Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BEKERJA DI BUTIK MAMA


__ADS_3

Setelah kepergian pemuda tampan berbaju koko tersebut, Dion memanggil Zahra.


"Zahra..."


"Eh, kak Dion." Zahra menoleh ke arah Dion .


Dion berlari kecil menghampirinya.


"Dia siapa?..." Dion menunjuk dengan dagunya mobil sedan hitam yang melaju kian menjauh.


"Siapa yang kakak maksud?..."


"Cowok barusan yang ngobrol sama kamu."


"Oh itu, namanya Gus Fauzan. Putra pemilik pesantren tempatku dulu belajar dan mengajar."


"Buset dah... Turunan kiyai."


"Kenapa kak?..."


"Kalian kelihatan akrab banget."


"Oh, iya. Gus Fauzan emang orangnya ramah. Eeemmm, kalau gitu aku permisi dulu ya kak."


"Eh, mau kemana?..."


"Mau cari kerja."


"Biar ku antar ya."


"Nggak usah kak, makasih. Aku naik angkot aja."


"Susah loh Zahra kalau cari kerja naik angkot."


"Nggak apa-apa kak, aku udah biasa mandiri kok."


"Zahra, tunggu." Dion menghentikan langkah Zahra yang hendak pergi. "Zahra, aku tau lowongan kerja yang bisa di lakukan paruh waktu. Pemiliknya ramah lagi. Gajinya lumayan."


"Oya, di mana?..." Mata Zahra sudah berbinar, ia sangat membutuhkan uang saat ini untuk biaya transportasi ke kota Surabaya jika punya waktu luang.


"Di butik langganan Mama ku."


"Di mana alamatnya kak?..."


"Rahasia."


"Iiih, kak Dion kok gitu sih?..."


"Makanya ayo ku antar."


"Tapi benar ya... Ada lowongan kerja."


"Iya, serius. Kapan aku pernah bohong. Ayo, ikut." Zahra pun mengikuti langkah kaki Dion.


"Kok diam aja, ayo masuk." Zahra masih berdiri mematung ketika Dion membukakan mobil untuknya.


"Kita cuma berduaan di mobil."


"Di jamin aman. Aku nggak akan aneh-aneh kok, sumpah." Dion membentuk huruf V ke udara dengan jari telunjuk dan tengahnya. Setelah melihat kesungguhan Dion, Zahra pun berani masuk.


Dion duduk di belakang kemudi mobil dan Zahra duduk di sampingnya.


"Pasang sabuk pengamannya. Kalau nggak bisa, biar aku yang pasangin." ucap Dion menggoda.


"Nggak usah. Aku bisa pasang sendiri."


"Aku loh cuma bercanda." ucap Dion terkekeh. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya kemudian ia kirim ke Mamanya. Zahra membuang muka menghadap ke jendela.


"Ma, Dion mau otw ke butik sama teman. Dia butuh pekerjaan. Tolong di terima ya Ma, Mama pura-pura aja nggak kenal aku. Gajinya, potong uang jajanku. I LOVE YOU, Mama😘😘😘" Mama Dion geleng-geleng kepala membaca pesan dari Dion.


"Anak ini kenapa lagi sih?..." Gerutu Mama Dion.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dion turun lalu membukakan pintu untuk Zahra.


"Butuh bantuan nggak?..." tanya Dion ketika melihat Zahra yang udik kesulitan untuk membuka sabuk pengaman.

__ADS_1


"Ini gimana sih kak, cara bukanya?..."


"Nggak pernah naik mobil ya." Dion kembali masuk ke dalam mobil lalu membantu Zahra membuka sabuk pengamannya.


"Pernah lah beberapakali. Angkot kan juga termasuk mobil."


"Iya, Iya." jawab Dion sembari keluar dari mobil.


Ketika Zahra dan Dion memasuki butik, semua karyawati di sana tersenyum dan membungkuk hormat pada Dion dan Zahra.


"Apa pemilik butik ini ada?...." Pertanyaan Dion membuat dua karyawati yang di tanya saling pandang tak mengerti, sebab biasanya Dion akan nyelonong masuk ke ruangan sang Mama setiap datang ke butik.


"Hey, apa pemilik butik ini ada?..." tanya Dion lagi.


"Oh, ada mas Dion." jawab salah satu karyawati tersebut. Zahra menatap Dion dengan tatapan bertanya-tanya.


"Biasa, ini kan butik langganan Mamaku, jadi mereka semua mengenalku." ucap Dion pada Zahra.


"Oh..." kata Zahra.


"Bisa antar kami ke ruangannya."


"Oh, bisa mas. Bisa. Mari ikuti saya mbak." ucap karyawati itu ramah dan sopan.


"Masuk." ucap Mama ketika melihat dari CCTV, Dion dan Zahra sudah berdiri di depan ruangannya.


Zahra membuka pintu. "Kakak mau ngapain?..." Zahra bertanya ketika Dion hendak masuk mengikutinya.


"Mau nemenin kamu lah."


"Aku kan mau melamar kerja kak, bukan mau ke kondangan."


"Oh, iya ya. Ya sudah, aku tunggu di sini."


Dion menulis pesan wa untuk Mamanya setelah Zahra hilang di balik pintu.


"Assalamualaikum." ucap Zahra.


"Wa alaikumsalam." jawab wanita cantik yang sudah berumur kepala 4 itu. Ia duduk di kursi kerjanya, terlihat anggun dengan balutan baju muslimah berwarna peach senada dengan warna bajunya.


"Silahkan duduk." Ucap Mama Dion, Zahra pun mengikuti instruksi dari calon bosnya.


