
Zain merasa gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tapi entah apa!... Ia sendiri juga tidak mengerti. Tubuhnya bergulung ke sana kemari, membuat ranjang yang ia tiduri berguncang mengganggu sang istri yang tengah terlelap.
Zain mendudukkan diri dan bersandar di kepala ranjang. Ia meraih bingkai foto dirinya dan Miranda, rasa gelisah, cemas dan rindu berbaur menjadi satu setiap kali melihat wajah sang adik yang hilang karena keteledorannya. Rasa bersalah itu selalu hinggap tanpa di undang.
"Kakak, kangen ya sama Miranda?..." Nadine melihat ke arah Zain.
"Iya."
Nadine menghampiri Zain dan memeluk suaminya dengan erat, berusaha menenangkan sang suami yang terlihat muram.
"Dulu sebelum Miranda hilang, perasaan seperti ini selalu muncul ketika melihat Miranda bersedih. Aku hanya khawatir jika saat ini adikku mengalami kesulitan. Aku hanya takut jika adikku di jual di rumah bordil dan..." Nadine membekap mulut Zain karena tak ingin mendengar hal buruk yang akan di sampaikan oleh suaminya.
"Lebih baik kita sholat Sunnah ya kak, kita minta pertolongan sama Allah agar senantiasa melindungi Miranda di manapun ia berada. Percayalah sama janji-janji Allah, Allah memiliki cara tersendiri untuk melindungi hambanya."
"Iya..."
Mereka berdua pun turun dari ranjang dan membersihkan diri di kamar mandi kemudian melakukan ibadah sholat malam, sepanjang malam mereka berdoa dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
***
Yang membuatnya lebih nyaman saat ini hanya lah menyendiri, menenangkan diri sembari memikirkan langkah apa yang akan Zahra ambil setelah mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak angkat.
Terlalu larut memikirkan masa lalunya membuat ia lupa bahwa saat ini dirinya hanyalah seorang pengangguran. Masih banyak masalah yang harus Zahra selesaikan terlebih dahulu sebelum mengorek identitas diri yang sebenarnya.
Zahra beranjak dari ranjang, mengambil pena dan kertas folio kemudian menulis surat lamaran kerja di meja belajarnya. Setelah satu jam menulis di tengah malam, membuat kantuk mulai menyerang, berulang kali ia menguap dan mengucek mata agar tetap terjaga.
Pukul 2 dini hari Zahra sudah selesai membuat 5 surat lamaran kerja. Beruntung dia masih memiliki sisa pas foto 4X6 dan fotocopy surat-surat yang di butuhkan. Tanpa ia sadari Zahra tertidur di meja belajar dengan tangan yang masih memegang pulpen.
Zahra terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu beberapa kali.
"Zahra, bangun nak, bentar lagi adzan subuh." hal rutin yang selalu di lakukan oleh ibu Zahra sejak kecil, beliau senantiasa melindungi dan mendidik Zahra sejak kecil, hingga Zahra tumbuh menjadi gadis Sholehah, mandiri, baik hati dan cerdas. Semua itu berkat asuhan dari ibu yang telah mengadopsinya.
Zahra membuka pintu, di lihatnya ibu yang berdiri di depan pintu dengan mengenakan balutan mukena. Walaupun ia sangat kecewa pada kedua orangtuanya karena telah menutupi masalah sebesar ini padanya. Tapi Zahra tidak bisa membenci mereka yang telah merawatnya hingga dewasa.
"Nak, maafin kami ya." Ibu membelai lembut rambut Zahra.
"Iya." Zahra tersenyum kaku, sebab beban masih terasa menggumpal di hatinya.
Mereka berdua pergi ke musholla terdekat untuk sholat subuh berjamaah sebab rumah sewa mereka yang sempit tidak memungkinkan untuk bisa melakukan solat berjamaah, sementara bapak hanya bisa solat dengan keadaan duduk.
***
Sepulang dari masjid Zahra dan ibu melakukan aktivitas seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.
Pukul 7 pagi, Zahra memasuki kamar orang tuannya dengan pakaian yang sudah rapi. Zahra pamit dan meminta restu pada bapak dan ibunya untuk mencari pekerjaan.
"Kamu mau kemana Nak?... Hari Minggu kok udah rapi."
__ADS_1
"Pak Bu, Zahra mau izin keluar untuk mencari pekerjaan."
"Loh, pekerjaan kamu yang di cafe bagaimana?..."
"Zahra udah berhenti kerja dari sana, Bu."
"Loh, kenapa?..."
"Udah nggak cocok aja, Bu." Zahra tak jujur sebab tak ingin masalah yang ia alami menjadi beban pikiran untuk kedua orangtuanya.
