Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
HUKUMAN UNTUK BARON DAN DARIUS


__ADS_3

"Bagaimana keadaan adik saya?..." Zain berada di ruang dokter spesialis yang menangani kasus Zahra.


"Adik anda baik-baik saja, dia hanya syok atas kejadian yang menimpanya."


"Lalu bagaimana dengan wajah adik saya?... Apa masih bisa kembali sama seperti semula."


"Bisa. Dengan melakukan operasi plastik tapi saya sarankan agar tindakan operasi plastik di dilakukan beberapa bulan atau tahun setelah luka sembuh, karena semakin lama, ukuran luka cenderung menyusut dan tersamarkan. Luka dalam masa penyembuhan biasanya melewati tiga fase berbeda. Paling tidak, menunggu selama 60-90 hari."


Zain juga membawa orang tua angkat Zahra ke rumah sakit untuk melakukan perawatan khusus ayah angkat Zahra, karena berkat mereka, Zahra terbebas dari kekejian Baron dan Darius. Apalagi kedua orang tua Zahra sudah mendidik Zahra dengan baik hingga menjadi gadis Sholehah. Jika kini Ibu Fatima sedang menemani suaminya, maka Zain sedang menemani Zahra, membelai lembut rambut Zahra dengan perasaan haru bercampur bahagia. Hatinya sangat lega bisa menemukan adiknya yang sudah lama menghilang, walaupun dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Zain mengeluarkan Hpnya ketika Hpnya bergetar dari balik sakunya.


"Hallo Zain, bagaimana keadaan adikmu?..." Iqbal bertanya dari balik telepon.


"Adik saya baik-baik saja Tuan, tapi wajahnya akan cacat untuk sementara waktu." jawab Zain dengan suara lesu.


"Tidak apa-apa, yang penting tidak cacat seumur hidup. Lalu bagaimana dengan dua penjahat ini?..."


"Sebenarnya saya ingin menghukum mereka dengan kedua tangan saya sendiri tuan. Tapi istri saya sedang hamil, saya takut. Jadi, untuk hukumannya saya pasrahkan pada anda saja Tuan. Saya rasa hukuman dari anda jauh lebih kejam dari saya." ucap Zain dengan geram, mengingat perlakuan keji dua preman itu pada adiknya.


"Berapa dalam luka sayatan di wajah adikmu?..."


"0,5mili, Tuan."


"Taubat itu susah Zain, padahal aku sudah berusaha." jawab Iqbal yang langsung menutup panggilan teleponnya.


"Kau.... Ambilkan aku belati." Iqbal menunjuk salah satu anak buahnya.


"Pegangi kepalanya." titah Iqbal setelah menerima belati dari anak buahnya.


"Kau mau apa?..." Baron yang terikat di sebuah kursi memberontak, menatap Iqbal dengan tajam.


"Jangan menatapku seperti itu jika tidak ingin aku mencongkel matamu." ucap Iqbal dengan sarkas.


"Tolong, ampuni aku. Aku akan melakukan apapun asal kau tidak menyakitiku. Aku menyesal, aku bersumpah akan berubah. Aku akan membayar mu, aku punya banyak uang di rekeningku." Baron mulai ketakutan ketika Iqbal mulai membelai wajah Baron dengan belati.


"Jangan banyak bergerak, aku hanya akan menggoreskan pisau ini dengan kedalaman setengah cm, saja. Jangan takut, kau kan sudah sering menyiksa anak kecil dengan tangan mu." ucap Iqbal, Baron tak bisa berkutik ketika 3 anak buah Iqbal memegangi kepalanya.


"Tidaaaak.... Aku mohon jaaaa Aaaaakkkhhh, Sakiiiitttt...." Baron berteriak ketika Iqbal mulai menggoreskan pisau di wajahnya, Iqbal ingat betul dengan goresan di wajah Zahra, di pipi kanan kirinya, di dekat hidung dan memanjang hampir sampai ke telinga. Iqbal membentuk ukiran yang sama seperti goresan di wajah Zahra dan sebisa mungkin kedalamannya juga sama.


"Selesai..." ucap Iqbal. Ken, anak buah Iqbal memberikan sapu tangan ketika Iqbal sudah mengukir wajah Baron dan Darius dengan pisau.

