Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)

Mr. ARROGANT(KU TEMUKAN CINTA DALAM SUJUDKU)
BONCAP NADINE TERTUSUK


__ADS_3

Braaaaakkkk....


Semua orang berbalik melihat asal suara. Gerombolan orang bertubuh kekar membawa senjata tajam keluar dengan raut kemurkaan.


"Cepat pergi ke ruang rahasia. Bawa anak-anak dan perempuan masuk keluar dari sana. Di sana ada anak buahku untuk membawa kalian pergi." Iqbal berbisik ke telinga Rani.


"Tapi kamu gimana?"


"Jangan khawatir, cepat, kita tak punya banyak waktu. Aku dan anak buahku akan menghalangi mereka masuk penthouses."


"Kamu ikuti nona Rani." ucap Zain pada Nadine.


"HEY PEMBUNUH, KAU SUDAH MEMBUNUH KETUA KAMI. KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN KETUA KALIAN HIDUP." ucap salah satu musuh mengacungkan telunjuknya pada Iqbal.


"HEY, SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH." Rani berteriak lantang dengan tangan yang mengacung pada musuh lalu bersembunyi di belakang Iqbal. Pun menghela nafas melihat kelakuan istrinya yang takut-takut berani seperti kura-kura.


"SEMUA ITU FITNAH UNTUK MENGADU DOMBA KELOMPOK KITA." ucap Zain dengan lantang.

__ADS_1


"HALAH, BOHONG. BUKTI SUDAH MENUNJUKKAN BAHWA KETUA MEREKA YANG MEMBUNUH KETUA SERIGALA HITAM, DIA MASIH DENDAM KARENA KETUA PERNAH MENCULIK ISTRINYA DAN MENGAMBIL HARTANYA." tiba-tiba Heru muncul ke depan musuh dan berteriak lantang menjadi kompor.


"BAJINGAN. TERNYATA KEBIRI DAN KEBANGKRUTAN TAK DAPAT MELURUSKAN OTAKMU. DAN MASIH BERANI MEMFITNAH TUAN IQBAL." Wajah Heru merah padam mendengar ucapan Zain. Sakit hati, malu, harga dirinya sudah di injak-injak. Kini semua orang tahu jika dirinya lelaki tak berguna, tak jantan(impoten).


"HABISI MEREKA SEMUA." Heru berteriak.


Zain dan anak buahnya yang lain berhambur ke kerumunan musuh yang mulai beraksi, melakukan perlawanan pada musuh yang menyerang tiada habisnya, menghalangi musuh memasuki penthouses. Kedua pasukan saling hajar, adu kekuatan.


Nadine tercengang, melihat pertarungan di depan mata. Kakinya gemetaran tak bisa bergerak, takut terjadi sesuatu pada suaminya. Ia semakin mendekap Aaron yang menangis melihat papanya terluka tapi masih tetap berdiri tegak menghajar lawan. Banyak lawan yang tumbang di tangan suaminya. Tapi banyak juga anggota Zain yang tumbang karena musuh terlalu banyak. Zain dan Iqbal tak menduga bahwa musuh akan menyerang secepat ini, sebelum dirinya melakukan persiapan.


"Tunggu apalagi, cepat pergi." perintah Iqbal dengan suara tinggi.


Nadine mengikuti Rani, tapi kepalanya masih menoleh kebelakang. Hatinya gelisah, ia takut terjadi hal buruk pada Zain. Air mata meleleh tanpa izin, dadanya terasa sesak. Sulit untuk bernafas.


"Jangan khawatir, Zain dan suamiku jago bertarung. Mereka pasti akan baik-baik saja."ucap Rani berusaha menenangkan Nadine, walaupun dirinya juga cemas.


"Hey, anak muda. Mau kemana?" tangan Iqbal menarik pundak Dion yang hendak melawan musuh.

__ADS_1


"Aku mau membantu kak Zain."


"Lebih baik kau jaga para wanita dan anak-anak."


"Tapi aku laki-laki."


"Ck. Pergilah, kalau tidak mau mati konyol. Mereka bukan tandingan mu."


"Tapiiiii." ucapan Dion mengambang di udara.


"Pergi bodoh." Setelah Iqbal berteriak barulah Dion mau pergi mengejar para wanita. Iqbal tak punya waktu untuk berdebat dengan anak bau kencur.


"Aaakkkkhhhhh..." sebelum kakinya melewati pintu masuk penthouse, Nadine jatuh tersungkur karena lemparan pisau yang menancap di betisnya. Darah segar mengucur deras setelah Rani mencabut pisau itu. Aaron menangis karena ia jatuh dari gendongan Nadine hingga bibirnya berdarah terantuk lantai marmer.


"Be reng sek..." Zain berlari, menghajar pelaku yang telah melukai istrinya. Ia menghajar pelaku dengan membabi buta. Dia sangat geram, emosinya mendidih.


Zain dan Iqbal tercengang melihat kedatangan musuh yang semakin banyak, berbondong-bondong para musuh datang dengan senjata tajam. Mereka tak main-main dalam melakukan penyerangan.

__ADS_1


"RANIIII,,,, HUBUNGI BRAYEN DAN POLISI." Iqbal berteriak.


Anak buah Iqbal kalah banyak, pasukan rahasianya tak juga datang. Iqbal, Zain dan anak buahnya mulai kualahan melawan musuh, mereka terlalu banyak. Sedangkan bala bantuan tak kunjung datang. Zain dan Iqbal berharap kedatangan bala bantuan, entah siapa yang lebih cepat, pasukan rahasianya, anak buah Brayen ataupun polisi.


__ADS_2