Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BONUS VISUAL


__ADS_3

Nama : Zain Alfaro.


Karakter : Dingin, pendiam, setia, tegas, dan teguh pendirian.


Nama : Nadine Sakhi Albiru.


Karakter : Ceria, ceriwis, mandiri, dewasa kadang kekanak-kanakan.


Nama : Dion Alfarizi.


Karakter : Baik hati, setia, humoris, dan bijaksana.


Nama : Riska Cantika.


Karakter : Lemah lembut tapi licik.


Nama : Zahra Ainur Rofiq.


Karakter : Sholehah dan lemah lembut.


Nama : Alexander Lemos.


Karakter : Humoris, romantis dan playboy tapi baik hati.


Nama : Habibi Andhra


Karakter : Baik, setia dan konyol.


Nama : Ganis Ganjariani.


Karakter : Tangguh, ceria dan baik.


Zain berbalik hendak pergi, namun Riska menarik tangannya. "Zain kenapa hatimu keras sekali, tidak bisakah kamu memberikan ku kesempatan dan memaafkan kesalahanku?..." Suara Riska terisak, tangannya menutupi mulutnya.


"Bercermin lah, agar kau tau alasan ku selalu menolak mu. Kau meminta satu kesempatan padaku dan aku sudah memberikannya. Tapi kau gagal. Sudah lama kau Kehilangan cinta ku jadi jangan pernah mencari itu di hatiku." Ujar Zain dengan tatapan mengintimidasi. Setelah menepis tangan Riska, Zain pun pergi meninggalkan Riska.


Riska merosot di atas lantai, dia duduk menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Zain.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Zain, harga diri dan martabat ku sudah di injak injak oleh Rangga hikzzzzz.... Lalu martabat apa yang masih aku miliki, martabat apa yang harus aku jaga.... Kau juga selalu menolak dan mempermalukan ku Zain. Setelah kepergian mu hidup ku hancur Zain.... Hikzzz.... Hancuuuuurrr... Apa salahku, aku hanya ingin bahagia dengan orang yang ku cintai.... Hikzzzzz...." Riska terus terisak dengan linangan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.


***


Setelah masuk ke apartemen dan mengambil kontak motor sport, Zain segera pergi.

__ADS_1


Niat hati Ingin pulang ke rumah Iqbal, malah melihat Nadine berboncengan dengan Dion.


Zain sangat benci melihat senyum merekah di bibir Nadine, apa lagi dengan tangannya yang mengikuti aksi film Titanic.(Merentang di udara). Kemudian Nadine memeluk pinggang Dion dengan erat tapi itu hanya khayalan Zain. Padahal Nadine hanya duduk biasa saja, memegangi tali tas yang menyilang di dadanya.


Zain menggelengkan kepalanya, memastikan bahwa orang yang ada di depannya adalah Nadine dan Dion. Ya, itu Nadine yang sedang duduk manis di belakang Dion.


Zain mempercepat laju motornya, memotong jalan Dion.


"Ciiiiiiiiittttttt...." Suara motor berdecit, Dion menginjak rem sepeda motornya secara mendadak.


"Kak begal." Pekik Nadine saat melihat ada pengendara motor berjaket kulit hitam memakai helm teropong menghadang jalan.


"Woy, mau mati Lo???...." Dion meneriaki pengendara motor di depannya.


"Kak Zain!!!..." Pekik Nadine terkejut setelah Zain membuka helmnya.


"Sialan, dia lagi." Ujar Dion.


"Nadine.... Turun dan kemari." Ucap Zain tegas dengan tatapan yang tajam, membuat bulu kuduk Nadine berdiri.


" Jangan turun, biar aku yang mengantarkan mu pulang." Dion menghalangi Nadine yang hendak turun dari motornya.


"Kak Dion. Biar aku pulang sama dia aja kak."


"Jangan sampai aku melakukan kekerasan disini, Nadine." Ujar Zain dengan sinis.


Nadine menarik narik baju bagian bawah Dion dan berbisik di telinganya."Kak, aku pulang sama dia aja ya, biar nggak di marahin bibi. Takut nggak boleh keluar lagi." Dion hanya mengangguk ngangguk mendengar Nadine. Kelakuan mereka berdua semakin membuat Zain darah tinggi.


Zain mengetuk ngetuk helm yang ada di depannya dengan jari telunjuknya, memperhatikan Nadine yang turun dari motor Dion.


"Udah, kamu pakai aja." Ujar Dion saat Nadine hendak membuka helmnya.


"Aku pinjem dulu ya, kak." Ucap Nadine.


