
Setelah tangisan Nadine terhenti, Zain melepaskan pelukannya kemudian menggendong Nadine dan membawanya naik ke atas ranjang.
"Wajahnya jangan cemberut gitu dong. Biar cantiknya nggak berkurang." Zain menarik kedua pipi Nadine agar terangkat keatas, Nadine pun memaksakan senyumannya.
Tangan Zain sudah gatal ingin memantau CCTV lebih seksama, tapi urung ia lakukan sebab lebih memilih untuk memeluk dan menghibur sang istri tercinta yang kini tengah duduk bersandar di headboard ranjang sembari berpelukan dengannya. Dia hanya mengirim pesan, menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki siapa saja orang yang dekat dengan Riska dan mencari tahu lelaki yang kemungkinan besar menghamili Riska.
"Kalau ngantuk, tidur."
"Nggak bisa tidur, kak."
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Aku akan segera mengurus masalah ini. Kamu tenang saja."
"Gimana nggak di pikirin. Aku istrimu tapi dia ibu dari anakmu. Rasanya tuh posisiku lebih rendah darinya." tutur Nadine menyampaikan segala gundah di hatinya. Zain meraih tangan Nadine lalu meletakkannya di dadanya, tangannya pun bertumpu di punggung tangan Nadine.
"Kedudukan tertinggi di hatiku, setelah Allah Subhanallah ta'ala dan nabi Muhammad, barulah kedua orang tuaku. Kemudian kamu." Nadine mendongak ke atas, untuk menatap mata suaminya penuh selidik. Mencoba mencari kebohongan di sorot mata tajam Zain, tapi tak kunjung ia temukan. Yang Nadine dapati hanyalah tatapan penuh cinta dan kejujuran. Nadine kembali memeluk Zain, Wajahnya bergumul di dada suaminya yang kini menjadi tempat favoritnya.
"Kalau dia mengandung anakmu bagaimana?..." pertanyaan yang sama, yang terus Nadine lontarkan. Sampai mulut Zain berbusa pun, penjelasannya masih belum bisa melegakan hatinya. Satu tetes air mata kini kembali meluncur.
"Belum tentu dia mengandung anakku."
"Kalau ternyata dia mengandung anakmu bagaimana?..."
"Sudah kukatakan aku tidak peduli....Huufff...."Zain menghela nafas panjang. "Sebenarnya ada faidahnya masalah ini datang."
"Faidah apaan?... Dadaku ini masih sesak loh kak, saking stresnya."
"Ya ini faidahnya."
"Jadi kakak senang lihat aku stres."
"Bukan itu maksudku."
"Terus apa dong?..."
"Aku senang melihatmu takut kehilanganku. Ku pikir, awalnya karena aku memaksamu menikah dengan ku, hingga kamu putus dengan mantan tercintamu yang jelek itu, kamu jadi membenciku dan berniat pergi dariku untuk kembali pada mantan pacarmu, karena mudah sekali kamu meminta cerai dariku. Tapi saat melihat kamu bersedih begini karena takut kehilanganku, membuatku lebih percaya diri sebagai suamimu." Zain menjabarkan semua isi pikirannya pada Nadine.
"Kakak, cinta sama aku?..."
"Ya, iyalah. Maka dari itu aku nekat melakukan apapun demi bisa menikahi mu."
"Termasuk nyulik kak Dion?..." Nadine bertanya, Zain pun mengangguk.
"Astaghfirullah hal adzin... Kok aku ngerasa nikah sama mafia ya!!!..." Zain hanya tersenyum tanpa mau menjawab.
"Sebenarnya aku nggak pernah cinta sama kak Dion, kak."
"Kalau nggak cinta kenapa pacaran sama dia?..."
"Mana tega aku nolak dia di hadapan banyak orang, kak. Aku kasihan aja sama dia, dia selalu baik sama aku. Selalu ada buat aku. Jadi terpaksa aku nerima dia. Sebenarnya aku masih kepikiran sih sama kak Dion, katanya dia sedang depresi."
"Lalu kamu cintanya sama siapa?..."
"Sama suamiku."
"Kenapa sejak menikah kamu tidak pernah sekalipun mengatakan cinta padaku."
"Memangnya kakak pikir aku pasrah di ranjang karena apa?..."
"Vulgarnya bibirmu...."
"Hahahaha... Ampun, kak... Ampun." Zain menggelitik pinggang Nadine.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kita harus terbuka. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi setelah ini." ucap Zain di sisa tawanya.
"Iya kak, ternyata memendam sesuatu bikin sesak dada."
"Jangan pernah meminta cerai dariku, karena itu sangat menyakitkan saat di dengar."
"Iya."
"Dari pada kita membahas hal yang tidak penting, mending kita bercinta."
"Kakak itu ya, di saat yang genting seperti ini pikirannya masih aja di situ."
"Bercinta itu obat mujarab bagi orang frustasi." Zain sudah menindih tubuh Nadine dan hendak menciumnya, tapi urung ia lakukan ketika mendengar suara ketukan pintu. Sepasang suami-istri itu saling pandang, dengan tatapan bertanya-tanya.
"Tunggu di sini sebentar."
"Aku ikut."
"Kamu tunggu di sini, aku akan membuka pintu."
"Kalau wanita itu yang datang gimana kak?..."
