
"Tuan, anda tidak apa-apa?"
"Kau tak lihat, aku menderita begini!" jawab Iqbal dari balik jeruji besi. Zain memperhatikan Iqbal, yang tengah menyesap rokok, sedangkan kakinya di pijit oleh dua napi yang wajahnya babak belur karena di hajar Iqbal. Mereka babak belur karena berusaha membully Iqbal. Mereka tak tahu siapa yang mereka hadapi.
"Pengacara akan membebaskan Anda, karena status anda masih praduga tak bersalah." ucap Zain.
Di dalam saku jas, hp Zain bergetar.
Id call nona Rani.
"Tuan, nona Rani telpon."
"Berikan padaku."
"Pa, kamu baik-baik aja kan?" suara Rani terdengar bergetar dan parau, sejak tadi menangis tiada henti memikirkan suaminya. Ingin membesuk tapi pengawal malah mengurungnya.
"Ya, aku baik. Jangan menangis, kau malah membuatku bingung. Sebentar lagi aku pulang."
"Janji ya."
"Iya." Iqbal segera mematikan teleponnya karena tak ingin mendengarkan suara Rani yang serak.
Tak lama berselang, sipir datang bersama pengacara. Membuka gembok yang mengunci terali besi. Membebaskan Iqbal.
"Anggota kita akan bentrok dengan kelompok Steven karena berpikir Anda telah membunuh ketuanya. Ada yang Ingin mengadu domba kelompok kita." ucap Zain sembari melangkah keluar dari kantor polisi.
__ADS_1
"Aku tahu. Segera temukan pelaku yang sebenarnya, sebelum terjadi pertarungan."
***
Anggota Zain menelusuri TKP, mencari barang bukti yang bisa membebaskan Iqbal dari segala tuduhan. Ada bercak darah yang mengering, tong sampah, pembatas warna kuning.
Salah satu anggota di kejutkan oleh anak muda berusia sekitar belasan tahun yang memasuki garis batas polisi.
"Heh anak kecil, pergi kau dari sini. Ini bukan tempat bermain anak-anak."
Anak itu mendongak ke atas melihat pria bertubuh besar dan tinggi, menatapnya dengan tajam.
"Aku melihatnya." ucap anak tersebut.
"Apa maksudmu?"
"Hey, kau jangan main-main."
"Sebelum di tusuk dengan pisau, kepalanya di hantam dengan batu ini." Anak itu mengangkat tinggi-tinggi batu dalam plastik. Anak buah Iqbal berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan anak misterius itu. Menatap ke dalam matanya, ada dendam, kegelapan dan duka di sana.
"Aku mengambil batu ini dengan plastik sebelum korban di tusuk. Saat aku bersembunyi, pelaku mengatakan akan mengadu domba kelompok serigala hitam dan naga hitam." Anak itu bercerita, telunjuknya mengacung berpindah-pindah sesuai dengan yang ia lihat.
"Apa kau masih ingat wajah si pelaku?"
"Tak lupa sedikitpun."
__ADS_1
"Ayo ikut aku."
***
"Hallo?" Di dalam mobil, Zain menerima panggilan telepon, mendengar dengan seksama penjelasan dari anak buahnya.
"Culik mantan istri dan anaknya. Tapi jangan lukai mereka."
"Bagaimana?" tanya Iqbal setelah Zain menutup panggilan teleponnya.
"Pelakunya adalah Heru."
"Sudah ku duga. Harusnya dulu aku membunuhnya."
Baru saja Iqbal dan rombongannya sampai di depan penthouses, sudah di sambut oleh Dion, Nadine, Rani dan Zahra. Rani berhambur ke pelukannya, tubuhnya bergetar. Tanpa berkata sepatah kata pun, Rani hanya menangis. Rani merasakan tepukan lembut di punggungnya. Sementara yang lain hanya menonton.
"Sudah jangan menangis, malu di lihat orang."
"Aku takut."
"Sudah lah, ayo masuk." ucap Iqbal.
"Kakak, nggak apa-apa." tanya Nadine dengan raut cemas."
"Yang masuk penjara Tuan Iqbal, bukan aku." jawab Zain. Baru satu beberapa langkah kaki mereka berpijak, sudah di kejutkan oleh suara dentuman besar.
__ADS_1
BRAAAK... Truk besar menabrak gerbang, semua orang di kejutkan dengan truk yang melesat cepat memasuki halaman penthouses. Dalam hitungan detik, gerombolan orang berbadan besar membawa senjata tajam berhambur keluar dari truk.