Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
ALASAN MENGADOPSI MIRANDA


__ADS_3

Miranda meraih tangan Nadine kemudian menciumnya. Dia pun menghampiri Zain lalu mengecup tangannya. Zain mengusap lembut kepala Miranda.


Sementara Nadine mengemasi perlengkapan sholatnya. Sesekali dia melirik ke arah Zain. Pikirannya bertanya tanya, siapa Miranda?... Kenapa mereka bisa seakrab itu. Apakah dia saudaranya?... Tapi kenapa tidak mirip?... Apakah dia anaknya?... Tapi kenapa memanggilnya kakak?...


"Kak Nadine." Miranda memanggil Nadine.


"Iya..."


"Nggak Salim sama kak Zain?..."


"Mana boleh?..." Jawab Nadine sembari tersenyum.


"Kenapa?..." Miranda masih bertanya dengan polosnya.


"Masih belum di halalin. Belum." Jawab Zain dengan tatapan serius, matanya masih tak mau berpaling dari wajah Nadine.


Sekilas Nadine melihat ke arah Zain karena sejak tadi dia merasa Zain terus saja memperhatikannya. Benar saja dugaan Nadine Zain tak berkedip sama sekali, menatap dirinya dengan tatapan yang tak terbaca. Nadine yang melihatnya jadi salah tingkah.


"Dia kenapa sih?... Belakangan ini kok jadi aneh..." Nadine bergumam dalam hati.


Nadine bergegas pergi, tak mau mengartikan ucapan Zain lebih dalam lagi. Zain menatap kepergian Nadine yang hilang di balik pintu.


***


Zain memberikan Hpnya pada Miranda, ia membuka aplikasi YouTube untuk Miranda agar dua duduk manis di tempat tak berkeliaran kemana mana.


Zain berjalan menyusuri setiap tempat mencari keberadaan Nadine, namun gadis itu tidak nampak di mana-mana. Dimana gadis itu, Zain berlari-lari kecil menuju balkon. Di lihatnya Nadine sedang menjemur pakaian. Zain segera turun dan menghampiri Nadine. Perasaan bahagia membuncah setiap berada di dekat Nadine.


"Nadine..."


"Ya ampun kak, bikin kaget aja." Zain memanggil Nadine hingga yang di panggil tersentak. Bagaimana tidak tersentak, ketika Nadine sedang menjemur pakaian tiba-tiba muncul suara Zain dari belakang.


"Maaf..." Zain merasa bersalah, dia merasa canggung berdekatan dengan Nadine.


"Ada apa kak?..."


"Tolong, buatkan aku teh dan buatkan Miranda susu."


"Kak bisa minta buatkan sama ART yang lain nggak!... Soalnya cucian aku masih banyak yang belum di jemur." Nadine meminta dengan tatapan memohon.


"Aku cuma mau teh buatan tangan mu?..." Zain berkilah, padahal dia hanya ingin berbicara dan berada di dekat Nadine.


"Ya udah, tunggu aku selesai jemur pakaian ya kak. Sebentar kok kalo cuma jemur." Tangan Nadine masih sibuk mengibas ngibaskan pakaian yang masih basah kemudian menjemurnya.


"Kenapa masih berdiri di situ kak?..." Nadine menoleh, melihat Zain yang masih berdiri di sampingnya.


"Eh, emmm... Emmm... I- Itu, aku menunggumu jemur pakaian biar cepat selesai." Zain tergagap, berada di dekat Nadine membuatnya grogi.


"Kalau cuma di liatin aja ya nggak selesai selesai kak."


"Ya sudah, Kalau begitu aku bantu."

__ADS_1


"Nggak usah kak biar aku aja."


Zain tetap mengambil pakaian yang berada di dalam ember kemudian menjemurnya. Walaupun Nadine menolak bantuan dari Zain, dia tetap memaksa. Akhirnya setelah terjadi perdebatan kecil, Nadine membiarkan Zain membantunya.


Ketika Zain mengambil pakaian basah di ember dia malah tak sengaja memegang tangan Nadine yang juga hendak mengambil pakaian di ember. Begitu saja sudah membuat hatinya berdendang. Keduanya sama-sama diam, saling pandang, terpaku.


"Ehem..." Nadine berdehem, Zain segera melepaskan tangannya. Zain kebingungan, memijat tengkuknya.


Nadine tersenyum ketika mengendus aroma parfum yang menguar dari tubuh Zain. Dia kenal betul dengan aromanya. Dia berinisiatif untuk menggodanya.


"Hemmm.... Katanya bau parfum yang ku pakai bikin pusing!!!.... Kok di pakai?..." Nadine tersenyum menyindir.


Zain begitu malu, wajahnya bersemu merah seperti anak gadis. Ia seperti seorang pencuri yang ketahuan mencuri merk parfum orang.