"Entahlah." Zain bergegas pergi. Nadine mengintip di bibir pintu.
***
"Lama sekali membuka pintu." Iqbal mendorong pintu yang sedikit terbuka oleh Zain lalu nyelonong masuk tanpa permisi.
"Maaf tuan." jawab Zain sembari mengikuti Iqbal yang kini sudah duduk di atas sofa.
"Mana kopi untukku?..."
"Iya, tunggu sebentar, Tuan." Zain hendak bangkit untuk membuat kopi, namun kembali duduk ketika mendengar perkataan Iqbal yang menyebalkan.
"Bisa Tuan, tunggu sebentar." ucapnya pada Iqbal. "Nadine, kemari sebentar." Zain sedikit berteriak. Tak lama kemudian Nadine menghampiri Zain.
"Buatkan kopi di cangkir ukuran sedang. Kopinya satu sendok penuh, gulanya satu sendok setengah. Jangan pakai air dispenser, tapi air mendidih langsung dari kompor. Ngaduknya searah jarum jam." Nadine mengernyitkan dahinya sedikit bingung dengan bisikan Zain. "Mengerti." Nadine mengangguk kemudian pergi menuju dapur.
"Tadi Ken menghubungiku." ucap Iqbal tiba-tiba, Zain mengangguk, pasti Ken sudah menceritakan masalahnya pada Iqbal.
"Bisa kamu menceritakan lebih rinci." pinta Iqbal, mau tak mau Zain menceritakan masalahnya secara rinci sebab Zain tidak ingin pusing sendiri.
"Kan bisa lakukan tes DNA, Zain."
"Saya hanya takut dengan hasilnya, Tuan."
"Takut menerima kenyataan." Zain hanya mengangguk menanggapi ucapan Iqbal.
"Tes DNA di kandungan usia muda akan beresiko tinggi pada keguguran." tutur Zain.
"Kan bagus kalau sampai keguguran."
"Saya hanya takut membunuh anak saya sendiri."
"Mana rekaman CCTV di sini." Zain segera menunjukkan apa yang Iqbal minta. Iqbal malah tersenyum ketika menonton rekaman tersebut.
"Kau tidak mau bertanya kenapa aku tersenyum?..." Zain hanya mengernyit tak mengerti.
"Aku sedang membayangkan wanita ****** itu bermain solo denganmu. Apakah mungkin seorang dokter membawa obat perangsang kemana-mana?... Kecuali obat bius itu mempengaruhi ereksi pada 'itu'mu."
***
__ADS_1
Nadine berjalan menuju sofa ruang tamu, hanya melihat suaminya duduk seorang diri.
"Di mana tuan Iqbal, kak?..."
"Sudah pulang."
"Tuan Iqbal itu rada aneh ya kak."
"Sedikit gila tapi jenius." tutur Zain.
"Terus ini kopinya gimana?..." Nadine meletakkan kopinya di atas meja.
"Untukmu."
"Aku tidak minum kopi."
"Aku juga tidak minum kopi."
"Nggak minum kopi tapi Kok tersedia kopi di dapur."
"Bi Nurul minum kopi. Kalau aku lebih suka minum susu, apalagi susumu, susu merk nona Nadine." Zain menggigit kancing baju istrinya.
"Iiih, apa sih Kak?..."
"Lanjut yang tadi tertunda yuk."
***
Keesokan harinya Riska pergi ke rumah sakit untuk menjalankan tugas seperti biasanya. Ada yang aneh dengan tatapan orang-orang di rumah sakit ketika melihatnya berjalan. Ada yang saling berbisik-bisik, ada yang menatapnya dengan tatapan mencemooh dan bergidik ngeri.
"Iya, aku nggak nyangka.... Dia bisa tekdung duluan. Bukannya dia nggak punya suami ya..." Riska terkejut, samar-samar dia masih bisa mendengar percakapan orang di sekitarnya.
"Dokter Riska." salah seorang memanggilnya, membuatnya menoleh.
"Iya."
"Di panggil kepala rumah sakit. Kamu sedang di tunggu di ruangannya."
"Ada apa ya?..."
"Kamu temui saja beliau langsung biar lebih jelas."
Perasaan Riska sudah tidak enak, tidak biasanya kepala rumah sakit memanggilnya.
***
"Sebelumnya saya minta maaf, harus saya sampaikan pada anda bahwa surat izin praktek dokter Riska di cabut."
"Tapi kenapa?... Apa alasannya?..." Riska terkejut dan tak terima.
Kepala rumah sakit memberikan informasi tentang kelakuan buruknya, dari alasan pernikahannya dengan Rangga, peristiwa mabuknya di Club malam dan kehamilan Riska. Mata Riska berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang ia lihat.
***
Dengan langkah tergopoh-gopoh sembari mengusap air matanya, Riska keluar dari rumah sakit, dia tak tahan dengan gosip yang beredar tentang dirinya di rumah sakit. Dia marah, malu dan sedih karena cemoohan dari orang-orang di sekitarnya.
Riska memasuki mobilnya lalu membanting setir.
"Hay..." Riska terperanjat kaget ketika melihat tiga pria berada belakang.
"Siapa kalian?..." Riska berteriak ketakutan, dalam hitungan detik Riska sudah di bekap hingga pingsan.
__ADS_1
***
Selamat menikmati.