"Ma, jangan lama-lama interviewnya. Langsung terima kerja ya. Dion mau ajak dia jalan-jalan." pesan wa dari Dion.


"Pacar barumu ya?..." balasan pesan dari Mama.


"Nama kamu siapa?..."


"Nama saya Zahra Ainur Rofiq, Bu. Ini CV saya." Zahra menyerahkan CV lamaran kerjanya pada wanita paruh baya di hadapannya. Wanita itu membaca daftar riwayat hidup Zahra dengan seksama setelah itu dia menatap Zahra dengan tatapan menelisik.


"Oh, ternyata masih kuliah. Saya suka melihat orang yang gigih dan pekerja keras."


"Iya, terima kasih."


"Kamu sudah punya pacar belum?..."


"Saya tidak pernah berpacaran, Bu." Zahra tetap menjawab walaupun di rasa pertanyaannya sedikit aneh.


"Lalu pemuda yang di luar sana itu siapa mu?..."


"Teman saya, Bu."


"Oh, bagus itu. Apa kamu sudah punya calon suami?..."


"Nggak punya Bu."


"Kapan rencananya mau menikah?..."


"Hah." Zahra melongo, di pikir salah dengar.


"Kapan rencananya mau menikah?..." seleksi calon mantu Batin Mama Dion.


"Saya belum berpikir ke arah sana, Bu."


"Oh... Apa kamu bisa masak?..."


"Bisa Bu."

__ADS_1


"Apa kamu bisa masak rawon, gulai dan soto?..."


"Bisa, Bu." jawab Zahra semakin keheranan, sebenarnya dia akan di posisikan di bagian apa?... Kok pertanyaan tentang makanan dan status.


"Baiklah, kamu di terima kerja mulai besok. Dari jam pulang Kampus sampai jam 9 malam. Gaji UMR + bonus penjualan dan kerajinan. interview selesai. Oh ya, apa ada pertanyaan?..."


"Eh, maaf Bu. Eemm i-itu, saya di taruh di bagian mana ya, kok tadi di tanyain tentang makanan."


"Hahahaha, soalnya anak saya suka makan rawon, soto dan gulai." Mama Dion terkekeh, sementara Dion menepuk jidatnya saat menguping pembicaraan mereka berdua.


"Apa hubungannya coba?..." Zahra membatin.


"Tugas kamu hanya melayani customer yang datang di sini. Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang."


"Iya Bu. Terima kasih." Zahra menyalami bos barunya dengan hati riang gembira.


***


"Rasanya aku nggak percaya deh kak, bisa di terima kerja semudah ini. Biasanya kan taruh surat lamaran kerja, terus nunggu panggilan interview. Lah, ini aku ujug-ujug langsung keterima."


"Udah, jangan kebanyakan mikir. Mungkin itu rejeki kamu."


"Makasih ya kak... Udah bantuin aku cari kerja."


"Makasih aja nggak cukup."


"Terus?...."


"Ikut aku jalan-jalan ke mall."


"Tapi kak!..."


"Nggak ada tapi tapian."


Zahra tak lagi menyanggah ucapan Dion, dia memasuki mobil yang di susul oleh Dion.


Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di depan mall, Dion memasuki halaman parkir. Setelah memarkirkan mobilnya Dion dan Zahra keluar dari mobil lalu memasuki mall.


Di dalam Mall, Dion membeli 2 gelas minuman dingin. Dan memberikannya satu untuk Zahra.


"Ini."


"Terima kasih." ucap Zahra setelah menerima uluran minuman dingin Gulu-gulu dari Dion.



Dion membawa Zahra ke lantai dasar Mall tempat pameran usaha UKM di gelar. Ada banyak berbagai hasil prakarya yang di pamerkan dan di jual. Seperti bunga buatan tangan, hasil kerajinan yang terbuat dari rotan. Baju rajutan sendiri, sepatu lukis, seni lukisan, jajanan, makanan dan masih banyak lagi.


Mereka berdua berjalan beriringan mengelilingi isi pameran sembari menyeruput minuman dinginnya.


"Kesana yuk." Dion menarik tas Zahra dan membawanya ke stand penjual assesoris. Dion mengambil topi pemburu hutan dan kaca mata hitam lalu memakainya.


"Zahra, gimana?... Udah cocok nggak jadi pemburu hutan."


"Ah, nggak cocok kak." Zahra terkekeh melihat penampilan Dion.


"Hahahaha, iya. Mana ada pemburu yang ganteng kayak aku."


"Hahaha, aku baru tahu kalau kak Dion itu orangnya narsis."


"Hahaha, bercanda. Yuk ke sana." tanpa persetujuan dari Zahra, Dion menarik tas Zahra dan membawanya ke stand seni lukis.


"Bang, tolong lukis kami ya." pinta Dion.


"Nggak usah kak." Zahra terus menolak tapi Dion selalu mendesak hingga terpaksa gadis lugu itu menurut.


"Tapi lukisannya separuh badan ya kak."


"Up to you."


Dion dan Zahra duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk berpose. Dion berpose memberikan setangkai bunga mawar merah pada Zahra namun wajahnya berpaling, sedangkan Zahra berpose memegangi bunga mawar yang ada di genggaman Dion namun wajahnya melihat ke arah Dion.


Pelukis mulai melukis Zahra dan Dion dengan fokus dan penuh konsentrasi. Setelah waktu berselang cukup lama, Dion dan Zahra mendengar suara yang tak asing di telinga.


"Zahra, kak Dion." Zahra dan Dion menoleh ke asal suara. Di lihatnya Nadine yang berdiri di samping Zain dengan bergandengan tangan.


***

__ADS_1


happy reading


__ADS_2