"Miranda yang memberikannya padaku." Zain berkilah.


"Hemmmm... Kok bisa sama ya dengan yang biasa aku pakai, padahal itu 5 merk di oplos jadi satu." Nadine kembali mencibir menggoda Zain, dia tahu Zain sedang berbohong. Bukankah terbalik, biasanya pria yang menggoda wanita, lah Ini si wanita yang menggoda pria.


"Aku harus pergi, Miranda pasti mencariku..." Zain melangkah lebar meninggalkan Nadine seorang diri.


"Aneh..." Nadine menggelengkan kepala, melihat kelakuan Zain yang akhir akhir ini terlihat aneh.


***


Nadine memasuki ruang makan, di sana sudah ada Zain dan Miranda. Nadine meletakkan teh di hadapan Zain dan susu di hadapan Miranda.


"Terimakasih..." Jawab Zain dan Miranda kompak.


"Semalam, Tante. Abis jalan jalan langsung ke sini. Itu adik barunya Tante ya?..." Miranda menunjuk Putri yang berada di gendongan Rani.


Miranda menghampiri Rani, ingin melihat Putrinya.


"Wah, Putri cantik Tante ...." Ucap Miranda dengan wajah berbinar-binar.


"Iya, karena bapaknya ganteng." Jawab Iqbal tanpa mau melihat Miranda, kesannya cuek walau sebenarnya peduli. Rani hanya mencibir melihat tingkah suaminya.


"Sebenarnya Miranda pengen cium Putri tapi nggak di izinin sama kak Zain." Ucap Miranda dengan wajah merengut.


"Loh kenapa?..." Rani bertanya penuh keheranan.


"Kata Kak Zain, Om Iqbal galak. Takut Miranda kena semprot." Jawab Miranda.


"Uhuuuk Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk...." Zain terbatuk-batuk tersedak teh yang ia teguk ketika mendengar jawaban dari Miranda. Zain menunduk ketika Iqbal menatapnya tajam, setajam silet.


Sedangkan Rani malah tertawa terbahak bahak, dia mengakui jika suaminya memang galak. Miranda tak mengerti dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh semua orang yang terlihat berbeda-beda.


***


Beberapa saat kemudian Nadine kembali masuk ke ruang makan untuk menata makanan yang baru saja selesai di buat oleh ART di atas meja makan.


Di meja makan sudah ada Rani yang menyuapi Putri dengan susu sementara Iqbal membaca koran.

__ADS_1


Diam-diam, Zain curi pandang pada Nadine Ketika menata makanan di atas meja makan.


Sedari tadi Rani memperhatikan gerak-gerik Zain. Menatap Zain dengan tatapan menyelidik.


Dari raut wajahnya, Rani tahu jika Zain tertarik pada Nadine. Sejak mengenal Zain, dia tidak pernah bersikap aneh seperti ini.


"Jaga pandangamu Ran." Iqbal menatap Rani dengan tatapan sinis.


"Hehehe, sepertinya ada yang lagi kasmaran Pa!!!...." Rani terkekeh ketika Nadine melihatnya sedangkan Zain malah menegakkan punggungnya, memasang wajah datar, pura pura tak tahu maksud Rani.


"Aku sudah tahu. Kamu tidak perlu ikut campur." Jawab Iqbal. Rani pun merengut.


***


Siang hari Rani menghampiri Nadine dan Miranda yang bermain di halaman belakang rumahnya. Dia memperhatikan Miranda yang bermain boneka di bawah pohon bersama Nadine. Rani pun ikut duduk di atas tikar yang di gelar.


"Kalian sedang main apa?..."


"Eh, main boneka kak..."


"Putri mana kak?..."


"Lagi main sama Papanya?... Miranda udah makan belum."


"Udah Tante."


Cukup lama mereka berdua berbincang-bincang, bertukar pendapat. Sedangkan Miranda sibuk bermain boneka.


"Oya kak?... Miranda itu siapanya kak Zain?..."


"Adik angkatnya?..."


"APA?....Adik angkat?..." Nadine terkejut.


"Iya..."


"Kak Zain udah punya istri nggak kak?..."


"Boro-boro punya istri, pacar aja nggak punya."


"Nggak punya istri kok ambil anak angkat?... Bukannya kalau Ambil anak angkat itu tanggung jawabnya besar. Kalau kak Zain itu nggak punya istri terus siapa dong yang jagain Miranda?..."


"Ada, bi Nurul orang kepercayaannya. Dia udah lama bekerja dengan Zain. Zain itu mengadopsi Miranda karena namanya sama dengan adiknya yang hilang. Entah lah, dia udah meninggal atau masih hidup?..."


"Kok bisa?..."


***


Author.


Ini udah up kemaren tapi nggak lulus riview.

__ADS_1


__ADS_2