Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
MEMALUKAN


__ADS_3

"Kau, Lepaskan tanganmu."


"Elo lah, yang lepas." Ujar Dion geram. Bukannya melepaskan tangan Nadine, Zain malah kembali menarik tangan Nadine. Terjadilah tarik menarik kembali.


"Kalian gila ya, kalo tangan ku copot gimana?..." Nadine berteriak kesal.


"Dia wanitaku, Bangs*t." Ujar Dion geram.


"Kak Dion, tanganku sakit." Dion yang tidak tega melihat Nadine kesakitan akhirnya melepaskan tangannya begitu saja, bersamaan dengan Zain yang menarik tangan Nadine hingga tubuh Nadine terhuyung jatuh ke dalam pelukannya.


Tangan Zain tanpa sadar melingkar di punggung Nadine. Nadine terperangah berada di dalam pelukan hangat dada Zain, untuk sekejap mereka tertegun bersamaan saling merasakan kenikmatan yang pertama kali ia kenali. Jantung keduanya sama-sama berpacu.


Perlahan Nadine mendongak, mata mereka saling beradu.


Jantung Dion terasa seperti di rajam belati saat melihat adegan saling menghangatkan tubuh. Dia menyesal telah melepaskan tangan Nadine hingga terjadi drama mengerikan seperti ini di depan matanya. Cemburu membakar hati. Dia yang marah memisahkan Tubuh dua orang beda jenis itu dengan kasar.


"Nyesel gue lepasin tangan Lo..." Ujar Dion kesal.


"Semua ini gara gara kalian berdua tahu nggak. Jangan ikuti aku lagi, aku bisa pulang sendiri." Setelah pelukan mereka terlepas, Nadine berteriak dengan wajah merah, dia kesal bercampur malu. Nadine bergegas pergi, dia melangkah cepat menjauhi mereka. Namun langkahnya terhenti saat ada yang menahannya.


"Lepas, lepas, lepaskan aku. Jangan ikuti aku." Ujar Nadine tanpa mau melihat siapa yang menahannya, dia sangat malu." Aku bilang lepas, ya lepas. Aku bisa pulang sendiri." Ujar Nadine dengan nada jengkel, kemudian dia berbalik ternyata tasnya terkait pada paku hingga ia tertahan di tempat. Zain dan Dion menatapnya dari jauh, melihat dengan tatapan yang aneh. Sumpah demi apapun Nadine sangat malu, ingin rasanya dia mencelupkan diri ke dalam danau untuk semedi agar bisa merubah wajahnya. Oww ini sangat memalukan.


Nadine menutup wajahnya dan berlari.


"Tadi rebutan, kenapa sekarang malah bengong." Ujar Dion menatap sinis Zain, sementara manusia sedingin salju itu hanya mengendikkan bahunya.


"Kau saja yang antar dia pulang." Ucap Zain kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Dia mulai menyalakan mobilnya dan melaju menghampiri Nadine.

__ADS_1


"Dasar manusia aneh, kenapa nggak dari tadi." Gumam Dion.


"Nadine..." Zain memanggil Nadine yang sedang berjalan tanpa arah tujuan.


"Apa?..." Tanya Nadine ketus.


"Malu ya..." Ujar Zain.


"Kak Zaaaaaiiiin...." Nadine berteriak dengan tangan terkepal erat dan kakinya menghentak hentak bumi. Zain tersenyum masam.


"Tuh pacar mu datang." Ucap Zain kemudian melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Nadine.


"Dasar es batu. Nyebelin, ngeselin. Pengen ku bejeg bejeg deh..." Nadine mewek.


"Nadine, ayo ku antar." Ucap Dion yang tiba tiba muncul. Tanpa ba-bi-bu-be-bo Nadine segera naik ke atas motor Dion. Prinsipnya luntur karena malu. Dia menyandarkan dahinya ke punggung Dion, sedangkan tangannya memegang baju Dion di bagian pinggang ke. Motor mulai melaju, membelah jalanan.


***


Rangga mencium paksa bibir Riska. Tangan Zain terkepal, dia marah dan muak. Kenapa?... Padahal sudah bertahun-tahun lamanya, perasaan kacau seperti ini tidak kunjung sirna. Setelah pengorbanannya di khianati oleh sahabat dan kekasihnya, kenapa dia masih sakit hati melihat pagutan bibir mereka. Ingin melerai, tapi Zain sadar dia bukan siapa-siapa.


Setelah Rangga melepaskan pagutan bibir mereka, mata Riska menangkap sosok Zain yang berdiri mematung melihat adegan laknat mereka. Zain kembali melangkah, menjauhi mereka. Riska mengejar kepergian Zain namun Rangga menarik tangan Riska.


"Lepas..." Riska menghempaskan tangan Rangga.


"Zain tunggu." Riska menarik tangan Zain.


"Jangan pernah menyentuhku." Zain kembali melangkah, lagi lagi Riska menghadangnya.

__ADS_1


"Zain, aku bisa jelasin. Aku dan Rangga tidak ada hubungan apapun. Dia yang maksa menciumku."


"Kau dan dia bukanlah urusanku."


"Zain aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku masih bisa melihat ada cinta di matamu untukku. kamu jangan mengelak Zain."


"Apa kau tidak malu mengatakan semua itu padaku!... Memangnya siapa dirimu bagiku!!!... Menyingkirlah." Zain mulai beranjak meninggalkannya.


"Cobalah berdamai dengan hatimu Zain." Zain menoleh ke kanan saat tiba-tiba mendengar suara Iqbal memecah keheningannya.


Iqbal berjalan menuju tempat duduk terdekat yang berada di depan ruangan bersalin.


"Kalau kamu tidak mau membuka hatimu untuk orang lain, kembali lah pada masa lalumu dari pada kamu terus terusan menyiksa hatimu. Tapi jika kembali pada masa lalumu terlalu menyakitkan, cobalah buka hatimu, belajar lah menerima orang lain supaya kamu tidak terus terbelenggu dalam masa lalumu."


"Cinta itu lahir dari hati, tidak bisa di paksakan."


"Kau itu pengecut Zain. Jika takut sakit hati, kenapa menjalin cinta. Mencintai dan dicintai itu konsekuensinya ya Patah hati, sakit. Kalau sudah tahu sakit, segera cari obatnya. Kemarin aku melihat mu mencium Nadine, jangan jadikan dia pelampiasan mu Zain, kasian dia." Zain terbelalak mendengar ucapan Iqbal, dia tidak menyangka bahwa Iqbal juga mengetahui hal itu.


"Kami tidak benar-benar berciuman tuan." Zain membela diri, Iqbal malah mencebikkan bibirnya.


"Jangan sampai dia baper. Tapi aku lebih berharap kamu yang baper padanya dan aku mengutukmu supaya bucin padanya."


"Tuan, saya datang kemari untuk meminta tanda tangan anda. Bukan membahas masalah wanita."


***


Author

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake Like n komentar.


__ADS_2