Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
DIARY ZAHRA


__ADS_3

Dion menatap sebal, melihat para sahabatnya yang sudah siap mengabadikan momen langka ini lewat Hpnya.


"Akhirnya..." ucap Alex setelah Dion mencium punggung tangan Zain.


Para sahabat Dion menjadikan momen ini sebagai story' di sosmednya.


"Habis gelap, terbitlah terang." status Alex bersama dengan hasil jepretannya.


"Tom and Jerry." status Habibi dengan foto sungkeman Dion.


"Uwu-uwu.... Manisnya... Kalau akur, adem deh liatnya." Status sosmed Agung masih dengan foto yang sama.


"Lebih baik mantan musuh dari pada mantan teman." status sosmed Darma.


"Sungguh tak ku sangka, abis tonjok-tonjokan kini sungkem-sungkeman." status sosmed Malik.


Para sahabat Dion melambaikan Hpnya ke udara, menunjukkan hasil postingannya pada Dion.


'Sahabat sialan.' Dion hanya bisa merutuki kelakuan sahabatnya dalam hati. Teman-teman Dion tertawa geli. Sedangkan Dion, mendidih urat malunya. Ingin sekali Dion melempar meja pada para sahabatnya, seperti Hulk melempari musuhnya agar mereka berhenti menertawakannya. "Ah, sabar Dion sabar... Ini hari pernikahan mu. Jaga image, jangan terbawa emosi. Jaga kelakuan mu di hadapan kakak ipar yang galak, kalau tidak mau namamu tercoreng dari daftar adik ipar."


Dalam waktu sekejap, sosmed mereka jadi trending topik sebab pergaulan mereka luas, mereka semua tertawa terbahak-bahak tak peduli dengan tatapan sinis Dion.


"Ra, nanti malam pakai parfum yang banyak ya..." ucap Malik.


Zahra tersipu malu, ia menunduk, tanpa perlu di jabarkan dia sudah tahu maksud dari ucapan Malik. Dion menarik tangan Zahra, membawanya menjauhi teman-temannya yang usil.


"Ma, cincin kawinnya mana?..." pinta Dion, pada Kartika yang sedang berbincang-bincang dengan Nadine.


"E, ey... Tak semudah itu." Nadine menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan Dion. Hatinya sangat senang, melihat Dion bahagia apa lagi bersama adik iparnya.


"Ayo sini-sini." Nadine menarik tangan Zahra yang bebas, sedang tangan yang satunya bertautan dengan jemari tangan Dion. Membawa mereka ke depan wadah berisi air berwarna putih susu bertabur kelopak bunga mawar merah.


"Ayo duduk." Nadine membimbing kedua pengantin baru itu untuk duduk saling berhadapan di depan wadah.


"Mana Tante cincinnya." pinta Nadine. Mama Kartika tersenyum hangat melihat Nadine, di dalam hatinya berkecamuk. Pantas saja dulu Dion begitu tergila-gila melihat kecantikan Nadine, dia gadis yang sangat cantik dan alami, wajahnya terukir begitu sempurna. Beliau merasa lega akhirnya Dion bisa membuka hati untuk wanita lain yang sholehah.


"Tante..." Nadine menyunggingkan senyuman, memperlihatkan giginya yang berderet rapi. Ketika Kartika tak merespon alias melamun.


"Eh, iya..." panggilan Nadine membuyarkan lamunannya, lalu ia memberikan cincin kawin Dion pada Nadine.


"Aku punya permainan. Kalian berdua harus mencari cincin ini di dalam wadah berisi air ini. Siapa yang bisa mendapatkan cincin ini terlebih dahulu, dia boleh meminta apapun pada pasangannya." Nadine memberikan instruksi.


"Ok, siapa takut." Dion merasa tertantang. Zahra hanya bisa tersenyum di balik cadarnya.


"Ok... Plup...." suara dentuman air akibat jatuhnya cincin ke dalam air yang menimbulkan percikan.

__ADS_1


"Dalam hitungan ketiga, mulai. 1...2...3... Mulai."


Dion dan Zahra secara bersamaan mencelupkan tangannya ke dalam air. Tangan mereka berputar-putar mencari keberadaan cincin.


"Dion, Dion, Dion, Dion, Dion...." Teman-teman Dion dan keluarganya memberikan semangat.


"Zahra, Zahra, Zahra, Zahra...." Rani, Nadine, Ganis, Miranda kecil dan yang lainnya memberikan semangat pada Zahra.


"Iyong, Iyong, Iyong, Iyong..." Putri yang berada di gendongan Rani memberikan semangat pada Dion sembari bertepuk tangan.


Zain mengabadikan momen bahagia ini dalam memory ingatannya.


Zahra menemukan sesuatu, ketika tangannya di angkis dari air, malah mendapatkan batu. Ia menggeleng, tersenyum di balik cadarnya.


Dion bukannya mencari cincin malah iseng menggenggam tangan Zahra. Zahra terkejut, mendongak menatap Dion lalu menunduk malu ketika matanya saling beradu pandang. Dua pengantin dan para pemirsa terkikik melihat kelakuan Dion, Mama Kartika mendorong pundak Dion. Ia tak bisa menahan kebahagiaan yang bergejolak di hatinya saat ini.