"Sini, duduk sebentar." Ibu menarik tangan Zahra dan membawanya duduk di sisi ranjang. Ibu membuka lemari kemudian mengeluarkan album foto, lalu memberikannya kepada Zahra. Zahra membuka album foto itu dan melihat satu persatu foto gadis kecil, dari balita hingga anak-anak berusia sekitar 7-8 tahunan.
"Ini foto siapa Bu?..."
"Itu foto putri kami, namanya Zahra Ainur Rofiq. 2 bulan setelah kematiannya karena sakit, kami menemukanmu. Semua identitas yang kamu pakai adalah identitas putri kami yang meninggal." air mata kembali menetes di wajah yang mulai berkeriput itu.
"Bu maafin Zahra karena udah bikin ibu dan bapak sedih, tapi tolong izinkan Zahra untuk mencari keluarga Zahra yang sesungguhnya ya."
"Lalu bagaimana dengan kami Nak, apa kamu akan meninggalkan kami setelah kamu menemukan keluarga mu?..."
"Zahra tidak akan meninggalkan kalian berdua. Bapak sama ibu tetep akan menjadi orang tua Zahra. Tapi Zahra hanya ingin tahu siapa keluarga Zahra yang sesungguhnya."
"Tapi bagaimana caranya kamu mencari tahu keberadaan keluarga kamu Nak."
"Masalah itu di pikirkan nanti saja Bu. Semoga Zahra dapat jalan."
***
"Kemana?..."
"Kemana aja, asal Jangan ke neraka."
"Elo aja kali, gue ogah."
"Gue ke rumah elo sekarang. Elo kumpulin semua teman-teman yang lain."
"Ok, siap...."
Dion menuruni anak tangga dengan langkah kaki sedikit berlari.
"Eh, pagi-pagi udah udah rapi dan wangi, emang mau kemana?..." tanya Mama yang kini menghadang jalannya.
"Mau jalan-jalan Ma."
"Antar Mama dulu ke butik."
"Ok, siap."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Mama cuma mau ganti baju."
"Iya ma iya...."
***
Dion melajukan mobilnya menuju butik milik sang Mama. Sementara Mamanya sibuk mengecek data statistik pemasukan di butiknya lewat HPnya. Setelah menempuh perjalanan waktu sekitar 30 menit, kini mobil yang Dion tumpangi sudah sampai di depan butik.
"Ma, udah sampai."
"Oh, udah sampai ya." si Mama mendongak melihat ke depan butik.
"Iya."
"Kamu nggak mau mampir dulu?..."
"Nggak ah Ma. Dion langsung aja."
"Mama senang deh, akhirnya kamu kembali ceria."
"Hahahaha, buat apa galau lama-lama. Udah ah Ma, Dion mau langsung jalan."
"Iya, iya sana. Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
"Iya Ma, Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam." Sang Mama turun dari mobil setelah Dion mencium tangannya. Setelah memastikan Mama memasuki butik, barulah Dion melajukan mobilnya. Menyusuri jalanan ibu kota, melewati hiruk pikuk kemacetan di jalanan yang terkontaminasi asap kendaraan, hingga mobil yang tujuan awalnya menuju rumah Alex malah berhenti di depan gang kecil yang semalam ia lewati.
"Kok gue malah berhenti di sini sih?..." Dion memperhatikan gapura kecil dari dalam mobil. Tempat terakhir semalam ia mengantarkan Zahra. Dion mengetuk-ngetuk kemudi mobil dengan jemarinya. Ia sendiri bingung akan melakukan apa?...
Dion mengeluarkan hp dari balik saku celananya ketika terdengar dering telepon.
"Eh, di mana Lo... Teman-teman udah pada kumpul." Alex mengomel dari seberang telepon.
"Gue lagi di jalan, otw mau ke sana." jawab Dion.
Tiba-tiba Dion melihat Zahra keluar dari gapura, berjalan di atas jalan papingan melewati mobilnya yang terparkir di tepi jalan.
"Eh, sorry Lex gue nggak jadi nongkrong. Gue ada keperluan mendesak."
"Eh, gimana sih Lo. Elo yang ngajak malah elo yang mundur." Dion segera mematikan ponselnya tak peduli dengan Omelan si Alex. Dion segera turun dari mobil dan mengejar kepergian Zahra yang kian menjauh.
"Ra, Zahra.... Tunggu." Dion memanggil-manggil Zahra.
Zahra menghentikan langkahnya tapi bukan lantaran mendengar panggilan dari Dion, melainkan karena seorang pemuda tampan yang memakai baju Koko menghadang jalannya. Mereka berbincang sembari melepas senyum, terlihat akrab, walaupun tak saling menatap, melain menunduk dan sesekali melihat ke segala arah. Mereka terlihat serasi tapi mengapa ada perasaan iri.
***
__ADS_1
Selamat menikmati.
jangan lupa tinggalkan like untuk setiap episodenya.