Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
SAMPAI KAPAN KAMU MAU MENGHINDARIKU???...


__ADS_3

Zain begitu syok, ini tidak sesuai rencana. Nadine pasti salah paham. Mungkin memang cara Zain untuk memiliki Nadine salah tapi Zain tidak pernah sedikitpun berniat untuk menagih hutang pada orang tua Nadine. Zain hanya ingin Nadine bergantung padanya dan mau menikah dengannya walaupun dengan terpaksa. Setelah menikah, Zain akan berusaha meluluhkan hati Nadine. Tidak apa-apa meskipun Nadine tidak mencintainya, Zain tetap akan memberikan cinta yang besar untuk Nadine. Sekarang Nadine pasti sangat membencinya.


Selain ingin menikahi Nadine, Zain juga ingin menyelamatkan Nadine dari anak pak kades yang juga ingin menikahi Nadine. Karena anak pak kades memiliki karakter yang buruk, suka bermain wanita dan foya-foya.


"Nadine, aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Zain dengan suara bergetar, pantas saja Nadine marah, pantas saja Nadine kecewa.


"Huuuuufffhhh...." Nadine menghela nafas dalam."Jadi benar, kakak yang udah jebak dan menjerat orang tuaku hingga terlilit hutang." Air mata yang sejak tadi Nadine tahan akhirnya meluncur jua."Aku kecewa sama kamu kak. Tega kamu, sejahat itu sama aku dan orang tuaku." Nadine segera menyapu air matanya. Lalu mendorong dada Zain, kemudian Nadine pergi namun Zain segera menghadang jalannya.


"Nadine kamu salah paham, Aku hanya ingin membantu orang tuamu melunasi hutang-hutangnya pada pak kades, karena aku tidak ingin melihat kamu di jodohkan dengan anaknya."


"Kakak pikir orang tuaku tak sanggup bayar!!!...Terus sekarang kakak mau bilang kalau kakak itu adalah pahlawan?..."


"Tidak Nadine, tidak seperti itu."


"Membantu masalah orang tuaku dengan cara menjerat orang tuaku dengan hutang yang lebih besar, begitu!!!..."


"Nadine, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menagih hutang pada orang tuamu."


"Jangan khawatir kak, aku akan melunasi semua hutang orang tuaku. Tapi tidak sekarang. Aku bayarnya nyicil."


"Nadine, aku tidak mau uang. Aku mencintaimu, Aku hanya mau menikah dengan mu."


"Tapi maaf, aku tidak Sudi menikah dengan pria berhati licik seperti mu. Dan mulai sekarang jangan pernah coba-coba untuk mendekatiku lagi." Dengan mata penuh linangan air mata, Nadine mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Zain. Begitu sakit, begitu tersiksa, hati Nadine mengucapkan hal itu. Hati kecilnya ingin bertahan dengan Zain tapi logikanya menolak. Nadine masih punya harga diri setelah di permainkan begitu dalam. Hatinya menginginkan Zain tapi egonya menolak.


"Deg..." Hati Zain begitu sakit, dadanya terasa begitu sesak, kembang-kempis ia bernafas. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya, lagi-lagi Nadine menolaknya.


"Nadine, kamu bicara apa?... Aku berjanji mulai sekarang aku akan berubah dan memperbaiki diri." Zain mencekal pergelangan tangan Nadine ketika Nadine hendak pergi.


"Memperbaiki diri???...." Nadine menatap nyalang ke arah mata Zain kemudian beralih menatap tangannya yang di cekal oleh Zain."Baru semalam kamu berjanji untuk tidak menyentuhku lagi. Tapi sekarang!.... Orang yang tidak amanah seperti mu mana bisa di percaya."

__ADS_1


Dengan terpaksa dan dengan hati yang begitu berat, perlahan Zain melepaskan tangan Nadine.


"Nadine aku minta maaf, aku sangat mencintaimu. Maaf, aku sudah khilaf."


Nadine pergi tanpa mau menoleh ke belakang, air mata tumpah ruah di membanjiri pipinya, dia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan Isak tangisnya. Nadine tak pernah menyangka bahwa patah hati akan sesakit ini.