Keduanya kembali mencelupkan tangannya ke dalam air. Dion fokus mencari cincinnya karena ingin meminta sesuatu pada Zahra.


Dan akhirnya tangan Dion berhenti mengaduk isi bejana. Tangannya di angkat bersama dengan cincin di tangannya lalu menggoyangkannya di hadapan Zahra.


Zahra mengangkis tangannya, dia tersipu menerima kekalahannya.


"Yeeee...." kubu Dion bersorak Sorai. Dion meraih tangan Zahra kemudian menyematkan cincin emas seberat 2 gram ke jari manis Zahra. Zahra tersenyum bahagia. Fotografer sedari tadi mengambil gambar yang di anggap bagus.


***


"Mas, kedua tangannya memegangi pinggang istrinya." titah fotografer, Zahra sangat gugup, ia menarik nafas dalam-dalam ketika tangan Dion mulai terangkat untuk berlabuh di pinggangnya. Suasana terasa panas, Zahra tak bisa bernafas, seperti kehabisan oksigen saking nervousnya. Sementara teman-teman Dion menertawakan mereka berdua, sebab dari enam sahabat, hanya Dion lah yang ingin menikah muda.


"Mbak, tangannya taruh di dada suaminya." titah fotografer. Zahra tak bisa bergerak, tubuhnya begitu tegang. Terasa sulit sekali untuk di gerakkan. Tangan Dion meraih tangan Zahra, lalu menuntunnya hingga sampai di dadanya.


"Gini amat ngadepin anak perawan." Dion membatin.


Alex berbisik pada fotografer. Entah mantra apa yang ia bisikkan, hingga sang fotografer mengangguk. Sementara Nadine melarang Zain untuk ikut campur urusan muda mudi. Dia dan istrinya hanya tersenyum mengamati adiknya yang terlihat salah tingkah sejak tadi.


"Mbak, tatap mata suaminya." titah fotografer.


Zahra masih menunduk. Ia tak sanggup berlama-lama menatap manik mata suaminya. Dion menarik pinggang Zahra lebih erat, membuat Zahra terbelalak lalu mendongak menatap Dion.


Cekrik. Suara jepretan kamera.


"Gugup ya?..." tanya Dion.


"Iya..."


"Sama."

__ADS_1


Dion membolak-balikkan tubuh Zahra, berpose dengan banyak gaya.


***


Dion sudah mondar-mandir gelisah, gugup. Bayangan-bayangan malam pertamanya sejak tadi sudah bergentayangan di benaknya.


Apalagi melihat di atas ranjangnya, ada hadiah dari para sahabatnya. Yang Dion yakini mereka sudah berembuk untuk memberikan hadiah spesial ini. Ada shampoo, handuk, tissue, parfum dan obat kuat. "Gila ya, Zahra masih perawan, gue malah di suruh minum obat kuat. Gempor tuh entar bini gue." Beruntung Dion membuka hadiahnya pas Zahra lagi di kamar mandi.


"Gila, bini gue ngapain aja sih dari tadi di kamar mandi." Dion mengusap dadanya yang sejak tadi gusar. Masih mondar mandir dia. "Ah, pasti lagi siap-siap luluran, pakai wangi-wangian biar malam pertama kita berkesan... Ah, kita... Aku dan kamu. Hehehe"


Dion meraih kado pernikahan dari sahabatnya, lalu membuka laci dan memasukkannya. Mata Dion melihat diary Zahra.


"Lancang nggak ya, kalau gue buka... Ah, nggak lah, kan gue suaminya. Intip dikit nggak apa-apa kali ya. Paling dosanya cuma sedikit." Dion mulai membuka diary itu.


*15-06-2019, Jakarta*


Dear diary....


Untuk pemuda yang tak ku ketahui namanya.


Hampir setiap hari aku melihatnya, entah suatu kebetulan atau kah memang takdir... Hehe jauh sekali dari kata takdir. Seragam ku saja masih putih abu-abu....


Lembar demi lembar Dion membuka diary, penasaran dengan pemuda yang dia maksud.


*16-06-2019, Jakarta*


Dear diary


Aku melihatnya lagi...


Aku yang berdiri di dekat perempatan untuk naik angkot, hampir setiap hari melihatnya di lalu lampu merah, bersedekah pada anak jalanan. Setelah memberi, ia selalu mengusap kepala bocah tanpa rasa jijik. Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan ada rasa bangga padanya. Kejadian yang sama berulang ia terjadi selama 1 tahun lebih.


*17-06-2019 Jakarta*.


Dear diary.


Aku melihatnya lagi, dia tak hanya rajin bersedekah. Dari dalam angkot, aku melihatnya membantu seorang nenek menyebrang jalan.


*11-06-2020 Jakarta*.


Dear diary.


Sudah hampir satu tahun, aku tak melihatnya. Kenapa tersemat rindu di hatiku. Kan aneh, aku hanya mengagumi bukan mencintai. Ah, lupakan...


Tangan Dion gemetaran membaca lembar demi lembar buku diary Zahra, hatinya mendidih, terbakar rasa Cemburu...

__ADS_1


__ADS_2