukkan. Kecewa, ya tatapan kecewa seorang pemuda yang patah hati.
Ada rasa pahit di hati Dion ketika melihat wanita yang dulu ia puja-puja, kini benar-benar lepas dari genggamannya.
"Ra, yuk cabut." pinta Dion dengan raut wajah sedih, tak secerah tadi.
"Loh kak, mau kemana?..." tanya Nadine, ia tak ingin bermusuhan dengan Dion. Nadine berharap Setidaknya walaupun tidak berjodoh tapi mereka masih bisa berteman. Zahra memperhatikan kemelut antara Nadine dan Dion, sementara Zain hanya memperhatikan dirinya, menatap Zahra dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik.
"Elo nggak mau kan kalau gue sama suami elo yang arrogant itu ribut lagi." Nadine menggelengkan kepala dengan raut wajah sendu.
"Jaga pandangan mata elo. Emang nggak cukup elo sama satu wanita dalam hidup elo. Elo merebut Nadine dari gue, jangan coba-coba yang lain. " ucap Dion ketika menyadari Zain yang sedari tadi menatap Zahra dengan intens.
Emosi Zain sudah mencuat, tangannya terkepal rahangnya mengeras. Ingin sekali dia menghajar pemuda di hadapannya jika saja Nadine tidak memeluk tangannya dan memberikan tatapan memelas.
"Udah kak, ayo...." Nadine menarik tangan Zain dan membawanya pergi menjauh. Menyatukan mereka adalah sebuah kesalahan menurut Nadine saat ini.
***
"Maaf ya kak, nggak seharusnya aku bawa kakak ke sana. Ku pikir setelah melihat mereka begitu dekat, kak Dion bakal baik lagi sama aku."
"Kakak marah?..."
"Mana bisa aku marah padamu. Apa lagi ada ini." Zain mengusap lembut perut Nadine yang kini tengah tumbuh buah cintanya.
***
"Kakak kenapa sih selalu marah-marah tiap ketemu sama suaminya Nadine. Kakak belum bisa move on ya?..." Zahra bertanya dengan tatapan sendu.
"Move on itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Zahra. Aku tidak ingin dekat-dekat dengan Nadine karena ini caraku untuk melupakan perasaanku padanya."
"Kakak masih cinta sama dia?..."
"Masih. Tapi rasanya sudah tak sebesar dulu. Perasaanku mulai rontok sedikit demi sedikit."
"Ikhlas kak, terima semua dengan lapang dada."
"Bicara mu kayak pernah jatuh cinta aja."
"Aku emang pernah jatuh cinta."
"Loh, gimana sih. Katanya nggak pernah pacaran!..."
__ADS_1
"Jatuh cinta nggak mesti harus berpacaran dulu kan kak. Yang cinta aja belum tentu bisa pacaran dan yang pacaran pun belum tentu saling cinta." Zahra dan Dion melangkah keluar dari area pameran menuju lift.
"Emangnya kamu pernah jatuh cinta sama siapa?..."
"Aku malu." Zahra tersenyum malu-malu membuang muka.
"Kenapa malu?..."
"Sampai detik ini, dia bahkan nggak pernah menyadari perasaanku."
"Siapa sih pemuda istimewa yang bisa meluluhkan hati neng Zahra?... Aku jadi penasaran!..." Dion menatap Zahra dengan tatapan jenaka. Membuat gadis yang memiliki senyum manis itu tersenyum tersipu malu.
"Rahasia."
"Kalau kamu nggak ngasih tau pemuda itu, mana bisa dia tahu."
"Malu lah kak, masa' perempuan mau nyatain cinta duluan."
"Ngapain harus malu, toh aku juga nggak kenal sama cowok yang kamu cintai. Ya kecuali cowok yang kamu cintai aku, masih pantes sih kamu malu. Tapi mustahil seorang Zahra mencintai pemuda seperti ku." Zahra tertegun mendengar penuturan Dion.
"Jangan melihat ku seperti itu, yang kamu cintai pasti Gus Fauzan." Zahra menggelengkan kepala sembari tersenyum
"Kita mau kemana kak...?"
"Terserah kamu."
"Ke Gramedia yuk, cari buku."
***
Zahra dan Dion mengelilingi setiap rak buku, mencari buku bacaan yang akan menarik perhatiannya. Dion menghentikan langkahnya, fokus mencari-cari judul komik Naruto dan Inuyasha. Zahra terus melangkah mencari buku-buku di rak buku yang lain, sebab tak tertarik dengan buku yang Dion pilih.
Zahra tertarik dengan buku bacaan yang berjudul 'KU PINANG KAU DENGAN BISMILLAH' namun letak posisi buku tersebut di bagian rak paling atas, tempat itu terlalu tinggi bagi Zahra yang mungil. Zahra berjinjit untuk bisa meraih buku itu, tapi tangannya tak sampai.
Zahra terkejut ketika ada tangan di belakangnya meraih buku itu, Zahra membalik tubuhnya ketika Zain sudah mundur beberapa langkah.
"Ini." Zain menjulurkan buku tersebut kepada Zahra.
"Terima kasih. Eemmmm, Nadine di mana kak?..." ucap Zahra setelah menerima buku itu.
"Di sana. Sedang membaca buku." Zain menunjuk ke arah timur.
Zahra menggosok tengkuknya, bingung harus berkata apa lagi. Dia merasa ada perasaan aneh yang terselip di hatinya ketika dekat dengan Zain, mereka berdua tidak pernah sedekat ini sebelumnya, Zahra sangat canggung, apalagi pria itu memberikan tatapan yang aneh padanya.
"Perasaan apa ini?... Kok aku jadi gugup kayak gini sih. Biasanya aku gugup cuma kalo liat dan dekat sama kak Dion aja. Nggak mungkin kan aku naksir sama suami sahabatku sendiri."
__ADS_1