"Helm itu untuk mu, kapan kapan kita kencan lagi, ting..." Ujar Dion tersenyum manis kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Nadine, membuat Nadine tersipu malu. Pemandangan indah yang membuat rahang Zain mengeras, tangannya sudah terkepal menahan amarah.


"Nadine..." Nadine menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Nadine melambaikan tangan pada Dion kemudian menghampiri Zain.


Setelah Nadine naik ke atas motornya, Zain mulai memacu kendaraannya dengan kecepatan yang lambat.


Sedangkan Dion masih membuntuti kendaraan yang di kemudikan Zain.


"Ada hubungan apa kamu dengan pemuda itu?..." Zain bertanya dengan tegas.

__ADS_1


"Dia cuma temanku kak."


"Berteman tapi kencang sampai tengah malam?..."


"Kak Zain, aku bisa jelasin."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Semuanya sudah jelas." Ujar Zain dengan nada ketus.


"Tapi kak, kak Dion bukan pacar ku. Tadi kami cuma jalan jalan di taman bermain, naik wahana dan nggak ngapa-ngapain.... Tolong jangan kasih tau bi Ijah kalau aku keluar sama cowok ya kak... Bilang aja aku keluar sama kak Zain jengukin kak Rani."


"Jadi penjelasan mu panjang lebar padaku hanya karena takut ketahuan sama bi Ijah." Zain bertanya dengan suara gusar.


"Iya..."Jawab Nadine singkat.


"Aaaaahhhh...." Nadine berteriak saat tanpa aba-aba Zain menarik gas dengan kencang hingga membuat Nadine oleng dan hampir terjerembab ke belakang. Refleks Nadine memeluk Zain.


"Woy,,, Jangan modus Lo.... Turun Lo." Dion mengejar motor Zain. "Jangan kurang ajar Lo sama cewek." Dion menuai protes, tak terima dengan kelakuan Zain. Hati Dion panas melihat Nadine memeluk Zain dari belakang.


"Plaaaakkk...." Nadine melepaskan pelukannya dan menepuk punggung Zain cukup keras."Kak, yang benar kalau nyetir. Aku hampir jatuh tau nggak. Kalau nggak bisa nyetir, aku pulang sama kak Dion aja." Lanjut Nadine berteriak karena suaranya di sapu angin jalanan. "Pulang sama kak Dion." Kalimat ini makin membuat Zain gusar.


"Aaaahhh...." Nadine kembali berteriak dan memeluk Zain dengan erat, saat Zain tanpa permisi menarik gas lebih kencang. Motor Zain melesat dengan cepat, meninggalkan Dion.


"Aaah sial, motor balap modifikasi. Motor gue mah kalah gesit." Dion geram melihat motor yang dikendarai Zain sudah jauh.


"Kak Zain aku takut." Nadine berteriak dari balik punggung Zain. Zain melirik spion, setelah yakin bahwa Dion sudah tertinggal jauh, Zain mulai menurunkan gasnya.


Nadine segera melepaskan pelukannya dan memukuli punggung Zain bertubi-tubi. Zain diam saja tidak melawan, membiarkan Nadine memukulinya hingga lelah dan berhenti.


Hening,,, Hanya terdengar suara deru motor. Keduanya bungkam dengan pikiran masing-masing. Keduanya sama-sama kesal dengan masalah di hati dan pikiran masing masing. Jika Nadine marah pada dirinya sendiri karena memeluk Zain. Lain halnya dengan Zain. Dia marah karena Nadine telah memeluknya, karena hal itu sesuatu sedang menggelepar di balik celananya.


"Kak, bisa cepat nggak sih...." Ujar Nadine ketus, dia sudah tak tahan karena Zain mengendarai motornya begitu lambat.


"Kenceng takut, pelan salah." Ujar Zain.


"Yang tadi kekencangan kak, sekarang kelambatan. Tuh lihat, masak kita bisa di salip sepeda ontel." Nadine ngedumel sambil menunjuk pengendara sepeda ontel yang menyalipnya.


"Modus, bilang saja pengen meluk aku." ujar Zain.


"Plaaakk...." Nadine menepuk punggung Zain cukup keras."Iiiiiihhhhh ngeselin, terserah deh. Ngebut iya, pelan iya...." Lanjut Nadine, kemudian melipat kedua tangannya di dada, melengos ke samping.


****


Jangan lupa dukung author pake Like n komentar.... like kan cuma tul tul tul.... Bagi vote dong... seikhlasnya aja.heheh

__ADS_1


__ADS_2