
"Selamat ya, elo udah menari bahagia di atas penderitaan Dion." Ucap Malik sinis.
Bukan hanya Nadine yang terusik, Zain pun sama. Ketika sang suami hendak mencengkram kerah kemeja yang di kenakan Malik, dengan sigap Nadine menarik tangan Zain.
"Jangan kak..." ucap Nadine lirih dengan tatapan memohon, seolah-olah mengatakan jangan melakukan kekerasan di sini. Zain mengurungkan niatnya, di tatapnya dengan lekat wajah sendu sang istri.
"Maaf kak, maaf Nad udah ganggu." ucap Darma sembari mendorong Malik pergi menjauh.
"Maaf kak, maaf Nad.... Si Malik lagi PMS makanya ngomongnya rada ngasal. Selamat ya untuk pernikahan kalian berdua." ucap Habibi kemudian semua teman-temannya yang lain pun ikut mengucapkan selamat dan pergi.
"Sudah jangan di dengerin." ucap Zain merangkul bahu Nadine dan membelainya lembut.
Hati Nadine begitu sakit ketika mendengar sindiran Malik. Nadine sudah bisa membayangkan betapa kecewa dan hancurnya hati Dion ketika mengetahui Nadine sudah menikah. Masih teringat jelas wajah sendu Dion ketika ia menemuinya di kota Bangil. Semua sahabat Dion baik padanya karena Nadine adalah gadis yang dicintai Dion. Tapi apa yang Nadine perbuat, setelah semua usaha dan perhatian yang Dion lakukan, Nadine malah menyakitinya.
"Kak, Malik..." Malik menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Zahra.
"Menikahnya Nadine dengan kak Zain adalah takdir dari Allah. Jangan nyalahin Nadine kak, bahkan daun yang jatuh pun atas kehendak Allah subhanallah ta'ala."
"Tau apa kamu, kamu nggak tahu kan rasa sakitnya kehilangan." ujar Malik sinis.
"Aku tidak pernah gelisah karena takut kehilangan. Karena apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. Rencana Allah itu jauh lebih besar dari rencana manusia." balas Zahra, membuat Malik mati kutu, tak bisa berkata-kata.
"Udah Lik, nggak malu bertengkar sama cewek. Maaf ya Zahra." ucap Alex yang di balas anggukan oleh Zahra, kemudian merangkul leher Malik dan membawanya pergi.
***
Semakin malam acara semakin ramai, apalagi di temani dengan hiburan panggung. Zain mengundang beberapa artis dan penyanyi pop untuk memeriahkan pesta pernikahannya.
"Aku punya kejutan buat kamu." ucap Zain.
"Apa?..." Nadine bertanya dengan dahi yang berkerut.
Zain menjulurkan tangannya di hadapan Nadine, dengan senyuman Nadine menerima uluran tangan Zain.
Zain membawa Nadine menaiki panggung untuk menghibur hati sang istri tercinta yang sedang gundah. Zain meminta kursi pada personil untuk Nadine duduk di sampingnya tepat di belakang piano. Zain memasang mikrofon kecil di dekat bibirnya.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada tamu undangan yang hadir di acara pernikahan yang saya idam-idamkan selama ini. Terima kasih atas kehadiran dan doa-doanya. Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk wanita teristimewa di dalam hidup saya. Wanita yang akan melengkapi kekurangan saya." Zain mulai menatap keyboard piano dengan fokus, tangannya mulai menari-nari di atas keyboard piano dengan begitu lincah, di iringi dengan petikan gitar dari personil grup band. Zain tak hanya lihai memainkan piano, suaranya pun begitu merdu. Zain mulai menyanyikan lagu 'Cinta Luar Biasa' Lagu Andmesh Kamaleng. Sesekali Zain menatap Nadine dengan tatapan penuh cinta sambil bernyanyi.
"Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
__ADS_1
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu
Hari hari berganti
Kini cintapun hadir
Melihatmu memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggung terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Selesai... Nadine yang terharu dengan perlakuan lembut suaminya, pun menitikkan air mata bahagia, dia baru tahu bakat istimewa yang di miliki suaminya. Nadine sangat bahagia dan bersyukur memiliki suami seperti Zain.
