
10 mobil melaju perlahan secara beriringan memenuhi jalan, 3 mobil di antaranya berisi hantaran pernikahan. Mobil Ferrari panjang di baris terdepan di tumpangi oleh Zain, Iqbal, Rani dan Putri, Alyn, Arya dan putra putrinya, Alena, Brayen, Khasanuci dan istrinya.
Setelah mobil sampai tepat di depan halaman rumah pak Taufik, semua penumpang turun dari mobil, Zain menjadi penumpang terakhir yang turun dari mobil. Dengan balutan jas berwarna hitam dan kemeja dalam berwarna putih dan peci yang menutupi rambutnya membuat Zain tampak gagah dan berwibawa. Zain berdiri di posisi terdepan, sementara pengikutnya di belakang. Fotografer memotret Zain, kemudian mensyuting Zain dan rombongan yang melangkah menuju rumah Nadine.
Tempat duduk di bagi dua, antara laki-laki dan perempuan. Jika lelaki di rumah Nadine Jika perempuan di tempatkan di rumah Bibi Nadine yang rumahnya bersebelahan dan masih satu halaman depan rumah Nadine.
Zain kini duduk di depan penghulu dan calon bapak mertuanya, tepat di tengah-tengah ruang tamu. Di belakang Zain, duduk para anggota mafia sedangkan di depannya duduk para alim ulama, tetua kampung setempat, kiyai (Guru ngaji pak Taufik) dan beberapa kerabat Nadine.
"Nak Zain sudah siap???...." Pak Yanto sebagai penghulu bertanya.
"Siap." Jawab Zain tegas.
"Mas kawinnya berupa apa???..." Kini pak Yanto bertanya pada pak Taufik.
"Tunggu sebentar, saya tanyakan dulu."
Pak Taufik pergi ke kamar Nadine untuk menanyakan perihal mas kawin. Pak Taufik memandangi wajah Nadine yang sebentar lagi akan ia serahkan pada calon suaminya. Perasaan haru menyelimutinya, putrinya yang lugu sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
"Nak, kamu minta mahar berapa???..." Pak Taufik bertanya.
"Seratus ribu pak. Pecahan sepuluh ribuan."
"Anak ibu memang pintar." Ibu Azizah mengusap lembut kepala Nadine yang kini sudah hijrah berhijab.
"Semoga barokah pernikahanmu nak. Itulah yang di cari dalam pernikahan."
"Aamiin...." Jawab Ibu Azizah dan Nadine bersamaan.
Pak Taufik keluar dari kamar menuju ruang tamu, menghampiri Zain. Kemudian duduk di hadapan Zain.
"Jadi bagaimana pak?..." Pak Yanto kembali bertanya.
"Putri saya meminta mahar seratus?..."
"Seratus juta???...." Zain bertanya untuk memastikan.
"Seratus ribu." Jawab pak Taufik meralat.
"Seratus ribu???..." Zain mengulang Ucapan pak Taufik untuk memastikan bahwa yang ia dengar benar.
"Seratus ribu, pecahan sepuluh ribuan?..." Jawab pak Taufik.
Zain mengernyitkan dahinya, dia masih tidak percaya bahwa Nadine meminta mahar hanya sebesar seratus ribu. Padahal Nadine tahu jika Zain itu sangat kaya, Nadine bisa meminta berapa pun uang yang ia inginkan. Guru ngaji pak Taufik yang mengerti isi kepala Zain tersenyum.
"Semakin sederhana maharnya, semakin barokah pernikahannya. Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah yang paling ringan maharnya" Ucap pak kyai.
__ADS_1
"Aamiin..." Ucap yang mendengar serempak.
"Bisa kita mulai akadnya." Ujar pak Yanto.
"Bisa." Jawab Zain penuh percaya diri, dia berusaha menghilangkan kegugupannya. Ini lah saat-saat yang ia nanti.
Zain menjabat tangan pak Taufik Hidayat dengan mantap.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Zain Alfaro bin Anfal tamarro dengan anak saya yang bernama Nadine Sakhi Albiru dengan maskawinnya berupa uang seratus ribu, Tunai.β Pak Taufik menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadine Sakhi Albiru binti Taufik Hidayat dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."
Dengan sekali hentakan tangan pak Taufik Hidayat, Zain menjawab dengan Langtang dan mantap, hingga Nadine yang berada di dalam kamarnya masih bisa mendengar.
"Bagaimana saksi???...."
"SAH...." Suara para saksi menggema di ruang tamu.
"Alhamdulillah barokallah....."
Kemudian di bacakan doa-doa, berharap pernikahan dua mempelai pengantin menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
***
Di dalam kamar Nadine meneteskan air mata. Dia tidak menyangka bahwa sekarang dia sudah menikah, ini terasa seperti mimpi. Dia masih tidak percaya akan menikah di usia semuda ini. Dia memeluk ibunya dengan posesif, dia menikahi pria yang ia cintai tapi telah jahat pada kedua orangtuanya. Nadine berharap Zain akan berubah menjadi pria yang lebih baik.
"Maafin Nadine ya Bu, kalau Nadine punya salah sama ibu dan bapak. Maafin juga suamiku ya Bu kalau dia ada salah sama ibu dan bapak." Nadine masih merasa canggung dengan kata 'suamiku'.
"Iya, Ibu dan bapak akan selalu memaafkan kesalahanmu tanpa kamu meminta maaf. Kami akan selalu mendoakan kebaikan untuk mu dan suami kamu."
"Bu..." Panggil pak Taufik yang sudah berdiri di depan pintu bersama dengan Zain.
Nadine menunduk malu ketika melihat Zain terus menatapnya.
"Sana masuk Nak, temui istri mu." Pak Taufik mengusap lembut punggung Zain.