__ADS_1


"Aduuuuhhh pedih...."


"Cambuk mereka sehari 3 kali setiap hari selamanya. Agar mereka mengingat dosa-dosa mereka pada anak-anak tak berdosa yang mereka siksa. Berikan mereka makanan bergizi, seperti sayuran dan tempe, tahu, nasinya sedikit saja, supaya mereka sehat dan mungkin bisa panjang umur, jika mereka sakit, rawat sampai sembuh lalu siksa lagi." perintah Iqbal kepada anak buahnya.


"Apa????.... Kau kejam sekali." ucap Baron dan Darius yang kini sudah terikat rantai besi secara bersamaan.


"Ingatlah, berapa banyak anak tak berdosa yang kalian pisahkan dari orang tuanya. Dan berapa banyak wanita yang harus melayani pria hidung belang karena kalian."


"Tinggal bebaskan mereka, apa susahnya." Baron berteriak.


"Plak... Aaaaahhhh." Iqbal menampar pipi Baron dengan sangat keras. Ken kembali memberikan Iqbal sapu tangan, Iqbal membersihkan tangannya yang sudah berlumuran darah dari pipi Baron.


"Mudah sekali kau bicara, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Cambuk mereka berdua." setelah memberikan perintah, Iqbal pun keluar dari ruang tahanan. Dia masih bisa mendengar teriakan Baron dan Darius yang meminta pertolongan. Kini Darius dan Baron bisa merasakan akibat dari kejahatan yang mereka lakukan dahulu.


***


"Kak Rani..." Nadine yang di apit oleh dua bodyguard memanggil Rani yang terlihat hendak memasuki pintu utama rumah sakit, bersama 2 bodyguard dan 1 babysitter. Rani berdiam diri menunggu Nadine yang berjalan ke arahnya.


"Kamu di sini juga?..." tanya Rani.


"Iya kak, adiknya kak Zain udah ketemu dan ternyata dia adalah Zahra sahabat ku." jawab Nadine bahagia sembari melangkah beriringan dengan Rani.


Ceklek


"Nona Rani ada disini." ucap Zain ketika Rani sudah berdiri di samping ranjang Zahra.


"Iya Zain, setelah suamiku memberikan berita tentang Miranda, Aku langsung kemari." ucap Rani yang menggendong Putri. Balita itu terus saja memberontak meminta di turunkan. Semua mata tertuju pada Putri yang merosot dari gendongan Rani, gadis itu berlari sambil berceloteh tak jelas, berkeliaran di dalam ruangan rawat Zahra. Tangan mungilnya berpegangan pada penyangga cairan infus, lalu mengguncangnya dengan penuh semangat sembari tertawa terbahak-bahak ketika botol infus yang bergelantungan tergoncang.


"Eh, sayang jangan...." Rani segera meraih tangan Putri lalu menggendongnya. "Lebih baik aku tunggu di luar saja, takut si Putri malah mengganggu kenyamanan Zahra."


"Iya kak." jawab Nadine. Rani pun keluar bersama Putri dan baby sitternya.


"Sayang nggak boleh nakal." Rani mencubit hidung Putri pelan.


"Uyun, Uyun, Uyun, Uti Uyun." Putri kembali memberontak meminta di turunkan. Rani pun menyerah dan menurunkan Putri, balita kecil itu kembali berkeliaran, berlari berputar-putar. Lalu naik turun kursi tunggu.


"Papa, Papa, Papa, Papa...." Putri berjingkrak-jingkrak ketika melihat kedatangan Iqbal. Si Putri berlari ke pelukan Iqbal. Pun mencium pipi Putri bertubi-tubi lalu membawa diri pada sang istri.


"Jangan pernah membiarkan Putri bermain sendiri tanpa pengawasan." perintah Iqbal yang khawatir jika putrinya akan mengalami nasib buruk seperti Zahra.

__ADS_1


"Iya Sayang, apa yang sudah Zahra alami bisa kita jadikan pelajaran sebagai orang tua." Iqbal menepuk-nepuk lembut kepala Rani lalu merangkulnya, membawanya masuk ke dalam ruangan rawat Zahra.