Ruangan menjadi riuh dengan tepuk tangan dari semua tamu undangan yang hadir, para istri Cemburu melihat keromantisan Zain yang memiliki segudang talenta.
Malam semakin larut, tamu yang berkunjung pun semakin menyusut. Zain menggenggam erat tangan Nadine dan membawanya menuju kamar presiden sweet room di hotel tempat di selenggarakannya resepsi pernikahan mereka. Mereka berdua menaiki anak tangga, saling pandang melempar senyum, rasa bahagia mereka mengalahkan sekelumit kepedihan yang sempat mendera.
Zain membuka pintu kamar, kamar yang begitu luas. Dengan taburan bunga berbentuk love di tengah ranjang berukuran big size. Serta hiasan bunga di dinding, di kelilingi oleh lilin. Suasana tampak tamaram dan indah. Hiasan kamar pengantin membuat Nadine gugup. Ya, Ini kamar pengantin, ini malam pengantin mereka.
Zain menutup pintu lalu menguncinya.
"Kamu suka."
"Iya." Nadine menggigit bibirnya karena ngrogi.
Nadine berdiri di depan cermin, Zain membuka setiap atribut yang melekat di kepala istrinya.
Setelah Zain membuka hijab lalu membuka resleting gaun pengantin yang Nadine kenakan. Nadine menahan gaun pengantin yang hendak di buka oleh suaminya.
__ADS_1
"Jangan malu, aku sudah melihat semuanya. Bahkan Aku sudah hafal betul setiap detail lekuk tubuhmu."
"Kak..." Nadine merengek malu.
"Bahkan tubuh kita sudah berkali-kali menyatu. Cup." Zain mengecup bahu polos Nadine dan kembali menurunkan gaun pengantinnya. Gaun itu pun jatuh di bawah kaki Nadine.
"Uh..." Nadine melenguh ketika bibir mereka saling bertautan.
***
Keesokan paginya di bawah selimut sebagai saksi bisu percintaan mereka semalam, Nadine terbangun ketika satu tangkai bunga mawar merah menjalar di wajahnya, dari dahi turun ke hidung hingga bibirnya. Senyum Zain merekah ketika melihat sang istri terbangun karena dia menggangunya. Menyapu wajah Nadine dengan setangkai bunga mawar merah 🌹. Bukannya membuka mata, Nadine malah menyamping memeluk suaminya.
"Sudah pagi, ayo bangun." Ucap Zain sembari mengecupi puncak kepala Nadine.
"Nggak mau, aku masih kangen." ucap Nadine merengek manja.
"Mau main lagi."
"Nggak kak, aku capek. Sepanjang malam kita sudah bercinta. Begini aja dulu sebentar." Nadine masih bergelung di dada sang suami, berada di dalam dekapan Zain membuat hatinya damai dan nyaman. Kedua pengantin itu masih bermalas-malasan sembari bermesraan di atas ranjang.
***
Pukul 7 pagi, Nadine memeluk lengan Zain keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju restoran untuk mengisi amunisi.
Zain terus menggenggam tangan Nadine, menikmati momen indah bersama Nadine. Zain mengecup punggung tangan Nadine, tak peduli dengan tatapan para pengunjung restoran yang lain.
"Kak, malu di lihat orang."
"Biar mereka tahu kalau kamu istriku."
"Aku lupa, kalau kakak emang nggak tahu malu." Nadine terkekeh.
"Biarin." Zain kembali mengecup tangan Nadine." Setelah ini, ikut aku ke apartemen."
"Sekarang aku tinggal di mana kak?... Di rumah tuan Iqbal atau di apartemen sama kakak."
"Tidak dua-duanya. Aku sudah membeli rumah untuk kita, kita akan tinggal bersama Miranda. Kamu tidak keberatan kan kalau Miranda tinggal bareng kita."
"Nggak masalah kak, aku suka sama gadis itu. Dia gadis yang cerdas. Tapi kalau aku kuliah terus kakak kerja, siapa yang jagain Miranda?..."
"Kan ada bi Nurul. Nanti aku ke apartemen, untuk ambil beberapa barang ku di sana."
"Iya." Nadine mengangguk, tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang.
***
__ADS_1
selamat menikmati