Zain hanya bisa melihat punggung Nadine hingga hilang di balik pintu, tanpa terasa air mata menetes mewakili isi hati, membasahi pipinya dan segera ia sapu.


Di dalam kamar mandi, Zain mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.


"Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh.... Apa yang sudah ku lakukan..." Berkali-kali Zain meninju dinding kamar mandi untuk meluapkan semua emosinya. Air shower terus menyapu air mata yang mengalir dari mata Zain. Hatinya begitu sakit, dia menyesali kebodohannya. Zain dapat melihat luka dan rasa kecewa di mata Nadine terhadapnya.


Nadine meringkuk di bawah selimut, wajahnya ia tutupi dengan bantal agar Isak tangisnya tidak terdengar hingga keluar. Dia menangis sejadi-jadinya, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang bersarang di hatinya.


Mungkin rasanya tidak akan sesakit ini jika Nadine tidak mencintai Zain. Luka sedalam ini hanya bisa di torehkan oleh orang yang sangat di cintai.


***


"Nadine, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal." Nadine bungkam, tangannya sibuk membersihkan debu-debu di atas meja.


"Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa."


Nadine tetap bergeming.


"Nadine Kenapa kamu diam saja?...." Mendengar pertanyaan semacam itu, Nadine segera beranjak.


"Nadine buatkan aku susu." Zain sedikit berteriak agar Nadine bisa mendengarnya. Melihat perubahan sikap Nadine membuat hati Zain gelisah, dadanya terasa sesak.


Beberapa saat kemudian Nadine menghampiri Zain di ruang tamu dengan membawa nampan berisi segelas susu. Nadine pun segera pergi tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


"Nadine buatkan aku teh..." Ucap Zain sebelum Nadine menghilang di balik pintu.


"Dia masih marah padaku..."


Lagi-lagi Nadine datang dengan membawa segelas teh. Wajah Nadine datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum seperti biasanya di wajahnya.


"Nadine buatkan aku kopi." Nadine segera pergi dan kembali dengan secangkir kopi di tangannya, secepat mungkin Nadine meletakkan kopi di hadapan Zain, Nadine tahu Zain tidak mengonsumsi kopi. Zain hanya ingin berinteraksi dengannya.


"Nadine buatkan aku telur mata sapi."


Berulang kali Zain menyuruh Nadine melakukan ini itu, berharap Nadine akan bersuara. Namun Nadine masih bersikap acuh walaupun dia tetap melakukan perintah dari Zain. Zain menghela nafas panjang melihat perubahan sikap Nadine. Biasanya Nadine akan protes panjang kali lebar jika Zain bersikap semena-mena padanya. Kali ini Nadine benar-benar marah. Zain ingat betul Ucapan Nadine dulu ketika Zain hampir menciumnya di rumah sakit."Aku tidak marah, kalau marah aku tidak akan bersuara."


Zain selalu berusaha mendekati Nadine, tapi yang di dekati selalu menghindar.


Satu bulan sudah berlalu tapi Nadine tetap bersikap acuh pada Zain, berangkat kuliah tak pernah satu mobil dengan Zain, tak pernah keluar satu kata pun dari bibir Nadine untuk Zain. Nadine benar-benar menghindari Zain. Hal itu membuat hatinya begitu sakit dan gelisah, sikap Nadine membuat Zain tersiksa.


Hari Minggu, Zain berdiri di balkon. Hanya bisa menyaksikan Nadine dari jauh. Selalu curi pandang pada Nadine. Dengan seksama Zain memperhatikan Nadine yang sedang menjemur pakaian.


Beberapa menit kemudian....


"Aku sudah tidak tahan...." Zain keluar dari kamar dan berjalan menuju tempat Nadine menjemur pakaian.


"Sampai kapan kamu akan mendiamkan ku seperti ini?..." Zain bertanya sembari tangannya sibuk membantu Nadine menjemur pakaian.


***


Yang mau gabung GC Alwi 1234 silahkan mumpung masih Nerima lowongan....


Dan untuk kuisnya jangan lupa bagi hadiah pulsa menunggumu.

__ADS_1




__ADS_2