"Ibu di sini aja." Nadine merengek menarik tangan Bu Azizah, menatapnya dengan tatapan memohon bahkan di matanya sudah menggenang air, entah kenapa dia merasa sangat malu, gugup dan canggung ketika melihat Zain.
"Loh, loh... Nggak boleh begitu.... Malu tuh di lihat suamimu." Tutur ibu Azizah.
"Nggak mau." Bukannya menurut, Nadine malah merengek menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bu Azizah.
"Ini loh pak, anakmu..."
"Ibu..." Nadine masih merengek.
__ADS_1
"Nadine... Ayo nak kasihan suamimu sudah menunggu." Ucap pak Taufik. Hanya padanya lah Nadine menurut. Dengan perlahan tapi pasti Nadine mulai melepaskan ibunya.
Pak Taufik merangkul Bu Azizah dan membawanya pergi. Zain mulai melangkah memasuki kamar, kemudian menutup pintu dan menguncinya. Nadine melengos, membuang muka.
Zain melangkah menghampiri Nadine kemudian duduk di sampingnya.
"Tidak mau salam sama suami." Zain menjulurkan tangannya, Nadine menyambutnya kemudian mengecup tangannya Zain dan kembali berpaling, membuang muka. Zain meraih dagu Nadine hingga menghadap dirinya.
Zain memegang ubun-ubun istrinya sambil membacaΒ doa setelahΒ akad "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." Kemudian meniup-niup ubun-ubun Nadine dan mencium kening Nadine.
Kening Nadine terasa panas, seperti ada yang terbakar. Jantungnya berdebar tak karuan. Nadine gugup dan bingung harus bagaimana. Nafasnya terasa berat, apakah hanya Nadine yang merasa hal ini, sedangkan Zain terlihat biasa saja.
"Ini, mahar yang kamu minta." Zain memberikan Nadine uang seratus ribu pecahan sepuluh ribuan sesuai dengan permintaan Nadine. Ia pun segera menerimanya. Tidak mudah mendapatkannya, sebab isi dompet Zain hanya berisi uang ratusan ribu. Uang sepuluh ribuan Itu sumbangan dari anggotanya yang hadir. 10 ribu Zain ganti dengan 100 ribu, hitung-hitung sedekah ucap Zain.
Zain mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari saku celananya. Ketika di buka, kotak tersebut berisi cincin yang Zain pesan bersamanya di Mall. Zain meraih tangan kiri Nadine kemudian memasangkan cincin tersebut ke jari manis Nadine.
Nadine segera menarik tangannya dari genggaman Zain. Nadine sangat tegang dan gugup berduaan di dalam kamar dengan Zain. Nadine menghirup nafas berat, udara kamar terasa panas padahal kipas angin menyala. Nadine seperti orang yang kurang asupan oksigen. Nadine begitu tegang, saking tegangnya hingga tangan Nadine terkepal.
Nadine menggeser duduknya agar menjauh dari Zain. Tapi Zain ikut menggeser duduknya lebih dekat dengan Nadine. Nadine kembali menggeser duduknya, Zain pun mengikuti hingga akhirnya tubuh Nadine terhimpit di antara Zain dan tembok. Keringat dingin sudah mengucur di tubuh Nadine. Nadine kebingungan, matanya melihat ke segala arah dan sesekali menunduk.
"Ka-Kak Zain sanaan... Ja-Jangan deket-deket." Nadine semakin gugup, dia mendorong dada Zain agar menjauh. Dia sangat takut hingga suaranya tercekat.
"Istriku sangat cantik. Beruntung aku bisa menikahinya."
Nadine melongo menatap wajah Zain masih dengan raut wajah takut.
"Cup..." Satu hadiah kecupan dari bibir Zain mendarat di bibir basah Nadine. Zain tersenyum, sedangkan Nadine syok, terkejut dia tidak siap dengan serangan tiba-tiba seperti ini. Nadine lupa bagaimana cara bernafas, tubuhnya tegang. Zain condong ke arah Nadine, hendak memberikan serangan untuk yang kedua kalinya. Dengan langkah seribu, Nadine berlari ke arah pintu. Dengan sigap Zain mengejar dan menahan tangan Nadine yang hendak membuka kunci pintu.
Zain memeluk Nadine dari belakang dengan sangat posesif, tangan kirinya membelit pinggang ramping Nadine, Sedangkan tangan kanannya memindahkan tangan kanan Nadine ke tangan kirinya.
Zain meletakkan dagunya di bahu Nadine, tubuh Nadine semakin tegang, dia bisa merasakan hembusan nafas Zain menerpa pipinya. Hingga akhirnya bibir Zain berlabuh di pipi mulus Nadine. Zain menghirup aroma Nadine dalam-dalam. Matanya sudah gelap, di penuhi oleh hasrat yang ia pendam selama ini.
"Aku menginginkan mu, malam ini. Seutuhnya..." Ucap Zain dengan suara berat penuh hasrat.
"Deg..." Jantung Nadine terasa ingin mencelos keluar dari tempatnya. Tubuh Nadine terasa kaku tak bisa di gerakkan, sekujur tubuhnya tegang hingga tangannya terkepal.
***
Author....
Ini jadi gimana ini...Jadi apa nggak???? Jadi apa nggak????.....πππ
Tegang apa nggak???.... Tegang apa nggak????πππ
Goal goal goal Ale -ale apa nggak????.... Aku polos tapi gara2 readers pikiran ku jadi....jadi apa ya...πππ
__ADS_1
Atau TAMAT aja ya biar Readers halu sendiri????ππππ
Kalau mau double up...Vote yang banyak πππ Mode maksa..... Jangan lupa tinggalkan like biar bisa masuk rangking like jugaπππ