Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
HUBUNGAN SEMAKIN HANGAT


__ADS_3

Keesokan harinya.


Zain menghampiri Nadine yang sedang memasak nasi goreng di dapur. Zain menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekeliling, suasana rumah terlihat lenggang, begitu sepi, hanya terdengar suara penggorengan yang beradu dengan Sutil.


"Sayang..." Zain mulai berani memanggil Nadine dengan sebutan sayang, tapi jika hanya berdua saja. Jika banyak orang, dia masih merasa malu.


"Hemmm..." Nadine hanya bergumam.


"Kok Sepi, yang lain pada kemana?..."


"Ibu pergi ke ladang. Bapak pergi ke giras." Zain tersenyum senang, akhirnya bisa berduaan dengan istrinya tercinta. Zain mendekati istrinya, membelit pinggang ramping Nadine dengan posesif. Nadine mulai membiasakan diri dengan keberadaan Zain, pria tampan itu selalu menempel padanya. Biasa pengantin baru.


"Cup, cup, cup..." Zain menghujani pipi Nadine dengan kecupan bertubi-tubi. Membuat istrinya itu kegelian.


"Kamu masak apa?..."


"Nasi goreng." jawab Nadine singkat.


Walaupun sudah tahu, Zain masih bertanya, hanya sekedar basa-basi. Dagu Zain bertumpu di bahu Nadine dan masih dalam posisi memeluknya dari belakang. Matanya memperhatikan tangan istrinya yang begitu lincah mengaduk nasi di dalam penggorengan. Zain menenggelamkan hidungnya yang runcing ke dalam ceruk leher Nadine, membuat Nadine makin kegelian. Zain berharap bisa memberikan ketenangan dan meredam emosi sang istri. Dia menyesal karena telah bersikap kasar padanya hingga membuat Nadine merasa harga dirinya telah dia injak.


"Hemmm, baunya harum. Bikin lapar, pasti enak." Ucap Zain setelah memberikan satu kecupan di pipi Nadine.


"Belum di coba udah bilang enak."


"Apapun yang kamu masak pasti enak."


Nadine mencibir, mencebikkan bibirnya. Sejak kemarin, suaminya selalu membuntutinya, selalu merayunya, memujinya dan membujuknya agar tidak lagi marah. Dan hal itu berhasil menggelontorkan emosi di hatinya.


Bahkan Zain membantu Nadine menyapu dan mencuci piring lalu menatanya, padahal sebelumnya dia lebih memilih tidur karena kelelahan. Ternyata membujuk istri merajuk lebih melelahkan daripada mencuci piring, pikir Zain.


Zain melepaskan pelukannya untuk mengambil sangku nasi di rak lalu menyerahkannya pada Nadine. Tak lama kemudian Nadine memindahkan nasi goreng yang sudah matang ke dalam sangku nasi.


Zain mengekori Nadine hingga sampai di meja makan. Nadine meletakkan piring di hadapan Zain kemudian mengisinya dengan nasi goreng. Zain membelit pinggang Nadine lalu menariknya hingga terduduk di atas pangkuannya dengan posisi menyamping.


"Kak, apa-apaan sih!!!..."


"Aku kangen." bisiknya di telinga Nadine.


"Kak, lepas ih." Nadine mencongkel satu persatu jari Zain yang terkunci di pinggangnya, namun sia-sia. Nadine mendorong dada Zain karena dia menciumi ceruk leher Nadine hingga si empunya bergelinjang geli.


"Kak, ayo lepas. Aku mau turun." Suaranya di buat merengek, bibirnya sudah mengerucut sebal tapi Zain tak peduli.


"Istriku sangat cantik, bagaimana Aku bisa melepaskannya."


"Ayolah kaaaaakkkk...." Zain malah tergelak melihat wajah cemberut Nadine.


"Aku lapar, mau makan."


"Itukan sudah di siapin." Nadine menunjuk sepiring nasi goreng yang teronggok di depan Zain.


"Cup..." Zain menghadiahi Nadine dengan sebuah kecupan."Aku maunya di suapi." Dia menatap mata Nadine dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Nggak usah manja deh, udah gede. Nggak usah kayak anak kecil."


"Ya tidak apa-apa lah, manja sama istri sendiri kok, bukan sama istri orang lain."


"Aku baru tahu loh kak, kalau kakak tuh sebenernya alay."


"Bukan alay tapi sedang kasmaran."


Lagi-lagi Nadine mengerucutkan bibirnya yang langsung di kecup oleh Zain.


"Barusan kamu dapat pahala." Celetuk Zain."Ayo cepat suapi, aku lapar."


Nadine berdecak kesal, tapi tangannya tetap meraih sendok kemudian menyuapi bayi besarnya.


"Hemmm, enak banget. Selain cantik, kamu juga jago masak ternyata. Aku jadi makin cinta." Zain tidak ada lelahnya merayu Nadine, walaupun sudah berkali-kali mendengarnya tapi tetap saja hal itu membuat Nadine tersipu malu hingga kupingnya berubah merah saking malunya.


Tak henti-hentinya Zain mengulum senyum melihat ekspresi wajah istrinya itu yang merah merona.


Setelah menerima beberapa suapan dari tangan istrinya, Zain mengambil alih sendok tersebut, menyendok sesendok nasi dan mengarahkannya ke mulut Nadine.