Rani sedikit heran melihat putrinya yang betah berada di gendongan Iqbal. Tapi jika bersama Rani, tingkah lakunya selalu bikin pusing kepala, sama seperti papanya yang jahil.


"Masih belum sadar." ucap Iqbal.


"Belum tuan."


"Kak, kak...." Nadine menunjuk tangan Zahra yang mulai bergerak. Mata Zahra mulai mengerjap-ngerjap. Zahra melihat sekeliling, dia merasa bingung di kelilingi oleh orang asing, kecuali Nadine dan Zain. Zahra segera bangkit, Zain langsung membantu Zahra untuk duduk. Ketika Zain hendak melepaskan tangannya dari bahu Zahra, pun menahannya. Menatap manik mata Zain dengan intens, ada perasaan rindu, haru, bahagia dan sedih di kedua mata adik kakak itu.


"Kak Zain, Zain Alfaro. Zain kakakku..." Zain langsung memeluk Zahra dengan erat, seolah-olah takut akan kehilangan seseorang yang ia cintai untuk kesekian kalinya.


"Iya, aku kakakmu Miranda." Zahra tak kuasa menahan air mata, air bening itu mulai bercucuran dengan derasnya. Dia sangat merindukan sang kakak yang dulu selalu memanjakannya.


"Aku kangen sama kakak.... Hikzzzzz..." Zain semakin mempercepat pelukannya, memberikan kecupan berulang kali di puncak kepala Zahra.


"Kakak juga kangen sama kamu, maafin kakak. Gara-gara kakak nggak bisa jaga kamu, hidup mu jadi menderita."


"Huuuuuu,,,, Kakak..." Zahra menangis sesenggukan di pelukan Zain. Setelah puas menangis, Zahra mendorong dada Zain, agar melepaskan pelukannya, ia teringat akan Papa, Mama dan neneknya, Zahra melihat ke sekeliling. Kenapa mereka tidak ada di sini?... kenapa Zahra hanya melihat orang asing?...


"Kak, Papa, Mama sama nenek kemana?...." tanya Zahra.


Deg...


Zain terkejut, hatinya mulai tak tenang. Dia sudah menduga hal ini sebelumnya. Tapi ia tak kuasa melihat adiknya kembali berduka, Zain menatap Zahra dengan tatapan kosong, tanpa terasa air mata kerinduan atas sosok keluarga membuat dadanya terasa sesak bagai terhimpit gunung.


"Miranda, kamu yang kuat ya...." Zain membelai lembut rambut Zahra."Papa, Mama, dan Nenek sudah tenang di alam sana. Mereka semua sudah berpulang ke Rahmatullah."


Deg.... Zahra diam mematung, Kini gilirannya yang terkejut.


"Aaaaakkkhhh.... Papaaaaaa, Mamaaaaa, Neneeeeekk.... Aaaaahhhh...." Tiba-tiba Zahra berteriak, menangis meraung-raung, menutupi telinganya, hatinya terlalu sakit. Belum cukup derita yang dia alami, sekarang dia harus mendengar kenyataan pahit bahwa semua keluarganya sudah tiada. Zain kembali memeluk adiknya, dia juga bisa merasakan kepedihan yang Zahra alami.


"Tenang Mi, tenangkan diri kamu, kamu yang sabar. Istighfar Mi....Semua yang hidup pasti akan mengalami mati." ucapan dan usapan lembut Zain di punggung Zahra berhasil membuatnya lebih tenang. Tangisan Zahra semakin mereda.


"Kapan kak?.... Kapan mereka wafat?..." tanya Zahra yang masih terisak-isak.


"Papa dan Mama mengalami kecelakaan di Indonesia setelah kamu menghilang. Nenek wafat saat kakak masuk kuliah. Ikhlaskan hatimu biar kamu lebih tenang." Zahra kembali menangis sesegukan, meratapi nasib keluarganya.


Bukan hanya Zahra dan Zain yang menangis, Rani dan Nadine pun juga ikut menangis sesenggukan. Kecuali Iqbal dan Putri yang tetap tegar, seolah tak terjadi apapun di depan mata.

__ADS_1


***


Happy reading 🐱🐱🐱


__ADS_2