"Nggak mau. Aku bisa makan sendiri." Nadine menggelengkan kepalanya menahan malu.


"Aaaa'..." Zain membuka mulutnya sendiri seperti seorang ibu yang sedang menyuapi bayinya. Membujuknya supaya si bayi membuka mulut.


Benar saja, Nadine membuka mulutnya untuk tertawa. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Zain yang menyebalkan tapi sangat menggemaskan.


"Malah tertawa. Ayo makan." Nadine mengangguk kemudian makan nasi dari tangan Zain.


"Kapan?..." Zain bertanya sembari menyuapi Nadine.


"Abis kita makan." jawab Nadine dengan mulut yang masih penuh berisi makanan, membuat suaranya terdengar aneh di telinga Zain.


"Aku akan mengantarmu."


Nadine menjawab ucapan Zain dengan anggukan kepala.


"Nadine, aku minta maaf ya karena menikahimu dengan cara yang salah."


"Iya, aku juga minta maaf karena sudah bohong sama kakak, tentang masalah datang bulan."


"Lupakan masa lalu, kita mulai lembaran baru."


"Iya." Nadine mengangguk.


Zain mendekati bibir Nadine tapi istrinya itu malah mundur.


"Nggak mau.... Mulutku bau nasi goreng." Nadine menutup mulutnya sendiri sembari menggeleng. Tingkah istrinya itu membuat Zain tertawa lepas.


***


Nadine mengunci pintu rumahnya sebelum pergi ke sawah. Sedangkan tangan Zain menenteng rantang makanan.

__ADS_1


"Kita ke sana naik apa?..." Zain bertanya.


"Itu..." Nadine menunjuk sepeda ontel bermerk PHOENIX kepunyaan Nadine. Sedangkan sepeda motornya di gunakan ayah mertuanya ke giras.


"Naik itu." Zain mengerutkan keningnya, ekspresi wajah Zain membuat Nadine mengulum senyum.


"Kalau nggak bisa ngengkol sepeda ontel, kakak nggak usah ikut. Nungguin rumah aja."


"Kenapa nggak pesan taksi online saja." keluh Zain.


"Haduh kak, ribet banget sih. Orang cuma mau ke ladang pake acara naik taksi online, ini kampung pelosok, jauh dari taksi online, kelamaan kalau naik taksi online. Kalau kakak mau ikut, nggak apa-apa biar aku yang bonceng. Kakak duduk manis aja di belakang." ujar Nadine meremehkan suaminya.


"Memangnya aku lelaki macam apa!!!....di bonceng perempuan. Aku masih punya harga diri."


"Ck...Iya iya... Terus jadi gimana ini???..."


"Ya terpaksa."


Zain membonceng Nadine dengan sepeda ontel. Di belakang Zain, Nadine tertawa cekikikan sembari memeluk rantang makanan sebab Zain menyetir sepedanya meliuk-liuk tidak karuan. Wajar saja, sudah lama Zain tidak mengayuh sepeda ontel, terakhir kali waktu SMP, setelah Zain mengenyam pendidikan di bangku SMA dia tak lagi memakai sepeda ontel melainkan sepeda motor.


Lama kelamaan Zain mulai bisa menyeimbangkan sepedanya.


Sepeda terus melaju melewati pemukiman padat penduduk, para gadis-gadis berderet di pinggir jalan menatap suaminya dengan tatapan mendamba, ada yang berbisik-bisik dan beberapa di antaranya ada yang memberikan senyuman manis pada Zain. Nadine yang tidak bisa melihat ekspresi wajah Zain ketika di tawari senyuman manis oleh para gadis memutuskan untuk melihat wajah Zain dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendongak.


"Apa lihat-lihat." ujar Zain. Nadine tersenyum kikuk karena ketahuan.


"Nggak apa-apa." Jawab Nadine kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Zain agar semua wanita di muka bumi ini tahu jika Zain hanya miliknya. Zain tersenyum senang, akhirnya hubungannya dengan Nadine mulai menghangat, Zain menyentuh punggung tangan Nadine, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Capek ya???..."


"Nggak."


"Tuh keringatnya banyak."


"Sudah biasa."


"Kita kayak lagi pacaran."


"Pacaran setelah menikah. Tapi di ranjang belum."


"Nanti malam deh..." Jawab Nadine malu-malu.


"Ku pegang kata-kata mu."


"Iya, iya..."


Nadine melihat masjid berwarna hijau yang tengah di renovasi.


"Kak mampir ke situ." Nadine menunjuk ke arah masjid. Setelah berhenti di depan masjid, Nadine berjalan menghampiri kotak amal kemudian memasukkan uang mahar dari Zain sejumlah 50ribu ke dalam kotak amal.


"Ya Allah limpahkanlah barokah dalam pernikahan hamba, jadikan lah keluarga hamba menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Serta berikanlah kami keturunan yang Sholeh dan Sholehah.Aamiin." Nadine berdoa dalam hati. Malam itu setelah para temu pulang, Nadine memberikan seluruh uang simpanannya pada ibunya termasuk uang mahar sebesar 50ribu yang sisa lima puluh ribunya ia sedekahkan ke dalam kotak amal masjid.

__ADS_1


Nadine sudah memutuskan untuk memaafkan semua kesalahan Zain dan memulai lembaran hidup baru.


__ADS_2